Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Akad Cerita Rayendra


__ADS_3

Bulir rintik hujan yang jatuh membasahi balkon jendela bergemercik seperti lantunan melodi memecah kesunyian. Langit tampak mendung namun tidak dengan hatiku, karena besok adalah hari yang amat sangat spesial bagiku. Kupandangi sepasang cincin emas putih dengan grafir nama di bagian dalamnya, cincin ini akan kusematkan pada jari manis Renata esok hari.


Kuraih ponselku untuk menghubungi seseorang, aku ingin membagikan berita baik ini padanya. Namun aku masih ragu, apakah ia akan turut berbahagia akan pernikahanku.


Tut Tut Tut Tut Tut Tut Tut Tut


“ Halo Ray”, sapa suara di sebrang sana.


“ Halo Ma, apa kabar? “.


“ Yah begini saja Ray, kamu bagaimana di sana ?”, tanyanya dengan suara sendu.


“ Baik Ma. Ma besok bisa datang ke Bandung ga? Aku pengen Mama hadir besok?”, pintaku padanya.


“ Ada apa Ray? Mama lagi ga enak badan, males ngapa-ngapain “, jawabnya.


“ Oh sakit apa Ma?”.


“ Biasa lah kepala pusing terus ga napsu makan udah beberapa hari “.


“ Udah ke dokter belum Ma, Ray transfer ya buat berobat “.


“ Mama udah minum jamu kok, lumayan enakan sih. Kamu sudah transfer untuk anak-anakmu belum Ray ?”.


“ Sudah Ma, selalu ditransfer pas gajian kok “.


“ Alhamdulillah, jangan sampe ga transfer ya Ray, inget ketiga anak kamu. Mereka cucu Mama, darah daging Mama juga Ray “, jawabnya pilu.


“ Iya Ma pasti. Jadi besok Mama ga bisa ke Bandung ya, kalo bisa mau Ray beliin tiket kereta nih “, pintaku memelas.


“ Memangnya penting ya? Ada apa sih Ray? Kalo Mama lagi sehat sih mungkin bisa, tapi sekarang masih pusing Ray “.


“ Oke kalo gitu Ma, istirahat aja dulu ya Ma. Nanti aja Ray cerita kalo Mama udah baikan. Jaga kesehatan ya, Assalamualaikum “.


Kuhela nafasku yang terasa berat di dada, otot di kepalaku menegang lalu sakitnya menjalar hingga ke pundak. Aku tak bisa berpikir jernih, padahal besok aku harus menghadapi momen sakral dalam hidupku. Bagaimana jadinya aku menikah tanpa dihadiri orangtua atau keluargaku. Apa yang harus aku ceritakan pada keluarga Renata jika tak ada satupun keluargaku yang hadir.


Kini Renata tengah bermalam di rumah ibunya, tempat aku akan mengucap ijab kabul untuk meresmikan hubungan kami. Ada secercah kesedihan yang menggelayut di hatiku, betapa aku sangat rindu pada anak-anakku. Sedang apa Kila dan Kica kini? Aku ingin merasakan pelukan dan mendengarkan celoteh dan tawa renyah mereka. Namun aku tak bisa bertemu mereka sebelum persidanganku selesai. Kondisi aku dan Rania tengah berseteru di meja hijau membuatku enggan untuk bertemu.


PING


Renata


“ Mas, sudah hubungi Pak Haji untuk besok? Om Idris udah siap buat jadi wali. Tinggal siapin saksi dari pihak kamu mas “,


Sebuah pesan masuk dari Renata yang tengah mempersiapkan prosesi akad nikah kami esok hari. Dikarenakan proses sidangku belum usai, mau tak mau kami harus menikah secara siri terlebih dulu. Aku ingin segera menghalalkan hubunganku dengan Renata, batin ini sudah tak kuasa menanggung perasaan bersalah jika terus berlama-lama hidup dalam ikatan tanpa penikahan dengannya.


“ Aku sudah menghubungi Fadli dan Dimas jadi saksi nikahku. Besok juga anak-anak RENTZ aku undang semua. Sayangnya Mama gak bisa hadir, katanya lagi sakit Ren “.


Segera kukirimkan pesan tersebut pada calon istriku. Perasaan bahagia, panik, serta sedih kini bergumul menjadi satu. Sudahlah, aku tak boleh larut dalam kegelisahan, besok adalah hari dimana Renata Rahardjo akan menjadi istriku. Sebuah keluarga baru tengah menantiku saat ini, mereka adalah orang-orang yang sangat aku cintai saat ini.


07.30 WIB – Rumah Ibu Renata


“ Widih Mas Ray, ganteng amat nih “, seru Fadli yang menyorakiku saat aku baru saja turun dari mobil.


“ Yoih, mau merit harus ganteng dong. Lo bisa keren juga kalo pake batik Fad “, ujarku sambil menggoda Fadli yang memakai kemeja batik dengan tatanan rambut klimis.


“ Yah siapa tau ketularan bisa cepet dapet jodoh Mas “.


“ Aamiin. Cepet nyusul ya. Kawin enak tau “, ujarku menggodanya.


“ Percaya Maaaas, semoga langgeng yah sama yang ini “.

__ADS_1


“ Aamiin Fad, makasih ya. Gue yakin banget sama Renata, mungkin perjalanan gue harus berliku buat dapetin jodoh yang tepat “.


“ Allah sebaik-baiknya pengatur Mas, kita gak pernah tau rencana-Nya bagaimana “.


“ Iya Fad. Pasrah dan iklas aja, gue yakin suatu saat Allah tunjukin jalan-Nya “.


Fadli menepuk pundakku dengan penuh rasa haru. Dia adalah sahabat terbaik yang kumiliki saat ini. Ia juga yang selalu memberikan solusi atas segala permasalahanku sejak dulu, itulah alasan aku menunjuk dia untuk menjadi saksi nikahku.


Aku dan Fadli menunggu di sebuah parkiran yang letaknya 300 m dari rumah Ibu Renata. Saat ini aku masih harus menunggu kehadiran tim RENTZ yang sudah aku anggap menjadi keluargaku. Tak begitu lama Dimas dan Angga hadir bersama pasangan masing-masing.


PING


Renata


“ Pak Haji udah siap nih, udah sampe apa belum? “


Kubaca pesan singkat dari Renata, rupanya mereka semua telah siap menunggu kami di rumah. Dengan langkah kaki yang pasti serta jiwa penuh keyakinan, kami semua berjalan memasuki rumah Ibu. Terlihat beberapa kendaraan parkir memenuhi halaman rumah, beberapa orang telah berkerumun di dalam menunggu kehadiran kami.


“ Assalamualaikum”, salam Fadli yang menjadi pemimpin rombongan pengantin.


“ Waalaikumsalam, akhirnya sampai juga pengantin prianya “, ucap seorang pria berusia 60 tahunan yang mengenakan sorban.


Kami beringsut masuk ke dalam rumah, aku segera bersalaman sambil menghampiri sebuah meja yeng berada di tengah ruangan sambil duduk bersila. Rasa lega terpancar dari wajah-wajah kerabat Renata, hatiku semakin dag dig dug tak karuan dibuatnya.


“ Pak Rayendra sudah siap untuk prosesi ijab kabul?”, tanya Pak Haji yang akan bertindak sebagai penghulu nikah. Di sebelah Pak Haji pastinya Om Idris yang menjadi wali Renata.


“ Inshaallah siap Pak “, jawabku mantap.


“ Alhamdulillah, mana saksi dari kedua belah pihak?”, tanyanya sambil melirik kearah rombonganku.


Fadli, Dimas dan dua kerabat Renata langsung berdiri mendekati kami. Jantungku semakin berdegup kencang karena prosesi ijab kabul akan segera dimulai.


“ Bismillahhirrohmannirrohim. Kita akan mulai prosesi akad nikah antara Rayendra Saputra bin Fahrurrozi dengan Renata Rahadjo Binti Hermawan Rahardjo. Silakan Renata Rahardjo memasuki ruangan untuk prosesi ijab kabul”.


Ia berjalan menuruni tangga dengan hati-hati bak bidadari, terlihat Daffa yang tampil cantik dengan kebaya modern ikut mengiringi langkahnya. Terpancar senyum kebahagiaan dari wajah mereka, senyum dari bibir tipis Renata selalu menghiasi wajahnya.


“ Alhamdulillah sudah tiba pengantin perempuannya, Pak Rayendra sudah siap untuk prosesi ijab?”, tanya Pak Haji sambil menatap diriku.


“ Inshaallah Pak saya siap “.


“ Mas kawinnya sudah disiapkan? Kalau tidak salah seperangkat perhiasan emas dan uang tunai sebesar Rp 2.760.000 rupiah?”.


“ Betul Pak “, jawabku mantap.


“ Silahkan wali berjabatan dengan pengantin pria. Wali mohon ucapkan ijab dengan lantang dan qobul dibalas oleh pengantin pria dengan lantang dan jelas hanya sekali tarikan nafas “,


Om Idris langsung menjabat tanganku. Kucoba menahan rasa grogi sambil mengingat-ingat teks ijab kabul yang kuhapalkan sejak kemarin malam.


“ Saudara Rayendra Saputra bin Fahrurrozi saya kawinkan dan nikahkan engkau dengan Renata Rahardjo binti Hermawan Rahadjo dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas dan uang tunai sebesar dua juta tujuh ratus enam puluh ribu rupiah dibayar tunai “.


“ Saya terima nikah dan kawinnya Renata Rahardjo binti Hermawan Rahardjo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai “.


“ Bagaimana saksi? Sah? “, tanya Pak Haji sambil melirik kearah para saksi.


“ Saaah “, ucap Fadli dan Dimas sambil tersenyum penuh rasa lega menatap kami.


“ Alhamdulillah. Pembacaan ijab kabul lancar, maka kami sahkan Rayendra Saputra dan Renata Rahardjo telah halal menjadi suami-istri “, ujar Pak haji sambil mengucap syukur.


Sebuah untaian doa dipanjatkan dengan khidmat sambil diamini oleh semua tamu undangan. Kupanjatkan doa dari lubuk hati yang paling dalam pada sang khalik, semoga pernikahanku dengan Renata dirahmati dan langgeng sampai akhir hayat nanti. Aamin Ya Robbal Aalamin.


12.30 WIB

__ADS_1


“ Selamat Ya Mbak Rena dan Mas Ray, semoga langgeng sampai kakek nenek”, ujar Cintya sambil menjabat tanganku.


“ Makasih ya, kemana nih anak-anak yang lain? Ada yang ga dateng ya “, jawabku sambil menerima jabat tangannya dengan penuh rasa bahagia.


“ Iya Mas, katanya ada urusan keluarga ga bisa hadir. Salam ya dari Nurul, Rangga, Tantri sama Fikri”.


“ Waalaikumsalam, iya makasih ya “.


“ Sana gih makan dulu di dalem, jangan ganggu penganten baru “, ujar Renata sambil memeluk pinggangku. Senyumnya selalu mengembang setiap kali orang-orang memberi selamat kepada kami.


“ Iya deh yang udah sah, gak mau diganggu kayanya sampe nanti malem “.


“ Enak aja sampe malem. Sampe taun depan kita sih honeymoon terus ya sayang “, jawabku sambil memeluk tubuh istriku.


Cintya langsung meninggalkan kami berdua di beranda teras rumah. Kutatap dalam-dalam paras cantik Renata dan kupeluk tubuh rampingnya dengan begitu erat. Ia balas menatap dengan senyuman penuh cinta sambil berbisik di telingaku.


“ Makasih ya kamu udah mau jadi suami dan ayah dari anakku “


“ Aku yang berterima kasih sama kamu. Terima kasih sudah menerima aku apa adanya walaupun aku bukan lelaki sempurna. Terima kasih telah bersabar atas segala masalah yang kubuat “.


“ Sama-sama mas. Semoga ini pernikahan terakhir bagi kita agar kita bisa menua bersama “.


Sayup-sayup terdengan lantunan musik dari dalam ruangan, mengalun syahdu diantara riak canda para tamu yang datang. Kulemparkan senyum bahagia pada semua tamu yang memberikan selamat padaku, hingga kami semua larut dalam kebahagiaan di hari itu.


Betapa bahagianya hatiku saat


Ku duduk berdua denganmu


Berjalan bersamamu


Menarilah denganku


Namun bila hari ini adalah yang terakhir


Namun ku tetap bahagia


Selalu kusyukuri


Begitulah adanya


Namun bila kau ingin sendiri


Cepat cepatlah sampaikan kepadaku


Agar ku tak berharap


Dan buat kau bersedih


Bila nanti saatnya telah tiba


Kuingin kau menjadi istriku


Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan


Berlarian kesana-kemari dan tertawa


Namun bila saat berpisah telah tiba


Izinkanku menjaga dirimu


Berdua menikmati pelukan di ujung waktu

__ADS_1


Sudilah kau temani diriku


Akad – Payung Teduh


__ADS_2