Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Sebuah Pengorbanan Cerita Rayendra


__ADS_3

Perjalananku kali ini ke Bandung terasa berbeda. Meskipun hatiku masih terluka, namun terasa menyisakan lega di dalam dada. Perasaan sedih harus meninggalkan kenangan masa lalu, demi sebuah harapan baru yang telah menungguku di Bandung sana. Aku harap wanita itu masih menungguku, ia akan tetap menjaga hatinya untukku.


Aku tau bahwa Renata telah memiliki kekasih, tapi itu bukan perkara besar bagiku. Aku menghargai perasaan Renata yang tidak mau dimadu, sebelum aku memutuskan pernikahanku dengan Rania, Renata berhak berhubungan dengan siapa saja. Kali ini aku bertekad untuk mendapatkan cintaku kembali. Segala cara akan aku lakukan demi mendapatkannya, karena setelah sekian lama aku dihujani dengan cemoohan dan makian. Mereka mencemoohku karena aku tak becus menjadi seorang suami, bahkan aku tak becus menjadi seorang lelaki sejati. Kini aku layak bahagja untuk meninggalkan semua orang-orang yang tak lagi sejalan denganku. Aku berhak memilih hidup seperti apa yang akan kujalani. Aku ingin mencoba lebih bebas dan memiliki sudut pandang lain, tanpa terikat dengan norma-norma lagi.


Renata adalah wanita luar biasa bagiku. Dia wanita yang melabrak segala stigma. Gayanya yang rebel namun berkelas mampu memikat hatiku. Kepulan asap rokok tak pernah berhenti dari mulutnya, namun semua itu tidak menjadikan ia seorang wanita murahan. Renata seorang wanita berkelas, cantik dan pintar.


Renata tak terikat dengan aturan. Ia bukan pengikut aliran ibu-ibu yang mainstream mengurus anak sesuai juklak. Jika seorang ibu berusaha menjaga anaknya agar rajin solat, tidak merokok, tidak mabuk-mabukkan hanya karena norma, berbeda dengan Renata pada anaknya. Renata mengajak Daffa untuk mengenal dunia malam bersamanya. Renata tidak melarangnya merokok atau minum-minum. Prinsipnya untuk apa dilarang kalau nanti mereka sembunyi-sembunyi. Lebih baik dikenalkan semua hal-hal yang ditakutkan, kalau mereka tau sejak awal pastinya tidak ada rasa penasaran dan mencobanya dari belakang.


Itu yang aku pelajari darinya. Oleh karena itu aku iklaskan Renata untuk berpacaran dengan siapa saja, daripada diam-diam ia selingkuh di belakangku. Sampai suatu saat, ia akan memilih siapa lelaki yang memang pantas untuk mendampinginya kelak. Yang terpenting aku telah menjalankan kewajibanku untuk menutup cerita lama dan membuka lembaran baru.


Apartemen Renata


19.25


“ Ren aku udah di lobby apartemen, tolong turun dong “, ketikku pada Renata di sebuah pesan Whatsapp. Kucoba berkali-kali aku menghubunginya namun tak kunjung diangkat.


Pesanku belum di read juga. Jam segini pastinya ia belum tidur. Kutanya resepsionis, ia mengatakan bahwa Renata sudah memasuki apartemennya 2 jam yang lalu. Aku bulatkan tekad untuk menunggu Renata disini.


PING


“ Mau apa “ pesan singkat Renata muncul di notifikasi ponselku.


“ Aku mau bicara Ren “ desakku padanya.


“ Lagi ada cowoku “ Balas Renata singkat. Aku tau ia berbohong, karena menurut Resepsionis tadi Renata sendirian, ia sempat mampir ke mejanya untuk mengambil surat.


“ Jangan bohong Ren, aku tau kamu sendiri. Please Ren aku mau bicara “

__ADS_1


Pesanku tak kunjung ia balas, hanya centrang dua berwarna biru menandakan pesanku sudah ia baca. Aku duduk lemas di sofa, kurebahkan badanku sambil menggenggam sebuah buket bunga mawar merah untuknya. Mataku sudah sangat berat, kakiku terasa pegal telah menyetir seharian. Perutku sudah keroncongan minta untuk diisi, tapi aku sudah tak berselera untuk makan. Tekadku hanya satu kali ini, aku hanya ingin menyelesaikan misiku sekali lagi.


“ Mas, mau ngapain ke sini ?” Tanya sesosok wanita cantik dengan mengenakan kaus polos dan celana pendek di depanku. Dia berdiri terpaku saat melihat wajahku yang kusut dan duduk terkapar di sofa lobby.


Aku terperanjat dari dudukku. Aku langsung bangkit dari sofa kulit itu lalu berjalan kearah Renata sambil menggenggam buket bunga mawar merah ke hadapannya. Kuberlutut dan kutatap wajahnya, sambil kuserahkan rangkaian mawar tersebut padanya.


“ Renata, maukah kamu mengisi lembaran hidupku yang baru?”, tanyaku dengan penuh ketulusan.


“ Renata Rahardjo, maukah kamu untuk jadi masa depanku? “ tanyaku sekali lagi sambil masih mematung berlutut di hadapannya.


Orang-orang di sekelilingku menatapku dengan bingung. Resepsionis wanita yang sedari tadi sibuk dengan teleponnya, kini tercengang menatap kami berdua. Beberapa orang yang sedari tadi duduk di sofa kini melongok kearahku sambil tersenyum simpul.


“ Mas apaan sih ini, buruan ah bangun, malu diliatin orang-orang “, jawab Renata sambil menarik lenganku.


“ Jawab dulu, nanti aku bangun “ balasku sambil menggenggam jemarinya yang dingin karena panik.


Begitu pintu lift terbuka, kami berdua masuk ke dalamnya. Tidak ada siapa-siapa, kini hanya kami berdua dalam lift yang naik menuju lantai 11.


“ Ngapain sih pake acara begini segala mas?, trus ketemu aku mau apa? “, tanyanya dengan wajah yang masih kesal padaku.


“ Aku mau mengejar cintaku “ jawabku sambil menatap matanya dalam-dalam.


“ Aduuuhhh, udah deh waktunya udah gak pas lagi sekarang “, jawab Renata sambil mengusap keningnya. Ketika pintu lift terbuka di lantai 11, kami pun keluar dan berjalan di lorong apartemen menuju kamar Renata.


“ Kamu masuk ke kamar aku cuma buat ngobrol aja ya kali ini “, ujarnya sengit padaku. Meskipun nada suaranya terdengar galak, namun wajahnya masih terlihat cantik dan menggemaskan.


“ Ren, kalo lagi ngambek gitu makin cantik deh, makin aku kejar kamu kemanapun “, godaku sambil menarik tangannya. Sudah kuduga, Renata tidak menarik tangannya kembali. Buket bunga mawar pemberianku masih ia pegang dengan erat. Kutarik pinggangnya yang ramping, kupeluk badannya dan kucium kepala perempuan yang sudah lama kukagumi ini. Renata tidak mencoba melepaskan dekapanku, ia juga memeluk badanku dengan erat.

__ADS_1


Bip bip bip bip bip bip bip


Suara ponsel Renata berbunyi. Renata melepaskan pelukannya dan mencari dimana sumber suara itu. rupanya ponselnya disimpan diatas meja rias di sebelahnya.


“ Halo, iya aku belum tidur “ jawab Renata sambil berjalan kearah balkon. Dari gayanya berbicara sambil menjauhiku, aku tahu itu pasti dari seorang lelaki.


Renata masih asyik menerima panggilan di balkon apartemennya. Pintunya sengaja ia tutup agar aku tidak bisa mendengar pembicaraan mereka. Sesekali kudengar ia tertawa. Aku hanya bisa menatapnya dari kasur apartemen yang berukuran studio ini. Kurebahkan badanku di atas kasur, sambil kuganti channel televisi yang ada di hadapanku. Bungkus rokok, korek, dan laptop tergeletak begitu saja di kasur. Kulihat beberapa dokumen RENTZ terbuka di layarnya, rupanya ia sedang mengerjakan laporan.


BRUK


Suara pintu balkon ditutup. Renata masuk dan berjalan kearahku. Ia letakkan ponselnya di depan televisi, lalu berdiri mematung sambil melipat tangannya, mata bulatnya menatap diriku dalam-dalam. Aku bangun dari tidurku dan duduk di ujung kasur menghadap badannya. Aku tau ini bukan saat yang tepat meminta Renata menjadi pendamping hidupku, tapi aku harus mengatakan bahwa aku sudah mengakhiri pernikahanku.


“ Ren, aku udah ceraikan Rania “ seruku dengan pelan.


“ Apa? Kamu udah ceraikan dia? Serius? “ tanyanya seperti tak percaya.


“ Kemarin aku udah jatuhkan talak, aku udah mengakhiri pernikahanku. Aku bener-bener pengen tunjukin kalo aku serius sama kamu Ren “, ucapku seraya meyakinkan dirinya yang masih tak percaya dengan perkataanku.


“ Percuma mas, aku udah punya cowo. Dia baik, mau serius juga sama aku “, jawab Renata.


“ Selama dia masih ngajak kamu pacaran, itu bukan bukti keseriusan. Aku bener-bener ngajak kamu jadi pedamping hidup aku Ren. Aku berani pertaruhkan karir aku buat kamu, kamu itu wanita dengan paket lengkap yang aku butuhin selama ini “, jawabku bersungguh-sungguh padanya.


Renata hanya menghela nafasnya, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mengambil sebatang rokok lalu menyulutnya. Ciri khas Renata jika ia sedang galau, wajah bingungnya masih saja membuatku terpukau.


“ Mas, kamu harus cari hotel buat tidur. Kamu ga bisa tidur disini, besok pagi Daffa mau kemari bersama ibu “, jawab Renata pelan. Kali ini aku tahu ia tidak berbohong.


Aku mengehela nafasku dalam-dalam. Keletihan yang kurasakan seharusnya sirna saat aku bertemu Renata. Dalam fantasiku aku bisa merayakan kebebasanku bersamanya disini. aku masih ingin melampiaskan kerinduanku padanya dan menikmati setiap lekukan tubuhnya yang amat sangat kukagumi.

__ADS_1


“ Besok ibu sama Daffa mau ketemu sama cowoku, jadi kamu gak usah repot-repot temui aku ya “, serunya ketus saat aku masih bergulat dengan fantasi liar di kepalaku. Perkataan Renata barusan membuatku kecewa, selain karena ia menolak kehadiranku, kenyataan bahwa Renata sudah mempunyai kekasih membuatku terpukul. Namun aku tak boleh gentar, aku harus berusaha mengejar cintaku. Setelah melewati segala rintangan dan cemoohan, aku harus berjuang memperjuangkan dirinya. Aku yakin bahwa Renata adalah takdirku.


__ADS_2