
10.45 WIB – Kantor Dion
PING
Rayendra
“ Bro, gue udah OTW ke Jakarta”
Sebaris pesan Whatsapp masuk ke ponselku, isinya dari Ray yang mengabarkan bahwa ia sedang menuju kemari. Kepalaku berdenyut melihat isi pesannya, di kepalaku penuh dengan sejuta tanda tanya tentang kebohongan yang Ray lakukan kepadaku. Dahulu Ray adalah pria yang baik, ceria, dan sederhana. Seorang suami dan ayah yang sayang pada keluarga. Seiring berjalanan waktu, ambisinya untuk menggapai mimpi mulai tumbuh.
Perjalanan karir Rayendra tak selalu mulus. Sesungguhnya ia memiliki potensi yang bisa tergali jika bertemu dengan partner yang galak sepertiku. Perlu seseorang yang keras agar bisa menggiringnya ke arah yang benar. Namun sayangnya ketika ia memilih untuk membangun sendiri usahanya, terkadang ia lepas kendali dan hilang arah. Desakan ekonomi terkadang membuat Ray harus menghalalkan segala cara, mulai dari menerima proyek yang sebenarnya diluar kesanggupan, hingga menggelapkan uang perusahaan yang tak jelas kemana rimbanya.
Bip Bip Bip Bip Bip Bip
Ivan calling
“ Halo Yon, gimana si Ray jadi dateng?”, tanya Ivan di seberang sana.
“ Jadi. Lagi di jalan menuju kemari katanya “.
“ Aduh, klien gue minta meeting dadakan ini. Gue ga bisa cabut bro “.
“ Gak apa-apa Van, biar gue yang tangani si Ray sendirian”.
“ Gak bisa gitu lah, gue juga pengen hajar tuh orang”.
“ Easy bro, let me handle this, Okay?”, jawabku menenangkan Ivan. Ada untungnya Ivan tak datang, dendam kesumatnya bisa mengacaukan segala rencanaku pada Rayendra, batinku berkata.
“ Kalau udah beres meetingnya langsung dateng aja lah Van, sapa tau masih keburu hajar nih orang “, gurauku pada Ivan yang masih menggebu-gebu.
“ Gak usah lo suruh juga gue langsung meluncur kesana. Tunggu gue ya bro “, tutup Ivan mengakhiri panggilannya.
Kubuka laci meja kerjaku, terdapat sebuah map berwana merah beserta secarik surat yang baru saja ku print semalam. Kubaca lagi satu persatu isi surat yang kubuat tersebut, sekedar ingin memastikan tidak ada kata-kata yang keliru dalam isi suratku. Tak lupa aku langsung mengirimkan pesan pada seseorang, memastikan dirinya akan datang saat aku bertemu dengan Ray siang ini.
12.30 WIB
“ Hey Bro, sepi amat kantor. Anak-anak pada kemana?”, tanya sesosok pria yang selama ini kucari batang hidungnya.
“ Lagi meeting ketemu klien baru. Kapan sampe Ray “, tanyaku.
“ Baru aja, untung jalanan lancar. Ini gue bawain coklat buat Sean”. Sahutnya sambil memberikan paperbag berwarna coklat padaku.
“ Thank you Ray, Sean seneng banget pasti “, jawabku sambil menerima pemberiannya. Mataku langsung tertuju pada cincin yang melingkar di jari manisnya, firasatku menjadi tak enak dibuatnya.
“ Ray, duduk deh. Ada yang mau gue tanyain sama lo “.
“ Siap bro, soal kerjaan ya “, jawab Ray sambil menjatuhkan badannya pada kursi di hadapanku.
“ Ada beberapa poin yang harus gue sampaikan dari dulu. Pertama, kinerja lo turun drastis Ray. Gue nilai lo ga fokus untuk ngerjain semua proyek. Kedua, lo gagal untuk memenuhi ekspektasi klien, dimana sebelumnya lo sudah mengiyakan semua yang mereka minta. Ketiga, lo ga transparan soal keuangan. Udah berkali-kali gue tagih laporan dan bukti print out rekening, tapi lo selalu menghindar. Sebenernya ada apa sih Ray?”.
Lelaki itu tertunduk dan menghela nafasnya perlahan. Tangannya bersidekap di dada, menandakan ia mencoba defensif atas seranganku barusan.
“ Gini bro, gue coba jawab satu persatu ya. Pertama, gue memang ga fokus karena rumah tangga gue berantakan, setiap sampe rumah gue gak bisa konsentrasi. Kedua, klien itu banyak permintaan, mereka selalu ganti fitur disaat gue udah nyaris selesaikan semua kerjaan. Dan yang terakhir, jujur gue memang ga teliti untuk tulis semua laporan, jadinya gue banyak skip”.
“ Ray, kita semua punya masalah keluarga. Lo inget ga kalo rumah tangga gue sudah berada di ujung tanduk jauh sebelum lo. Gue dan Nadine sampe resmi bercerai dan gue ga bisa ketemu sama Sean selama setahun. Kurang susah apa hidup gue Ray?. Lalu apa itu jadi alesan bikin perusahaan yang gue bangun runtuh?”.
“ Iya bro, tapi kan gue beda kasusnya “, dalihnya membantah semua ucapanku.
__ADS_1
“ Beda apanya sih? Bukannya masalah kita tuh sama ya dari dulu. Gimana bejatnya kita main cewe cuma buat senang-senang. Gue lebih parah dari lo bro, kurang drama apa gue harus diteror sama selingkuhan dan istri sekaligus. Belum lagi kejaran klien yang minta proyek cepet selesai, invoice ga cair selama beberapa bulan. Apa gue ngeluh sama lo bro?”.
Ray hanya terdiam mendengar jawabanku. Sesekali tangannya memijat-mijat kening sambil memalingkan kepalanya ke jendela.
“ Oke, gue akuin salah. Gue memang ga fokus sama kerjaan gara-gara banyak proyek yang gue ambil. Gue terlalu sibuk untuk cari duit buat memenuhi kebutuhan pribadi “.
“ Sebesar apa sih kebutuhan pribadi lo Ray?”, tanyaku menyelidik.
“ Banyak banget lah bro. Tagihan rumah, mobil, kartu kredit “.
“ Sampe ratusan juta ?”.
“ Ah gila bro, ga sampe ratusan juta lah “, sangkalnya.
“ Lalu kemana duit terhitung dari bulan Juli – Oktober 2019 bro?”.
“ Maksud lo apa? Lo nuduh gue gelapin uang perusahaan gitu?”.
“ Enggak? Justru gue mau nanya? Laporan lo bulan segitu gak jelas cashflow-nya”.
“ Mungkin gue salah bikin laporan Yon. Tar gue revisi ya “, elaknya.
“ Gak usah nyangkal lah Ray, gue udah lacak pada bulan itu ada sekita 600 juta yang keluar -masuk ke rekening lo “.
“ Lo nuduh gue sampe mata-matain transaksi rekening segala? Gila lo ya”, ujarnya mulai gusar.
“ Tenang dong bro, kan gue nanya. Wajar lah kalo gue audit keuangan perusaahaan gue sendiri. Ini ada print out rekening koran dan silakan cek sendiri, apa bener itu ada dana yang masuk ke rekening lo“, jawabku sambil memberikan print out yang Ivan berikan tempo hari.
Ray menerima kertas tersebut, matanya sibuk menyusuri deretang angka yang tercetak di atasnya. Wajahnya memerah dan gesturnya mulai gelisah.
“ Oke, ini memang rekening gue. Gue akuin kalo duit lo masuk kesini “, jawabnya tak lagi mengelak.
“ Kebutuhan keluarga Yon. Utang gue disana-sini. Tapi gue gak maksud ngambil duit kantor, gue cuma mau pinjem aja. Rencananya kalo proyek pribadi gue cair, gue pasti lunasin ini semua “, jawabnya dengan kepala tertunduk.
“ Lo tuh kebiasaan ya, selalu gambling sama proyek yang lo pegang. Iya kalo selesai, kalo enggak hutang lo makin banyak Ray “.
“ Sorry bro, gue udah kepepet waktu itu. tapi gue janji pasti lunasin ini semua “, jawabnya mulai melunak.
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu memecah perdebatanku dengan Ray. Lalu muncul sesosok wanita berusia 40 tahunan sambil membawa dokumen di tangannya.
“ Permisi, saya terlambat gak Pak?”, tanya wanita tersebut sambil melongok di pintu.
“ Enggak Bu, silakan masuk”, jawabku sambil mempersilakan dirinya masuk.
“ Maaf tadi jalanan macet Pak “, ujarnya sambil duduk di samping Ray yang sibuk memperhatikan wanita tersebut.
“ Bu Nita kenalkan ini partner saya, Ray ini Ibu Anita notaris yang biasa ngurus legal gue “.
Ray dan Bu Nita sambil berjabat tangan, raut wajah Ray semakin gelisah dibuatnya. Berkali-kali ia menggosok hidungnya karena gugup, wajahnya juga kian pucat.
“ Sudah di print kan file yang kemarin saya kirimkan ?”, tanya Bu Nita padaku.
“ Iya sudah Bu, ini print out nya “, jawabku sambil mengeluarkan map merah yang sedari tadi kubaca,
“ Kalau memang sudah betul, silakan ditanda-tangani di atas materai Pak “, ujarnya.
__ADS_1
Aku menghela napasku, kubaca lagi surat perjanjian yang kutulis dibantu oleh Bu Nita. Uang yang telah lenyap dipinjam oleh Ray harus ia ganti. Aku memberikan opsi agar pembayarannya dicicil atau dibayar dengan pembuatan aplikasi yang setara nilainya.
“ Ray, lo baca surat ini deh, kalo ada keberatan bisa tanya sama Bu Nita “, jawabku sambil memberikan surat tersebut padanya.
Ray menerima surat tersebut dengan gemetar, matanya menyusuri setiap baris kata yang tertulis di atasnya. Tidak ada penyangkalan lagi yang keluar dari mulutnya.
“ Oke saya bersedia Bu, dimana saya harus tanda tangan “, jawabnya lirih.
Bu Anita menunjuk poin-poin yang harus diparaf oleh Ray. Ia juga menjelaskan perihal perjanjian pembayaran yang sudah tertulis di surat tersebut. Akhirnya aku sedikit lega karena Ray tak menyangkal akan perbuatannya, ia juga bersedia bertanggung jawab untuk mengembalikan dana yang telah hilang tersebut.
“ Oya Bu, hutang ini nantinya akan jadi hutang bersama istrinya gak ya?”, tanyaku pada Bu Nita.
“ Istri Bapak Ray tau tidak mengenai hutang ini?”, tanya Bu Nita pada Ray.
“ Enggak Bu “, jawabnya singkat.
“Pada dasarnya setiap tindakan hukum dalam suatu perkawinan, khususnya terkait harta bersama, yang dilakukan suami atau istri harus memperoleh persetujuan pasangannya. Dalam Pasal 36 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan disebutkan mengenai harta bersama suami atau istri dapat bertindak atas persetujuan kedua belah pihak “, tutur Bu Nita.
“ Pak Ray ini sudah berpisah dengan istrinya Bu, mereka sedang dalam proses cerai. Jadi istrinya tidak akan terseret dalam hutang ini kan?”, tanyaku.
“ Hutang bersama hanya memenuhi jika diadakan selama dalam ikatan perkawinan dan tidak dalam keadaan pisah ranjang atau pisah rumah. Kemudian perjanjian tersebut telah memperoleh persetujuan dari pasangan dan harus dibuktikan pada saat perjanjian. Terakhir, uang tersebut dipergunakan untuk kebutuhan bersama sepenuhnya, jika tidak makan bukan kategori hutang bersama “
Aku bernapas lega mendengar jawaban Bu Nita, sudah bisa kupastikan Rania tidak terlibat atas hutang Ray padaku. Bu Nita menyerahkan surat yang sudah ditandatangani oleh Ray, lalu aku membubuhkan tanda tanganku di atas kertas itu, setelah semua lengkap, Bu Nita ikut menandatangani sambil menjelaskan perjanjian yang telah kami buat.
“ Oya satu lagi Bu, kalau misal saya punya partner beserta rekannya yang berinvestasi dari uang hasil penggelapan, apa bisa diadukan ke polisi?”, tanyaku sambil melirik ke arah Ray yang semakin tegang.
“ Kalau memang ada buktinya bisa Pak. Karena penipuan sifatnya delik aduan, maka akan diproses jika terlapor mengadukan beserta bukti-bukti yang valid ke kantor polisi “, tutur Bu Nita.
“ Baik , terima kasih Bu Nita, sudah cukup untuk perjanjian hutang piutang yang ini, nanti saya hubungi Ibu kalau ada yang mau ditanyakan lagi “, jawabku sambil tersenyum puas.
“ Maksud lo apa nanya gitu? Lo nuduh gue penggelapan?”.
“ Udah dah Ray gak usah ngeles lagi, dari hasil audit jelas-jelas ada transfer le rekening Om Yan senilai investasi yang lo buat bareng Renata”.
“ Ini project lain ko sama Om Yan”, sangkalnya.
“ Terserah lo mau ngomong apa. Yang jelas ada dana yang bergeser tanpa sepengetahuan gue, dan lo ga kasih laporan sama sekali. Apa bukan penggelapan itu namanya?”.
Ray diam tidak berkutik dengn muka merah menahan marah. Bu Nita membisu sambil memperhatikan kami berdua sambil salah tingkah.
“ Maaf Pak Dion, Ini salinan yang bisa Pak Dion dan Pak Rayendra pegang. Kalau ada yang mau ditanyakan boleh hubungi saya saja. Saya pamit ya Pak, kebetulan mau lanjut ke kantor lagi “, ujarnya sambil menjabat tangan kami berdua sambil membawa dokumen yang telah kami tandatangani bersama.
Ruangan kantorku langsung hening, kami diam dalam pikiran masing-masing. Mencoba untuk menahan segala emosi yang terpendam, sudah lama ingin kuluapkan namun percuma rasanya.
“ Gue cuma bisa cicil tiap bulan Yon, ga bisa bayar sekaligus. Mungkin bisa gue bayar sebagian pakai tenaga, lo mau gue buatin apa nanti sebut aja “, jawabnya penuh sesal.
“ Sudah gue siapin beberapa kerjaan buat lo, sisanya lo wajib bayar tiap bulan sama gue. Hutang ini tidak ada sangkut pautnya sama mantan istri lo ya Ray “.
“ Iya gue paham. Gue tanggung jawab kok. Ini gue mau kembaliin semua ATM, buku tabungan, sama token e-banking. Gue mundur jadi partner lo, sorry gue banyak ngerepotin“, jawabnya sambil mengembalikan buku tabungan yang kuminta.
“ Gue masih hargain lo sebagai temen, gue mikirin anak-anak lo. Makanya gue ga mau urus ini ke polisi. Tapi kalo sampe Om Yan yang bertindak, dijamin gue bakal besuk lo di penjara”.
“ Iya bro ngerti. Gue balik Bandung ya, kalo perlu sesuatu kirim email aja bro “, ujarnya singkat sambil pamit berlalu tanpa menatapku sedikitpun. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah pintu dengan wajah merah padam.
PING
Ivan
__ADS_1
“ Si Ray masih di situ ga? Gue udah di parkiran nih “
Aku hanya tersenyum melihat pesan dari Ivan, rasanya tak perlu kubalas sebelum keadaan bertambah runyam. Semoga saja Ray tidak sampai bertemu dengannya di parkiran sana.