
09.20 WIB – Kantor Dion
“ Halo bro, hari ini interview programmer baru ya?”, tanya Ivan dalam sambungan teleponku.
“ Iya nih, temen lo jadi mau ngelamar? Anaknya dateng ga hari ini?”.
“ Bilangnya sih udah sampe kantor lo. Tar cari aja anak yang namanya Bima. Dia mantan tim gue, cuma udah resign gara-gara mau nerusin kuliah”.
“ Oke. Kalau memang skill-nya bagus gue prioritaskan. Lo mau ke kantor gue ga hari ini? bantuin gue ngitung dong Van”.
“ Siap tar gue mampir. Banyak yang harus gue audit nih hari ini”, jawabnya.
“ Oke thank you Van “.
Kulirik jam di pergelangan tanganku, waktu sudah menujukkan jam 09.30 WIB. Setengah jam lagi aku harus mewawancara beberapa kandidiat yang akan menjadi programmer pengganti Ray dan tim-nya. Saat ini perusahaan telah kuambil alih, anak buah Ray juga sudah kuputus kontraknya.
Akhirnya sampai juga mobilku di depan co-working space yang kusewa sebagai kantorku selama 3 tahun kebelakang. Kuparkirkan mobilku tepat di samping pintu masuk dan bergegas masuk menuju ruanganku sebelum kandidat programmer itu datang.
“ Pagi Pak Dion. Hari ini ada interview ya?”, sapa Astri sang receptionis baru di co-working space ini.
“ Iya Tri, nanti kalau ada tamu ke kantor saya, tolong kasih formulir nya. Kayanya udah saya kasih kemarin, mungkin ada di laci”.
“ Sudah ada satu orang yang dateng Pak, saya suruh aja masuk ke ruangan Bapak. Maaf saya gak tau kalau ada formulir nya”, ujarnya meminta maaf sambil mengorek laci mejanya.
“ Iya gak apa-apa, cuma formalitas aja sih. Nanti di dalem juga saya baca CV mereka. Thank you”. Jawabku sambil melangkahkan kakiku menuju ruangan yang berada di ujung selasar.
Aku membuka pintu ruanganku yang berukuran 5 x 4 m2 dengan desain interior bernuansa industrial modern. Tiga buah meja kerja dan sebuah sofa three seater bergaya minimalis tampak bersih dan tertata rapi. Pelayanan di co-working space ini harus kuacungi jempol, rasanya seperti memiliki kantor di gedung prestisius dengan fasilitas bintang lima.
“ Baru sampe bro?”,
Seorang pria mengagetkanku begitu keluar dari kamar mandi. Jantungku nyaris copot melihat sosoknya hadir tepat di depanku. Lelaki itu tersenyum menyapaku sambil mencuci tangannya di wastafel.
“ Astaga Ray, lo ngagetin gue. Ngapain lo kesini?”.
“Cuma mau mampir, siapa tau ada kerjaan yang bisa gue bantu”, jawabnya sambil mengulum senyum.
“ Gue belum minta lo untuk dateng, hari ini jadwal padet mau ada interview”, ujarku sambil berjalan menuju meja kerjaku.
“ Gue dateng mau ngomong sesuatu sama lo. Kali ini gue serius, stop ganggu urusan rumah tangga gue Yon”.
Aku membalikkan badanku sambil menatap mata Rayendra. Lelaki dengan postur tubuh lebih pendek dariku itu sedang menatapku dengan sorot mata tajam.
“ Maksudnya apa gangguin rumah tangga lo? Rumah tangga yang mana?”.
__ADS_1
“ Rumah tangga sama Rania lah. Udah deh, lo ga usah pura-pura naif. Gue tau siapa dalang dari semua ini. Lo kan yang laporin tentang gue ke Rania sampai bantuin dia di persidangan?”, tuduhnya.
“ Hahahaha jadi lo masih berumah tangga sama Rania? Lo ngerasa Rania masih istri lo gitu maksudnya?”.
“ Gak usah balikin pembicaraan deh. Gue udah muak sama alibi lo dengan selalu memutarbalikan fakta. Gue ga pernah ikut campur dalam urusan pribadi lo selama ini, lalu kenapa lo ngerecokin urusan pribadi gue Yon?”, sahutnya sambil menunjuk wajahku.
“ Denger ya, gue jawab satu-persatu. Gue bukan orang yang laporin hubungan lo sama Renata, dia tau sendiri bahwa Renata adalah selingkuhan lo selama ini. Kedua, gue ga merasa bantuin Rania ngurusin kasus cerainya, karena gue ga ngerti hukum. Yang ketiga, kalaupun memang gue berpihak sama Rania, lo mau apa?”.
“ Eh lo inget ya, siapa yang bisa nge-deal-in semua proyek kita? Siapa yang ngerjain semua aplikasi yang klien minta? dan siapa orang yang nutup rapat rahasia lo saat selingkuh dari Nadine?. Gue ga ngerecokin urusan pribadi lo kan Yon? Sampe sekarang lo hidup jauh lebih bahagia”.
“ Sorry ya Ray. Soal gue dan Nadine jadi jauh lebih bahagia karena gue bertobat sama Tuhan. Gue udah minta maaf dan mengakui semua kesalahan gue, dan gue ga pernah sedikitpun terpikir untuk selingkuh dari Nadine lagi”.
“ Terserah lo lah, sekarang gue minta agar lo ga ngurusin urusan pribadi gue dan ga bantuin Rania di persidangan lagi, atau gue …….”.
“ Atau apa? Lo mau laporin ke polisi karena pencemaran nama baik? Dengan senang hati Ray, gue pasti dateng kalau ada panggilan. Sekalian gue ga harus repot-repot nyeret lo ke sana karena penggelapan”, sahutku sinis.
“ Sialan lo Yon, udah gue bantuin selama ini bukannya berterima kasih “, jawabnya sambil mendekati dan menarik kerah bajuku dengan tangan kanannya. Spontan saja aku mendorong tubuhnya hingga ia melepaskan cengkramannya.
“ Apa-apaan lo Ray, mau baku hantam di sini? Yang harusnya marah itu gue Ray, bisa-bisanya lo bohongin gue dengan ngambil duit perusahaan. Punya otak ga sih lo?”, ujarku dengan nada semakin meninggi. Darahku serasa mendidih gara-gara perlakuan Ray barusan.
“ Gue mau kasih lo peringatan ya Yon, jangan pernah sekali-kali usik kehidupan gue”.
“ Jangan banyak bacot lah Ray, bayar dulu aja utang lo. Gue udah muak dengan segala omong kosong lo”.
Suara telepon kantorku berbunyi di tengah perdebatanku dengan Rayendra. Wajah lelaki itu merah padam, tangannya terkepal seakan bersiap melayangkan bogem mentahnya ke arahku. Aku berusaha menahan diri untuk tidak membalas perlakuannya, karena sekali saja tinjuku ini melayang, wajah lelaki ini babak belur dibuatnya.
“ Pak Dion ada apa?”, ujar Astri yang tiba-tiba saja membuka pintu ruanganku dengan wajah panik. Kulihat beberapa orang ikut melongok kearahku dengan rasa penasaran, seakan mencari tahu sumber keributan yang mereka dengar.
“ Gak ada apa-apa Tri. Tolong tutup pintunya. Tamu yang mau di-interview sudah hadir semua?”, tanyaku sambil memalingkan wajahku pada Astri yang pucat pasi.
“ Sudah hadir dari tadi Pak, mau saya suruh tunggu di lobby atau gimana?”.
“ Panggil orang pertama sebentar lagi. Tamu yang di hadapan saya ini sebentar lagi pergi kok”, sahutku sambil kembali menatap wajah Ray dengan napas yang masih memburu.
“ Baik Pak, saya panggil yang pertama ya”, ujarnya sambil buru-buru menutup pintu ruanganku.
Aku membetulkan kerah kemejaku yang kusut karena cengkraman Ray, tanganku sampai bergetar saking menahan emosi gara-gara tingkah konyolnya.
“ Liat aja Yon, kalau lo sampai ikut campur lagi, gue bakal lakuin hal sama untuk cerita sama Nadine tentang semua kelakuan busuk lo dulu. Lo inget kan mantan selingkuhan lo pernah gugurin anak hasil hubungan bejat lo”.
“ Sialan lo Ray !!! “.
Tak ayal lagi tinjuku ini melayang hingga tubuhnya limbung dan jatuh ke lantai. Kutarik kerah bajunya hingga lehernya tercekik sehingga tangannya meremas pergelangan tanganku. Tubuhnya berusaha mendorong diriku namun usahanya sia-sia, sekali lagi bogem mentahku kulayangkan pada wajahnya hingga tubuhnya jatuh tersungkur ke lantai.
__ADS_1
“ Astagfirullah!!! Mas tolongin dong. Mas Bima pisahin dong tolong”, teriak Astri sambil memanggil orang yang melintas di selasar saking paniknya.
Seorang lelaki tinggi kurus langsung berlari dan menahan tubuhku, sedangkan seorang lelaki yang satu lagi menolong Ray untuk bangun.
“ Ray, lo mendingan keluar dari sini, sebelum gue lapor polisi!!!”, ancamku sambil menunjuk lelaki yang memegang pelipisnya yang terluka.
“ Sialan lo Yon. Mulai saat ini gue ga mau ada urusan lagi sama lo. Cukup tau aja, kalau lo ini cowo yang ga tau berterima kasih”, ujarnya sambil menunjuk diriku. Lelaki bertubuh kurus ini langsung menahan agar aku tak melayangkan tinjuku, sementara Ray dipapah oleh lelaki yang satunya menuju ke luar ruangan.
“ Mana yang namanya Bima?”, tanyaku pada Astri yang masih berdiri mematung melihat adegan perkelahian kami.
“ Saya Mas”, ujar lelaki kurus yang sedari tadi menahan tubuhku. Akhirnya ia melepaskan cengkraman dan merapikan kemejanya.
“ Duduk Bim, sorry atas kejadian barusan. Anggap aja ga ada apa-apa”, perintahku pada Bima agar duduk di kursi di sebelahnya.
“ Maaf Pak Dion, Bapak perlu apa? Perlu minum ga Pak?”, tanya Astri dengan raut cemas.
“ Boleh Tri, nanti minta OB yang antar. Saya ga apa-apa kok”, jawabku sambil berusaha mengatur napas.
“ Baik Pak, permisi”.
Kepalaku masih berdenyut akibat perkelahianku barusan, kalau saja Astri dan Bima tidak muncul, sudah pasti Ray kubuat babak belur. Bisa-bisanya Ray membahas masa laluku yang kelam, padahal sudah bertahun-tahun aku berusaha melupakan dosa yang selama ini menghantuiku. Kucoba mengatur napasku untuk memulai interview dengan pria yang kini tengah salah tingkah di hadapanku, sesekali matanya mencuri pandang ke arahku lalu kemudian ia melemparkan pandangan ke arah lain.
“ Ok Bim, tolong ceritakan pengalaman kerja lo di mana aja?”, pintaku tanpa basa-basi.
Bima bercerita panjang lebar tentang pengalaman kerjanya sesuai yang tercantum di CV. Mataku menatap wajahnya namun tidak dengan pikiranku. Isi kepalaku saat ini seakan menyeretku ke dalam masa-masa yang kelam, rasa bersalah dan kemarahan seakan berkecamuk menyeretku dalam kegelisahan.
.
.
.
Mohon bantu Thor ya 😊
▶️Cerita siapa yang paling kalian suka? Sebutkan alasannya.
▶️Episode mana yang paling seru menurut kalian?
Kritik saran yang membangun selalu Thor tunggu. Jangan lupa likes & votes ya 👍🏻⭐️
XOXO
Author
__ADS_1