Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Sebuah Harga Diri Cerita Renata


__ADS_3

Aku pandangi layar laptop di depanku, ada sejumlah penawaran masuk ke email yang harus aku baca. Hari ini aku sedang tidak mood, gara-gara PMS perutku nyeri dan emosiku tak stabil. Aku berusaha untuk mengacuhkan anak-anak di kantor RENTZ ini. Aku tahu mereka sedang membicarakanku. Sejak Ray pulang ke Jakarta tempo hari, kami bertengkar dan Ray kini belum kembali. Ia memilih untuk bersama istri dan anak-anaknya.


“ Lelaki brengsek, semua sama saja. Mereka datang dan pergi sesuka hati “, sungutku sambil membanting mouse di tanganku.


Kulihat Fadli menoleh ke arahku. Tapi begitu aku tersadar dan melirik ke arahnya, ia berpura-pura sibuk dengan laptopnya. Cintya dan Nurul sedang berbisik-bisik sesuatu, kudengar mereka akan ke Jakarta dan menengok Ray di rumah sakit. Tak ada satupun yang memberitahuku soal rencana mereka untuk menengok anak ketiga Ray. Lagipula aku tidak perduli dan tak mau mengucapkan selamat padanya.


PING!!!


Bunyi pesan Whatsapp masuk ke ponselku, ternyata pesan dari Ivan. Ivan adalah lelaki yang kukenal dari Tinder sejak setahun yang lalu. Sudah lama ia berusaha mendekatiku namun selalu kuacuhkan. Kali ini aku harus move on dan putus dari Ray, aku tak sudi menjadi cadangan dari pria beristri.


“ Ren, aku jemput agak telat ya. Si bos ngajak briefing dulu nih pas pulang kantor “, ketiknya di pesan Whatsapp ku.


“ Oke gak apa-apa. Tapi ke PVJ nya jadi kan? “, balasku pada pacar baruku. Parisj Van Java adalah mall yang hits di kalangan anak muda Bandung. Aku sudah mengincar tas di mall itu, kebetulan Ivan pasti sudah gajian, siapa tahu dia mau membelikan tas yang kuincar.


“ Jadi dong sayang, kamu belum makan juga kan?, mudah-mudahan gak lama briefing nya. Nanti aku kabari kamu lagi ya. Love you “, ujar Ivan sedikit merayu.


Aku tersenyum sendiri melihat pesan darinya. Perhatian dari Ivan bisa mengobati rasa kesalku pada Ray. Lelaki yang mau mendapatkanku harus berusaha dengan gigih, bukan hanya mengobral janji-janji. Tidak ada yang akan aku berikan secara gratis, dan Ivan bisa memberikan semuanya untukku. Ivan adalah lelaki single, usianya 5 tahun lebih muda dariku. Tapi dia sangat perhatian dan sangat manis. Ia adalah anak dari anggota DPR yang menjabat pada periode tahun lalu sedangkan ibunya adalah ketua Perhumas di Bandung. Ivan dilahirkan di keluarga terpandang, dan ia adalah anak tunggal. Pekerjaannya adalah sebagai audit manager di salah satu perusahaan jasa keuangan terkemuka.


Ivan terlahir sebagai anak tunggal dari keluarga berada. Sejak dulu tak sulit baginya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Mulai dari masuk sekolah hingga kuliah di universitas favorit di Bandung, hingga ia sudah digadang-gadang akan mengikuti jejak karir ayahnya di dunia politik. Aku tak peduli dengan karirnya. Selama ia setia dan royal padaku aku bisa mempertimbangkan hubungan yang serius dengan pria yang usianya lebih muda dariku itu.


“Mbak Rena hari ini ga ada meeting ke luar?”, tanya Fadli yang kebetulan berjalan ke samping mejaku.


“ Gak Fad, lagi capek ga enak badan “, sahutku singkat.


Fadli kemudian menarik kursi kosong di meja sebelahku. Ia duduk persis di hadapanku seperti hendak membicarakan sesuatu yang serius.


“ Mbak Rena, Mas Ray udah telepon Mbak belum?”, tanya Fadli setengah berbisik padaku.


“ Enggak, emangnya kenapa “, jawabku ketus.


“ Mas Ray panik banget begitu tau Mbak Rena udah punya cowo sekarang “, sahutnya kembali. Aku tak habis pikir pada Fadli, kenapa ia repot-repot mengurusi hubunganku dengan Ray.


“ Ya hak aku dong mau pacaran sama siapa, aku single memang seharusnya cari yang single juga kan. Lagian Ray gak serius kayanya sama aku “, sahutku dengan sedikit nada bangga begitu tahu Ray cemburu padaku.


“ Mas Ray tuh suka banget sama Mbak Rena dari pertama kali liat CV mbak, dia bilang sih Mbak Renata beda sama perempuan lain, apalagi istrinya “,ujar fadli kembali.


“ Iya udah tau, Ray cerita begitu juga sama aku. Tapi buat apa ngaku suka kalo dia ga berbuat apa-apa. Aku gak mau jadi ban serep dia, aku punya harga diri. Jangankan jadi selingkuhan, jadi istri yang di poligami aja aku gak sudi “, tegasku pada Fadli. Aku harap ia akan menyampaikan pesanku pada Ray dan menyudahi semua usahanya mendekatiku.


“Tapi kalian tuh cocok mbak. Mas Ray dirut di RENTZ, Mbak Rena pinter melobi klien. Kalian tuh cocok banget jadi ujung tombak perusahaan ini. Pasti RENTZ makin maju dan Pak Hardian bakal ngembangin lagi bisnisnya lewat tangan-tangan kalian “ ujar Fadli berapi-api.


Aku terdiam mendengar ucapan Fadli. Memang ada benarnya perkataan ia barusan. Ray itu sangat plin plan, ia kadang butuh masukan dariku tentang segala keputusan yang menyangkut pekerjaan. Kadang ia semangat, tapi kadang ia terlihat bimbang. Aku harus turun tangan mengurusi pekerjaannya yang kadang tak selesai. Oleh Karena itu Ray sangat mengandalkanku. Sejak itu Ray selalu mengikuti apa mauku termasuk menaikkan gajiku. Performaku di mata Pak Hardian juga tak bisa dipandang sebelah mata, Ray selalu mengapresiasi pekerjaanku sehingga Pak Hardian sangat puas.

__ADS_1


“ Udah deh Fad, kalo urusan pekerjaan aku profesional. Tenang aja aku pasti membawa perusahaan ini kearah yang lebih baik. Aku harus akui kalo Ray memang partner kerja yang baik, aku pasti kooperatif kok “, tegasku pada Fadli yang sedari tadi menjodohkanku dengan Ray.


PING!!!


“ Sayang, aku udah di parkiran. Barusan aku gak jadi briefing, demi kamu aku kabur hehe “, tulis pesan yang dikirim dari Ivan.


“ Ok. Aku beres-beres dulu sebentar ya. Nanti aku turun “, jawabku pada lelaki yang aku sebut pacarku itu. Sejujurnya aku masih ragu Ivan ini pacarku atau bukan. Aku belum merasa klik 100% dengannya, ia memang seru untuk aku ajak bersenang-senang. Lagipula ia sangat royal, bulan depan saja ia akan membawaku ke Hongkong untuk liburan.


“ Sori ya Fad aku udah dijemput, kamu lanjutin listing tenant yang mau join ya. Besok tolong kirim ke emailku semuanya”, ujarku seraya berdiri sambil membereskan barang-barangku dan memasukkan ke dalam tas.


Anak-anak yang lain memperhatikanku begitu keluar ruangan kantor. Aku sedang malas basa-basi dengan mereka, mendengar nama Ray hari ini saja membuat mood ku berantakan. Aku turun menyusuri tangga ke lantai satu dan kulihat Pak Sugeng sang sekuriti membuka pintunya untukku.


“ Pulang Bu Renata?, hati-hati di jalan ya bu “, serunya dengan ramah.


“ Iya pak makasih ya, saya duluan “, jawabku tak kalah ramah padanya.


Mataku kemudian menyusuri parkiran mencari mobil sedan BMW berwarna merah milik Ivan, oh ternyata ia parkir di ujung jalan. Aku berjalan ke arah mobil itu dan kulihat Ivan sedang asyik bermain games di balik kemudi mobilnya. Ivan melihat kedatanganku dan ia membukakan kunci pintu agar aku bisa masuk. Sambil tersenyum kusapa lelaki muda ,tampan dan berkulit putih itu sambil duduk di sampingnya. Aroma parfum mobil mewah langsung menyeruak di hidungku, terasa harum dan menenangkan. Ivan segera menstarter mobilnya dan melaju menerobos temaram senja Jalan Dago.


Bip bip bip bip bip bip


Ponsel Ivan berbunyi. Ia melirik ponselnya namun tidak diangkat. Ponsel itu ia taruh kembali di dashboard mobilnya.


Bip bip bip bip bip bip


“ Yang kok ga diangkat hape nya?, bos kamu bukan?”, tanyaku heran melihat reaksi Ivan yang mengacuhkan panggilan ponsel itu.


“ Bukan, itu nyokap yang telepon “, jawabnya singkat dengan penuh kebingungan.


“ Ya angkat lah, siapa tau penting “, desakku padanya.


Lalu kulihat Ivan mengangkat panggilan itu dan menjawab dengan kata-kata singkat. Yang keluar hanya kata “ Iya”, “ Enggak”, “ Aduh “, dan “ Oke”. Entah apa yang mereka bicarakan sehingga Ivan hanya mengeluarkan jawaban sesingkat itu. Setelah panggilan telepon diputus, barulah ia terlihat linglung dan sedikit kesal.


“ Yang, mama ternyata menyusul kita ke PVJ. Dia lagi dinner sama temen-temen nya, mama pengen aku temuin salah satu sahabat lamanya “, Seru Ivan dengan nada gelisah. Aku tau persis Ivan pasti berpikir aku akan marah.


“ Yaudah deh gak apa-apa, kamu temui aja temen mama kamu. Aku bisa kok jalan-jalan sebentar”, jawabku dengan sedikit nada kecewa. Namun mau bagaimana lagi, nasib mengencani anak pejabat memang harus begini.


Mobil kami akhirnya sampai juga di parkiran Mall PVJ yang besar. Kami berputar-putar mencari tempat kosong. Seorang petugas parkir langsung melambaikan tangan begitu melihat mobil mewah Ivan yang sedari tadi berputar-putar. Rupanya ia memberitahu agar kami parkir di tempat yang kosong di pojokan area parkir. Ponsel Ivan kembali berbunyi dan rupanya itu masih panggilan dari mamanya. Ivan langsung bergegas keluar mobil dan menggandengku masuk ke dalam sebuah resto yang tak jauh dari parkiran mobil kami. Sebuah Resto bergaya Peranakan dengan nuansa etnik melayu yang kental. Kulihat ada sekelompok ibu-ibu berusia 50 tahun bergaya elegan dengan polesan make up agak tebal untuk seusianya. Nampak seorang wanita dengan rambut burgundy dengan rambut model cepol melambaikan tangannya kepada kami. Wanita berkulit putih itu terlihat sangat elegan. Badannya yang terlihat masih ramping memakai setelan kemeja ungu disandingkan dengan setelan blazer berwarna abu muda. Harus kuakui ia sangat cantik dan berkelas. Sebuah tas Prada saffiano tergeletak di meja makan, begitu pula tas milik ibu-ibu lainnya.


“ Ivan sini nak, kenalkan ini Tante Henny dan Tante Diana dari BPK, mereka kebetulan lagi di Bandung mau nawarin project sama kamu “, sapa wanita cantik yang tak lain adalah mamanya Ivan.


Ivan menyalami mereka dan tak lupa memperkenalkanku dengan mama dan teman-temannya.

__ADS_1


“ Renata tante “, senyumku sambil menjabat tangan mereka.


Mamanya Ivan mempersilahkanku ikut bergabung dengan mereka. Kulihat Ivan terlihat kikuk, tapi ia berusaha ramah di depan tamu mamanya. Aku merasa terintimidasi berhadapan dengan wanita-wanita pejabat ini. Entah kenapa aku merasa gugup di hadapan mereka. Padahal biasanya aku sangat percaya diri di hadapan para pria pengusaha hingga pejabat sekalipun, namun tidak di hadapan mereka.


“ Renata kerja dimana “, pertanyaan mamanya langsung membuka pembicaraan di meja yang tengah hening.


“ Di RENTZ tante, perusahaan startup yang baru saja dibentuk sama Pak Hardian Hardjawinata “, jawabku dengan gugup.


“ Oh Hardian, bikin apalagi dia? Bukannya masih sibuk main property dia?”, jawab mama Ivan yang ternyata terlihat akrab dengan Pak Hardian.


“ Iya tante masih property kok, namun sekarang kami buat aplikasi yang memudahkan Pak Hardian untuk menyewakan property miliknya “, terangku semakin gugup. Seharusnya bukan itu jawabanku untuk menginformasikan produk RENTZ. Aku makin terlihat bodoh sekarang.


“ Selain di RENTZ, kamu kerja dimana Ren “, tanyanya lagi sambil menatap mataku dalam-dalam.


Nafasku serasa berhenti saat wanita itu menatapku, satu tangannya menopang dagu seperti hendak menyimak jawabanku.


Mataku terbelalak dan mulutku setengah menganga, aku berusaha masih mencerna pekerjaan sampingan yang ditanyakan olehnya.


“ Iya freelance atau apa gitu. Kan anak-anak milenial sekarang produktivitasnya tinggi. Selain kerja kantoran mereka suka ada project lain yang sesuai passion biasanya”, terang mamanya masih dengan tatapan tajam.


“ Mmmhhh….saya….kerja…sampingan tante. Saya suka nyanyi di…club….eh café gitu tante “, telapak tangan hingga ketiakku terasa basah. Aku benar-benar gelisah serasa diinterogasi oleh mamanya Ivan dan dua ibu-ibu pejabat itu. inginku menusuk-nusuk meja makan ini dengan garpu yang ada di hadapanku, mengapa harus menjadi penyanyi café yang keluar dari mulutku. Kedua pejabat itu hanya tersenyum satu sama lain tapi matanya tidak berekspresi.


“ Oh kamu penyanyi café?, gak apa-apa sih jadi penyanyi juga selama halal kan Ren”, sahutnya sambil mengoper minuman saat pelayan datang membawakan pesanan. Ekspresi wanita itu tak bisa kutebak, dia tidak merendahkanku namun tidak juga menyanjungku. Kurasa ia hanya ingin mencari profil wanita yang dikencani anak semata wayangnya.


Ivan terlihat memijit kening, sesekali ia menghela nafasnya. Kemudian Tante Diana angkat bicara mengenai sekilas project yang akan mereka buat. Ivan diminta untuk mengaudit di kantor mereka. Ivan hanya mengangguk-angguk dan berusaha menyudahi pembicaraan agar kami segera keluar restoran ini. Setelah mereka berdiskusi sekitar setengah jam, Ivan mengajakku makan berdua meninggalkan tiga ibu pejabat ini. Setelah berpamitan kami pun pergi menyusuri lorong PVJ untuk mencari restoran yang lebih casual.


Kini kami melewati toko tas dengan brand yang kusukai, tas yang kuincar masih terpajang di etalase. Namun aku tak bersemangat lagi untuk masuk, aku menyesal sudah terlihat bodoh di restoran barusan. Aku hanya ingin pulang dan membenamkan diri di bawah bantal.


“ Renata….Renata !!! “ terdengar seseorang memanggilku berkali-kali. Aku menoleh mencari sumber suara yang berteriak-teriak memanggil namaku, hingga akhirnya aku mendapati seseorang melambaikan tangannya dan tersenyum melihatku.


Deg…


Jantungku berdegup kencang melihat sosok pria yang kini tengah berjalan mendekati kami.


“ Hai Ren, kemana aja lo. Lagi mau ngapain nih disini “, sapa lelaki bertubuh tambun berkulit sawo matang dan brewok tebal menghiasi wajahnya.


“ Halo, gue Benny “, sapa Benny yang menjulurkan lengannya untuk bersalaman dengan Ivan. Ivan membalas uluran tangannya dan memperkenalkan dirinya.


“Hi Ben, kenalin ini cowo gue. Gue lagi mau cari makan nih, udah kleyengan kepala gue. Tar kalo mau ngobrol via WA aja ya, buru-buru nih “, sahutku sambil menarik lengan Ivan menjauhi Benny.


“ Okay, see you around Ren “, jawab Benny sambil masih mengulum senyum yang sangat menyebalkan. Aku tak mau pedulikan Benny yang masih berdiri memandangi kami, aku cepat-cepat menarik lengan Ivan untuk masuk ke sebuah café Italia. Ivan sampai kaget melihatku berjalan terburu-buru seperti dikejar hantu. Dia hanya berpikir aku sangat kelaparan malam itu, namun tidak bagiku. Hari ini adalah hari paling sial dalam hidupku.

__ADS_1


__ADS_2