Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Diantara Pilihan Cerita Rayendra


__ADS_3

Semilir angin sejuk berhembus membelai dedaunan yang melambai dengan gemulai. Sayup-sayup terdengar alunan musik gamelan Sunda di seluruh penjuru ruangan di rumah makan bergaya resort ini. Suasana rumah makan sunda ini didesain dengan sentuhan pedesaan dengan desain interior yang semuanya terbuat dari bambu. Suasanya tenang dan damai, jauh dari kebisingan dan hiruk-pikuk kemacetan.


Rumah makan yang baru saja diresmikan Pak Hardian ini memang masih baru. Aku menyukai konsep restoran bergaya resort ini. Pak Hardian mengajak kami semua makan siang selepas briefing tadi pagi. Kami memilih untuk menempati meja yang berada di gazebo agar bisa leluasa menikmati pemandangan perbukitan di sekeliling kami.


“ Ray, kalian nikmati saja acara makan siangnya disini. Saya mau ketemu klien lagi jam 2 siang “, ujar Pak Hardian sambil mengaduk-aduk kelapa muda yang ada di mejanya.


“ Iya pak, nanti saya sama Rena mau ketemu manager resto ini dulu, saya mau brief tentang aplikasi RENTZ di Resto Bukit Bambu ini pak ”, jawabku dengan sigap pada Pak Hardian. Beliau sudah menjamu kami di resto barunya, kini saatnya diriku yang harus menyenangkan hatinya.


“ Nah bagus itu !!!. Kamu sama Renata udah bagus tuh koordinasinya. Semua presentasi sama klien lancar jaya kalau Renata yang maju. Pertahankan lah ya”, sahut Pak Hardian menepuk bahuku. Aku tersenyum dengan penuh bangga, kekesalanku di pagi tadi terhapus sudah. Aku merasa semesta menemukanku dengan investor yang tepat, tim yang solid dan partner kerja yang hebat. Renata adalah orang yang sangat kuandalkan saat ini.


Kulihat sosok Renata dari kejauhan, ia sedang bercengkrama dengan staf Resto ini. Itulah gaya Renata yang supel, ramah dan hangat pada semua orang. Dimas dan Angga sibuk memesan menu makan siang, Cintya dan Nurul masih sibuk selfie di setiap penjuru restoran, sedangkan Fadli sang marketing baru kami tengah mengatur meja yang akan kami tempati. Aku merasa bangga memiliki mereka, tim yang solid seperti ini tak boleh aku sia-siakan. Selepas Pak Hardian menyantap menu makan siangnya, ia pamit untuk lanjut menghadiri meeting bersama kliennya. Akhirnya, aku bisa melepas penat sejenak di tempat ini bersama orang-orang terbaik yang kumiliki.


Aku beranjak dari tempat dudukku dan menghampiri anak buahku yang sedang asyik ber-selfie ria. Renata lari terbirit-birit menghampiri kami untuk ikut berfoto bersama. Ia berdiri di sampingku sambil berpose dengan senyum manisnya. Kuraih bahu Renata dan kupeluk badannya dari belakang, ia mendekatkan tubuhnya dan menyenderkan punggungnya di dadaku. Bahasa tubuhku dan tubuhnya seakan satu frekuensi menyiratkan sinyal-sinyal cinta.


“ cie…..cieeee…Mas Ray sama Mbak Rena makin mesra aja nih”, goda Nurul saat mendapati kami berangkulan erat. Aku tersipu malu begitupun Renata. Aku tahu rasa ini salah tempat, tapi aku yakin cinta akan selalu datang pada orang yang tepat.


Anak buahku tahu aku sudah memiliki anak dan istri, aku sering bercerita tentang anak-anakku pada mereka. Tapi aku sudah lelah dengan kehidupan rumah tanggaku. Hanya pada mereka aku bisa mengadu, memuntahkan segala kekesalanku dan mencari pandangan lain mengenai segala masalahku. Mereka hanya bisa mendukung apa yang aku pikir terbaik bagi karir dan keluargaku. Saat ini aku sedang tertekan, masalah pekerjaan menumpuk memperparah kondisi finansialku.


Nurul juga merupakan seorang Ibu Tunggal dari seorang putra. Ia melamar di RENTZ demi menghidupi putranya yang kini sudah masuk sekolah dasar. Sebelum ia bekerja di RENTZ, Nurul bekerja sebagai driver taksi online untuk menghidupi anaknya. Ia tidak pernah bergantung dari mantan suami yang meninggalkannya. Mantan suaminya sudah menikah lagi selepas mereka bercerai, sejak saat itu anaknya sudat tidak dibiayai oleh ayahnya. Kegigihan Nurul sangat aku apresiasi, itulah mengapa aku menerima dia bekerja di RENTZ. Selain karena performa kerja yang baik, ia merupakan wanita tangguh yang harus aku sukai. Meskipun umurnya jauh dibawah umurku, Nurul cukup dewasa menyikapi segala permasalahan hidupnya.


Orang kedua yang aku sering aku ajak curhat adalah Fadli, dia baru saja bergabung di tim kami satu bulan yang lalu. Usianya sekitar 42 tahun. Usia yang cukup matang untuk aku ajak berdiskusi. Fadli menyarankanku untuk berterus terang pada istriku tentang masalah kami. Segala cara aku lakukan untuk berbicara pada Rania, tapi hasilnya sia-sia. Aku tak mau membahasnya saat ini, kandungan Rania sudah medekati tanggal melahirkan. Aku tak bisa membuatnya stress karena masalah-masalah kami, meskipun aku tahu kalau semua ini tak bisa kubiarkan lagi.


“ Kalo Mas Ray udah cape sama Rania ya lebih baik putuskan segera mas, performa kerja mas Ray ga akan optimal, pekerjaan makin gak selesai, imbasnya kan ke kondisi perekonomian juga. Kasian kan anak-anak Mas Ray kalau ayahnya ga sehat lahir dan batinnya”,saran Fadli saat aku curhat di tengah-tengah kegalauanku.


“ Jatuh cinta itu anugrah mas, cinta itu pemberian Tuhan. Mungkin mas Ray harus ketemu sama Mbak Rena dulu biar bisa mengambil sikap. Coba kalau ga ada Mbak Rena, mungkin Mas Ray masih terbelenggu dalam ikatan rumah tangga yang tak sehat”, serunya bijak.


Kata-kata Fadli masih aku ingat hingga kini. Itulah yang membuatku yakin kalau cintaku pada Renata memang anugrah yang harus aku syukuri. Sambutan hangat Renata menandakan semesta telah mendukung dan berpihak kepada kami. Meskipun dari dasar hatiku yang paling dalam, semua tentang Rania masih belum bisa kusingkirkan. Apalagi sebentar lagi ia akan melahirkan, kehadiran anak ketigaku terus membuatku bimbang.


Renata menyandarkan kepalanya di bahuku saat aku tengah berkonsentrasi menyetir mobil saat perjalanan ke apartemen. Kuusap rambutnya dan kukecup lembut dahinya. Acara makan siang bersama tim tadi siang mengobati segala kepenatan yang kurasakan. Keberadaan wanita di sampingku ini selalu mengobarkan gairahku, semangat dan rasa percaya diriku kian meningkat saat bersamanya. Di lampu merah jembatan Pasupati kami berhenti, kupindahkan channel music radioku, terdengar suatu lagu yang sangat aku kenal.

__ADS_1


Well I found a woman, stronger than anyone I know


She shares my dreams, I hope that someday I'll share her home


I found a love, to carry more than just my secrets


To carry love, to carry children of our own


We are still kids, but we're so in love


Fighting against all odds


I know we'll be alright this time


Darling, just hold my hand


My girl, I'll be your man


Baby, I'm dancing in the dark, with you between my arms


Barefoot on the grass, listening to our favorite song


When I saw you in that dress, looking so beautiful


I don't deserve this, darling, you look perfect tonight


Lagu Perfect dari Ed Sheeran ini adalah kesukaan Rania. Dia sering karaoke di mobil, tepat disampingku jika kami bepergian bersama. Kila dan Kica juga sangat hapal dengan liriknya, mereka tau mamanya sangat menyukai lagu ini. Otakku serasa tejebak di dalam lantunan nada yang tengah diputar, begitupun mobil kami terjebak dalam kemacetan. Saat ini Jalan Cihampelas bawah begitu macet, entah ada apa gerangan. Kulirik jalan di sebelah kiriku, kami terjebak di pinggir sebuah toko roti yang tak asing lagi dalam ingatanku. Toko roti ini punya sejuta cerita, kisah yang sebenernya saat ini enggan kuingat lagi. Tapi memoriku seakan berputar dan menarikku pada saat 8 tahun yang lalu.


Ya, Jalan Cihampelas ini adalah saksi bisu saat aku bertemu dengan Rania. Seorang wanita lugu, ceria, dan pemberani bernama Rania Chairunnisa. Seorang anak tunggal yang jauh dari kata manja, seorang wanita yang sangat menyenangkan untuk diajak bicara. Setelah aku menikah dan Rania hamil anak pertama, Rania masih bekerja di kawasan Jl Setiabudi. Toko Roti inilah yang menjadi meeting point saat kami pulang kantor. Sesekali Rania melongok roti yang dijual setengah harga saat pulang kantor, ia hanya melihat saja tanpa mau membeli. Setiap tanggal 25 sehabis kami gajian, barulah ia membeli selusin roti untuk kami bawa pulang.

__ADS_1


Mobilku melaju pelan sekitar 1 meter jauhnya. Tak jauh dari toko roti itu ada bakso yang terkenal dan masih ramai hingga saat ini. Aku ingat kami pernah makan di kedai itu saat Rania hamil 5 bulan. Setiap pulang kantor ia sangat kelaparan, inginnya makan yang asam-asam. Kedai bakso yang sudah jadi langganan artis itu akhirnya kami singgahi, apapun akan aku berikan untuk Rania agar semua keinginannya terpenuhi.


Mobilku kini melaju ke arah pertigaan Abdul Rivai. Terdapat satu bengkel motor mobil disana yang menyimpan cerita. Saat mobil pertama kami mendadak mogok, aku membawa mobilku ke bengkel itu. Saat itu anak pertamaku telah lahir, Rania menunggu di ruang tunggu bengkel itu sambil menggendong Kila. Keringat Kila sampai bercucuran, Rania dengan sabar mengelap keringatnya dan menggendongnya berjalan ke luar bengkel.


Semua tepat di jalan ini penuh dengan cerita Rania, hingga lagu yang tengah berputar adalah tentang Rania. Tak kusadari mobilku melaju lebih kencang, tiba-tiba ada motor menyalip dari sebelah kananku sampai aku harus mengerem menghindari motor yang nyaris menyerempet dan memotong jalur tepat di depanku.


“ Maaaas, awas motor !!! “, jerit Renata sambil meremas lenganku. Badanku lemas, meskipun mulut ini ingin mengumpat motor yang nyaris kutabrak. Tanganku langsung basah, entah kenapa aku merasa gelisah.


“ Kamu kenapa sih dari tadi diem aja?”, Tanya Renata padaku yang sedari tadi diam tanpa suara.


“Ga ada apa-apa Ren, cuma lagi inget kalau aku harus langsung pulang. Anakku sakit katanya”, jawabku pada wanita yang terlihat kesal disampingku.


“ Oh kamu mau pulang sekarang? Kangen kali sama istri kamu di rumah “, sindir Renata dengan nada tinggi dan gusar.


“ Loh kok gitu Ren, aku bilang anak-anak aku sakit. Kenapa jadi bahas Rania?. Aku sudah seminggu ga ketemu Kila dan Kica, sekarang mereka lagi demam. Aku cuma inget mereka”, jawabku dengan nada tak kalah gusar padanya.


“ Oh jadi sekarang inget rumah lagi? Kemarin-kemarin gak mau pulang, katanya lebih nyaman sama aku. Trus sekarang kita nyaris mati gara-gara kamu ngebet pulang? Kamu pikir aku ini rest area apa??? ”, cecar Renata sambil menunjuk wajahku.


“ Aku pulang karena ada anak-anak Ren!!!. Kalau bukan karena mereka, aku gak bakal inget pulang. mereka nyariin aku, mereka kangen aku!!!”, sahutku sambil terus menginjak pedal gas di jalan Padjadjaran. Kusalip beberapa angkot di depanku, entah kenapa emosiku berubah drastis begitu cepat. Tak seharusnya aku bertengkar dengan Renata, ia tak melakukan salah apa-apa. Ah kepalaku pusing jadinya, akupun tak tahu harus marah pada siapa.


“Ok cukup mas, aku turun aja disini. Aku bisa cari taksi. Kamu langsung aja putar arah lewat tol biar cepet sampe ke rumah. Istri dan anak tercinta kamu udah setia nunggu kamu disana”, sindirnya dengan sini sambil menyeka matanya. Wajahnya merah menahan marah.


“Ren sorry, aku gak ada maksud berantem sama kamu. Aku minta maaf, aku cuma gelisah aja karena tiba-tiba inget anak-anak. Aku serius sayang kamu, aku butuh kamu”, sahutku sambil mencoba menggenggam tangan Renata. Renata menepis uluran tanganku, ia menyibakkan rambutnya sambil menatap jendela.


“ Bullshit kamu sayang aku kalau kamu masih inget rumah. anak-anak hanya alesan kamu aja. Makasih udah perhatian sama aku, udah sayang sama aku, udah tidurin aku dan balesannya kamu mau kembali pulang ke rumah. That’s fair enough for me”, sindir Renata yang sangat menohok diriku.


“ Hey....kamu jangan lupa aku ini seorang ayah. Kamu bilang kamu juga sayang aku, terima aku apa adanya. Aku bisa aja tinggalin Rania, tapi tidak tinggalin anak-anak aku demi kamu”, bentakku pada wanita yang wajahnya semakin memerah menahan marah. Kurasa ia benar-benar marah sekarang, sorot matanya tajam menandakan kekecewaan.


“ Aku punya harga diri Ray!!!. Aku gak mau lama-lama jadi perempuan simpanan kamu. Sekarang kamu pilih dia atau aku!!!. Stop mobilnya sekarang juga, sebelum aku teriak keluar jendela kalau kamu ini penculik”, ancam Renata sambil membuka kaca jendela mobilku.

__ADS_1


Aku memelankan laju mobilku dan merapat ke bahu jalan. Kepalaku pusing tak karuan, telapak tanganku basah karena keringat dingin menahan amarah. Tak ada lagi kata-kata yang bisa keluar dari mulutku. Kubiarkan Renata keluar dari mobilku dengan emosi, matanya bengkak akibat pertengkaran kami. Otakku membeku, aku tak tahu ada apa dengan diriku. Tak pernah kubayangkan aku bisa bertengkar dengan Renata, padahal kami baru saja menikmati hari kami bersama dengan penuh canda tawa. Dalam sekejap saja keceriaan itu sirna hanya gara-gara bayangan Rania terlintas di benakku. Tiba-tiba aku sangat rindu dengan anak-anakku, mereka pasti sudah menungguku di rumah.


__ADS_2