Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Penyelidikan Cerita Ivan


__ADS_3

22.35 WIB – Rumah Ivan


BRUKKK


Kulemparkan kunci mobil di meja ruang tamu, dengan segera kubuka laptop dan langsung mengecek email yang dikirim Dion tadi siang. Kubuka setiap file satu-persatu, nampak deretan angka yang harus kuperiksa dengan teliti.


“ Ivan, baru sampe rumah jam segini mandi dulu kek, makan dulu kek. Malah diem disini belum ganti baju pula “, ujar ibuku yang tiba-tiba muncul dari ruang kerjanya.


“ Ivan, Mama lagi manggil kamu loh! “, sahut ibuku kembali.


“ Iya Ma sebentar lagi sibuk ini “, jawabku sambil tak berpaling dari layar laptopku.


“ Audit apa sih malem-malem gini Van?”, ga bisa besok aja di kantor?”, tanyanya sambil mencoba mengintip layar laptopku.


“ Audit cashflow perusahaan Dion, kemarin Dion minta tolong aku ngerjain ini “, jawabku singkat.


Mataku sibuk menggeser trackpad laptop, mencoba menelusuri setiap angka yang tertera di tabel laporan tersebut. Hingga pada akhirnya mataku tertuju pada overhead gaji programmer yang tertulis di dalamnya. Ibuku hanya menggelengkan kepala lalu berlalu ke ruang kerjanya.


“ Halo, Yon lo udah sampe rumah?”, tanyaku pada Dion di sebrang sana.


“ Udah, gimana laporan yang gue kirim? Udah diterima?”, tanya Dion


“ Overhead buat gaji programmer ko gede banget sih? Ada berapa orang karyawan lo?”, tanyaku.


“ Anak buah si Ray itu, kalo ga salah ada 3 orang “, jawabnya.


“ Setiap programmer 9 juta per bulan, dikali setahun udah 108 juta sendiri. Nanti besok gue kroscek ke temen gue di bank, jam segini temen gue udah tidur kayanya “ jawabku sambil terus membuka setiap file satu-persatu.


“ Oke Van, tar besok kabarin gue lagi. gue udah ngantuk nih, Sean udah ngajak tidur “, jawabnya.


Aku segera menutup ponselku dan merebahkan punggungku di sofa. Tak kusangka selama ini aku dibohongi Renata. Saat aku sudah mengambil keputusan untuk menikah dengan resiko orang tuaku tak akan setuju dengan statusnya. Saat itu aku yakin Renata adalah wanita dewasa yang tepat bagiku. Dia yang bisa mengobati segala traumaku untuk menikah saat usiaku sudah menginjak 35 tahun ini.


Argggh…brengsek si Ray, padahal aku baru saja bertemu dia di Bogor. Mengingat wajahnya saja aku mendadak muak. Kalau saja aku bertemu dengan mereka berdua kemarin, rupanya Tuhan masih menyelamatkan mereka.

__ADS_1


“ Nak, kamu gak mandi dulu? solat dulu? “, ibuku kembali muncul dengan wajah cemas.


“ Iya Ma, sebentar lagi. Cape abis nyetir soalnya “.


“ Kamu ke Jakarta sama Rena, Van?”, tanyanya sambil menjatuhkan badannya di sampingku.


“ Enggak Ma, aku sendirian “, jawabku sambil mencoba memejamkan mata sambil memijat keningku.


“ Kamu ribut sama Rena?”, tanyanya dengan nada berhati-hati. Ibuku adalah orang yang paling tak bisa kubohongi.


“ Udah putus Ma, dia punya cowo lain “, jawabku kesal.


Ibuku hanya terdiam dengan tatapan khasnya. Sorot mata tajam yang selalu mengintimidasi, seakan mencoba untuk membaca setiap isi hati.


“ Mama udah bisa tebak Van “, sahutnya sambil ikut merebahkan kepalanya di sofa kulit kami, ia menggeser duduknya persis disampingku, tangannya yang halus menepuk-nepuk pahaku.


“ Tumben Mama gak protes kemarin? Malah ngajak Rena makan malam?”, tanyaku sambil melirik wajahnya.


“ Kamu udah besar, ngapain Mama larang. Setiap keputusan yang kamu ambil harus murni dari hatimu sendiri “ jawabnya.


“ Kamu kenal dimana sih? “, tanyanya lagi.


“ Tinder Ma, aplikasi kencan online gitu “ jawabku singkat.


“ Ivan, tahun depan Mama harus pensiun dari Perhumas. Papa kamu juga udah lelah di dunia politik. Kami sudah tidak muda lagi Van. Kalau Mama atau Papa dipanggil Allah duluan, kami belum sempet liat kamu gendong anak “.


Seketika saja hati ini terusik dengan perkataan ibuku. Kata-kata sakti ini yang selalu membuatku merasa bersalah. Bukannya aku tak mau menikah, tapi memiliki komitmen untuk berumah tangga itu yang masih aku hindari.


“ Jodohmu itu adalah cerminan dirimu Van. Kalau mau cewe bener, kamu juga harus jadi orang bener. Mau istri solehah, kamu juga harus jadi suami soleh dulu. Jangan harap kamu mau dapetin istri sempurna, karena dirimu juga gak sempurna “, sahutnya bijak.


“ Ivan juga berusaha bener kali Ma, meskipun ga soleh-soleh amat “, sahutku mengelak.


“ Apa sih yang ada di pikiran kamu tentang pernikahan Van? “, tanyanya lagi.

__ADS_1


“ Komitmen bersama untuk menjalani kehidupan dalam suka maupun duka “, jawabku.


“ Ketika kamu mengucap ijab kabul, kamu sedang bersumpah di depan Allah untuk menanggung semua dosa istrimu, dosa anak-anakmu, dan jika kamu gagal dalam tanggung jawabmu maka kamu termasuk golongan yang fasik “, ujarnya.


“ Tuh kan dibahas lagi, makin males kawin Ma “, ujarku memelas.


“ Bukan untuk ditakuti, tapi dipikir baik-baik “, jawabnya sambil menunjuk dahiku.


“ Tidak banyak orang yang mengerti makna dari ijab kabul. Kami pun dulu begitu, yang kami tau dengan ijab kabul, maka kami sah menjadi pasangan suami-istri dan leluasa untuk berhubungan dengan cara yang halal. Namun janji yang tersirat di dalamnya ternyata sangat berat. Papamu adalah tameng Mama di akhirat “ lanjutnya lagi.


“ Enak dong jadi istri, semua dosa-dosanya ditanggung suaminya “, tanyaku sambil melirik pada ibuku.


“ Oleh karena itu, suami harus mengingatkan setiap kesalahan yang istrinya perbuat dengan cara yang baik. Maka komunikasi antar pasangan itu perlu dijaga, agar setiap kesalahan bisa diminimalisir. Mama juga ga sempurna Van, belum bisa menutup aurat sepenuhnya, masih kerja, ya banyak lah. Tapi Inshaallah Mama bulatkan niat untuk menjalankan kewajiban Mama“, ujar ibuku.


“ Terus harus gimana biar dapet jodohnya Ma?Pake Tinder salah, kelayapan cari cewe salah juga, dijodohin gak mau “, jawabku.


“ Niatkan dalam hati Van, berdoa sama Allah untuk didekatkan dengan orang baik. Dirimu adalah siapa orang-orang di sekelilingmu, kalo temen kamu tukang maen cewe ya ga heran kamu juga bakal begitu “.


“ Eh, Dion udah berubah lo Ma, ga brengsek lagi sekarang “, ujarku menyela pembicaraan ibuku.


“ Mama gak bahas Dion, dia orang yang baik kok. Mungkin gaya hidup dia aja yang bikin dia jadi gitu. Toh kamu udah lama ga ketemu Dion kan, bagus deh ketemu lagi pas dia udah tobat “, jawabnya sambil mengelus dada.


Perasaanku lega setelah berbincang dengan wanita yang satu ini. Ia adalah orang yang paling bisa kuandalkan untuk berkeluh kesah. Meskipun aku sering gagal dalam menjalin hubungan karena pacarku merasa terintimidasi oleh Mama. Namun dibalik sikap kritisnya dia adalah orang yang paling pengertian dan penyayang.


10.30 – Kantor Ivan


“ Van, barusan gue email rekening koran yang lo minta semalem. Lo stalking rekening sapa bro “, ujar Aldi sahabatku yang merupakan manager area di sebuah bank swasta.


“ Confidential lah hahaha, thank you sob “ tutupku sambil segera membuka email yang ia kirim. Ku unduh email tersebut dan print rekening koran sebanyak 85 halaman itu. kuambil highlighter di tanggal-tanggal saat Ray melakukan payroll kepada anak buahnya, sampai pada akhirnya jariku terhenti di bulan Juli – Oktober 2019. Tidak ada payroll di bulan tersebut, namun tercatat sebagai pengeluaran di laporan keuangan.


Aku masih terus menyelidiki hingga transaksi terakhir. Terdapat transaksi transfer beda Bank sebanyak 1,5 M kepada pemilik rekening Yanuardi Leonardus Hermawan. Mataku laangsung terbelalak saat mengetahui nama tersebut.


“ Om Yan!!! “

__ADS_1


Aku segera menghubungi Dion. Sial, panggilanku tidak diangkat olehnya. Penggilan kedua, ketiga, keempat, kelima tidak ia angkat juga. Jemariku langsung mengetik di aplikasi Whatsapp.


“ BRO TELEPON GUE SEKARANG!!! “​


__ADS_2