Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Komitmen Masa Depan Cerita Rayendra


__ADS_3

“ Hallo Pak Ray, surat dari pengadilan sudah saya terima ya. Bapak menjalani sidang Rabu depan dengan agenda mediasi. Kalau Ibu Rania tidak hadir, maka akan masuk ke agenda berikutnya. Tiga kali tak hadir berturut-turut maka putusan dijatuhkan secara Verstek “, ujar Pak Saragih dalam sambungan telepon.


“ Iya Pak, saya serahkan semuanya sama Bapak. Rania tidak akan hadir, ia sudah menyepakati perceraian “, jawabku dengan sumringah.


“ Bagus kalau begitu, prosesnya bisa lebih cepat kalau pihak termohon tidak hadir “, ujar pengacaraku tersebut.


“ Baik Pak, atur saja semuanya ya “, jawabku dengan penuh kelegaan.


“ Pak Ray sudah menyiapkan uang Iddah, Mut’ah dan Hadhanah untuk mantan istri?, lebih baik bapak tulis nominalnya dalam form yang saya berikan kemarin ya “, perintah Pak Saragih.


“ Belum ada sih pak, wajib ya kasih uang tersebut untuk mantan istri?”, tanyaku balik.


“ Wajib pak, suami yang menggugat cerai istri diharuskan membayar Iddah selama 3 bulan, Mut’ah (kenang-kenangan) dan Hadhanah (nafkah anak). Semuanya harus berupa uang. Tapi besarannya nanti diputuskan hakim, yang penting bapak ajukan dulu nominalnya sesuai kemampuan “, jelasnya.


“ Baik pak, nanti saya cari dulu dananya “, jawabku sambil memutar otak.


“ Terima kasih Pak Ray, nanti saya update minggu depan “.


Tut Tut Tut


Kututup sambungan telepon itu dengan penuh kelegaan. Akhirnya semua masalahku telah terselesaikan satu-persatu. Aku yakin proses cerai diriku akan berlangsung cepat, apalagi aku telah membayar pengacara untuk mengurus semuanya sampai selesai. Rania sudah kupastikan tidak akan hadir, dalam waktu 2 bulan akta cerai itu sudah akan berada di tanganku.


“ Telepon dari siapa Mas?”, tanya Renata yang keluar dari kamar mandi dibalut handuk berwarna ungu.


“ Pak Saragih, pengacara yang ngurus persidangan aku “, jawabku sambil menatap tubuh molek di hadapanku.


“ Berapa lama prosesnya?, dulu persidanganku cuma bentar kok. 1,5 bulan juga selesai kalo termohon gak dateng”, jawabnya sambil mengeringkan rambutnya di depan cermin.


“ Iya, Pak Saragih juga bilang begitu. Dua bulan lagi Renata Rahardjo akan jadi Nyonya Renata Saputra “ ujarku sambil berdiri memeluk tubuh Renata dari belakang. Hasratku tak pernah bisa tertahankan melihat kemolekan tubuh dan parasnya yang menggairahkan. Semua yang ada dalam dirinya adalah impianku sejak lama, hingga akhirnya Tuhan mempertemukan kami berdua dalam waktu yang salah. Namun yang aku yakini, takdir itu tidak akan pernah salah.


“ Jadi kapan kamu mau dateng ke keluargaku?”, tanyanya.


“ Sekarang juga, aku ingin meminta restu pada ibu dan Daffa “, jawabku dengan penuh keseriusan.


“ Oke, nanti siang kita ke rumah Ibu ya. Kamu pastiin dulu proses sidang udah selesai, nanti aku malu kalo ketauan bahwa kamu belum resmi cerai “, jawabnya manja.


“ Siap Nyonya Rayendra, aku pastikan 2 bulan lagi proses ceraiku sudah selesai “, jawabku sambil mencium leher jenjang Renata. Semerbak tercium aroma vanilla yang membuat libidoku semakin memuncak. Kami saling mencumbu dalam desiran hasrat yang menggebu-gebu, seolah merayakan kebebasan setelah sekian lama hasrat ini terbelenggu.


13.00 WIB – Rumah Ibu Renata


“ Jadi Ray serius nih sama Renata?”, tanya wanita yang kira-kira usianya sama dengan ibuku.


“ Iya Bu, saya serius mau menikahi Renata. Saya sudah lama berpisah sama mantan istri saya sejak lama, tapi memang belum sempat saya urus karena tidak ada waktu “, jawabku berusaha meyakinkan ibunya.


“ Jadi belum resmi cerai dong ?”, tanyanya terkejut.


“ Sudah Bu, cuma akta cerai saja yang belum keluar dari pengadilan. Mungkin 2 bulan lagi selesai. Ini kan cuma persyaratan administratif saja, dokumen bisa menyusul kok “, jawabku mantap.


“ Oh begitu. Ya kalo Ibu sih terserah Renata dan Daffa saja. Mereka yang akan menjalani hidup sama Mas Ray. Ibu turut bahagia kalau ada yang sayang sama Rena dan Daffa. Tolong jaga anak dan cucu ibu, saya harap ini pernikahan terakhir bagi Rena “, pinta Ibunya dengan penuh ketulusan.


“ Insyaallah Bu. Renata ini wanita impian saya selama ini, akan saya jaga hingga akhir hayat saya “, jawabku penuh kesungguhan.


Renata tersenyum lega mendengar percakapan kami berdua sambil memeluk anak kesayangan satu-satunya. Gadis berusia 17 tahun itu tersenyum padaku. Dalam seketika hatiku diliputi kebahagiaan yang amat sangat, perasaan ini sudah lama tidak aku dapatkan. Seketika aku bangun dari dudukku dan bersimpuh pada Ibu yang telah melahirkan Renata, kucium lembut punggung tangannya dengan khidmat. Ibu mengelus rambutku sambil berujar;


“ Semoga kamu menjadi suami dan ayah yang baik bagi Rena dan Daffa, Ibu merestui kalian “, bisiknya dengan penuh kelembutan.


Seketika tangisku pecah, rasa rindu akan belaian ibu terobati, setelah sekian lama aku tidak bertemu dengan ibu dan keluargaku. Calon mertuaku memeluk tubuhku erat, kami berangkulan dalam penuh rasa haru dan kebahagiaan.


“ Aduh, kok kaya tali kasih gini sih “, canda Daffa sambil terkekeh.


“ Iya nih, calon suami gak mau meluk calon istri sama anak nih”, goda Renata sambil meringis.


“ Ya dipeluk lah, sini Daffa Ayah peluk “, senyumku pada mereka berdua.

__ADS_1


“ Cie..cie.. yang mau dipanggil Ayah, oke deh Ayah, aku merestui kalian ya “, ujarnya sambil membalas pelukanku.


Kami semua tertawa dalam suasana kegembiraan. Rasanya rumah ini adalah tempat ternyaman bagiku, penuh dengan cinta dan kedamaian, suasana yang selama ini aku idam-idamkan.


“ Nanti kalian aku ajak ke rumah mama di Bogor ya, sekaligus ketemu Om Yan “, jawabku sambil memeluk Rena dan Daffa.


“ Siap, aku mau sekalian jalan-jalan ya “, jawab Daffa


“ Ok, Ayah telepon Om Yan dulu ya “, godaku pada anak cantik ini.


Tuuut…Tuuut….Tuuut


“ Halo Om, apa kabar?”, tanyaku ramah saat Om Yan mengangkat panggilanku.


“ Baik Ray, lagi nungguin kabar kamu nih. Ada kabar terbaru ga?”, tanyanya antusias.


“ Ada Om. Alhamdulillah dana investasi sudah ready nih, minggu depan aku ke Bogor ya buat teken kontrak.


“ Wah gak bisa Ray. Minggu depan Om Mau ke London sama keluarga selama sebulan. Gimana kalo besok aja biar cepet “, desak Om Yan.


“ Waduh, besok ya Om. Sepertinya bisa sih, nanti aku langsung pulang lagi ke Bandung”, jawabku tanpa pikir panjang lagi.


“ Ya sudah besok aja lah, Om gak ada waktu lagi, abis trip dari London juga harus pergi lagi soalnya “, jawab Om Yan.


“ Baik Om, saya hubungi Dion ya “, jawabku.


“ Oke Ray, sampai besok di cafe waktu itu “, tutupnya.


Tanpa pikir panjang lagi aku mengajak Renata dan Daffa bertemu ibuku di Bogor. Tadinya aku ingin mengajak Ibu Renata juga, tapi ia menolak katanya malu. Aku paham, lebih baik nanti saja keluargaku yang datang menemuinya suatu saat nanti. Aku sudah tak sabar mempertemukan Renata dan Daffa pada keluargaku.


10.00 – Ciawi, Bogor


“ Ray, lo udah sampai belum?”, tanya Dion saat aku sedang mengemudikan mobilku di ruas jalan Ciawi.


Gue masih di Tol Sentul, palingan lo yang sampe duluan ketemu Om Yan. Tolong siapin kontraknya ya. Investornya dateng juga kan?”, tanyanya lagi.


“ Iya dateng lah. Nanti gue urus duluan ya bro “, jawabku.


“ Atur bro “ balas Dion.


Tak lama kami masuk ke sebuah parkiran café tempat kami bertemu pertama kali dengan Om Yan. Renata langsung merapikan riasannya sambil mengecek dokumen yang kami bawa.


“ Ren, nanti habis teken kontrak kamu pergi bareng Daffa bawa mobilku. Kasian Daffa kalo lama-lama nungguin aku. Dion datang telat soalnya “, ujarku sambil memarkirkan mobilku.


“ Iya gitu aja, masa aku nungguin lama-lama sih “, jawab Daffa sambil merengut.


“ Iya nanti kita jalan-jalan aja Fa “, sahut Renata pada anaknya.


“ Aku tunggu di mobil ya, gak usah ikut masuk “, pintanya.


“ Iya kamu di mobil aja, ga enak kalo keliatan Om Yan “, sahut Renata kembali.


Aku dan Renata memasuki café tersebut sambil mencari-cari sosok Om Yan. Tak perlu lama aku menemukan Om Yan yang duduk di bagian luar café. Aku memperkenalkan Renata sebagai investor yang menyuntikan dananya pada proyek ini.


“ Halo, saya Renata Om. Panggil aja Rena “, salamnya dengan penuh hangat.


“ Halo saya Yan, ayo duduk”, sahutnya sambil mempersilakan kami.


“ Ray, Om ga bisa lama-lama. Si Tante minta ditemenin keluar, bisa langsung aja ga jelasin bagian saham sama keuntungannya. Kalo proposal sih udah Om baca semalam dari email yang kamu kirim “.


Aku kemudian menjelaskan pembagian saham dan keuntungan yang sudah tertera dalam proyeksi yang kubuat. Tidak ada penolakan darinya, sepertinya Om Yan tidak keberatan dengan pembagian tersebut. Setelah semuanya jelas, aku segera mengeluarkan surat kerjasama untuk ditandatangani mereka berdua. Renata dan Om Yan menandatangani surat kontrak tersebut. Ponsel Renata berkali-kali bergetar, sepertinya Daffa telah memanggil berkali-kali. Aku memberikan isyarat pada Renata agar pulang terlebih dahulu.


“ Maaf Om saya mau pamit, saya ada urusan meeting setelah ini. Kalau ada yang mau ditanyakan bisa via Mas Ray, dana saya sudah ada ditangan Ray”, ujar Renata dengan sopan.

__ADS_1


“ Oh gitu, Silakan bu gak apa-apa. Saya juga ada keperluan, nanti bisa dilanjut sepulang saya dari London ya”, jawabnya.


Renata kemudian pamit dan berjalan menemui Daffa di mobilku. Kulihat ia melaju ke arah jalan Raya bersama anaknya, kini aku bisa dengan leluasa mengobrol dengan Om Yan. Tak lama kemudian, kudengar deru sebuah mobil di parkiran. Sebuah sedan BMW merah berhenti di tempat mobilku parkir sebelumnya. Aku mengamati dari mejaku, sepertinya aku mengenali sosok yang duduk di kursi navigator.


“ Dion?, sama siapa dia?”, gumamku.


Tak begitu lama sosok yang familiar itu turun, benar saja itu Dion. Namun ia bersama seseorang. Lelaki bertubuh jangkung berwajah tampan dengan gaya necis terlihat berjalan di belakang Dion. Mereka berdua masuk sambil mendekati ke arah meja kami.


“ Hey, Ivan!!! Kok kamu ada di sini?, sapa Om Yan sambil terbelalak melihat sosok pria yang datang bersama Dion.


“ Aku habis nyamperin Dion, Om. Minggu lalu Dion ke Bandung mau minta tolong sama aku, sekarang gantian ceritanya”, jawabnya dengan akrab.


“ Ayo duduk, wah seru nih ketemuan sama kalian, kenalin ini Ray “, jawab Om Yan memperkenalkan pria itu padaku.


“ Ivan “ jawabnya sambil menjabat tanganku.


Ivan mengambil kursi di depanku, tepat di samping Om Yan. Aku mengamati pria tersebut, mengapa ia bisa kenal Dion dan Om Yan. Mataku tertuju pada gaya necis Ivan, sweater dan sneakers Supreme yang ia kenakan sudah menjelaskan bahwa ia berasal dari kelas atas.


“ Ivan itu temen kuliah gue, kebetulan nyokapnya kenal sama si Om. Saking seringnya ketemu, mereka udah kaya sodara jadinya “, tutur Dion seolah bisa membaca pikiranku.


“ Ivan ini auditor, Om suka minta dia buat audit perusahaan. Mumpung anaknya mau dibayar seiklasnya “, canda Om Yan sambil menyenggol Ivan.


“ Cuma dibayar main golf gratisan pula”, selorohnya membalas Om Yan.


“ Pantesan pas kemaren gue samperin ke rumah jadi banyak stick golf. Lo nge-golf sekarang Van?. Tanya Dion.


“ Mau ga mau lah, demi dapet klien bro”, jawab Ivan.


“ Dari Bandung juga bro?, maen golf dimana?”, tanyaku mencoba terlibat pembicaraan.


“Cigadung, yang deket rumah aja ”, jawab Ivan.


“ Terakhir Om main sama Papamu tuh 3 bulan yang lalu di sana, apa kabar Papa-Mamamu?” Tanya Om Yan.


“Alhamdulillah baik Om, aku barusan cerita mau ketemu Om bareng Dion. Salam balik katanya”. Ujarnya sambil membuka buku menu.


Aku sudah merasa kebosanan dengan percakapan mereka, rasanya jadi seperti reuni keluarga. Aku segera mengirim pesan pada Renata agar segera menjemputku di depan cafe.


“ Abis teken kontrak ya Om?, kontrak sama siapa?”, tanyanya pada Om Yan.


“ Iya nih sama partner si Ray “, tunjuk Om Yan padaku.


“ Kami mau bikin tempat wisata selfie, nah partnernya Ray maju buat invest “, jawabnya sambil menyeruput kopinya.


“ Oya, investornya darimana “, tanyanya lagi.


“ Dari Hardja Sukses Group. Kebetulan baru aja pulang sebelum kalian datang “, jawab si Om singkat.


Lelaki itu nampak termenung seperti memikirkan sesuatu. Aku tak menggubris reaksinya, kurasa ia sudah bertanya terlalu banyak.


“ Lo tau kan Van, grup nya Hardian Hardjawinata di Bandung “, tanyaku pada Ivan yang sedang merenungkan sesuatu.


“ Iya gue tau. Yang maen properti kan?. Lo sendiri kerja di mana bro?”, tanyanya padaku.


“ Di ………”,


“ Permisi Pak. Mau order sekarang apa nanti?”, sahut seorang waitress menyela obrolanku.


Ivan dan Dion langsung memilih pesanan, aku teruskan saja menyantap roti bakar yang kupesan. Ponselku bergetar karena ada pesan masuk. Pesan tersebut dari Renata yang mengabarkan sudah berada di depan café untuk menjemputku.


“ Om aku gak bisa lama-lama ya, mau ke rumah ibu soalnya “, ujarku berpamitan.


“ Nanti kita ngobrol lagi ya Bro, kabarin kalo lo lagi senggang “, sahut Dion.

__ADS_1


Aku langsung mengangguk dan melangkahkan kakiku untuk membayar pesananku ke kasir. Rasanya sudah tak sabar untuk membawa Renata ke rumah ibu. Untungnya teken kontrak hari ini berjalan cepat, aku pun tak perlu lama-lama mengobrol dengan Dion, apalagi kalau ia sampai menagih laporan keuanganku. Kutinggalkan mereka mengobrol bertiga, aku tak peduli dengan kehadiran Ivan disana. Yang penting semua misiku sudah terselesaikan.


__ADS_2