
"Bu Al...Ada yang harus Anda sampaikan,
Tapi maaf karena Rayhan murid Anda,
Saya menyerahkan cara penyampaiannya
Pada Anda, Saya sendiri tidak tega"
Ujarnya tertunduk Bu Maya menggenggam
tangan Kaysha,
"Baiklah Umi akan mendampingimu, Umi
Tahu berat bagimu untuk mengatakannya
Padanya, Sudah ...Jangan Kau ingat Suami
mu Ia sudah tenang disana" Lirih Umi, Ia
Mengusap bahu Kaysha pelan.
"Lho Bukannya Pak Gio lagi dinas Luar
Umi ?" Tanya Bu Maya heran.
"Oh maksud Umi Ayahnya Bu Al telah
meninggal " Tukas Umi.
"Ia adalah anak tunggal, Ibunya menderita
Kanker stadium akhir, Dan Ayahnya berdinas
Diluar Pulau, Itulah makanya Rayhan dimasuk
kan Ke Pondok Ini, Biar Ia sekolah seraya me
nimba ilmu Agama dan ada yang mengawasi
Serta mempunyai banyak teman dan tidak
kesepian " Ujar Bibi Rayhan seraya mengelap
Air matanya yang jatuh, Wajahnya memerah
Dan matanya sembab Karena tidak berhenti
menangis.
"Namun seiring berita itu, Keadaan Ibu Rayhan
Drop dan dinyatakan meninggal, Kini
Jenazah Ibu Rayhan sedang dimandikan
Dan menunggu Jenazah Suaminya, Mereka
akan dimakamkan pada saat yang sama"
Sambung sang Paman, Bibinya tidak henti
- hentinya menangis.
Kaysha menundukkan wajahnya,
"Pasangan sejati, Mereka sehidup semati".
Lirih Bu Maya.
Dada Kaysha merasakan sakit, ..
"Nak Al..Biar Umi yang menyampaikan,
Tegarkan hatimu, Bagaimanapun Rayhan
Muridmu Bu Al...Ia butuh Dirimu " Ucap
Umi.
"Iya Umi" Jawab Kaysha.
Bagaimanapun Rayhan muridnya yang selain
Pandai, Ia tampan dan murah senyum, Namun
Ia takut senyuman itu akan hilang dari wajah
Tampannya.
"Sekalian Kita bersiap, Akan mengantar Rayhan
Pulang dan bertakziah, " Ujar Abi.
Mereka mengangguk, Kebetulan Rumah
Rayhan berada diluar kota.
"Perwakilan saja, Karena jarak yang jauh
mungkin Kami akan menginap, Nak Al
Kamu tidak usah ikut, Kasihan Lisa dan
Bu Al juga lagi hamil "Titah Abi.
Semua mata yang memandang Membela
lakkan matanya.
"Masyaallah Barrakallah Bu Al,... Lisa
akan Punya adik " Ucap Bu Maya.
"Terima kasih, Namun bukan saat yang tepat
Kita lagi berduka dengan kejadian yang menim
pa Rayhan." Jawab Kaysha.
Kemudian Mereka berhati - hati menyampai
kan pada Rayhan, Ia hanya menatap kosong
Tanpa berbicara apapun, Wajahnya datar
Seolah tidak bereaksi, Takada kata ataupun
Suara yang keluar dari tubuhnya, Ia shock
Nalarnya belum bisa mencerna dan mene
rimanya.
"Sayang ...!" Lirih Kaysha memeluk Rayhan
Ia seperti melihat Dirinya sendiri waktu
Ditinggal Almarhum Rayhan.
Ia mengusap lembut pucuk kepala Rayhan,
Ia dan Lisa akhirnya ikut takziah, Karena
Ia tidak tega melihat kondisi Muridnya.
Mereka sampai dikomplek perumahan milik
Rayhan, Rumah minimalis berlantai dua itu
__ADS_1
penuh dengan Pelayat, Taklama sebuah
Mobil pembawa jenazah dan beberapa mobil
Yang membawa perwakilan dari Batalyon
Tempat Ayah Rayhan berdinas,
Sesaat Rayhan terpekur, Memandang peti
Jenazah berselimutkan bendera merah
Putih itu dibawa masuk Kerumahnya,
Kaysha merasakan sakit yang sama seperti
Dulu, Ia menatap wajah Lisa yang memerah,
Ia memegang tangannya Rayhan.
Ia mengingat dulu saat Rayhan pergi, Rasa
itu tetap melekat dihati dan hidupnya,
Seolah terpatri selamanya, Rayhan mening
gal di Rumah sakit dan sempat mengucapkan
Selamat tinggal,
Dengan berderai air matanya Dirinya
Dan Bang Rangga.menuntun
Rayhan untuk saat terakhir Ia menyebut
Asmanya ...Helaan nafas, Mata Sendu Rayhan
Yang memandang wajah Kaysha dalam,
Tangan yang hendak meraih wajahnya,
Terurai ditengah jalan tanpa sempat
Sampai menyapa wajahnya, Kaysha me
meluk erat tangan Suaminya yang hanya
Sampai ditengah jalan,
"Bang Ray....!" Isaknya menjerit, Ia merasa
kan tubuhnya serasa melayang perlahan,
Pandangannya mengabur dan gelap
Yang Ia ingat ada tangan kekar menahannya,
Dan memeluknya erat.
"Al ... Bertahanlah" Suara itu yang terakhir
Ia dengar.
Sampai Rayhan akan dikebumikan Dirinya
baru tersadar, Ia mencoba kuat dan bertahan.
Tak ada kata, Suaranya seakan tercekat saat
Dirinya berdo'a disisi Suaminya menciumi
Wajahnya untuk yang terakhir kali,
Wajah tampan itu tersenyum, Namun dingin
Menusuk terasa, kaysha mengusap wajah
Tersenyum menggodanya, Menghiasi hari
- hari indah bersamanya, Peluk cium untuk
Suaminya untuk yang terakhir masih terasa,
"Ayah...Bang Ray orang baik, Namun Ia jahat,
Sangat jahat Padaku, Ia bahkan pergi sebelum
Sempat melihat Putrinya" Lirih Kaysha terisak
Didada Irham.
Hati Irham merasakan sakit yang sama,
Takada yang bisa Kaysha ucapkan,
Ia meratapi kepergian Suaminya tanpa
kata, Takada binar bahagia diwajahnya,
Ia terpekur diKamar Rayhan, Jangankan
Untuk makan, Untuk sekedar minumpun
Ia enggan, Hanya isakan tangis yang ter
dengar, Ia hanya keluar saat tahlilan
Almarhum Suaminya, Itupun dengan
Tatapan kosong, Dalam do'anya Ia selalu
menangis terisak, Ia bersandar dibahu
Rangga Karena Ia tidak membiarkan Dirinya
Untuk tidak peduli Kaysha, Bagaimanapun
Hatinya sama - sama terluka sepeninggal
Rayhan.
Sesekali wajah tampan nan sendu itu hadir .
dalam mimpinya, Membawa segudang rindu
yang dimiliki oleh Istrinya,
"Aku tahu aku lemah karena Aku selalu ingn
bersamanya, Salahkah Aku selalu mengharap
kan Dirimu kembali " Lirihnya pilu Kaysha.
Dan kini Ia menatap Rayhan yang sedang
membaca do' a, Wajahnya dingin dan tanpa
kata, Namun Kaysha tahu dada Muridnya
Menanggung kesedihan yang teramat dalam.
Kembali Ia rengkuh tubuh Muridnya, Ia
Serasa melihat Dirinya,
"Ibu merasakan hal yang Sama, Namun
Kamu tidak sendiri, Kamu juga bisa
__ADS_1
Lihat Lisa, Ia tidak pernah merasakan
Kasih sayang Ayahnya, Bahkan belum
pernah melihat wajahnya secara langsung,
Ayah Lisa meninggal ketika Lisa masih
Dalam kandungan, Sama sepertimu
Ayah Lisa meninggal setelah menunaikan
Tugasnya" Lirih Kaysha, Ia memandang
Lisa yang tengah terlelap disisinya,
Sesaat mata sendu Rayhan menatap
Putri gurunya yang terlelap damai, Iapun
Tidak menyangka seorang gadis kecil
Yang cerewet yang selalu Ia goda saat
Mencari ibunya karena gemas dan lucu,
Ia telah kehilangan Ayahnya tanpa sempat
Bertemu ataupun melihat wajahnya.
"Ingatlah jangan Merasa sendirian,
Masih ada Kami, Kamipun sama seperti
Dirimu sakit Saat Orang tersayang mening
galkan Kita, Namun pesan Ibu bertahanlah,
Semua kesedihan pasti berganti dengan
kebahagiaan suatu hari nanti" Pesan Kaysha.
Hingga paginya Orangtua Ray dikuburkan,
Rayhan akhirnya bisa menangis tanpa
Suara, Namun Ia harus merelakan keper
Gian Orangtuanya.
"Setidaknya Ibu sudah tidak merasakan
sakit lagi, Dan Aku tenang Ibu pergi ber
sama Ayah Orang yang sangat dicintai
Ibuku " Lirih Rayhan
Kysha menutup mata setetes bening jatuh
Dari pelupuk matanya, Ia memandang wajah
Lisa,
"Bang Ray ...Tak pernah mencintaiku, Ia tidak
mau membawaku malah Ia menitipkan
Diriku pada Aa, Salahku apa ? Sampai Kamu
tega membiarkan Diriku seorang Diri " .
Berbanding terbalik dengan Ucapan Rayhan
Saat ini.
Rombongan dari Pondok pulang setelah
Jenazah Orang tua Rayhan terutama Ayah
Rayhan dengan sebuah upacara serta
Suara tembakan yang dilepaskan keudara,
Kaysha terhenyak, itu seperti mengingatkan
Pada kisahnya beberapa tahun lalu.
Kaysha merengkuh tubuh mungil Lisa,
Dan perlahan Lisa dipangku Abi, Dan
Dirinya dipeluk Umi.
"Bertahanlah Kasihan Rayhan " Bisik Umi.
Rayhan tinggal beserta paman dan Bibinya
Dirumah beserta keluarga besarnya,
Mungkin Rayhan tidak masuk untuk sementara
Waktu, Ia akan masuk setelah masa berkabung
Dan tahlilan usai setelah hari ketujuh.
"Al... Istirahatlah, Tentu inipun menohok
perasaanmu, " Lirih Umi sedangkan Lisa
Tertidur dipangkuan Abi, Mungkin
Ia lelah karena kurang tidur semalam,
Bahkan Kaysha tidak tidur untuk mene
mani muridnya walaupun berulangkali
Umi dan Abi meminta untuk Kaysha
Istirahat,
Ia melirik hp nya, Ia menanyakan kabar
Suaminya namun hp nya lowbatt.
Biarlah mungkin Ia akan bertanya kabar
Setelah Ia pulang ke rumah.
Kaysha meminta turun depan rumahnya,
Karena ingin segera Istirahat, Ia turun
bersama Lisa sebelum masuk pondok,
Ketika membuka pintu pagar Rumahnya,
Dirinya kaget Pintu pagar itu telah terbuka
Dan tidak dikunci, Dan betapa kagetnya
Dirinya melihat Seseorang......
Siapakah?
*************************************************
**Bersambung
__ADS_1
**Please like or comment 🙏😘