Hujan September

Hujan September
*Episode 65


__ADS_3

"Ayah....Nanti uang ini bisa untuk


Kita pergi ke kota" Ujar Seorang


Anak berwajah tampan namun semua


Penuh dengan kesederhanaan,


Sesaat Pria yang disebut Ayah oleh


Pria muda itu melirik kearahnya,


Ia menjeda kegiatannya yang sedang


Mengunyah sepotong singkong rebus


Yang masih mengepul.


"Dari mana Kamu bisa dapat uang


Sebanyak itu ?" Tanya Pria tersebut,


Kulitnya legam Karena selalu diterpa


Teriknya sinar matahari,


Serta tangannya yang kapalan karena


Dirinya yang selalu bekerja keras.


"Ini hasil bantu - bantu di toko nya


Wak Midun, Yah ..Aku simpan hasilnya


Karena lauk sering dapat dari sisa di


Warung makannya jadi Kita bisa ber


hemat selama ini " Sesaat ada binar baha


gia dari ekor matanya.


"Maafkan Ayah Nak.. Ayah hanya bisa


merepotkan Dirimu, ..." Ucapnya Kelu.


"Selama ini waktu dan Uang hasil


kerja keras Ayah, Ayah gunakan untuk


Keperluanku terutama sampai sekolah


Ku hingga SMA, Kini tinggal Aku yang


harus berbakti pada Ayah " Ujarnya.


Karena semenjak ingatan Ayah perlahan


muncul setelah sekian lama, Dan itupun.


Tidak sengaja saat Buyung dituduh mencuri


Dan Dirinya digiring ke kantor polisi yang


Ada di kecamatan, Dan itu jauh lokasinya


Dari sini, Lokasi tempat tinggal Mereka


Adalah dusun terluar pulau yang hampir


Dekat dengan lautan.


Transportasi lumayan sulit jika Mereka


Hendak ke kota, Menjadikan pendidikan


Adalah hal yang sangat mahal dan sulit


Untuk dijangkau, Namun berbeda dengan


Pria itu walaupun sulit, Ia bekerja keras


Untuk sekolah anaknya hingga SMA


Dan Ia banting tulang sampai anaknya


lulus kini.


Kepingan ingatan itu datang saat sang


Ayah bersama Kepala dusun dan tetang


ganya datang ke kantor Polisi, Dan per


lahan kepingan itu muncul, Saat Warga


Kampungnya ribut, Karena Merasa


Buyung tidak bersalah, Dan dipuncak


Keributan Sang Ayah mengambil pistol


Seorang Anggota dan bisa menggunakan


nya tanpa ragu, Melerai warganya yang


Sedang ribut, Ia begitu piawai menggunakan


Senjata tersebut, Padahal Dirinya hanyalah


Warga sipil biasa, Ia merasakan sesak


Saat ingatan itu mulai bermunculan,


Dan Ia dirawat di Rumah sakit kejiwaan


Dikota untuk menjalani terapi,


Hingga Ia sembuh dan mengingat semuanya.


Untung saja pelaku yang sebenarnya telah


Tertangkap, Hingga Buyung dapat dibe


baskan sampai sekarang.


Wajah itu tersenyum sumringah,


"Kamu memang Anak Ayah yang


Baik Buyung " Sahut Pria tersebut.


"Kita pergi ke Kota, Kata Orang jika ingin


Menemukan alamat Ibu, Kita harus naik


Kapal untuk ke sebrang Pulau" Ucapnya


Lagi.


"Tapi apa uang kita ini cukup Ayah, ?"


Tanyanya.


"Karena untuk kesana sangatlah jauh "


Sambungnya.


"Ah ..Kita kan Pria, Bisa berhemat, Tidur


Kita bisa dibangku, Tidak perlu menyewa


Penginapan, Makan Kita bisa beli nasinya


aja pake garam juga enak, Yang penting


Kenyang ...." Jawab Pria itu.

__ADS_1


Sesaat Pria itu menunduk ada rasa getir


Diwajahnya,


"Ayah pasti Rindu Ibu, ...Dan adik - adik,


Buyung juga sudah besar, Berpuluh tahun


Ayah nggak pulang, ...Kini Waktu Ayah


pulang ..Ibu pasti senang" Ucapnya.


"Kita rindu Ibu kan ?" Tanyanya lagi.


Pria itu mengusap bahu Putranya pelan


Taklama Ia kembali lagi ke pekerjaan


Yang barusan Ia tinggalkan sejenak untuk


Shalat Dzuhur dan beristirahat.


Ia kembali mencangkul tanah supaya lebih


Gembur seperti yang biasa Ia lakukan.


Disaat merasakan hatinya gundah,


Disaat hatinya merasakan putus asa,


Apalagi disaat Ia rindu akan kehadiran


Istri dan keluarganya,


Dulu saat ingatannya menghilang,


Ia tidak terlalu tersiksa, Ia hidup bersama


Putranya dengan damai di desa ini,


Dan seiring berjalannya waktu kepingan itu


Kini kembali, Ia merasa tersiksa, Ia mera


sakan rindu itu menghujam dadanya,


Senyuman seorang wanita cantik yang


Selalu menyambutnya, Tawa anak - anaknya


Kini terekam jelas dalam ingatannya,


Betapa Ia rindu, Kini Ia bekerja keras


Dengan Putranya Buyung, Untuk mengum


pulkan rupiah demi rupiah sebagai ongkos


Dirinya pulang, Ia rindu ingin memeluk


Istrinya ,


Sedangkan Pria muda itu kembali lagi


Untuk bekerja membantu disalah satu


toko disebuah pasar yang hanya akan


ada seminggu dua kali.


Menjelang malam ketika waktunya beristi


rahat Ia tidak dapat tidur, Ia berjalan keluar


Dari rumahnya, Ia memandang langit yang


Tengah bersinar oleh sinar bulan Purnama,


Sesaat wajah perempuan cantik sedang


akan menyambutnya pulang dengan se


nyuman, Serta sepasang anaknya yang


Akan ikut menyambut lelahnya dengan


Tawa riang Mereka


"Sayang apa Kabarmu,....Apakah Kalian


Masih menunggu Ayah pulang ?" Lirihnya


Pada semilir angin malam yang berhembus.


"Tunggulah sebentar lagi ....Kita pasti


akan bertemu " Sambungnya.


Namun ada yang mengganjal dihati,


Apakah keadaan tidak berubah, Apa


Istrinya menantikan Dirinya,


Apakah Istrinya telah mengganti posisi


nya dengan Orang lain,


Apakah Istrinya masih tetap Istrinya yang


Dulu,....Mengingat Ia sudah meninggalkan


Istri dan Keluarganya terlalu lama.


"Wak Andi...Dan Buyung semoga Kalian


Selamat sampai ditujuan, Maaf Kami


Tidak bisa mengantar, ....Bapak mohon


Kalian jangan lupakan Kami Ya...


Setelah berpuluh tahun Kalian jadi


Warga Kami, Kini saatnya Melepas


Kalian Semoga Kalian bisa bertemu


Dengan Keluarga Kalian secepatnya"


Ucapan Do'a dari warga sekampung


Dan diwakili sang Kepala dusun.


Terlihat gurat sendu diujung jalan saat


Ia melihat Dua pria yang ikut dengan


Mobil polisi yang mengantarkan bantuan


Logistik untuk warga di pelosok, Yang


akan membawanya sampai ke kecamatan.


"Selamat jalan Abang ....Semoga selamat


Sampai tujuan " Lirihnya sendu menahan


Perasaan.


******


Pagi menjelang, Kaysha yang tertidur


Memeluk Rangga semalaman, Mata


Itu terbuka, Perlahan merasakan pusing

__ADS_1


Yang menderanya, Lemas seperti tiada


Bertulang setelah berhari - hari Ia merasa


kan sakit di sendi - sendi tubuhnya,


Kembali Ia menutup mata,


Dengan hati - hati Rangga melepas


Pelukan Kaysha, Setelah semalaman


Berjaga karena Kaysha yang tidak mau


Lepas, Dan Ia tertidur sebentar sesudah


Shalat Shubuh barusan,


"Gimana masih pusing humm?" Tanyanya


Serak, Kaysha menjawab dengan anggukan


lemah, Tadi malam Kenzo datang melihat


Kondisi adiknya, Namun tetap Dirinya me


nolak untuk dibawa.


"Ini hari kesepuluh, Mudah - mudahan Ia


Dapat melaluinya" Ucap Kenzo.


"Terima kasih sudah menjaga dan bertahan


Disisinya" Ucap Kenzo.


"Jangan dipikirkan ini sudah menjadi


Tanggung jawab Saya,... Selama ini


Mereka telah menjaga Saya dan Putra


Saya, Kinii sudah tugas Saya menjaga


Mereka" Ucap Rangga.


Kenzo mengusap bahu Rangga pelan.


"Adikku bahagia mempunyai Kalian


Dihidupnya," Ucap Kenzo sebelum pergi.


Taklama dua Orang perawat wanita datang


Untuk mengganti baju Kaysha, Dan mengu


rusnya secara hati - hati.


Rangga menolak Video call dari putra - putri


nya, Karena Ia dan Kaysha takut Mereka


Khawatir, Sebelum Kaysha terbangun Ia


Tidak ingin diketahui keadaan Mereka


Oleh anak - anaknya, Biarlah hanya suara


Mereka yang terdengar.


Rangga mengusap wajah pucat itu,


Sesekali menyurai lembut rambut Kaysha


Yang jarang sekali Ia lihat,


Andai Rania seperti Kaysha beruntunglah


Dirinya,


Tanpa sadar Ia mengecup kening Kaysha.


"Terima kasih telah berjuang hidup untuk


Menunggu Adikku " Lirihnya.


"Dan Maaf ...Aku terbawa perasaan"


Sambungnya ketika Ia tersadar.


"Akhirnya ...Ketahuan juga Dia punya


Rasa buat Al " Ucap Zain terlihat dari


Layar monitor.


"Ah Dia cuma terbawa perasaan kali.."


Potong Seandra.


"Ah lega rasanya saat Al melewati masa


Kritisnya, Tapi Abang nyesek liat Al


Rindu ke Suaminya yang meluk Orang


lain, Nah yang meluk itu Duda, ....


Kamu bisa bayangin nggak gimana


Rasanya ?" Tanya Kenzo.


"Lagipula Abang tahu ...Pria itu sangat


Baik dibalik sikapnya yang kaku,


Abang rasa Rangga cocok buat gantiin


Rayhan, Ini sudah berpuluh tahun,


Aku Rasa sudah cukup buat Al berhenti


Menunggunya...Mau sampai kapan,


Pencarian Kita juga selama ini nihil "


Sambung Kenzo.


Zain mengangguk ...


"Sudah saatnya Al bahagia dengan kehi


dupannya yang baru, Lagipula Ia sudah


Menggantikan figur Ayah pengganti


Rayhan selama ini " Ujar Zain


Sesaat Seandra termangu, Ia menatap


Seksama layar monitor didepannya.


"Apa Kaysha akan bersedia?" Tanya


Seandra yang menatap lurus,


Terlihat fokus menatap interaksi


Mereka dilayar.


**Akhirnya.....


***********************************************


**Bersambung


**Jejakmu ... Please 🙏😘

__ADS_1


__ADS_2