
"Ayah....Nanti uang ini bisa untuk
Kita pergi ke kota" Ujar Seorang
Anak berwajah tampan namun semua
Penuh dengan kesederhanaan,
Sesaat Pria yang disebut Ayah oleh
Pria muda itu melirik kearahnya,
Ia menjeda kegiatannya yang sedang
Mengunyah sepotong singkong rebus
Yang masih mengepul.
"Dari mana Kamu bisa dapat uang
Sebanyak itu ?" Tanya Pria tersebut,
Kulitnya legam Karena selalu diterpa
Teriknya sinar matahari,
Serta tangannya yang kapalan karena
Dirinya yang selalu bekerja keras.
"Ini hasil bantu - bantu di toko nya
Wak Midun, Yah ..Aku simpan hasilnya
Karena lauk sering dapat dari sisa di
Warung makannya jadi Kita bisa ber
hemat selama ini " Sesaat ada binar baha
gia dari ekor matanya.
"Maafkan Ayah Nak.. Ayah hanya bisa
merepotkan Dirimu, ..." Ucapnya Kelu.
"Selama ini waktu dan Uang hasil
kerja keras Ayah, Ayah gunakan untuk
Keperluanku terutama sampai sekolah
Ku hingga SMA, Kini tinggal Aku yang
harus berbakti pada Ayah " Ujarnya.
Karena semenjak ingatan Ayah perlahan
muncul setelah sekian lama, Dan itupun.
Tidak sengaja saat Buyung dituduh mencuri
Dan Dirinya digiring ke kantor polisi yang
Ada di kecamatan, Dan itu jauh lokasinya
Dari sini, Lokasi tempat tinggal Mereka
Adalah dusun terluar pulau yang hampir
Dekat dengan lautan.
Transportasi lumayan sulit jika Mereka
Hendak ke kota, Menjadikan pendidikan
Adalah hal yang sangat mahal dan sulit
Untuk dijangkau, Namun berbeda dengan
Pria itu walaupun sulit, Ia bekerja keras
Untuk sekolah anaknya hingga SMA
Dan Ia banting tulang sampai anaknya
lulus kini.
Kepingan ingatan itu datang saat sang
Ayah bersama Kepala dusun dan tetang
ganya datang ke kantor Polisi, Dan per
lahan kepingan itu muncul, Saat Warga
Kampungnya ribut, Karena Merasa
Buyung tidak bersalah, Dan dipuncak
Keributan Sang Ayah mengambil pistol
Seorang Anggota dan bisa menggunakan
nya tanpa ragu, Melerai warganya yang
Sedang ribut, Ia begitu piawai menggunakan
Senjata tersebut, Padahal Dirinya hanyalah
Warga sipil biasa, Ia merasakan sesak
Saat ingatan itu mulai bermunculan,
Dan Ia dirawat di Rumah sakit kejiwaan
Dikota untuk menjalani terapi,
Hingga Ia sembuh dan mengingat semuanya.
Untung saja pelaku yang sebenarnya telah
Tertangkap, Hingga Buyung dapat dibe
baskan sampai sekarang.
Wajah itu tersenyum sumringah,
"Kamu memang Anak Ayah yang
Baik Buyung " Sahut Pria tersebut.
"Kita pergi ke Kota, Kata Orang jika ingin
Menemukan alamat Ibu, Kita harus naik
Kapal untuk ke sebrang Pulau" Ucapnya
Lagi.
"Tapi apa uang kita ini cukup Ayah, ?"
Tanyanya.
"Karena untuk kesana sangatlah jauh "
Sambungnya.
"Ah ..Kita kan Pria, Bisa berhemat, Tidur
Kita bisa dibangku, Tidak perlu menyewa
Penginapan, Makan Kita bisa beli nasinya
aja pake garam juga enak, Yang penting
Kenyang ...." Jawab Pria itu.
__ADS_1
Sesaat Pria itu menunduk ada rasa getir
Diwajahnya,
"Ayah pasti Rindu Ibu, ...Dan adik - adik,
Buyung juga sudah besar, Berpuluh tahun
Ayah nggak pulang, ...Kini Waktu Ayah
pulang ..Ibu pasti senang" Ucapnya.
"Kita rindu Ibu kan ?" Tanyanya lagi.
Pria itu mengusap bahu Putranya pelan
Taklama Ia kembali lagi ke pekerjaan
Yang barusan Ia tinggalkan sejenak untuk
Shalat Dzuhur dan beristirahat.
Ia kembali mencangkul tanah supaya lebih
Gembur seperti yang biasa Ia lakukan.
Disaat merasakan hatinya gundah,
Disaat hatinya merasakan putus asa,
Apalagi disaat Ia rindu akan kehadiran
Istri dan keluarganya,
Dulu saat ingatannya menghilang,
Ia tidak terlalu tersiksa, Ia hidup bersama
Putranya dengan damai di desa ini,
Dan seiring berjalannya waktu kepingan itu
Kini kembali, Ia merasa tersiksa, Ia mera
sakan rindu itu menghujam dadanya,
Senyuman seorang wanita cantik yang
Selalu menyambutnya, Tawa anak - anaknya
Kini terekam jelas dalam ingatannya,
Betapa Ia rindu, Kini Ia bekerja keras
Dengan Putranya Buyung, Untuk mengum
pulkan rupiah demi rupiah sebagai ongkos
Dirinya pulang, Ia rindu ingin memeluk
Istrinya ,
Sedangkan Pria muda itu kembali lagi
Untuk bekerja membantu disalah satu
toko disebuah pasar yang hanya akan
ada seminggu dua kali.
Menjelang malam ketika waktunya beristi
rahat Ia tidak dapat tidur, Ia berjalan keluar
Dari rumahnya, Ia memandang langit yang
Tengah bersinar oleh sinar bulan Purnama,
Sesaat wajah perempuan cantik sedang
akan menyambutnya pulang dengan se
nyuman, Serta sepasang anaknya yang
Akan ikut menyambut lelahnya dengan
Tawa riang Mereka
"Sayang apa Kabarmu,....Apakah Kalian
Masih menunggu Ayah pulang ?" Lirihnya
Pada semilir angin malam yang berhembus.
"Tunggulah sebentar lagi ....Kita pasti
akan bertemu " Sambungnya.
Namun ada yang mengganjal dihati,
Apakah keadaan tidak berubah, Apa
Istrinya menantikan Dirinya,
Apakah Istrinya telah mengganti posisi
nya dengan Orang lain,
Apakah Istrinya masih tetap Istrinya yang
Dulu,....Mengingat Ia sudah meninggalkan
Istri dan Keluarganya terlalu lama.
"Wak Andi...Dan Buyung semoga Kalian
Selamat sampai ditujuan, Maaf Kami
Tidak bisa mengantar, ....Bapak mohon
Kalian jangan lupakan Kami Ya...
Setelah berpuluh tahun Kalian jadi
Warga Kami, Kini saatnya Melepas
Kalian Semoga Kalian bisa bertemu
Dengan Keluarga Kalian secepatnya"
Ucapan Do'a dari warga sekampung
Dan diwakili sang Kepala dusun.
Terlihat gurat sendu diujung jalan saat
Ia melihat Dua pria yang ikut dengan
Mobil polisi yang mengantarkan bantuan
Logistik untuk warga di pelosok, Yang
akan membawanya sampai ke kecamatan.
"Selamat jalan Abang ....Semoga selamat
Sampai tujuan " Lirihnya sendu menahan
Perasaan.
******
Pagi menjelang, Kaysha yang tertidur
Memeluk Rangga semalaman, Mata
Itu terbuka, Perlahan merasakan pusing
__ADS_1
Yang menderanya, Lemas seperti tiada
Bertulang setelah berhari - hari Ia merasa
kan sakit di sendi - sendi tubuhnya,
Kembali Ia menutup mata,
Dengan hati - hati Rangga melepas
Pelukan Kaysha, Setelah semalaman
Berjaga karena Kaysha yang tidak mau
Lepas, Dan Ia tertidur sebentar sesudah
Shalat Shubuh barusan,
"Gimana masih pusing humm?" Tanyanya
Serak, Kaysha menjawab dengan anggukan
lemah, Tadi malam Kenzo datang melihat
Kondisi adiknya, Namun tetap Dirinya me
nolak untuk dibawa.
"Ini hari kesepuluh, Mudah - mudahan Ia
Dapat melaluinya" Ucap Kenzo.
"Terima kasih sudah menjaga dan bertahan
Disisinya" Ucap Kenzo.
"Jangan dipikirkan ini sudah menjadi
Tanggung jawab Saya,... Selama ini
Mereka telah menjaga Saya dan Putra
Saya, Kinii sudah tugas Saya menjaga
Mereka" Ucap Rangga.
Kenzo mengusap bahu Rangga pelan.
"Adikku bahagia mempunyai Kalian
Dihidupnya," Ucap Kenzo sebelum pergi.
Taklama dua Orang perawat wanita datang
Untuk mengganti baju Kaysha, Dan mengu
rusnya secara hati - hati.
Rangga menolak Video call dari putra - putri
nya, Karena Ia dan Kaysha takut Mereka
Khawatir, Sebelum Kaysha terbangun Ia
Tidak ingin diketahui keadaan Mereka
Oleh anak - anaknya, Biarlah hanya suara
Mereka yang terdengar.
Rangga mengusap wajah pucat itu,
Sesekali menyurai lembut rambut Kaysha
Yang jarang sekali Ia lihat,
Andai Rania seperti Kaysha beruntunglah
Dirinya,
Tanpa sadar Ia mengecup kening Kaysha.
"Terima kasih telah berjuang hidup untuk
Menunggu Adikku " Lirihnya.
"Dan Maaf ...Aku terbawa perasaan"
Sambungnya ketika Ia tersadar.
"Akhirnya ...Ketahuan juga Dia punya
Rasa buat Al " Ucap Zain terlihat dari
Layar monitor.
"Ah Dia cuma terbawa perasaan kali.."
Potong Seandra.
"Ah lega rasanya saat Al melewati masa
Kritisnya, Tapi Abang nyesek liat Al
Rindu ke Suaminya yang meluk Orang
lain, Nah yang meluk itu Duda, ....
Kamu bisa bayangin nggak gimana
Rasanya ?" Tanya Kenzo.
"Lagipula Abang tahu ...Pria itu sangat
Baik dibalik sikapnya yang kaku,
Abang rasa Rangga cocok buat gantiin
Rayhan, Ini sudah berpuluh tahun,
Aku Rasa sudah cukup buat Al berhenti
Menunggunya...Mau sampai kapan,
Pencarian Kita juga selama ini nihil "
Sambung Kenzo.
Zain mengangguk ...
"Sudah saatnya Al bahagia dengan kehi
dupannya yang baru, Lagipula Ia sudah
Menggantikan figur Ayah pengganti
Rayhan selama ini " Ujar Zain
Sesaat Seandra termangu, Ia menatap
Seksama layar monitor didepannya.
"Apa Kaysha akan bersedia?" Tanya
Seandra yang menatap lurus,
Terlihat fokus menatap interaksi
Mereka dilayar.
**Akhirnya.....
***********************************************
**Bersambung
**Jejakmu ... Please 🙏😘
__ADS_1