Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
10. Mau Cama Mamah.


__ADS_3

Setelah menyantap hidangan yang di sediakan satu-persatu tamu pamit pulang. Sekarang tinggal keluarga inti yang masih ada. Dan beberapa staf EO dan petugas catering yang sedang membereskan peralatan mereka. Rafa terlihat sedang anteng membuka kado dari teman-temannya.


“Rafa makan dulu, ya. Dari tadi Rafa cuma makan kue,” kata Annisa.


“Tapi dicuapin Mamah,” jawab Rafa.


“Ya, Tante suapin,” Annisa pergi ke ruang makan  mengambil makanan untuk Rafa.


Setelah mengambil makanan untuk Rafa, Annisa duduk di dekat Rafa sambil menyuapi Rafa.


Roland mendekati Annisa yang sedang menyuapi Rafa.


“Hadeuh, adik Aa ini ditinggal kuliah beberapa jam saja langsung jadi Mamah. Mana anaknya sudah besar. Kapan bikinnya, Nis?” goda Roland.


“Apa sih Aa? Nggak jelas,” seru Annisa sambil mendelik dengan kesal.


Rafa melihat Roland mengganggu Annisa langsung memarahi Roland.


“Om Lolang jangan ganggu-ganggu Mamah Rafa,” tegur Rafa dengan memasang muka galak.


“Iiihhh siapa bilang ini Mamahnya Rafa, ini adiknya Om Roland,” kata Roland sambil memeluk Annisa.


“Aa, jangan peluk-peluk!” Annisa protes.


Melihat Roland memeluk Annisa, Rafa menjadi marah. Ia berusaha melepaskan tangan Roland yang memeluk Annisa.


“Lepasin! Jangan peluk-peluk Mamah Rafa!” seru Rafa dengan sekuat tenaga melepaskan tangan Roland yang melingkar di tubuh Annisa.


Roland menambah erat pelukannya. Rafa hampir menangis karena tidak bisa melepaskan tangan Roland dari tubuh Annisa.


“Aduh sakit Aa,” seru Annisa yang merasa sesak karena pelukan Roland dan  berusaha melepaskan pelukan Roland.


Mendengar keributan Ibu Elly menghampiri mereka.


“Ada apa ini?” tegur Ibu Elly.


Rafa sudah meneteskan airmata.


“Enin, Om Lolang ngambil Mamah Rafa,” kata Rafa sambil menangis.


Ibu Elly melihat Roland sedang memeluk Annisa dengan erat.

__ADS_1


“Roland, lepasin Annisa!” seru Ibu Elly.


“Kasihan Annisa kesakitan kamu peluk erat gitu,” kata Ibu Elly.


Mendengar suara ribut-ribut Pak Supardi menghampiri mereka.


“Ada apa ini, Mah?’


“Itu biasa Roland ngegangguin Rafa dengan memeluk erat Annisa. Rafa jadi nangis dan Annisa kesakitan dipeluk erat sama Roland,” kata Ibu Elly.


“Roland udah sana kamu jauh-jauh! jangan mengganggu Rafa terus!” seru Pak Supardi.


“Papah, Roland kan lagi asyik ganggu Rafa,” Roland protes.


“Udah sana wudhu dulu, sebentar lagi adzan magrib. Kita sholat magrib di masjid,” kata Pak Supardi.


Roland menurut lalu pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.


“Rafa mau ikut Aki sholat di masjid?” tanya Pak Supardi.


“Rafa mau di rumah saja sama Mamah,” jawab Rafa yang duduk di pangkuan Annisa dan memeluk Annisa.


“Ya sudah kalau mau sama Mamah. Aki berangkat ke masjid dulu, ya. Assalamualaikum,” Pak Supardi pamit ke masjid.


“Ayo Rafa habiskan dulu makannya,” kata Annisa yang meneruskan menyuapi Rafa.


Batita itu menurut, Rafa makan sambil membuka kado dari teman-temannya.


“Annisa, Ua ke musolah dulu, mau sholat magrib,” kata Ibu Elly sambil membawa mukenah.


“Iya, Ua. Nanti Annisa sholatnya kalau Rafa sudah selesai makan,” jawab Annisa.


Lalu Ibu Elly meninggalkan Annisa berdua dengan Rafa.


Selesai menyuapi Rafa, Annisa sholat magrib di musholah.


“Mamah mau kemana?” tanya Rafa ketika Annisa hendak menuju mushola.


“Tante mau sholat di musholah,” jawab Annisa.


“Rafa ikut,” kata Rafa menghampiri Annisa dan ikut dengan Annisa ke mushola di rumah itu.

__ADS_1


Selesai sholat magrib Ibu Elly dan Annisa bersiap-siap untuk pulang sambil menunggu Pak Supardi dan Roland datang dari masjid.


Setelah Pak Supardi dan Roland datang dari masjid, kemudian mereka pamit pulang kepada Pak Syamsul dan Ibu Delima.


“Mamah mau kemana?” tanya Rafa melihat Annisa membawa tas.


“Tante pulang dulu, ya. Nanti kapan-kapan ke sini lagi,” kata Annisa.


“Rafa ikut cama Mamah,” rengek Rafa sambil memeluk kaki Annisa.


Annisa bingung karena Rafa memeluk kaki Annsa dengan erat. Ibu Elly tidak bisa apa-apa. Sebenarnya ia ingin membawa Rafa ikut bersama dengannya, namun ia tidak enak dengan Ibu Delima yang selalu keberatan jika Rafa menginap di rumahnya.


Ibu Delima berusaha membujuk Rafa untuk tidak ikut dengan Annisa. Namun Rafa tetap ingin ikut dengan Annisa. Ibu Delima berusaha melepaskan tangan Rafa yang memeluk Annisa, namun Rafa malah menangis dengan kencang.


“Mau cama Mamah…mau cama Mamah….mau cama Mamah….,,” Rafa dengan menangis kencang.


Annisa tidak tega melihat Rafa menangis dengan kencang. Diambilnya Rafa yang menangis meronta-ronta di gendongan Neneknya. Dipeluknya Rafa sambiil mengusap-usap punggungnya.


Dengan berani Annisa bertanya pada Ibu Delima.


“Bolehkan malam ini Rafa menginap di rumah Enin?”


Ibu Delima sebenarnya berat melepaskan Rafa menginap di rumah Ibu Elly, namun Ibu Delima sadar Ibu Elly mempunyai hak yang sama atas Rafa.


Dengan berat hati Ibu Delima mengijinkan Rafa tidur di rumah Ibu Elly.


“Iya, boleh,” jawab Ibu Delima.


Annisa menarik nafas lega.


“Sebentar baju Rafa dibereskan dulu dengan Mbok Sarmi,” kata Ibu Delima sambil hendak masuk ke rumah.


“Nggak usah, Nek. Baju Rafa di rumah ada banyak,” kata Ibu Elly.


Ibu Delima tidak jadi masuk ke dalam rumah.


“Biar Rafa menginap dulu di rumah. Nanti lusa pas Annisa sedang tes masuk perguruan tinggi, Rafa akan saya antar ke sini,” kata Ibu Elly.


“Iya,” jawab Ibu Delima.


“Saya pamit dulu, assalamualaikum,” Ibu Elly keluar dari pagar rumah Ibu Delima menyusul Pak Supardi yang sudah menunggu di mobil.

__ADS_1


Sedangkan Annisa dan Rafa sudah duluan pergi dengan menggunakan mobil Roland. Kebetulan harii ini Roland pergi kuliah dengan menggunakan mobil.


Dengan berat hati Ibu Delima memandangi mobil yang membawa pergi Rafa.


__ADS_2