Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
57. Makan Siang.


__ADS_3

Aisyah dan Umar terkagum-kagum ketika memasuki restaurant, ini pertama kali mereka masuk ke dalam restaurant yang menurut mereka sangat mewah.


“Wah….tempatnya bagus, Teh,” puji Umar.


Seorang pelayan menghampiri mereka.


“Selamat siang, Bu,” sapa pelayan itu.


“Untuk berapa orang?” tanya pelayan itu.


“Siang. Untuk empat orang,” jawab Annisa.


“Mari ikuti saya,” kata pelayan itu.


Annisa beserta adik-adiknya mengikuti pelayan itu, sampai pelayan itu berhenti di sebuah meja.


“Silahkan, Bu.”


“Terima kasih,” ucap Annisa.


“Ibu, apakah perlu baby chair, untuk anaknya?” tanya pelayan itu.


“Boleh,” jawab Annisa.


Lalu pelayan itu pergi mengambil baby chair. Tak lama kemudian pelayan itu datang dengan membawa baby chair.


“Rafa mau duduk di situ nggak?” tanya Annisa.


“Mau,” jawab Rafa.


Kemudian Annisa menaruh Rafa di atas baby chair.


Seorang pelayan datang dengan membawa buku menu. Aisyah membaca buku menu dan langsung membelalakkan matanya.


“Teteh, ini makanannya harganya mahal-mahal,” bisik Aisyah sambil menutup wajahnya dengan buku menu.


“Nggak apa-apa, sekali-sekali makan di sini. Kan tidak setiap hari ke sini,” jawab Annisa.


“Umar mau makan apa?” tanya Annisa.


“Ada ayam kerawuk nggak, Teh?” tanya Umar.


“Ayam kerawuk mulu, sekali-sekali yang lain menunya,” sahut Aisyah.


“Beef steak mau?” tanya Annisa kepada Umar.


“Yang kayak gimana beef steak?” tanya Umar.


“Ini gambar beef steak,” Annisa memperlihatkan gambar beef steak ke Umar.

__ADS_1


“Nggak mau ah, Teh,” tolak Umar lalu membaca lagi daftar menunya.


“Umar mau burger aja,” kata Umar.


“Minumnya apa?” tanya Annisa


“Mau tota tola,” jawab Umar.


Akhirnya Annisa memesan makanan dan minuman  ke pelayan. Setelah pelayan itu pergi Aisyah memajukan badannya ke dekat Annisa.


“Memang Teteh punya uang untuk makan di sini?” tanya Aisyah sambil berbisik.


“Ada, dikasih sama Bang Toriq,” jawab Annisa.


“Teteh dikasih berapa sama Bang Toriq?” tanya Aisyah lagi sambil berbisik.


“Cukuplah selama Teteh di sini,” jawab Annisa.


“Bang Toriq baik banget sama Teteh. Sampai ngasih banyak uang ke Teteh,” kata Aisyah.


“Karena Rafa jadi anak angkat Teteh, Rafa itu tanggungan Abang Toriq. Jadi semua kebutuhan Teteh dan Rafa, Abang Toriq yang penuhi,” jawab Annisa.


“Enak jadi Rafa, Kakek, Nenek dan Omnya orang kaya semua,” celetuk Umar.


“Tapi menurut Rafa lebih enak jadi Om Umar. Karena Om Umar punya Bapak, Mamah dan Teteh-Teteh,” jawab Annisa.


“Oh iya, ya. Rafa anak yatim piatu,” kata Umar.


Akhirnya makanan yang mereka pesanpun datang. Mereka makan dengan tenang. Umar menyantap makanannya dengan lahap.


“Enak, Teh,” kata Umar sambil makan dengan lahap.


“Alhamdullilah kalau enak. Dihabiskan, ya makanannya,” ucap Annisa.


Rafa makan sendiri. Untung Annisa membawa slabber bayi, jadi makanannya tidak mengotori bajunya.


Annisa juga memesan makanan yang dibawa pulang untuk kedua orang tuanya.


Setelah selesai makan dan membayar makanannya, Annisa memesan taksi online untuk pulang. Annisa memutuskan untuk sholat dzuhur di rumah karena repot membawa belanjaan yang banyak dan membawa Rafa. Untung taksi onlinenya mudah di dapat datang dengan cepat, sehingga mereka bisa cepat sampai di rumah.


Ketika mereka sampai di rumah Annisa melihat Arya sedang duduk di teras rumah Annisa.


“Assalamualaikum,” ucap Annisa ketika memasuki pekarangan rumahnya.


“Waalaikumsalam,” jawab Arya.


“Maaf A. Annisa sholat dzuhur dulu, tadi belum sempat sholat,” kata Annisa.


“Iya, Aa tunggu,” jawab Arya.

__ADS_1


Annisa masuk ke dalam rumahnya. Di ruang tv Annisa bertemu dengan kedua orang tuanya yang sedang menonton tv.


“Tadi Arya mencari Annisa. Mamah bilang Annisa lagi pergi dengan Aisyah dan Umar,” kata Ibu Titien.


“Iya, tadi Annisa sudah ketemu dengan Aa Arya. Dia sedang duduk di depan. Sekarang Annisa mau sholat dzuhur dulu. Annisa tadi belum sempat sholat,” jawab Annisa.


“Oh ya, Annisa beli sop buntut untuk Mamah dan Bapak. Annisa simpan di atas meja makan,” kata Annisa.


“Alhamdullilah, terima kasih Annisa,” ucap Ibu Titien.


“Ayo Pak, kita makan dulu,” ajak Ibu Titien kepada Par Ernawan.


Annisa langsung menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Selesai sholat dzuhur Annisa menemui Arya yang masih menunggunya di teras rumah.


"Aa Arya ada perlu dengan Annisa?” tanya Annisa kepada Arya.


“Dari supermarket Badag,” jawab Annisa.


“Tadi dari mana? Kok Aa cari di supermarket Badag nggak ada?” tanya Arya pura-pura.


“Oh, mungkin Annisa sudah pergi ke restaurant di seberang supermarket Badag,” jawab Annisa.


“Maksud Annisa ke restaurant yang mewah itu?” tanya Arya pura-pura kaget.


“Iya,” jawab Annisa.


“Diajak siapa?” tanya Arya.


“Nggak diajak siapa-siapa. Annisa saja ingin mengajak Aisyah dan Umar ke sana,” jawab Annisa.


“Annisa sudah kerja? Punya uang dari mana sebanyak itu?” tanya Arya penasaran.


“Annisa dikasih Abang Toriq,” jawab Annisa.


Arya mengerutkan keningnya memdengar jawaban Annisa.


“Memangnya Toriq itu siapa Annisa kok sampai memberi uang sebanyak itu?” tanya Arya penasaran.


Annisa menghela nafas.


“Abang Toriq calon suami Annisa,” jawab Annisa dengan suara yang hampir tak tedengar.


“Sejak kapan? Bukankah Annisa bilang ingin bekerja di Padalarang,” kata Arya dengan sedikit emosi.


.


.


Pembaca yang budiman, novel Deche yang berjudul Oh... My Lady sudah diganti judulnya menjadi Duhai Wanitaku.

__ADS_1


.


__ADS_2