Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
67. Persiapan Lamaran


__ADS_3

Setelah mendengar kata cinta dari Toriq, membuat Annisa semakin yakin untuk menerima Toriq untuk menjadi calon suaminya. Seperti biasa hari minggu siang setelah sholat dhzuhur dan makan siang Toriq pamit pulang ke Jakarta. Namun sebelumnya Toriq memberikan sejumlah uang kepada Annisa.


“Ini untuk keperluan kamu dan Rafa sampai hari H kita menikah,” kata Toriq lalu memberikan amplop coklat.


Annisa membuka amplop itu yang berisikan sejumlah uang, Annisa menghitungnya.


“Bang ini kebanyakan. Yang kemarin juga masih ada sisa,” Annisa protes.


“Nggak apa-apa, itu untuk keperluanmu dan Rafa selama tiga minggu. Pakai untuk membeli makanan sehat dan vitamin. Kalau vitamin dari abang sudah habis kamu beli lagi di apotek. Kamukan sedang haid jadi perlu minum vitamin. Abang ingin kamu tetap fit sampai hari H,” jawab Toriq.


Lalu Toriq memberikan amplop coklat yang lain.


“Ini untuk acara lamaran. Untuk sewa tenda, catering, membayar orang yang membantu dan yang terpenting untuk Annisa membeli baju serta untuk biaya ke salon,” kata Toriq.


Annisa melihat isinya sama besarnya dengan uang yang kemarin Toriq bayarkan ke gedung.


“Abang sebetulnya tidak keberatan kamu hanya berias seperti biasa. Karena hanya kamu perempuan yang paling cantik di mata Abang,” kata Toriq.


“Gombal,” bisik Annisa.


“Tapi kalau kamu mau terlihat special di mata Abang, juga tidak apa-apa Abang tidak menolak memandangimu seharian,” lanjut Toriq.


“Abang kenapa jadi gombal begitu sih?” bisik Annisa takut kedengaran oleh kedua orang tuanya dan adik-adiknya.


“Tapi kamu sukakan?” balas Toriq sambil berbisik dengan senyum menggoda.


“Abang genit ih…,” sahut Annisa sambil berbisik.


“Biarin genit sama calon istri sendiri bukan sama perempuan lain,” jawab Toriq sambil berbisik.


Tiba-tiba Rafa ke ruang tamu menghampiri mereka.


“Mamah lagi ngapain bicik-bicik cama Om?” tanya Rafa dengan polosnya.


“Rafa sini, Om mau ngomong,” panggil Toriq.


Rafa menghampiri Toriq, lalu Toriq mengangkat Rafa agar duduk di pangkuannya.


“Rafa dengerkan Om mau ngomong. Mulai sekarang Rafa panggil Om dengan panggilan Papah,” kata Toriq.


“Papah?” tanya Rafa bingung.


“Sebentar lagi Mamah akan menikah dengan Om, jadi panggil Om dengan panggilan Papah,” kata Toriq sekali lagi.


“Mamah dan Papah? Jadi Rafa punya Mamah dan Papah sepelti olang-olang?” tanya Rafa.


“Iya sayang,” jawab Annsa.


“Acik Rafa punya Mamah dan Papah,” sorak Rafa.


Rafa mencium pipi Toriq kanan dan kiri.


“Rafa cayang Papah,” kata Rafa.


Rafa langsung turun dari pangkuan Toriq dan menghapiri Annisa lalu mencium pipi Annisa kanan dan kiri.


“Rafa cayang Mamah,” kata Rafa.


Rafa langsung berlari masuk ke ruang tv sambil bersorak, “Rafa punya Mamah dan Papah.”


Toriq terharu melihat Rafa begitu bergembira memiliki orangtua yang lengkap. Rafa hanya memiliki Kakek dan Nenek yang lengkap, tapi Rafa tidak memiliki Mamah dan Papah. Sekarang Rafa benar-benar memiliki Mamah dan Papah.


“Abang pulang, ya?! Jaga diri baik-baik!! Jaga hati dan jaga mata, jangan lirik-lirik laki-laki lain!!!!” kata Toriq.


“Ya, Bang. Abang juga jaga hati dan mata jangan lirik-lirik perempuan lain!!!” jawab Annisa.


“Mulai besok Abang kerja pakai kacamata kuda,” kata Toriq sambil senyum-senyum.


“Memang harus begitu!!!” jawab Annisa serius.


“Baiklah demi menjaga perasaan calon istri Abang, Abang akan kerja pakai kacamata kuda,” ujar Toriq.


Kemudian Toriq berpamitan kepada kedua orang tua Annisa dan adik-adik Annisa.


“Rafa, jaga Mamah baik-baik!!1 Terutama jaga Mamah dari gangguan Om Arya!!!!” pesan Toriq kepada Rafa yang berada dalam gedongan Annisa.


“Abang!!!” bisik Annisa sambil melotot.


Annisa merasa tidak enak jika di dengar oleh kedua orang tuanya.


“iya, Papah,” jawab Rafa.


“Good boy,” puji Toriq sambil mengacak rambut Rafa.


Annisa menghela nafas.


Anak sama Bapak samanya aja, bisik Annisa dalam hati.

__ADS_1


“Bang pergi, ya. Assalamualaikum,” ucap Toriq.


“Waalaikumsalam,” jawab Annisa.


Lalu Toriq masuk ke dalam mobilnya.


"Dadah Papah,” ujar Rafa sambil melambaikan tangannya.


Annisa sambil menggendong Rafa berdiri di pinggir jalan memperhatikan mobil Toriq yang melaju sampai hilang di ujung jalan.


*****


Keesokan harinya Annisa mulai sibuk untuk mempersiapkan acara lamaran. Mulai dari sewa tenda, catering, pakaian yang akan ia pakai sampai mencari seorang perias yang akan mendandaninya.


Annisa juga mempersiapkan hantaran yang akan diberikan kepada keluarga Toriq sebagai buah tangan.


Orang-orang yang akan membantu di rumah Annisa pilih orang-orang yang mulutnya tidak comel dan bisa dipercaya. Ia ingin memberikan kesan yang baik di depan keluarga Toriq.


Tak terasa sudah hari Jum’at. Annisa mencek ulang semuanya jangan sampai ada yang terlewatkan. Sore harinya tenda datang dan mulai di pasang. Annisa memilih dekor serba putih namun elegant. Meja-meja untuk prasmanan mulai dipasang dan dihias.


“Wah…bagus,” puji Umar ketika melihat tenda-tenda yang terpasang di depan rumahnya.


“Teteh mau nikah, ya?” tanya Umar.


“Bukan nikah, Umarrrrr. Tapi Teteh mau dilamar,” sahut Aisyah.


“Oh, Umar kirain besok Teteh mau menikah,” kata Umar dengan polosnya.


“Teteh nanti nikahnya di gedung bukan di sini,” ujar Aisyah.


“Bener, Teh?” tanya Umar ke Annisa.


“Iya, tapi masih lama sekitar dua minggu lagi,” jawab Annisa.


“Itu sih sebentar lagi bukannya masih lama,” ujar Umar.


Benar juga kata Umar sebentar lagi. Dua minggu bukanlah waktu yang lama. Sebentar lagi ia akan menjadi istri Toriq.


“Teh….Teh…..Eh…..si Teteh ngelamun wae,” panggil Umar.


“Eh….kenapa Umar?” tanya Annisa yang tersadar dari lamunannya.


“Tuh….Emangnya nanya meja bundarnya mau di taruh mana?” jawab Umar.


“Oh….,” lalu Annisa menunjuk tempat meja bundar ke petugas tenda.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam. Belum tidur?”


“Ini baru mau merem.”


“Bagaimana persiapannya? Sudah beres semua?”


“Sudah, Bang.”


“Uangnya kurang tidak?”


“Tidak, cukup malah lebih.”


“Syukurlah kalau tidak kurang.”


“Annisa sudah perawatan belum?”


“Perawatan apa?”


“Itu loh facial, luluran, cream bath, manicure pedicure.”


“Tidak sempat. Seminggu ini Annisa sibuk.”


“Tidak apa-apa kok, walau tidak perawatan kamu tetap perempuan yang paling cantik di mata Abang.”


“Abang ngegombal terus, ah.”


“Bukannya ngegombal, tapi kenyataan.”


“Abang besok ke sini jam berapa?”


“Jam 10. Mudah-mudahan jalanannya lancar tidak macet.”


“Aamiin ya robi alamin.”


“Sekarang Abang tidur, besokkan Abang harus bangun pagi-pagi sekali.”


“Iya, ini Abang mau tidur.”


“Selamat malam Annisa. Jangan lupa mimpikan Abang dalam tidurmu, ya!”

__ADS_1


“Selamat malam, Abang.”


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Annisa mematikan telefonnya lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Baru saja beberapa menit Annisa memejamkan matanya terdengar suara notifikasi pesan masuk. Ternyata sebuah pesan suara dari Toriq. Toriq menyanyikan sebuah lagu dengan judul Kisah Cinta Kita. Walaupun suaranya agak sedikit sumbang namun Toriq berusaha menyanyikan lagu untuk pujaan hatinya. Annisa mendengarkan lagu hingga selesai. Bahkan Annisa mengulangi lagi pesan suara dari Toriq, hingga ia tertidur.


'Kan kucerita pada semua


Kisah cinta antara kau dan 'ku


Agar semua tahu


Dan tak akan dekati dirimu


Andainya mampu 'kan kuukir


Namamu dan namaku di bulan


Agar satu dunia melihat


Restui cinta kita


Aku selalu tersenyum


Bayangkan kita hidup berdua


Berjalan berpegangan tangan


Takkan kau lepaskan


Tiba waktunya nanti


'Kan kucerita pada dunia


Yang kau telah pun jadi milikku


 Buat selamanya


'Ku pernah rasa


Kau 'kan pergi


Tinggalkan diriku sendiri


'Kan kuseru dunia


Berdoa kau kembali pada diriku


Aku selalu tersenyum


Bayangkan kita hidup berdua


Berjalan berpegangan tangan


Takkan kau lepaskan


Tiba waktunya nanti


'Kan kucerita pada dunia


Yang kau telah pun jadi milikku


Buat selamanya


Kisah cinta kau dan aku


Kekal selamanya


Aku selalu tersenyum


Bayangkan kita hidup berdua


Berjalan berpegangan tangan


Takkan kau lepaskan


Tiba waktunya nanti


'Kan kucerita pada dunia


Yang kau telah pun jadi milikku


Buat selamanya


Ho-o ...

__ADS_1


( Kisah Cinta Kita : Hafiz Suip )


__ADS_2