Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
45. Keputusan Annisa.


__ADS_3

IBu Titien sedang sibuk memasak di dapur. Terdengar suara ketukan pintu.


Tok…tok…tok…..


“Assalamualaikum.”


Seseorang mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.


Tok…tok….tok…


“Assalamualaikum.”


“Annisaaa…….,” panggil Ibu Titien.


Annisa sedang menjemur di belakang rumah mendengar panggilan Mamahnya, Cepat-cepat Annisa menghampiri Ibu Titien.


“Ya, Mah,” jawab Annisa.


“Di depan ada yang ketok-ketok pintu, tolong bukakan pintunya,” ujar Ibu Titien yang sedang sibuk memasak.


Annisa tanpa berpikir lama langsung ke ruang tamu.


Tok…tok..tok…


“Assalamualaikum.”


Annisa membukakan pintu.


“Waalaikumsa……lam,” Annisa diam melihat siapa yang datang.


“Annisa,” ucap Toriq.


Namun Annisa tetap saja diam melihat Toriq yang berdiri di depan pintu sambil menggendong Rafa.


Rafa yang sedang merebahkan kepalanya di bahu Toriq langsung bangun mendengar Toriq menyebut nama Annisa. Rafa menoleh ke depan dan langsung menangis melihat siapa yang sedang berdiri di depan Toriq.


“Mamah…..,” tangisan Rafa pecah sambil mengulurkan kedua tangannya minta untuk digendong Annisa.


“Rafa….,” ucap Annisa tapi tetap diam saja tidak menggendong Rafa.


“Mamah…..,” tangisan Rafa bertambah kencang dan meronta-ronta minta untuk di gendong Annisa.


Annisa sudah tidak tahan lagi melihat batita itu menangis kencang. Cepat-cepat Annisa mengambil Rafa dari tangan Toriq. Lalu dipeluk erat batita itu sambil menangis.


“Maafkan Mamah sayang, maafkan Mamah,” kata Annisa sambil menangis.


Ibu Titien mendengar suara anak kecil menangis langsung mematikan kompornya lalu pergi ke ruang tamu.


“Annisa, ada siapa?” Ibu Titien diam melihat Annisa memeluk seorang anak yang sedang menangis dan di hadapannya berdiri seorang pria yang sedang memperhatikan keduanya dengan tatapan bahagia.


“Annisa…..,” panggil Ibu Titien sambil menghampiri Annisa.


Annisa cepat-cepat menghapus air matanya.


“Iya, Mah,” jawab Annisa lalu menoleh ke belakang.


“Ada siapa Annisa? Ini anak siapa?” tanya Ibu Titien dengan curiga.


“Ini Rafa, cucunya Ua Elly,” jawab Annisa sambil tersenyum memandang wajah Rafa.

__ADS_1


“Rafa salam dulu sama Enin,” Annisa mendekatkan Rafa ke Ibu Titien.


Rafa mencium tangan Ibu Titien.


“Acalamualaikom,” ucap Rafa.


“Waalaikumsalam. Aduh pintarnya cucu Enin,” jawab Ibu Titien sambil mengusap kepala Rafa.


“Itu siapa? Kenapa dibiarin saja berdiri di depan pintu?” tanya Ibu Titien sambil menunjuk ke arah Toriq.


“Oh, ini Abang Toriq. Kakak ipar almarhum Aa Rilandi,” jawab Annisa.


Toriq menyalami Ibu Titien.


“Kok dibiarin saja berdiri di depan pintu. Nggak disuruh masuk?” tegur Ibu Titien pada Annisa.


“Masuk, Bang,” ajak Annisa.


“Iya, terima kasih,” ucap Toriq lalu masuk ke dalam rumah.


“Maaf, rumahnya Annisa kecil dan tidak sebagus rumah Uanya,” ujar Ibu Titien.


“Tidak apa-apa Tante,” kata Toriq.


“Duduk dulu, Nak Toriq,” ujar Ibu Titien.


Toriq langsung duduk di kursi tamu yang sederhana.


“Abang sudah sarapan?” tanya Annisa ke Toriq.


“Belum,” jawab Toriq.


“Beyum. Rafa mau mamam cama Mamah,” jawab Rafa.


“Iya nanti Rafa makan sama Mamah. Sekarang Rafa duduk dulu di sini sama Om Toriq. Mamah mau menyiapkan makanannya,” kata Annisa.


“Aaahhh mau cama Mama,” Rafa merengek tidak mau turun.


“Nanti kalau Mamah sudah nyediakan makanannya,” ujar Annisa.


“Rafa kan anak soleh. Duduk dulu yang manis, ya,” bujuk Annisa.


Akhirnya Rafapun mengangguk dan Annisa menurunkan Rafa di sebelah Toriq.


“Titip Rafa dulu, Bang,” kata Annisa kepada Toriq.


“Iya,” jawab Toriq.


Annisa berjalan menuju ke dapur. Ibu Titien menghampiri Annisa.


“Annisa, kenapa Rafa memanggil Annisa dengan panggilan Mamah?” tanya Ibu Titien sambil berbisik.


“Panjang ceritanya. Nanti Annisa ceritakan,” jawab Annisa lalu membawa makanan yang sudah matang ke meja makan.


“Mah, Aa Roland sudah bangun?” tanya Annisa ketika kembali ke dapur.


“Belum. Sepertinya masih tidur,” jawab Ibu Titien.


Annisa mengambil beberapa piring kosong beserta sendok lalu ditaruh di meja makan. Setelah itu Annisa mendekati sebuah kamar dan mengetuk pintunya.

__ADS_1


“Aa…..bangun! Sarapan dulu,” Annisa memanggil Roland.


“Ya,” terdengar suara roland dari dalam kamar.


“Bangun A, sudah siang sarapan dulu,” ujar Annisa.


Tak lama kemudian terdengar suara pintu di buka.


“Bangun sudah siang. Sarapannya sudah Annisa sediakan,” kata Annisa lalu meninggalkan Roland menuju ke ruang tamu.


“Ayo, Bang sarapan dulu,” ajak Annisa.


Kemudian Annisa menuntun Rafa menuju meja makan diikuti Toriq dari belakang. Rafa duduk di tengah-tengan antara Toriq dan Annisa. Tak lama kemudian Roland bergabung di meja makan.


“Eh….ada tamu jauh,” ujar Roland begitu melihat Toriq dan Rafa.


Roland duduk di sebelah Annisa.


Annisa mengambilkan nasi untuk Toriq.


“Segini cukup, Bang?” tanya Annisa sambil memperlihatkan nasi yang berada di dalam piring.


“Cukup,” jawab Toriq.


Kemudian Annisa memberikan piring yang berisi nasi kepada Toriq.


Lalu Annisa juga mengambilkan Roland nasi.


Pintu ruang tamu tiba-tiba terbuka. Seorang anak perempuan yang masih remaja masuk ke dalam rumah sambil membawa kantong plastik besar.


“Asalamualaikum,” ucap anak perempuan itu.


“Waalaikumsalam,” jawab semua yang berada di meja makan.


“Aisyah, salam dulu sama Abang Toriq,” kata Annisa kepada Aisyah.


“Nanti dulu, Teh. Tangan Aisyah kotor baru dari pasar,” jawab Aisyah lalu Aisyah membawa belanjaannya ke dalam.


Tak lama kemudian Aisyah keluar dan menyalami Toriq, lalu kembali ke dapur.


“Percuma dong kabur malam-malam kalau akhirnya dijemput juga,” celetuk Roland sambil makan.


“Nggak percuma, A. Hari Senin Annisa ada interview di pabrik tempat teman Annisa bekerja,” jawab Annisa sambil menyuapi Rafa.


Toriq langsung berhenti makan dan menoleh ke Annisa.


“Maksud Annisa apa?” tanya Toriq.


“Annisa sudah memutuskan untuk tidak kembali lagi ke Jakarta. Annisa mau bekerja di sini saja. Kebetulan di pabrik tempat Aa Arya bekerja ada lowongam pekerjaan,” jawab Annisa dengan tenang sambil menyuapi Rafa.


Toriq memandangi Annisa.


Apa segitu benci Annisa kepada Abang hingga mau pergi menjauh dari Abang, bisik Toriq dalam hati.


.


.


Hari ini cukup sampai disini. Besok dilanjutkan lagi.

__ADS_1


__ADS_2