Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
17. Ujian Masuk Perguruan Tinggi.


__ADS_3

“Nis, Rafa tidur,” bisik Roland.


Annisa melihat Rafa yang duduk di pangkuannya. Batita itu tertidur dengan pulas. Annisa membetulkan posisi Rafa, agar batita itu tidur dengan nyaman. Perjalanan dari rumah Ibu Elly menuju ke kampus Roland membutuhkan waktu 30 menit jika tidak macet. Namun karena lalu lintas cukup padat maka bisa membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai ke tempat tujuan.


“Aa, telat nggak, ya? Jalanannya merayap begini,” tanya Annisa dengan cemas.


Roland yang sedang fokus dengan kepadatan lalu lintas di depannya menoleh ke samping.


“Kenapa? Takut telat, ya? Masih keburu kok, tenang aja,” jawab Roland dengan santai.


Ibu Elly mendengar pembicaraan Annisa dengan Roland, lalu bertanya kepada Annisa.


“Kenapa, Nis? Sudah telat?”


Annisa menoleh ke belakang.


“Belum telat, Ua. Masih ada waktu 45 menit lagi,” jawab Annisa.


Tak lama kemudian kepadatan mulai mengurai sehingga Roland bisa menaikkan kecepatannya. Dengan lihai Roland mengendarai mobilnya menuju kampusnya.


“Jangan cepat-cepat, Land!” seru Ibu Elly.


“Nggak Mah, tuh cuma 40 Km/jam,” jawab Roland.


“Iya dikurangi jangan terlalu ngebut,” kata Ibu Elly.


“Mamah tenang aja, kita bakalan selamat sampai tujuan,” jawab Roland.


Dalam waktu beberapa menit kemudian mereka sampai di kampus Roland. Annisa bersiap-siap untuk turun. Roland memasuk ke halaman kampusnya dan memberhentikan mobilnya di depan lobby gedung universitas X.


Roland menoleh ke Annisa.


“Annisa sudah tau tempat testnya?” tanya Roland.


“Sudah A, di Ballroom universitas,” jawab Annisa.


“Oh, kalau Ballroom di sebelah gedung ini. Tuh yang sebelah sana,” Roland menunjuk ke gedung sebelah.


“Oh, yang itu. Ya sudah nanti Annisa jalan saja ke sana. Annisa turun di sini,” kata Annisa.


Annisa memutarkan badannya ke belakang lalu mengulurkan tangannya ke Ibu Elly.


“Ua, Annisa test dulu. Assalamualikum,” ucap Annisa lalu mencium tangan Ibu Elly.


“Waalaikumsalam, hati-hati, Nis. Jangan lupa berdoa dulu,” kataa Ibu Elly.


“Iya, Ua.”


Lalu Annisa menulurkan tangannya ke Roland.


“Aa, Annisa test dulu. Assalamualaikum,” ucap Annisa sambil mencium tangan Roland.


“Waalaikumsalam,” jawab Roland namun tangan kiri Roland mengacak-acak rambut Annisa.


Kali ini Annisa tidak protes dengan ulah Roland karena ia takut kesiangan dan takut Rafa terbangun. Pelan-pelan Annisa memindahkan Rafa dari pangkuannya ke jok mobil, beruntung Rafa tidak terbangun. Roland memakaikan Rafa seat belt, setelah itu baru Annisa menutup pintu mobil dengan pelan-pelan.Kemudian mobil Roland melaju meninggalkan kampus. Annisa memandangi mobil itu hingga tidak terlihat lagi, setelah itu barulah Annisa jalan kaki menuju Ballroom Universitas X. Ketika sampai di Ballroom sudah banyak peserta yang datang. Annisa menunjukkan kartu peserta ujian pada panitia yang bertugas.

__ADS_1


Panitia Annisa dipersilahkan untuk masuk dan duduk di bangku yang sesuai dengan nomor peserta. Annisa mencari bangku yang sesuai dengan nomor kartu ujian. Setelah mendapatkan kursi yang ia cari Annisa langsung duduk di bangku tersebut dan bersiap-siap untuk mengikuti test. Selang tak berapa lama panitia mulai memberikan pengarahan dan membacakan tata tertib selama ujian berlangsung. Setelah pengarahan dan pembacaan tata tertib, barulah ujian masuk mahasiswa baru Universitas X dimulai. Para panitia mulai membagikan soal ujian.


Sebelum mengerjakan soal Annisa berdoa terlebih dahulu, minta kelancaran dalam


mengerjakan soal ujian dan meminta yang terbaik untuk dirinya. Setelah itu barulah Annisa mengerjakan soal ujian. Satu persatu soal dibaca baik-baik agar tidak salah dalam mengisi soal. Soal ujian lumayan cukup sulit mungkin karena Universitas X termasuk universitas swasta yang bergengsi, sehingga mereka benar-benar selektif dalam memilih calon mahasiswanya. Setelah 2 jam test


berjalan pihak panitia sudah memberikan aba-aba bahwa waktu ujian telah berakhir. Annisa mengumpulkan soal dan kertas jawaban yang telah ia kerjakan lalu Annisa berjalan keluar dari Ballroom. Di depan Ballroom Annisa melhat seseorang mirip dengan Roland, orang itu sedang tertawa bercanda dengan para panitia yang bertugas di depan Ballroom.


Apa itu Aa Roland? Kok sudah ada di sini lagi? Bisik Annisa dalam hati.


Annisa langsung berjalan meninggalkan Ballroom, namun tiba-tiba ada yang memanggilnya.


“Annisa.”


Annisa kaget siapa yang memanggilnya. Annisa menoleh ke belakang mencari orang yang memanggilnya. Terlihat Roland sedang melihat ke arahnya.


“Aa?” tanya Annisa dengan tidak percaya.


Roland pamit pada teman-temannya dan menghampiri Annisa.


“Sudah selesai testnya?” tanya Roland


“Sudah,” jawab Annisa.


“Bisa nggak?” tanya Roland lagi.


“Nggak bisa, susah,” jawab Annisa.


“Masa soal begitu aja nggak bisa?” kata Roland sambil merangkul bahu Annisa lalu berjalan menuju tempat parkir.


“Buat Aa mungkin gampang, tapi buat Annisa belum tentu,” kata Annisa.


“Oh ya, A. Tadi Rafa nangis nggak?” tanya Annisa.


“Nggak,” jawab Roland.


“Terus waktu Aa dan Ua pulang juga nggak nangis?” tanya Annisa penasaran.


“Nggak. Anteng main mainan baru dari kado ulang tahun,” jawab Roland.


“Syukurlah kalau tidak menangis,” ucap Annisa.


Tak terasa mereka sudah sampai di tempat parkir. Roland membukakan pintu mobil untuk Annisa. Annisa masuk ke dalam mobil, lalu Roland menutup pintu mobil. Kemudian Roland masuk ke dalam mobil di bagian kemudi.


“Sekarang Annisa mau kemana?” tanya Roland lalu menyalakan mesin mobil.


“Pulang,” jawab Annisa.


“Kita makan dulu, ya,” ajak Roland


“Makan dimana? Makan di rumah?” tanya Annisa.


“Kita makan di café,” jawab Roland lalu melajukan mobil.


“Aa, nanti dicari Ua Elly,” kata Annisa.

__ADS_1


“Annisa telepon Mamah, bilang kalau kita mau makan di luar,” kata Roland sambil membuka kaca mobil dan memberi karcis parkir pada petugas parkir.


“Aa aja yang nelepon,” tolak Annisa.


Roland menghela nafas lalu memberikan ponsel miliknya kepada Annisa.


“Tolong sambungin ke nomor Mamah jangan lupa diloudspeaker,” kata Roland.


Annisa mencari nomor Ibu Elly lalu menghubunginya.


“Assalamualaikum.”


Terdengar suara Ibu Elly mengucap salam.


“Waalaikumsalam. Mah, Roland dan Annisa mau makan siang diluar. Boleh nggak?”


“Ya, boleh. Mau makan dimana?”


“Makan di café XX.”


“Ya, sudah , hati-hati di jalan.”


“Iya, Mah. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Annisa mematikan ponsel Roland.


“Tuh, bolehkan. Yang nggak boleh kalau minta ijin sama Rafa. Pasti dia minta ikut,” kata Roland.


“Iya, deh,” kata Annisa sambil mengembalikan ponsel Roland.


“Pegangin. Aa lagi nyetir,” kata Roland sewaktu Annisa mengembalikan ponsel milik Roland.


Akhirnya mereka sampai juga di sebuah café. Roland membelokkan mobilnya memasuki halaman café tersebut. Dia memarkirkan mobilnya di tempat yang nyaman. Annisa hanya diam di tempat duduknya sambil memandangi café tersebut.


“Turun, yuk,” ajak Roland sambil hendak membuka pintu mobil.


“Aa,” kata Annisa sambil memegang lengan Roland.


Roland tidak jadi membuka pintu mobil dan menoleh ke Annisa.


“Kenapa?” tanya Roland.


.


.


.


.


.


🌻Novel ini tidak akan Deche ajukan untuk di kontrak karena novel ini Deche daftar ikut lomba You Are A Writer Season 6.

__ADS_1


.


🌻Mohon dukungannya dari penbaca like, komentar, vote dan hadiah. Kalau mau kasih gift juga boleh. Komentarnya yang membangun, ya.😘


__ADS_2