
Toriq melaju kendaraannya dalam kecepatan sedang menyusuri jalanan ibukota. Sesekali Toriq menoleh ke samping melihat Rafa yang tertidur pulas di dalam dekapan Annisa. Hanya sekarang Annisa banyak diam tidak seperti sewaktu berangkat ke rumah sakit. Ketika Rafa mengajak Annisa ngobrol Annisa hanya menjawab sekedarnya, tidak seperti biasa. Toriq menoleh ke Annisa.
“Kita makan dulu. Abang lapar belum makan,” kata Toriq.
“Ya,” jawab Annisa dengan singkat.
“Annisa mau makan apa?” tanya Toriq sambil melirik ke samping.
“Terserah, Abang,” jawab Annisa sambil mengusap- usap kepala Rafa yang sedang tertidur.
“Bener nih terserah, Abang?” tanya Toriq.
Annisa hanya menjawab sambil mengangguk.
“Ya sudah. Jangan protes, ya,” kata Toriq kepada Annisa sambil senyum di kulum.
Annisa menoleh ke Toriq.
“Ya,” jawab Annisa.
Toriq membelokkan mobilnya ke sebuah hotel berbintang. Annisa kaget mengetahui Toriq membelokkan mobilnya ke hotel berbintang di kawasan Jakarta Selatan.
“Abang mau apa ke sini?” tanya Annisa dengan hati-hati ketika Toriq memarkirkan mobilnya.
“Mau makan,” jawab Toriq dengan tenang.
“Tapi kenapa harus di sini?” tanya Annisa.
“Tadi kan Annisa jawab terserah Abang. Ya sudah, kita makan di sini saja,” jawab Toriq.
“Tapi ini kan hotel, Bang,” Annisa protes.
“Iya memang hotel. Di dalamnya bukan hanya kamar tidur saja, tapi ada restaurant, Pub, coffee shop, boutique, spa, swimming pool dan masih banyak lagi yang lainnya. Jadi kalau ke sini kita bukan hanya sekedar check in untuk tidur saja,” kata Toriq mencoba untuk menerangkan kepada Annisa.
“Atau Annisa mau check in sama Abang? Ayo boleh,” tanya Toriq dengan senyum menggoda Annisa.
“Abang nggak lucu bercandanya!!!” seru Annisa sambil melotot.
“Namanya juga bercanda, Nis. Jangan marah dong,” jawab Toriq.
“Ayo kita turun, Abang sudah lapar,” ajak Toriq.
“Tolong ambilkan kain gendongannya di jok belakang,” pinta Annisa.
Toriq langsung mengambilnya kain gendongan dan di berikan kepada Annisa. Annisa menggendong Rafa dengan menggunakan kain gendongan biar tidak repot. Ketika Annisa hendak turun, Toriq mencegahnya.
“Tunggu dulu biar Abang bantu,” kata Toriq lalu keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Annisa.
Dengan hati-hati Annisa keluar dari mobil, agar Rafa tidak terbentur mobil. Setelah Annisa keluar dari mobil Toriq langsung menutup pintu mobil. Toriq dan Annisa jalan berdampingan menuju lobby hotel.
Annisa merasa tidak percaya diri ketika masuk ke dalam hotel. Bagaimana tidak, Toriq mengajaknya ke sebuah hotel yang sangat mewah menurut versi Annisa. Annisa ragu untuk melanjutkan langkahnya.
“Kenapa berhenti? Ayo masuk,” tanya Toriq.
“Bang,” kata Annisa.
__ADS_1
“Ayo, Abang sudah lapar,” kata Toriq yang kemudian terpaksa merangkul Annisa.
Annisa terpaksa mengikuti langkah Toriq menuju lift. Di dalam lift Annisa hanya diam berdiri di sebelah Toriq sambil menepuk- nepuk bagian belakang tubuh Rafa. Bagaimana tidak orang yang berada di dalam lift mereka menggunakan pakaian yang rapih dan elegant. Berbeda dengan Annisa yang hanya menggunakan baju yang sederhana, Annisa lebih nampak seperti seorang pengasuh.
Akhirnya lift berhenti di lantai yang mereka tuju, Annisa menarik nafas lega bisa keluar dari lift. Namun dugaan Annisa salah ternyata mereka yang berada di dalam satu lift dengannya keluar juga dan berjalan menuju tempat yang sama.
Toriq mengajak Annisa menuju restaurant mewah di hotel tersebut. Annisa menghentikan kembali langkahnya.
“Abang,” Annisa belum melanjutkan perkataannya, tapi Toriq malah mempererat rangkulannya.
“Ayo kita masuk,” bisik Toriq.
Dengan ragu Annisa mengikuti langkah Toriq. Ketika di depan pintu restaurant seorang pegawai restaurant berseragam rapih menyambut mereka.
“Selamat malam. Untuk berapa orang, Pak?” tanya pegawai itu.
“Untuk dua orang,” jawab Toriq dengan tenang.
“Maaf Bapak sudah reservasi?” tanya pegawai lagi.
“Belum,” jawab Toriq.
“Oke kalau begitu mari ikut saya,” kata pegawai itu.
Toriq dan Annisa mengikuti pegawai itu sampai berhenti di sebuah meja untuk empat orang yang berada di pinggir kaca jendela dengan pemandangan kota Jakarta di waktu malam.
Pegawai itu menarik kursi satu persatu untuk mempermudah Toriq dan Annisa untuk duduk.
“Silahkan,” kata si pegawai itu.
Ketika Annisa melihat Rafa yang berada di dekapannya, terlihat batita itu sudah bangun dan matanya sibuk memperhatikan di sekelilingnya.
“Ah….anak sholeh sudah bangun,” kata Annisa dengan senang lalu membenarkan posisi Rafa yang tadi dalam posisi tidur menjadi posisi duduk di pangkuan Annisa.
“Rafa sudah bangun?” tanya Toriq melihat keponakanya sedang duduk di pangkuan Annisa sambil memperhatikan suasana di sekitarnya.
Annisa membuka kain gendongan agar Rafa bergerak bebas. Annisa menjadi tidak risih lagi karena ada Rafa yang menemaninya. Batita itu berbinar-binar melihat pemandangan di luar jendela.
“Rafa duduk sendiri, ya,” kata Annisa lalu memindahkan Rafa ke kursi di sebelah. Batita itu dengan bebas berlutut menghadap ke jendela dan ke dua tangannya menempel di kaca.
Tak lama kemudian seorang pelayan menghampiri mereka dan memberikan buku menu.
“Mau makan apa, Nis?” tanya Toriq.
Annisa membuka buku menu dan banyak daftar menu yang terasa asing bagi Annisa.
“Terserah Abang saja,” jawab Annisa.
“Kalau steak suka nggak?” tanya Toriq ke Annisa.
“Boleh, Bang,” jawab Annisa sambil memperhatikan Rafa yang sedang asyik dengan pemandangan di luar jendela.
“Minumnya apa?” tanya Toriq ke Anisa
“Terserah Abang juga,” jawab Annisa.
__ADS_1
“Kalau fruit punch mau?” tanya Toriq ke Annisa.
“Apa tuh, Bang?” tanya Annisa dengan bingung. Kedengarannya terasa asing di telinga Annisa.
“Sari buah dicampur soda,” jawab Toriq.
“Boleh deh, Bang,” jawab Annisa.
“Saya pesan tenderloin steak well done dua, cream sup satu, french fries satu, fruit punch non alcohol dua dan pure juice tanpa es satu,” kata Toriq kepada pelayan restaurant.
Lalu pelayan restaurant mengulangi pesanan Toriq supaya tidak salah. Setelah itu pelayan itu meninggalkan meja Toriq.
“Bang, memang fruit punchnya mengandung alkohol?” bisik Annisa sambil memajukan badannya.
“Biasanya di tempat-tempat seperti ini suka dicampur alkohol,” jawab Toriq dengan tenang.
Toriq menoleh ke arah Rafa yang sedang asyik dengan pemandangan di luar.
“Rafa…..hei boy lagi apa?” panggil Toriq.
“Dia lagi anteng melihat lampu-lampu kota Jakarta,” jawab Annisa.
“Dia tidak ingat dengan baby boy lagi?” tanya Toriq ke Annisa.
“Abang sssttt. Nanti Rafa dengar,” seru Annisa sambil berbisik.
“Kalau dia minta, kasih aja,” jawab Toriq dengan santai.
“Iya, Abang yang kasih,” sahut Annisa.
“Loh kok Abang? Kamu dong yang kasih. Kamukan Mamahnya,” ujar Toriq.
“Annisa masih kecil, Bang. Masih sekolah. Yang pantas tuh Abang yang kasih, karena Abang sudah waktunya menikah,” jawab Annisa.
Mendengar perkataan Annisa, Toriq langsung diam. Toriq jadi teringat dengan Poppy wanita pujaannya.
“Annisa, sebenarnya ada yang ingin Abang ceritakan tentang wanita yang tadi kita besuk,” kata Toriq.
Annisa menoleh ke arah Toriq. Wajah Toriq berubah menjadi sendu.
.
.
Siapakah wanita yang dijenguk oleh Toriq dan Annisa? Kalau membaca dari awal pasti tau jawabannya. Karena berulang kali disinggung di bab-bab sebelumnya.
Mengapa tidak ada percakapan antara Toriq dan pasangan suami istri itu? Di novel
Duhai Wanitaku juga percakapan antara Toriq dengan pasangan suami istri itu juga tidak banyak hanya permintaan maaf dan ucapan selamat karena mereka telah menikah begitu bayinya lahir.
Yang ada juga Rafa yang merengek minta baby boy.
Dan untuk pembaca yang kecewa karena ternyata Annisa tidak berkerudung. Saya mohon maaf. Karena dari awal saya membuat cerita ini saya tidak menggambarkan Annisa menggunakan kerudung.
Cukup sekian pemberitahuan Deche. Dan untuk promo teman-teman Deche sudah selesai.
__ADS_1
Mungkin nanti aka nada promo novel baru Deche.