Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
62. Mengurus Annisa.


__ADS_3

Setelah Toriq selesai mandi Toriq membawakan makan sore untuk Annisa.


“Hei lagi apa?” tanya Toriq ketika melihat Annisa sedang melamun di kamarnya.


“Bosan di kamar terus, Bang,” jawab Annisa.


“Nanti kalau sudah tidak sakit lagi kepalanya baru boleh keluar dari kamar,” kata Toriq.


Toriq duduk di tepi tempat tidur Annisa.


“Ayo makan dulu,” kata Toriq.


Toriq bersiap-siap untuk menyuapi Annisa. Annisa melihat lauk pauk dan sayuran yang diatas piring berbeda dengan yang Mamahnya beli tadi siang.


“Abang beli makanan?” tanya Annisa.


“Bukan beli, tapi Abang membawanya dari rumah. Setelah mendengar kamu sedang sakit Mamah membawakan banyak makanan untukmu,” jawab Toriq.


“A,” Toriq menyuapi Annisa.


Annisa membuka mulutnya dan mengunyah makanan yang Toriq suapkan ke mulutnya.


“Annisa bisa makan sendiri kok, Bang,” Annisa mengambil piring dari tangan Toriq.


“Eh…jangan!! biar Abang suapi,” sahut Toriq.


Annisa mengunyah makanannya pelan-pelan. Ia takut memuntahkan kembali makanannya.


Tok…tok…tok….suara pintu diketuk. Padahal Toriq tidak menutup pintu kamar Annisa, agar tidak menjadi fitnah karena Toriq sedang berduaan dengan Annisa di kamar Annisa.


“Masuk, Mbok,” jawab Toriq.


Mbok Sarmi masuk ke dalam kamar sambil membawa dua gelas air minum.


“Ini Den air jahenya dan air putihnya,” kata Mbok Sarmi.


“Taruh di meja Mbok,” jawab Toriq.


Mbok Sarmi menaruh ke dua gelas itu di atas meja di sebelah tempat tidur Annisa.


“Terima kasih, Mbok,” ucap Toriq.


“Mbok, Rafa sudah makan?’ tanya Annisa.

__ADS_1


“Lagi makan disuapi sama Mamahnya Non. Den Rafa nggak mau disuapi Mbok, mau sama Enin aja kata Den Rafa,” jawab Mbok Sarmi.


“Ya sudah kalau begitu. Terima kasih, ya Mbok,” ucap Annisa.


“Sama-sama. Non,” balas Mbok Sarmi.


Lalu Mbok Sarmi keluar dari kamar Annisa.


Toriq menyuapi Annisa lagi. Annisa mengunyah makanannya pelan-pelan sambil sekali-sekali bersendawa.


“Alhamdullilah,” ucap Toriq setiap mendengar Annisa bersendawan.


“Maaf, ya Bang. Annisa jadi tidak sopan bersendawa di depan Abang,” kata Annisa yang merasa tidak enak karena terus bersendawa di depan Toriq.


“Tidak apa-apa, Annisa kan  sedang sakit,” jawab Toriq.


Toriq melanjutkan menyuapi Annisa, namun Annisa hanya makan beberapa suap saja.


“Sudah, Bang. Kalau kekenyangan takut dimuntahkan lagi,” kata Annisa.


Toriq menyimpan piring di atas meja. Lalu Toriq mengeluarkan dua strip obat dari saku celananya.


“Apa itu, Bang?” tanya Annisa.


“Abang sudah makan?” tanya Annisa.


“Nanti kalau pulang sudah pulang dari masjid,” jawab Toriq.


“Nanti wudhunya tayamum aja dan sholat sambil duduk,” kata Toriq.


“Ya, Bang,” jawab Annisa.


“Abang mau siap-siap dulu untuk sholat magrib di masjid,” kata Toriq.


Kemudian Toriq beranjak dari tempat tidur Annisa lalu keluar dari kamar Annisa.


Rafa masuk ke kamar Annisa sambil berlari dan menghampiri Annisa.


“Mamah, Rafa mau icut Om ke mesjit,” kata Rafa.


“Iya, boleh sayang. Tapi jangan menggangu yang lagi sholat, ya,” jawab Annisa.


“Iya,” jawab Rafa.

__ADS_1


“Sekarang ganti celananya dengan celana panjang. Rafa ambil celananya di tas Rafa,” kata Annisa.


Kemudian Rafa membuka tas bajunya yang di simpan diatas kursi. Lalu mencari celana panjangnya. Ya, lebih tepatnya mengaduk-aduk tas yang berisikan baju miliknya. Setelah menemukannya Rafa menarik celananya dari tasnya.


“Aduh cucah,” kata Rafa sambil menarik celananya.


Annisa hanya tersenyum melihat kelakuan anak angkatnya.


Setelah bisa mengeluarkan celana panjangnya Rafa memberikan kepada Annisa. Annisa menggantikan celana pendek Rafa dengan celana panjang. Setelah memakai celana panjang Rafa mencium tangan Annisa.


“Acalamualaikom,” ucap Rafa.


Lalu keluar dari kamar Annisa.


Tak lama kemudian terdengarlah suara adzan magrib dari masjid yang dekat dengan rumah Annisa.


Annisapun bersiap untuk sholat magrib. Annisa tayamum lalu sholat di atas tempat tidur. Setelah selesai sholat magrib, mata Annisa mulai mengantuk dan Annisapun tidur.


Entah berapa lama Annisa tidur, namun sayup-sayup Annisa mendengar suara orang sedang berbicara. Annisa melihat Rafa sudah tidur di sampingnya dan Mbok Sarmi tidur di bawah dengan menggunakan kasur. Entah darimana kasur itu. Setahu Annisa Mamahnya tidak mempunyai corak seperti yang Mbok Sarmi gunakan. Mungkin Toriq membawa dari rumah.


Karena Annisa hendak buang air kecil, Annisa keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar mandi. Annisa mendengar suara Toriq dan Bapaknya di ruang tamu. Annisa berjalan menuju ke ruang tamu. Annisa melihat Toriq sedang berbicara dengan Mamah dan Bapaknya. Ibu Titien melihat Annisa sedang memperhatikan mereka berbicara.


“Annisa,” panggil Ibu Titien.


Toriq dan Pak Ernawan menoleh ke Annisa.


“Annisa sini, Bapak mau bicara,” panggil Pak Ernawan.


“Nanti, Pak. Annisa mau ke kamar mandi terus mau sholat isya,” jawab Annisa.


“Iya, Bapak tunggu,” kata Pak Ernawan.


Annisa langsung menuju ke kamar mandi untuk buang air kecil. Setelah selesai sholat isya Anisa menghampiri Bapaknya.


“Sini Annisa, duduk sini. Bapak mau bicara,” kata Pak Ernawan.


Annisa duduk di sebelah Toriq,


“Begini Annisa, kata Nak Toriq tadinya hari Minggu orang tua Nak Toriq beserta keluarga besarnya hendak datang kemari untuk melamarmu. Tapi karena kamu sakit jadi diundur melamarnya menjadi hari sabtu depan,” kata Pak Ernawan.


“Betul begitu Nak Toriq?” tanya Pak Ernawan.kepada Toriq.


“Betul, Om,” jawab Toriq.

__ADS_1


__ADS_2