
Roland mendekati Annisa.
“Udah, Nis terima saja. Mamah kalau sedang belanja memang begitu suka kalap, semua dibeli,” bisik Roland.
“Tapi Annisa nggak enak Aa, Ua sudah keluar uang banyak untuk Annisa,” bisik Annisa.
“Udah jangan merasa tidak enak terus. Nanti Mamah malah kecewa kalau kamu menolak semua,” kata Roland lalu mendekati Ibu Elly.
“Sudah belanjanya, Mah?” tanya Roland.
“Untuk Annisa segitu dulu. Sekarang cari untuk Rafa,” jawabIbu Elly.
Roland membawakan semua barang belanjaan.
“Annisa bantu, A,” kata Annisa sambil mendekati Roland.
“Nggak usah. Kamu jalan saja sama Mamah,” jawab Roland.
“Ayo Nis, kita ke bagian anak-anak,” ajak Ibu Elly sambil merangkul tangan Annisa.
Merekapun menujuk ke bagian untuk anak-anak. Di tempat anak-anak Ibu Elly lebih kalap lagi belanjanya.
Karena Rafa sudah tidak mempunyai orang tua, siapa lagi yang akan memenuhi kebutuhannya kalau bukan dari kakek dan neneknya. Annisa senang melihat baju anak-anak kecil seumur Rafa, ia gemas melihat baju anak kecil yang lucu-lucu.
“Annisa bantu cari, ya Ua,” kata Annisa ketika mendekati Ibu Elly yang sedang sibuk memilih baju.
“Boleh, cari yang pantas untuk Rafa,” jawab Bu Elly.
Dengan senang hati Annisa mulai sibuk memilihkan baju untuk Rafa. Annisa begitu sibuk memilih baju yang lucu-lucu.
“Ehem…..ehem….. belanja, Bu?” sapa seseorang di sampingnya.
Annisa menoleh ke samping. Roland sedang berdiri di sampingnya.
“Eh….Aa, Annisa kira siapa?” kata Annisa dengan kaget.
“Serius banget milih bajunya,” kata Roland.
“Iya Aa, habis Annisa gemes ngelihatin bajunya lucu-lucu,” jawab Annisa sambil memperlihatkan baju-baju anak kecil ke Roland.
Setelah selesai memilihkan baju, Annisa memperlihatkannya ke Ibu Elly.
“Ini Ua,” Annisa memberkan baju hasil pilihannya.
Ibu Elly melihat satu persatu baju yang Annisa pilih.
“Pinter kamu milihnya, Nis. Bagus-bagus semua bajunya,” puji Ibu Elly.
“Ini ukurannya sudah pas?” tanya Ibu Elly.
“Sudah Ua, untuk anak usia dua tahun,” jawab Annisa.
Ibu Elly memasukkan semua baju pilihan Annisa ke dalam tas tempat belanja.
“Sekarang kita cari kaos kaki, topi dan sepatu. Jangan lupa pakaian dalamnya juga,” kata Ibu Elly.
“Baik, Ua,” lalu Annisa mencari barang-barang yang dikatakan oleh Ibu Elly.
Ketika sedang mencari kaos kaki, Annisa melihat kaos kaki bayi. Di ambilnya kaos kaki bayi itu.
“Aa lihat deh. Mungil sekali cuma muat dua jari Annisa,” kata Annisa memperlihatkan kaos kaki bayi ke Roland.
“Kenapa? Jadi pengen punya bayi?” tanya Roland.
__ADS_1
“Ih…..Aa, Annisa kan cuma kasih lihat kaos kaki yang lucu. Kenapa jadi nanya Annisa mau punya bayi?” kata Annisa dengan kesal.
Roland tersenyum melihat wajah Annisa yang kesal.
“Dari tadi Aa perhatikan Kamu udah pantas menjadi Mahmud,” kata Roland.
Annisa menoleh ke Roland dengan kening dikerutkan.
“Apa tuh Mahmud?” tanya Annisa.
“Mahmud artinya Mamah Muda,” jawab Roland dengan tersenyum.
“Aa ih…. Dari tadi ngeledek Annisa terus,” Annisa memasang muka cemberut.
Annisa meneruskan mencari barang-barang yang di butuhkan Rafa. Setelah mendapatkan semuanya Ibu Elly membayar semua barang-barang yang dibelinya.
Annisa kasihan melihat Roland yang membawa belanjaan banyak.
“Berat, ya A? Annisa bantu, ya?” tanya Annisa.
“Nggak usah, Nis. Ini kelihatannya saja banyak padahal hampang semua,” kata Roland.
“Ayo Nis, kita belum belikan Rafa mainan,” kata Ibu Elly.
Merekapun jalan menuju toko mainan. Di toko mainan Ibu Elly mencarikan mainan yang aman untuk Rafa. Annisa menghampiri Ibu Elly sambil membawa buku mewarnai, crayon dan beberapa buku cerita.
“Ua boleh tidak Rafa kalau Rafa di kasih crayon, buku mewarnai dan buku cerita?” tanya Annisa sambil memperlihatkan barang-barang itu semua.
Ibu Elly melihat barang-barang yang dibawa Annisa.
“Rafa sudah perlu ini semua, ya?” tanya Ibu Elly.
“Untuk melatih motoriknya,” jawab Annisa.
“Buku cerita untuk menarik minat baca Rafa,” kata Annisa.
“Ya sudah. Nanti yang ini kado dari Annisa untuk Rafa,” kata Ibu Elly.
Annisa senang mendengarnya.
“Terima kasih, Ua,” ucap Annisa.
“Sama-sama, Nis,” balas Ibu Elly.
Setelah membelikan mainan untuk Rafa, Ibu Elly mengajak makan siang.
“Mah, Roland simpan belanjaan ke mobil, ya?” ujar Roland.
Ibu Elly melihat tangan Roland sudah penuh dengan belanjaan.
“Ya sudah, simpan dulu ke mobil. Nanti nyusul saja ke tempat makan,” kata Ibu Elly.
“Oke, Mamah,” jawab Roland lalu memisahkan diri menuju tempat parkir mobil.
“Annisa mau makan apa?” tanya Ibu Elly sambil merangkul tangan Annisa.
“Terserah Ua. Annisa ikut saja,” jawab Annisa.
“Ayo kita keliling lihat-lihat makanannya barang kali ada yang Annisa mau,” Ibu Elly mengajak Annisa mengelilingi area food court.
“Cari makanan yang belum pernah Annisa makan dan Annisa ingin mencobanya,” kata Ibu Elly.
Ibu Elly berdiri di depan restaurant steak.
__ADS_1
“Annisa sudah pernah makan steak?” tanya Ibu Elly.
Annisa menjawab dengan gelengan kepala.
“Mau coba?” tanya Ibu Elly.
Annisa tidak menjawab hanya diam saja tindak menggelengkan kepala atau menganggukkan kepala.
Ibu Elly jadi bingung dengan sikap Annisa. Ibu Elly mengedarkan pandangannya. Tiba-tiba Bu Elly tersenyum senang ketika melihat sesuatu.
“Atau Annisa mau coba steamboat?” tawar Ibu Elly.
“Apa itu steamboat, Ua?” tanya Annisa dengan bingung.
“Makanan yang dimasak dengan di rebus,” jawab Ibu Elly.
“Sini lihat,” Ibu Elly menarik tangan Annisa. Ibu Elly membawa Annisa ke depan restaurant steamboat.
“Jadi kita memasak sendiri makanannya. Kuahnya sudah diberi bumbu. Bumbunya bisa pilih yang original atau yang pedas,” Ibu Elly menerangkan pada Annisa.
“Sekarang Annisa pilih mau steamboat atau steak?” tanya Ibu Elly.
Annisa berpikir sejenak.
“Steamboat aja, Ua,” jawab Annisa.
“Oke, sekarang kita coba steamboat. Kapan-kapan kalau jalan-jalan lagi kita makan steak,” kata Ibu Elly lalu mengajak Annisa masuk.
Namun ketika hendak masuk ada sesorang memanggil Ibu Elly.
“Mamah,” panggil Roland sambil berjalan menghampiri Ibu Elly dan Annisa.
“Masih belum makan juga?” tanya Roland.
“Bingung mau makan apa? Ya, sudah Mamah ajak makan steamboat,” jawab Ibu Elly.
“Ayo cepetan kita makan, Roland sudah lapar,” kata Roland.
Lalu mereka masuk ke dalam restaurant steamboat. Roland memilih tempat yang nyaman untuk duduk. Ketika mereka sedang menunggu pesanan, tiba-tiba ada seseorang menyapa mereka.
“Hallo Tante, apa kabar?” seorang laki-laki muda berpostur tubuh tinggi, berwajah tampan dan berkulit bersih menyapa Ibu Elly.
Ibu Elly menoleh ke pemuda itu.
“Hei, Toriq. Sama siapa?” Ibu Elly membalas sapa pemuda itu.
“Sama teman, Tante,” Toriq menunjuk ke laki-laki yang sedang duduk tak jauh dari mereka.
“Roland nggak kuliah?” tanya Toriq.
“Libur, Bang. Lagi jadi supir dan tukang angkut barang,” jawab Roland seenaknya.
“Anak laki-laki memang harus begitu, harus anter-anter Mamah,” kata Toriq.
“Toriq ini kenalkan ini Annisa keponakan Tante,” kata Ibu Elly kepada Toriq.
Toriq mengulurkan tangannya ke Annisa dan Annisa menyalami tangan Toriq.
“Toriq ini adiknya almarhumah Meisya, istri almarhum Rilandi,” kata Ibu Elly ke Annisa.
“Tante, Toriq pamit mau kembali teman Toriq. Nggak enak kalau Toriq tinggal lama-lama,” kata Toriq.
“Oh….silahkan,” jawab Ibu Elly.
__ADS_1
Toriq kembali ke mejanya.