
Setelah mendengar kata-kata Annisa, Toriq menjadi tidak semangat makan. Walaupun Toriq akui makanan yang disajikan menunya sederhana tapi rasanya sangat enak. Tapi untuk menghormati Ibu Titien yang sudah cape memasak Toriq terpaksa menghabiskan makanannya. Diam-diam Annisa memperhatikan gerak-gerik Toriq. Ia tahu kata-katanya pasti membuat Toriq kesal, tapi biarlah memang itu sudah menjadi kenyataan. Jangan sampai niat baik Annisa disalah artikan oleh Ibu Delima.
Setelah selesai sarapan Annisa membereskan meja makan dan mencuci piring. Rafa menonton tv ditemani oleh Toriq, sedangkan Roland kembali ke kamar dan melanjutkan tidurnya.
Tok…..tok….tok…. suara pintu di ketuk.
“Assalamualaikum,” ucap seseorang mengucapkan salam.
“Waalaikumsalam,” jawab Toriq lalu membukakan pintu.
Toriq kaget melihat siapa yang datang. Ternyata tamu yang mengetuk pintu adalah Ibu Elly dan Ibu Delima. Dan menyusul di belakang mereka ada Pak Syamsul dan Pak Supardi.
“Tante tidak dipersilahkan masuk, Riq?” tanya Ibu Elly pada Toriq.
“Eh….iya. Silahkan masuk Tante,” Toriq membuka pintu lebar-lebar.
“Bi Titiennya ada nggak?” tanya Ibu Elly ketika masuk ke dalam rumah.
“Ada Tante. Tante Titien sedang di belakang. Silahkan duduk dulu Tante, Om, Mama, Papah. Toriq panggilkan Tante Titien dulu,” jawab Toriq.
Kemudian Toriq masuk ke dalam rumah memanggil Ibu Titien.
“Tante, ada Tante Elly dan Mamah datang,” kata Toriq yang menghampiri Ibu Titien ke dapur.
Ibu Titien kaget mendengar ucapan Toriq.
“Ceu Elly?”
“Iya, Tante Elly dari Jakarta,” ucap Toriq sekali lagi.
Cepat-cepat Ibu Titien mencuci tangannya.
“Annisa tolong buatkan air minum,” perintah Ibu Titien pada Annisa.
“Aisyah, beli kue dan camilan,” seru Ibu Titien pada Aisyah.
“Tapi Mah….,” Aisyah belum selesai berbicara Ibu Titien sudah keburu jalan menuju ruang tamu.
“Iiihhhh Mamah nyuruh tapi uangnya mana?” gerutu Aisyah dengan kesal.
Toriq yang masih berada di dapur mendengar gerutuan Aisyah. Toriq langsung mengeluarkan dompet dari saku celananya. Lalu mengambil beberapa lembar uang seratus ribu rupiah lalu diberikan kepada Aisyah.
“Segitu cukup nggak untuk membeli kue?” tanya Toriq.
Aisyah bengong diberi uang empat ratus ribu rupiah oleh Toriq.
__ADS_1
“Bang, ini nggak salah ngasih? Segini mah cukup untuk makan beberapa hari,” sahut Aisyah.
“Kenapa? Kurang? Abang tambah lagi,” kata Toriq kemudian hendak mengambil.
“Eh…jangan!!!” seru Aisyah untuk menghentikan Toriq yang hendak mengambil dompetnya.
“Bang ini bukan kurang tapi kebanyakan!” sahut Aisyah.
“Iya nggak apa-apa. Beli kue yang banyak, sepertinya mereka akan lama di sini,” kata Toriq.
“Sekalian beli buah untuk membuat jus. Mereka menyukai jus, apalagi jus buatan kakakmu,” kata Toriq sambil menunjuk ke Annisa dengan menggunakan dagu.
“Jus melulu, bosan, Bang. Mendingan beli kelapa muda seger. Tapi nanti Abang yang belahin kelapanya, ya?” kata Aisyah.
“Iya,” jawab Toriq.
Ibu Titien kembali ke dapur.
“Aisyah ini uang untuk beli kue,” kata Ibu Titien memberi uang lima puluh ribu rupiah.
“Nggak usah, Mah. Uangnya sudah ada,” jawab Aisyah sambil keluar dari rumah lewat pintu samping.
“Eh…uang dari siapa?” tanya Ibu Titien bingung.
Sedangkan Aisyah sudah keburu menghilang.
“Bukan, Mah. Abang Toriq yang kasih uang,” jawab Annisa sambil mencuci piring.
Ibu Titien menoleh ke Toriq.
“Aduh…Nak Toriq, Bibi jadi merepotkan Nak Toriq. Nak Toriq kan tamu malah jadi direpotkan,” kata Ibu Titien dengan nada tidak enak.
“Tidak apa-apa, Tante. Toriq tidak merasa direpotkan,” jawab Toriq.
“Terima kasih, Nak Toriq,” ucap Ibu Titien.
“Sama-sama, Tante,” jawab Toriq.
Ibu Titien kembali menoleh ke Annisa.
“Annisa jangan lupa buatkan minum!” seru Ibu Titien.
“Iya, Mah,” jawab Annisa.
“Nak Toriq duduk di depan jangan berdiri di sini saja,” kata Ibu Titien yang melihat Toriq masih berdiri di dapur.
__ADS_1
“Iya, Tante nanti Toriq ke depan. Toriq mau bantu Annisa membuatkan minum,” jawab Toriq.
Lalu Ibu Titien pergi meninggalkan dapur. Ibu Titien merasa ada sesuatu antara Annisa dengan Toriq, apalagi Ibu Elly datang ke sini bersama dengan orang tua Toriq. Ibu Titien menghela nafasnya lalu kembali ke ruang tamu menemani tamunya.
Annisa membuatkan minum tanpa berbicara apa-apa kepada Toriq. Toriq hanya berdiri sambil memperhatikan Annisa.
“Apa Annisa marah sama Abang?” tanya Toriq.
Annisa hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Toriq.
“Segitu bencinya kah Annisa kepada Abang?” tanya Toriq sekali lagi.
Annisa menghela nafas.
“Annisa tidak pernah membenci Abang,” jawab Annisa sambil fokus membuatkan minuman.
“Terus kenapa Annisa menghindari Abang?” tanya Toriq.
“Annisa ke depan dulu, Bang,” kata Annisa sambil membawa nampan berisi cangkir.
Annisa berjalan menuju ke ruang tamu diikuti oleh Toriq dari belakang.
*******
“Assalamualaikum,” ucap seorang pemuda di depan pintu.
“Waalaikumsalam,” jawab Pak Supardi lalu menghampiri pemuda itu.
“Cari siapa?” tanya Pak Supardi.
“Annisa ada , Pak?” tanya pemuda itu.
“Ada, tunggu sebentar, saya panggilkan dulu,” jawab Pak Supardi.
Namun tiba-tiba Annisa muncul dari dalam rumah dengan membawa nampan berisi cangkir.
Pak Supardi menghampiri Annisa yang sedang meletakkan cangkir ke atas meja tamu.
“Annisa ada yang mencari Annisa,” ucap Pak Supardi kepada Annisa.
Annisa menoleh ke depan pintu.
“Oh….Aa Arya,” seru Annisa lalu keluar rumah menghampiri Arya.
Toriq memperhatikan Annisa yang sedang berbicara dengan seorang pemuda dari dalam rumah.
__ADS_1
Oh…jadi dia yang mencarikan Annisa pekerjaan sehingga Annisa tidak mau kembali lagi ke Jakarta, bisik Toriq di dalam hati.