
Hai readers Deche mau mengingatkan besok tgl 1 sudah waktunya kirim vote, kopi dan bunga untuk novel Deche. Agar Deche tambah semangat nulisnya.
Sebelumnya Deche ucapkan terima kasih.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Toriq berjalan mendekati meja tempat Roland dan Annisa duduk. Toriq duduk di sebelah Annisa.
“Annisa, Rafa dengan siapa di kamar?” tanya Toriq begitu duduk dis sebelah Annisa.
“Dengan Ibu Delima dan Ua Elly, Bang,” jawab Annisa sambil memakan rotinya.
“Rafa nggak nangis ditinggal kamu?” tanya Toriq.
“Nggak, Bang. Annisa bilang cuma sebentar nemenin Aa Roland makan,” jawab Annisa.
Toriq memberikan tas goody bag yang diberikan oleh Annisa tadi pagi.
“Terima kasih, ya. Nasi gorengnya enak,” ucap Toriq.
“Masakan Annisa enak semua, Bang,” sahut Roland.
“Itu Annisa yang masak?” tanya Toriq.
“Iya. Makanya Rafa betah di rumah karena Annisa selalu masak khusus untuk Rafa,” jawab Roland.
“Saya juga mau kapan-kapan mencoba masakan Annisa,” ujar Toriq.
“Kan Abang sudah cicipin nasi goreng buatan Annisa,” sahut Annisa.
“Itu baru nasi goreng, masakan yang lainya Abang belum cicipin,” kata Toriq.
Annisa menghela nafas.
Toriq melihat Roland makan dengan lahapnya.
“Roland kamu baru makan siang?” tanya Toriq.
“Tadi sudah makan, tapi sekarang lapar lagi,” jawab Roland.
“Kamu habis ngapain jam segini sudah lapar lagi?” Toriq mengerutkan keningnya.
“Cari bahan untuk membuat skripsi , Bang,” jawab Roland lalu meneruskan makannya dengan lahap.
“Cuma cari bahan buat skripsi, tapi makannya seperti habis nyangkul di sawah,” sahut Toriq.
“Cape habis mikir, Bang,” jawab Roland.
Seorang pelayan mendekati mereka dan memberikan bungkusan plastik.
“Bu, ini pesanannya,” ujar pelayan itu.
“Terima kasih,” ucap Annisa mengambil kantong plastic yang diberikan oleh pelayan.
“Apa itu, Nis?” tanya Toriq melihat kantong plastic yang dipegang Annisa.
“Ayam goreng untuk Rafa,” jawab Annisa.
“Rafa kan tidak boleh makan yang keras-keras dan yang di goreng,” tegur Toriq.
“Rafa kan sudah tidak panas lagi,” sahut Roland.
“Tapi tetap saja Rafa belum pulih. Takutnya nanti panas lagi,” Toriq mencoba menerangkan.
“Tenang, Bang. Kan sudah ada pawangnya, pasti Rafa cepat sembuh,” ujar Roland.
__ADS_1
“Terserah kalian saja,” kata Toriq lalu mengambil ponsel dari sakunya lalu mengirim pesan ke seseorang.
“Abang nggak kerja?” tanya Annisa melihat Toriq yang asyik dengan ponselnya.
“Udah selesai kerjanya. Nanti malam abang praktek pribadi,” jawab Toriq samibil fokus dengan ponselnya.
“Dah nih baca,” kata Toriq memberikan ponselnya pada Annisa.
Annisa mengerutkan keningnya melihat Toriq memberikan ponselnya ke Annisa.
“Pesan dari Dokter Chandra, Dokter anak Rafa,” kata Toriq.
Annisa membaca pesan itu.
“Tapi Rafa mau ayam, Bang,” kata Annisa.
“Ayamnya jangan yang keras. Kasih ayam kecap atau pepes ayam,” jawab Toriq.
Annisa berdiri dari kursinya dan menghampiri pegawai kantin.
“Ada ayam kecap, nggak?” Annisa bertanya ke pegawai kantin.
“Ada, Bu,” jawab pegawai kantin.
“Tolong dibungkus 1,” kata Annisa.
“Pakai nasi nggak, Bu?” tanya pegawai kantin lagi.
“Nggak usah,” jawab Annisa.
Lalu pegawai kantin itu memasukkan ayam kecap ke dalam plastik untuk makanan.
“Bayarnya di kasir, ya Bu,” kata pegawai kantin dan memberikan kantong plastik yang berisikan ayam.
Annisa berjalan menuju kasir dan memberikan plastik yang berisikan ayam.
Ketika Annisa membuka dompetnya hendak membayar tiba-tiba,
“Pakai uang ini saja,” Toriq memberikan uang sebesar seratus ribu rupiah kepada Annisa.
“Annisa punya uangnya, Bang,” Annisa menolak uang pemberian Toriq.
“Simpan saja uangnya Annisa. Bayar pakai uang Abang,” kata Toriq dengan memaksa.
“Bang……,” baru saja Annisa ngomong, Toriq sudah menyela.
“Ini uangnya, kembaliannya kasihkan ke dia,” Toriq menyodorkan uang seratus rupiah kepada kasir dan menyuruh kasir memberikan kembaliannya ke Annisa. Toriq pergi dari depan kasir sambil membawakan plastik belanjaan Annisa dan kembali ke meja yang mereka tempati.
Tak lama kemudian Annisa datang sambil membawa uang kembalian.
“Terima kasih, ya Bang. Ini kembaliannya,” ucap Annisa sambil menaruh uang kembalian di atas meja.
“Simpan saja untuk beli air mineral,” sahut Toriq menolak kembalian yang Annisa berikan.
“Tapi, Bang….”
“Annisa terima saja uang dari Bang Toriq. Bener kata Bang Toriq kamu pasti butuh uang untuk membeli minum. Apalagi Rafa sedang sakit butuh minum yang banyak,” kata Roland.
Annisa diam mendengar perkataan Roland.
“Baik A.”
Annisa mengambil uang kembalian di atas meja.
“Terima kasih, Bang. Uang kembaliannya Annisa simpan,” ucap Annisa.
__ADS_1
Kemudian uang kembalian itu Annisa simpan di dalam tas.
“Aa sudah selesai makannya?” tanya Annisa melihat Roland sudah menghabiskan makanan di atas piring.
“Sudah,” jawab Roland.
“Ayo kita kembali ke kamar Rafa. Kalau kelamaan takutnya Rafa keburu nangis,” ajak Annisa ke Roland.
“Abang mau terus pulang atau mau ikut ke Rafa?” tanya Annisa.
“Ikut ke kamar Rafa. Abang mau jemput Mamah,” jawab Toriq yang langsung berdiri.
Kemudian mereka bertiga jalan bersama menuju ke kamar inap Rafa.
Ketika pintu kamar di buka Rafa nampak masih anteng menonton tv ari tempat tidurnya. Sedangkan Ibu Delima dan Ibu Elly sedang asyik berbincang.
“Assalamualaikum,” ucap Annisa.
“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Delima dan Ibu Elly bersama-sama.
Annisa masuk ke dalam kamar diikuti oleh Roland dan Toriq.
“Mamah….,” seru Rafa dengan senang.
“Mamah kok lama pelginya?” tanya Rafa.
Annisa mendekati Rafa.
“Mamah kan nunggu Om Roland sampai selesai makannya,” jawab Annisa sambil membelai kepala Rafa.
“Mana ayam olengnya?” tanya Rafa.
Annisa menoleh ke arah Toriq seolah-olah membutuhkan pembelaan.
Toriq mendekati Rafa.
“Kata Dokter Candra, Rafa belum boleh makan yang keras-keras dan di goreng,” Toriq mencoba memberi pengertian kepada Rafa.
Rafa menunjukkan wajah sedih dan kecewa.
“Rafa mau ayam, Mamah,” kata Rafa dengan wajah memelas.
“Boleh, tapi jangan yang digoreng, ya,” jawab Annisa.
“Iya nggak apa-apa,” ujar Rafa dengan wajah berbinar-binar.
Annisa mencari plastik yang di bawa Toriq.
“Tuh ditaruh di meja,” Toriq menunjuk ke meja seolah tau yang Annisa cari.
Annisa menoleh ke meja lalu mengambil plastik kecil dari dalam plastik besar yang ada di meja. Annisa menyimpan plastik kecil itu diatas nakas.
“Sebentar, Mamah mau cuci tangan dulu,” kata Annisa lalu pergi ke kamar mandi.
Tak lama kemudian Annisa keluar dari kamar mandi. Lalu membuka tas tempat bajunya. Dari dalam tas Annisa mengambil tempat makanan yang masih bersih. Sengaja Annisa membawa tempat makan bersih untuk menempatkan makanan jika diperlukan.
Annisa menuangkan ayam kecap ke dalam tempat makanan lalu duduk di samping tempat tidur Rafa.
“Baca doa dulu,” ujar Annisa.
Rafa mengikuti Annisa ketika membaca doa mau makan. Setelah membaca doa Annisa menyuapi Rafa.
Sementara Annisa menyuapi Rafa, Ibu Delima dan Ibu Elly sedang asyik berbincang. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Sedangkan Roland dan Toriq sedang asyik dengan ponsel mereka masing
.
__ADS_1
.