
Akhirnya Annisa menceritakan semua yang terjadi kepada Arya.
“Jadi kamu mau menikah karena anak itu?” tanya Arya dengan sedikit emosi.
“Tidak hanya karena Rafa, Abang Toriq sangat baik pada Annisa, Kabaikannya belum tentu Annisa dapatkan dari pria manapun,” jawab Annisa.
“Iya karena Toriq ada maunya, makanya dia baik sama Annisa,” kata Arya dengan ketus.
Annisa kaget mendengar nada bicara Arya, Annisa belum pernah mendengar Arya berbicara seketus itu.
“Aa Arya benar, Abang Toriq baik ke Annisa karena menginginkan Annisa menjadi istrinya,” jawab Annisa.
Tiba-tiba datanglah teman-teman Annisa yaitu Fitri, Tati, Indri, Fatim dan Ela. Mereka menghampiri Annisa dan Arya.
“Assalamualaikum,” ucap teman-teman Annisa.
“Waalaikumsalam,” jawab Annisa lalu beranjak dari tempat duduknya.
“Kita-kita ngeganggu nggak, nih?” tanya Fitri.
“Nggak, ayo masuk,” jawab Annisa.
“Annisa kenapa nggak bilang-bilang kalau Annisa udah pulang dari Jakarta,” ujar Fatim.
“Sorry, Annisa lupa kasih tau,” jawab Annisa.
“Sibuk ngapain sih sampai lupa kasih kabar ke kita-kita?” goda Fitri.
“Nggak sibuk ngapa-ngapain. Ayo masuk,” kata Annisa.
Annisa mengajak teman-temannya masuk ke dalam rumah.
Arya merasa tidak enak karena banyak teman-teman langsung pamit pulang.
“Annisa, Aa Arya pulang, ya,” kata Arya di depan pintu.
“Oh iya, A,” jawab Annisa.
Aryapun pergi meninggalkan rumah Annisa.
Setelah Arya pergi.
__ADS_1
“Nis, kita jadi nggak enak ngeganggu kamu yang lagi ngobrol dengan Aa Arya,” kata Tati.
“Nggak. Kalian datang pas diwaktu yang tepat,” jawab Annisa.
“Maksudnya?” tanya Tati yang tidak mengerti.
“Ya, pokoknya begitu deh,” jawab Annisa.
“Maksud Annisa apa sih? Arya lagi nembak Annisa?” tanya Tati.
“Nggak kok,” jawab Annisa.
“Bisa-bisa Annisa diontrog sama ibunya Aa Arya,” celetuk Fitri.
( Ontrog \= mendatangi sambil marah-marah )
“Ssssttttt jangan kenceng-kenceng,” bisik Annisa.
“Oh, iya lupa,” kata Fitri pelan-pelan.
Teman-teman Annisa tau siapa Arya. Arya adalah tetangga Annisa yang menyukai Annisa. Arya sering menjemput Annisa ketika pulang sekolah. Namun pada suatu hari Ibu Ika, ibunya Arya datang ke rumah mencari Annisa. Kebetulan waktu itu Mamah dan Bapaknya Annisa sedang tidak ada di rumah. Mereka sedang pergi ke Jakarta karena orang tua Rafa meninggal. Di rumah hanya ada Annisa bersama dengan kedua adiknya. Ibu Ika memperingati Annisa untuk tidak mendekati Arya. Menurut Ibu Ika, Annisa tidak selevel dengan Arya yang baru lulus menjadi sarjana. Bahkan Ibu Ika menganggap orang tua Annisa tidak akan mampu untuk membiayai kuliah Annisa. Ibu Ika merasa Annisa hanya akan numpang hidup pada Arya.
Annisa benar-benar merasa dihina oleh ibunya Arya. Annisa meminta adi-adiknya untuk tutup mulut tidak memberi tahu tentang kedatangan Ibu Ika kepada orang tua mereka. Semenjak itu Annisa menghindar setiap kali Arya mencarinya. Ketika Ibu Elly menyuruh Annisa untuk kuliah di Jakarta, Annisa langsung menyambutnya walaupun harus dengan berat hati Annisa meninggalkan rumah.
“Nggak tau. Dia marah-marah nggak jelas,” jawab Annisa.
“Udah daripada ngomongin tuh orang, mendingan cerita dong ke kita-kita nggapain aja Annisa di Jakarta,” kata Fitri.
“Cerita apa? Nggak ada cerita yang rame di Jakarta,” jawab Annisa.
“Di Jakarta paling cuma daftar masuk. Lebih sering di rumah menemani Ua. Paling sekali-sekali ikut Ua belanja. Udah itu saja,” jawab Annisa.
“Yakin nih nggak ada yang diumpetin?” tanya Fitri.
“Ngumpetin apa?” tanya Annnisa bingung.
Namun tiba-tiba Rafa keluar dari kamar Umar dan menyamperi Annisa.
“Mamah,” ujar Rafa dengan manja seperti biasanya.
“Masa Allah, Rafa muka kamu kenapa belepotan begini,” kata Annisa melihat muka Rafa yang kotor karena makan snack.
__ADS_1
Annisa langsung mengambil tissue yang berada di atas meja dan langsung membersihkan muka Rafa dengan hati-hati.
“Mamah, Rafa mau cucu,” Rafa merengek.
“Sebentar, ya. Annisa mau buatin susu dulu,” kata Annisa lalu beranjak dari kursi.
“Eh…..kalian mau minum apa? Dingin atau panas?” tanya Annisa kepada teman-temannya.
“Apa aja deh,” jawab Fatim.
Kemudian Annisa masuk ke dalam sambil menuntun Rafa.
Tak lama kenudian Annisa datang sambil membawa gelas susu Rafa dan diikuti oleh Rafa dari belakang.
“Sebentar, ya. Aisyah sedang membuatkan minumannya,” ujar Annisa.
Rafa duduk dipangkuan Annisa sambil minum susu.
“Ini siapa, Nis?” tanya Fitri yang penasaran sambil menunjuk ke Rafa.
“Ini Rafa, keponakanku dan sekarang menjadi anakku,” jawab Annisa.
“Jadi anak Annisa? Memang orang tuanya kemana?” tanya Fitri.
“Sudah meninggal setahun yang lalu,” jawab Annisa.
Teman-teman Annisa jadi merasa sedih mendengarnya.
“Abis cucunya,” kata Rafa lalu memberikan gelas susu kepada Annisa.
“Ah, pinter anak Mamah,” puji Annisa.
“Sekarang salam dulu ke Tante,” ujar Annisa.
Rafa mencium tangan teman-teman Annisa satu persatu. Setelah itu Rafa masuk lagi ke dalam rumah.
.
.
Udah pada bosen dengan ceritanya, ya? Sama Deche juga bosen. Jadi akan Deche percepat biar cepat tamat.
__ADS_1
Ntar malam diterusin lagi.