Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
27. Susu Rafa.


__ADS_3

Keesokan harinya seperti biasa Annisa bangun jam 4.00 subuh sebelum adzan subuh berkumandang, sedangkan Rafa masih tidur dengan lelap. Annisa memeriksa batrey ponselnya yang habis lalu dichanger lebih dulu. Kemudian Annisa membereskan kamar yang agak sedikit berantakan. Annisa membereskan sampah-sampah bekas makanan dan bekas minuman. Sayangnya di kamar rawat inap tidak ada sapu dan kain pel, jadi Annisa tidak bisa menyapu dan mengepel kamar. Annisa melipat rapih baju-baju kotor miliknya dan milik Rafa dan dimasukkan ke dalam kantong plastiik bersih. Tempat makanan yang kotor ia cuci dengan menggunakan sabun cuci piring dan spon yang Annisa bawa dari rumah ( pengalaman Deche kalau lagi menginap di hotel selalu membawa sabun cuci piring beserta dengan sponnya 😁). Setelah semuanya beres, barulah Annisa mandi dan bersiap untuk sholat subuh. Begitu selesai mandi dan berwudhu terdengar adzan subuh berkumandang. Annisa menggelar sajadah dan menggunakan mukenahnya sambil menunggu adzan selesai. Adzan subuh selesai berkumandang Annisa mulai sholat subuh. Selesai sholat subuh Annisa membaca Al Qur’an selama lima menit. Ketika Annisa melipat mukenah, Annisa melihat Rafa sudah bangun. Rafa sedang memperhatikan Annisa melipat mukenah.


“Ehhh anak sholeh sudah bangun,” sapa Annisa.


“Mamah, mau pipis,” kata Rafa.


“Sebentar, Mamah simpan mukenah dulu, ya,” Annisa memasukan mukenahnya ke dalam tas lalu ia menggendong Rafa ke kamar mandi.


“Sekalian seka, ya?! Sebentar lagi dokter datang untuk meriksa Rafa,” kata Annisa.


“Doktel mau pelikca Rafa?” tanya Rafa.


“Iya.”


“Nanti Rafa dicuntik lagi nggak?” tanya Rafa dengan takut.


“Kemarin itu Rafa bukan di suntik tapi pasang infus. Masih sakit tangannya?” Annisa memegang telapak tangan Rafa yang dipasang infus.


“Macih cacit Mamah,” jawab Rafa dengan manja.


Annisa tersenyum.


“Tuh infusnya tinggal sedikit lagi,” Annisa menunjuk ke infus yang digantung di tembok kamar mandi.


“Nanti siang sudah bisa dicopot infusnya,” kata Annisa.


“Benel, Mamah? Nanti tangan Rafa bica gelak-gelak ajih?” Rafa menunjukkan telapak tangan yang diinfus diperban dengan papan agar diam tidak bergerak.


“Iya, sayang. Sekarang Rafa pipis terus seka, ya,” kata Annisa sambil membuka baju Rafa.


Rafa menurut pada Annisa. Setelah dibuka bajunya dan pospac Rafa pipis di kloset dan tidak rewel sewaktu diseka badannya. Ketika sedang mengeringkan badan Rafa dengan handuk terdengar sayup-sayup suara ketukan pintu.


“Rafa, ada yang ketuk-ketuk pintu. Ayo kita keluar,” Annisa memegang infus dan Rafa jalan keluar kamar dengan dibalut handuk. Terlihat dari kaca pintu seorang suster sedang mengetuk pintu kamar.


“Rafa tunngu di sini. Mamah buka pintu dulu,” Rafa berdiri di samping tempat tidur. Sedangkan infus Annisa taruh begitu saja di atas tempat tidur.


Annisa membuka kunci pintu lalu membuka pintu.


“Maaf suster, pintunya terpaksa saya kunci karena saya sedang di kamar mandi,” sahut Annisa.


“Tidak apa-apa, Bu. Saya hanya mau ngecek infus Rafa,” kata suster lalu masuk ke dalam kamar.


Suster melihat Rafa hanya menggunakan balutan handuk.


“Bu, ini Rafa habis mandi?” tanya suster.


Annisa menghampiri suster.


“Tidak. Rafa hanya diseka. Kebetulan tadi dia habis pipis, jadi sekalian seka,” Annisa menggendong Rafa naik ke tempat tidur. Suster menggantung infus ke tempat infus.


“Coba suster lihat tangannya,” bujuk suster.


Rafa mengulurkan tangannya yang diinfus. Suster memeriksa punggung telapak tangan Rafa.


“Nggak bengkak dan tidak keluar darah,” suster melepaskan tangan Rafa.


“Nanti kalau sudah habis beritahu saya, ya,” kata suster.

__ADS_1


“Dokter datang visit jam berapa?” tanya Annisa sambil memakaikan Rafa baju.


“Sekitar jam 10,” jawab suster.


“Saya permisi dulu, Bu,” pamit suster.


“Terima kasih, suster,” ucap Annisa.


“Sama-sama, Bu,” susterpun keluar dari kamar Rafa.


“Mamah, Rafa mau cucu,” pinta Rafa.


“Mamah nggak bawa susu Rafa. Lagi pula nggak ada air panasnya,” kata Annisa.


“Nanti Mamah bilang ke Om Roland suruh bawa susu Rafa,” kata


Annisa.


“Iya,” Rafa menganguk senang.


Setelah selesai memakaikan baju Rafa, Annisa menelepon Roland.


“Assalamualikum A.”


“Waalaikumsalam, Annisa.”


“Aa kapan mau ke rumah sakit?”


“Memang kenapa?”


“Rafa minta susu.”


“Sekalian termos air panasnya dan gelasnya, A.”


“Iya. Terus apalagi?”


“Udah itu saja.”


“Oke kalau begitu Aa berangkat.”


“Eh….. kok udah mau berangkat Aa kan belum mandi dan sarapan?”


“Kata siapa belum mandi? Aa sudah mandi, kok. Kemarin Mamah nyuruh anterin sarapan untuk Annisa. Sekarang Aa lagi nunggu sarapannya matang.”


“Tapi kan Aa belum sarapan.”


“Gampang. Sarapannya nanti saja bareng dengan Annisa.”


“Oh….ya sudah kalau begitu. Annisa tunggu sarapan dan susu Rafa.”


“Siap, laksanakan!”


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Annisa mematikan ponselnya. Rafa memandangi Annisa dengan penuh harapan.

__ADS_1


“Mamah sudah minta Om Roland untuk anterin susu Rafa,” kata Annisa.


“Asyik Rafa minum cucu,” kata Rafa dengan kegirangan.


“Rafa mau nonton tv,” pinta Rafa dengan manja.


“Boleh, kita cari ada film apa untuk Rafa,” Annisa memencet remote mencari channel tv untuk Rafa.


“Assalamualaikum,” Toriq masuk ke dalam kamar Rafa.


Annisa dan Rafa yang sedang fokus ke tv menoleh ke arah pintu kamar.


“Abang…..,” Annisa kaget melihat Toriq.


“Kenapa kaget begitu melihat Abang? Memangnya kamu lagi menunggu siapa?” tanya Toriq.


“Lagi nunggu Aa Roland. Annisa minta tolong Aa mengantarkan susu untuk Rafa,” jawab Annisa.


“Kenapa tidak menghubungi Abang?” Toriq memandang tajam ke Annisa seolah dia tidak suka dilewati begitu saja.


“Abang kan baru pulang larut malam. Annisa takut Abang kecapen,” Annisa mencari alasan supaya Toriq tidak marah.


“Abang ini dokter, Nis. Abang sudah biasa pulang tengah malam dan harus berangkat sebelum subuh,” kata Toriq.


“Lain kali kalau Rafa dan Annisa perlu apa-apa beritahu Abang,” kata Toriq sekali lagi.


“Nih, katanya Rafa mau susu,” Toriq memberikan tas goodybag ke Annisa dan menaruh satu goodybag lagi diatas meja.


“Alhamdullilah, Rafa bisa minum susu,” Annisa meletakkan goody bag di atas meja lalu mulai membuat Rafa susu.


Setelah selesai Annisa memberikan susu ke Rafa.


“Baca doa dulu,” Annisa membimbing doa mau makan dan Rafa mengikiuti dengan terbata-bata.


“Sekarang baru diminum susunya,” Rafa meneguk susunya sekaligus.


“Alhamdullilah,” ucap Annisa.


“Ahamdulilla,” ucap Rafa mengikuti Annisa.


Annisa menyimpan gelas susu Rafa di atas nakas. Rafa menonton tv lagi.


“Annisa ayo sarapan dulu,” ajak Toriq.


Ia mengeluarkan beberapa tempat makanan dari dalam goodybag.


Lalu dibuka tutup tempat makanan satu persatu di dalamnya ada lauk pauk yang lengkap beserta nasi dan sayur mayur.


Annisa tercengang melihat isinya. Sepagi ini Ibu Delima sudah masak sebanyak ini?


“Bukan Mamah yang masak. Mbok Sarmi yang masak dibantu dengan ART yang lain,” Toriq seolah bisa membaca pikiran Annisa.


.


.Hai, readers, seperti biasa Deche mau memperkenalkan novel teman Deche yang berjudul “Past For Future” milik autor NoerHBJ.


Mampir, ya. Jangan lupa like dan komentarnya.

__ADS_1



__ADS_2