
Setelah dari event organizer Toriq mengajak Annisa dan Rafa makan siang.
“Mau makan siang dimana?” tanya Toriq.
“NggaK tau, Bang. Annisa bingung,” jawab Annisa.
“Rafa mau makan apa sayang?” tanya Annisa sambil membelai kepala Rafa.
Rafa yang sedang asyik memperhatikan jalan langsung menoleh ke belakang.
“Ayam kerawuk,” jawab Rafa.
“Masa ayam kerawuk terus,” kata Toriq sambil mengusap-usap kepala Rafa.
Toriq menyetir mobilnya sambil berpikir. Sampai akhirnya Toriq melihat petunjuk jalan menuju ke tol Jakarta.
“Kita ke Jatiluhur. Makan di restaurant terapung, mau nggak?” tanya Toriq sambil menoleh ke Annisa.
“Restaurantnya ada di tengah waduk, Rafa pasti suka,” kata Toriq.
Annisa berpikir sebentar.
“Boleh deh, Bang. Kan niat kita juga mau mengajak Rafa main,” jawab Annisa.
“Oke,” Toriq mengarah mobilnya menuju ke gerbang tol.
Setelah melewati pintu tol mobil Toriq langsung melaju menuju ke Purwakarta.
“Mamah, kita mau ana?” tanya Rafa melihat mobil melaju dengan cepat.
“Kita mau ke Jatiluhur, sayang,” jawab Annisa.
“Nanti Rafa naik perahu ke restaurantnya,” kata Toriq sambil fokus menyetir mobilnya.
“Acik Rafa naik perahu,” sorak Rafa kegirangan.
Perjalanan dari Padalarang ke Purwakarta tidak memakan waktu lama, tak terasa mobil sudah mengarah keluar dari tol Purbaleunyi. Setelah keluar dari pintu tol Toriq mencari petunjuk jalan menuju waduk Jatiliuhur. Akhirnya mereka sampai di waduk Jatiluhur, lalu Toriq memarkirkan mobilnya di tempat yang aman.
“Abang, tas ranselnya jangan di tinggal,” ujar Annisa.
“Siap Bu Bos,” jawab Toriq.
“Sebentar, jangan turun dulu. Biar Abang yang bukakan pintu,” kata Toriq.
Annisa menunggu sampai Toriq membukakan pintu untuknya.
__ADS_1
“Ayo turun sayang,” kata Annisa kepada Rafa.
Toriq membimbing Rafa turun dari mobil dan barulah Annisa turun dari mobil. Toriq membuka pintu belakang dan mengambil tas Rafa dan ransel miliknya. Lalu mereka berjalan menuju waduk.
“Wah….,” kata Rafa dengan mata berbinar-binar melihat hamparan air di depan matanya.
“Mamah lihat ailnya banyak,” sahut Rafa sambil menunjuk kearah waduk.
“Iya sayang,” kata Annisa sambil mengusap rambut Rafa.
Toriq mengajak Annisa dan Rafa menuju perahu yang di sediakan untuk ke restaurant terapung.
“Mamah kita mau naik pelahu?” tanya Rafa ketika Annisa menggendong Rafa dan berjalan menuju perahu.
“Iya sayang,” jawab Annisa.
Lalu Annisa dan Toriq naik ke atas perahu lalu duduk di atas perahu. Rafa meronta ingin duduk sendiri lalu Annisa menurunkan Rafa dari pangkuannya dan dibiarkan duduk sendiri diantara Annisa dan Toriq.
Rafa senang ketika perahu mulai jalan. Ia melihat pemandangan di sekitar perahu. Setelah sepuluh menit akhirnya mereka sampai di restaurant terapung. Toriq membantu Rafa dan Annisa turun dari perahu. Lalu mereka berjalan menuju restaurant.
“Mamah lihat kita ada di atas ail,” kata Rafa sambil menunjuk sekelilingnya.
“Iya sayang,” jawab Annisa.
Toriq memilih duduk di pinggir agar Rafa bisa dengan bebas melihat ke waduk.
Sepertinya mengajak Rafa ke waduk Jatiluhur adalah keputusan yang tepat. Rafa terlihat begitu senang. Memang membuat Rafa bahagia adalah tujuan Annisa dan Toriq. Karena Rafa lah Annisa dan Toriq dipertemukan dan karena Rafa juga Annisa dan Toriq memutuskan untuk mengakhiri masa lajang mereka menuju gerbang pernikahan. Allah memang yang sudah mengatur segalanya dengan menitipkan Rafa pada Annisa dan Toriq, Toriq yang mencarikan nafkah dan Annisa yang mengurus Rafa. Tanpa terasa air mata mengalir di pipi Annisa. Cepat-cepat Annisa menghapus air matanya. Namun terlambat Toriq dan Rafa sudah keburu datang.
“Kamu kenapa?” tanya Toriq yang melihat Annisa menghapus air matanya.
Toriq duduk di depan Annisa, Rafa duduk di sebelah Annisa.
“Nggak kenapa-kenapa. Ini air mata bahagia, Bang,” jawab Annisa.
“Apakah kamu bahagia akan menikah dengan Abang?” tanya Toriq dengan setengah berbisik.
“Sangat bahagia, Bang. Annisa punya anak yang sholeh dan lucu. Serta punya calon suami yang sayang dan perhatian pada Annisa,” jawab Annisa dengan setengah berbisik.
Namun tiba-tiba seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka. Sehingga mereka harus menghentikan pembicaraan mereka. Kemudian sang pelayan menghidangkan pesanan mereka di atas meja.
“Terima kasih,” ucap Annisa kepada pelayan.
“Sama-sama, Bu.”
Lalu pelayan itu pergi.
__ADS_1
“Wah….ikan,” kata Rafa melihat banyak hidangan dari bahan dasar ikan di atas meja.
“Mamah, Rafa mau makan ikan cendili,” kata Rafa.
“Rafa belum bisa makan ikan sendiri. Nanti durinya ketelan,” jawab Annisa.
“Nanti cacit, ya Mamah?” tanya Rafa.
“Iya, nanti sakit kalau nelan,” jawab Annisa.
Akhirnya Rafa mau makan ikan sambil disuapi Annisa. Setelah selesai makan mereka cepat kembali lagi ke daratan karena Toriq belum sholat dzuhur. Sedangkan Annisa tidak sholat karena sedang haid. Mereka mencari musholah atau masjid terdekat. Setelah sampai di masjid Annisa menunggu Toriq di mobil bersama dengan Rafa. Ketika Toriq kembali ke mobil, Rafa sudah tertidur di atas pangkuan Annisa.
“Rafa tidur, Nis?” tanya Toriq.
“Iya, mungkin sudah kecapean,” jawab Annisa sambil mengusap rambut Rafa.
“Annisa,” panggil Toriq yang sedang memandangi Annisa.
“Hmm,” jawab Annisa lalu menoleh ke Toriq.
“I love you,” ucap Toriq.
Annisa tersenyum mendengar pernyataan cinta dari Toriq.
“I love you too, Abang,” jawab Annisa.
Dengan berani Toriq memajukan badannya dan mengecup kening Annisa.
“Terima kasih, sayang,” ucap Toriq.
“Sama-sama, Abang,” balas Annisa.
Annisa tau yang dilakukan Toriq itu salah karena mereka belum menjadi suami istri. Namun rasa bahagia mendengar pernyataan cinta dari calon suaminya membuat Annisa pasrah menerimanya dengan hati berbunga-bunga.
“Kita cari penghulu, yuk?” ajak Toiriq.
“Buat apa?” tanya Annisa bingung.
“Abang mau ngehalalin Annisa sekarang juga. Abang sudah nggak sabar kalau harus menunggu tiga minggu lagi,” jawab Toriq.
Annisa tersenyum mendengar omongan Toriq.
“Sabar, ya Bang. Annisa akan menunggu Abang datang untuk menghalalkan Annisa,” jawab Annisa sambil tersenyum.
“Terima kasih, sayang,” ucap Toriq.
__ADS_1
“Sama-sama, Abang,” balas Annisa.
Kemudian Toriq memajukan mobilnya dan meninggalkan halaman masjid. Sebelum pulang Toriq mampir dahulu membeli sate maranggi untuk oleh-oleh orang-orang di rumah.