
Suara adzan magrib terdengar berkumandang dari masjid di lingkungan rumah Annisa. Pak Ernawan mengajak Toriq dan Roland untuk sholat di masjid. Umar adik bungsu Annisa juga ikut serta. Sedangkan Rafa sedang merajuk ingin ikut sholat di masjid.
“Mamah, Rafa mau icut Aki colat di masjid,” ujar Rafa.
“Ikut sholat di masjid? Boleh tapi jangan ganggu orang sholat, ya. Harus nurut sama Om Roland dan Om Toriq,” kata Annisa.
“Iya, Mamah,” jawab Rafa.
Kemudian Annisa mengganti celana Rafa dengan celana panjang, karena semua sudah menunggu Rafa di depan pintu.
“Acalamualaikom,” ucap Rafa sambil berlari menghampiri Umar.
Kemudian Pak Ernawan beserta Toriq dan Roland berjalan menuju ke masjid. Sedangkan Umar dan Rafa mengikuti dari belakang.
Semua orang memandang ke arah Pak Ernawan karena biasanya Pak Ernawan datang ke masjid hanya berdua dengan Umar, namun sekarang Pak Ernawan ditemani oleh dua pemuda tampan dan seorang batita lucu.
“Sedang ada tamu Pak Ernawan?” tanya Pak Joko RT di lingkungan rumah Pak Ernawan.
“Iya, Pak Joko ada keponakan dan kerabat jauh istri saya,” jawab Pak Ernawan.
Pak Ernawan memperkenalkan Toriq dan Roland kepada Pak Joko.
“Kalau ini siapa?” tanya Pak Joko melihat Umar menuntun Rafa.
“Oh…itu cucu kakak sepupuh istri saya,” jawab Pak Ernawan.
Lalu terdengarlah suara qomat tanda sholat akan segera dimulai. Semua orang mulai mengatur barisan dan sap nya. Rafa sholat di tengah-tengah antara Toriq dan Umar.
Setelah selesai sholat magrib Pak Ernawan diajak ngobrol oleh bapak-bapak yang ingin tahu siapa Toriq dan Roland. Toriq dan Roland juga tidak bisa pulang karena ditanya-tanyai oleh para bapak-bapak. Terutama Toriq, mereka tertarik dengan profesi yang ditekuni oleh Toriq. Jadi mereka terpaksa berada di masjid sampai sholat isya. Sedangkan Rafa main berputar-putar di dalam masjid ditemani Umar. Setelah selesai sholat Isya mereka baru bisa kembali ke rumah. Itupun juga setelah menolak ajakan makan malam di rumah warga.
“Terima kasih, Pak. Istri dan anak-anak saya sudah menunggu kami di rumah,” jawab Pak Ernawan ketika ada beberapa warga mengajak mereka makan malam di rumah mereka.
“Aasalamualaikum,” ucap Pak Ernawan ketika memasuki rumahnya.
“Waalaikumsalam,” jawab Annisa lalu mencium tangan Pak Ernawan dan mencium tangan Roland.
“Tangan Abang nggak dicium, Nis?” bisik Toriq kepada Annisa.
“Bukan mahrom,” jawab Annisa dengan berbisik.
“Rafa tidur?” tanya Annisa melihat Toriq sedang menggendong Rafa.
“Iya, tadi lagi sujud akhir nggak bangun-bangun. Mungkin cape habis putar- putar di dalam masjid,” jawab Toriq lalu memberikan Rafa ke Annisa.
Annisa membawa Rafa ke dalam kamarnya dan menidurkannya diatas tempat tidur Annisa. Namun ketika ditidurkan di atas tempat Rafa bangun lalu menangis.
__ADS_1
“Ndak mau bobo. Mau main cama Om Umal,” Rafa merengek lalu beranjak dari tempat tidur Annisa dan keluar dari kamar menghampiri Umar yang sudah bersiap untuk makan malam.
“Loh kok bangun lagi?” tanya Toriq bingung melihat Rafa berjalan menghampiri Umar.
“Katanya belum mau bobo, mau main sama Om Umar,” jawab Annisa.
Rafa melihat Umar sedang makan malam dengan ayam kerawuk Mac Dondon lalu Rafa menghampiri Annisa yang sedang menonton tv.
“Mamah, Rafa mau mamam cama ayam klauk kayak Om Umal,” kata Rafa sambil memeluk Annisa.
“Iya, boleh. Tapi cuci tangan dulu, ya,” kata Annisa lalu mengajak Rafa ke dapur untuk mencuci tangan.
Setelah cuci tangan Rafa duduk di sebelah Umar. Annisa memberi piring berisi sedikit nasi dan ayam kerawuk.
“Rafa belum makan?” tanya Pak Ernawan pada Annisa.
“Sudah, Pak. Tadi sore dengan sayur dan tempe. Sekarang mau makan ayam seperti Umar,” jawab Annisa.
“Rafa bisa makan sendiri?” tanya Pak Ernawan lagi.
“Bisa, Pak sedikit-sedikit,” jawab Annisa.
“Annisa nggak makan?” tanya Toriq yang sedang makan di sebelah Rafa.
“Tadi sudah makan, Bang,” jawab Annisa.
Setelah selesai makan malam Pak Ernawan memanggil Toriq dan Annisa. Dan sekarang Toriq dan Annisa berada di ruang tamu dan duduk di hadapan Pak Ernawan.
Pak Ernawan menghela nafas.
“Bisakah kalian jelaskan kepada Bapak sebetulnya apa yang terjadi dengan kalian berdua?” tanya Pak Ernawan.
Annisa dan Toriq kaget mendengar pertanyaan Pak Ernawan.
“Dan apa penyebab Annisa pergi malam-malam dari rumah Ua?”
“Dan kenapa tadi Mamah Nak Toriq meminta maaf kepada Mamah dan Bapak karena sudah meminta Annisa untuk menjadi menantunya?”
“Toriq? Annisa? Dan Bapak harap kalian berkata jujur pada Bapak. Jangan sampai Bapak meminta Roland menceritakan semuanya,” kata Pak Ernawan.
Akhirnya Toriq menceritakan dari awal pertemuanya dengan Annisa sampai kejadian Annisa pergi dari rumah Ibu Elly. Bahkan Toriq menceritakan wanita yang dicintainya yang bernama Poppy.
“Sekarang Bapak tanya pada Nak Toriq, apa yang Nak Toriq inginkan dari Annisa? Apakah hanya menjadi Mamahnya Rafa atau bagaimana?” tanya Pak Ernawan.
“Saya ingin Annisa menjadi Mamahnya Rafa dan Mamahnya adik-adik Rafa,” jawab Toriq.
__ADS_1
Pak Ernawan mengerut dahinya.
“Maksud Nak Toriq apa?” tanya Pak Ernawan.
“Saya ingin menikah dengan Annisa, Om,” jawab Toriq.
“Walaupun di hati kamu masih ada perempuan lain begitu maksudmu?” tanya Pak Ernawan dengan tegas.
“Poppy sudah menikah dan dia sudah hidup bahagia dengan suami dan anaknya. Toriq juga ingin menikah dengan Annisa dan hidup bahagia bersama dengan Annisa dan Rafa serta adik-adiknya Rafa yaitu anak-anak kami kelak,” jawab Toriq.
Pak Ernawan mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.
“Dan kamu Annisa apa yang kamu inginkan?” tanya Pak Ernawan.
“Annisa ingin kuliah dan bekerja, Pak,” jawab Annisa.
“Kalau mau kuliah kenapa tiba-tiba kamu pergi dari rumah Uamu? Dan meminta Arya mencarikan kamu pekerjaan?” tanya Pak Ernawan.
“Annisa tidak mau menikah dengan Bang Toriq, karena Bang Toriq mencintai wanita lain. Dan Tante Delima memaksa Annisa untuk menikah dengan Bang Toriq. Kata Tante Delima untuk menjadi Mamahnya Rafa, Annisa harus menikah dengan Bang Toriq,” jawab Annisa.
“Loh memang benar apa yang dikatakan Ibu Delima. Kalian kemana-mana selalu berdua dengan tujuan demi Rafa. Tapi apa orang di luar sana mau mengerti hubungan kalian? Nanti dikira Annisa sugar babynya Nak Toriq,” kata Pak Ernawan.
“Astagfirullohalazim, Bapak!!!” tegur Ibu Titien yang duduk di belakang Pak Ernawan dan mendengarkan percakapan mereka.
“Bapak keren, loh!!! Tau istilah sugar baby,” celetuk Aisyah.
“Heh....ssstttt,” bisik Roland sambil menarik tangan Aisyah.
Aisyah langsung diam ketika Roland menarik tangannya untuk diam.
“Kalau nggak mau dibilang sugarnya baby Nak Toriq kamu harus menikah dengan Nak Toriq,” kata Pak Ernawan.
“Annisa belum mau menikah dengan Bang Toriq karena belum ada cinta diantara kami,” jawab Annisa.
“Annisa menganggap Bang Toriq seperti kakak Annisa sendiri.”
“Cinta itu datang karena terbiasa. Mamah sarankan kalian taaruf dulu. Untuk mengenal satu dengan yang lain,” kata Ibu Titien.
.
.
Tetaplah bersama Annisa dan Toriq.
Dan beri dukungan untuk Annisa dan Toriq agar bisa memberi Rafa adik bayi.
__ADS_1
Kalau ada yang request hari ini up 1 bab lagi, gimana nanti saja. Saya ngak bisa janji.