
Tak lama kemudian Adzan subuh berkumandang. Annisa bangun dari tempat tidur sekarang kepalanya terasa berdenyut. Annisa berjalan menuju ke kamar mandi untuk berwudhu. Sebelum ke kamar mandi Annsa berjalan menuju dapur. Annisa melihat Ibu Titien sedang mencuci piring.
“Mah,” Annisa memanggil Ibu Titien.
Ibu Titien menoleh sebentar ke arah Annisa lalu melanjutkan cuci piringnya.
“Sekarang sudah mendingan?” tanya Ibu Titien.
“Belum, Mah, sekarang kepalanya berdenyut terus menerus,” jawab Annisa.
“Udah kamu istirahat saja. Biar nanti Rafa sama Mamah,” kata Ibu Titien.
“Terima kasih, Mah. Annisa jadi merepotkan Mamah,” ucap Annisa.
“Sama-sama Annisa,” jawab Ibu Titien.
“Untuk sarapan beli aja, Mah,” kata Annisa.
“Iya. Sudah sekarang kamu istirahat saja!” seru Ibu Titien.
“Iya, ini mau wudhu dulu mau sholat,” kata Annisa lalu berjalan menuju kamar mandi.
Setelah selesai berwudhu Annisa melaksanakan sholat subuh. Selesai sholat subuh Annisa kembali berbaring di tempat tidur. Rafa belum juga bangun. Annisa punya kesempatan untuk berbaring. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar Annisa.
“Masuk,” kata Annisa.
Pintu kamar dibuka dan Aisyah masuk ke dalam kamar Annisa.
“Teteh sakit?” tanya Aisyah.
“Iya, Aisyah. Kepala Teteh berdengut-denyut,” jawab Annisa.
“Aisyah tidak usah masak untuk sarapan, sarapannya beli saja,” kata Annisa lalu mengambil dompet di atas meja di sebelah tempat tidurnya.
“Tolong belikan sarapan untuk semua. Terserah mau beli apa saja. Untuk Teteh dan Rafa belikan bubur ayam,” kata Annisa lalu memberikan uang dua lembar lima puluh ribu rupiah kepada Aisyah.
“Beli apa, ya Teh?” tanya Aisyah yang kebingungan sambil memandangi uang pemberian Annisa.
Keluarga Annisa jarang membeli makanan untuk sarapan. Mereka lebih sering sarapan dengan nasi goreng atau hanya nasi putih dengan telor ceplok. Memang sengaja Ibu Titien mengaturnya demikian agar uang gaji Pak Ernawan cukup untuk makan sebulan.
“Coba Aisyah tanyakan langsung pada mau sarapan dengan apa,” jawab Annisa.
“Iya, Teh,” jawab Aisyah lalu keluar dari kamar Annisa.
__ADS_1
Annisa menoleh ke samping, ternyata Rafa sudah bangun.
“Anak sholeh Mamah sudah bangun?” tanya Annisa sambil mengusap kepala Rafa.
“Rafa pipis sama Enin, ya. Mamah lagi sakit kepala,” kata Annisa.
“Pala Mama acit?” tanya Rafa.
“Iya sayang,” jawab Annisa.
“Sekarang Rafa pipis dulu, ya. Nanti pospaknya ganti saja dengan yang baru,” kata Annisa.
“Iya,” Rafa langsung turun dari tempat tidur lalu berjalan menuju pintu.
Rafa jingjit berusaha memegang handel pintu yang agak tinggi. Setelah pintu terbuka Rafa langsung lari keluar kamar. Tak lama kemudian Rafa kembali tanpa menggunakan celana sambil membawa celana yang tadi dipakainya.
“Sudah pipisnya?” tanya Annisa.
“Cudah. Tadi pipis cama Enin,” jawab Rafa.
Annisa memakaikan Rafa pospak dan celana.
“Rafa sama Enin dulu, ya. Jangan nakal, nurut sama Enin,” kata Annisa.
Setelah Rafa keluar dari kamar, Annisa kembali berbaring dan langsung tertidur. Setelah beberapa lama, sayup-sayup Annisa mendengar seseorang masuk ke dalam kamarnya dan meletakkan sesuatu di meja.
“Teh, makan dulu. Terus diminum obatnya,” terdengar suara Aisyah membangunkan Annisa.
Annisa membuka matanya dan menoleh ke samping semangkok bubur dan segelas air diletakkan di atas meja.
“Terima kasih, Aisyah,” ucap Annisa dengan suara yang hampir tak terdengar.
Annisa bangun dari tempat tidur lalu duduk di tepi tempat tidur. Perlahan Annisa menyuap beberapa sendok bubur, setelah merasa sudah cukup Annisa meminum kembali obat penghilang rasa sakit. Namun tiba-tiba di dalam perutnya terasa seperti diaduk-aduk. Annisa langsung beranjak dari tempat tidur dan lari ke kamar mandi dan mengeluarkan semua isi perutnya. Setelan mengeluarkan semua isi perutnya Annisa sudah merasa agak enakan, hanya saja kepalanya tambah berdenyut-denyut. Annisa mengoleskan minyak kayu putih ke pelipis dan tengkuk lehernya. Kemudian Annisa tidur kembali.
Entah sudah berapa jam Annisa tertidur. Suara dering ponselnya membuat Annisa terbangun. Di layar ponsel tertulis Abang Toriq.
“Assalamualaikum,” ucap Annisa dengan suara yang lemah.
“Waalaikumsalam. Annisa lagi tidur? Abang mengganggu, ya?”
“Abang tidak mengganggu. Hanya kepala Annisa sakit sekali, Bang.”
“Kerasanya bagaimana?”
__ADS_1
“Berdenyut-denyut, Bang.”
“Dari kapan sakitnya?”
“Waktu baru bangun tidur. Sudah makan obat penghilang sakit kepala. Tadi setelah sarapan makan obat lagi tapi Annisa muntahkan semuanya.”
“Sekarang rasa bagaimana sudah agak mendingan belum?”
“Masih sakit, Bang.”
“Nanti setelah sholat Jum’at Abang ke sana.”
“Jangan, Bang. Abang kan mesti kerja. Kasihan pasien Abang kalau Abang ke sini.”
“Nggak apa-apa. Sekali-sekali Abang ijin.”
“Rafa bagaimana? Annisa sakit Rafa dengan siapa?”
“Rafa diurus sama Mamah. Tadi Annisa sudah bilang Mamah nggak usah masak.”
“Sekarang Annisa makan lagi. Tadi kan makanannya dimuntahin semua. Terus diminum lagi obatnya. Nanti Abang nyusul ke Padalarang. Abang bawa Mbok Sarmi buat bantu-bantu Mamah.”
“Nggak usah, Bang. Nanti juga Annisa baikan kalau sudah minum obat. Annisa memang sering begini kalau sebelum haid atau setelah haid.”
“Abang nggak tenang ninggalin Annisa dalam keadaan sakit.”
“Sekarang Annisa makan terus diminum obatnya. Terus tidur lagi. Nanti bangun-bangun Abang sudah sampai di rumah Annisa.”
Annisa menghela nafas. Calon suaminya ini memang keras kepala.
“Iya, Bang.”
“Ya sudah, Abang mau siap-siap untuk sholat Jum’at. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Annsa mematikan ponselnya. Lalu beranjak keluar dari kamarnya.
.
.
ntar sore diterusin lagi.
__ADS_1