Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
43. Annisa Pergi.


__ADS_3

Setelah Ibu Delima dan Toriq pulang Annisa bisa bernafas lega. Annisa bisa menghabiskan waktunya di kamar bersama Rafa. Annisa keluar dari kamar ketika makan malam, itupun ia hanya makan sedikit dengan alasan sudah kenyang.


Di kamarnya Annisa masih memikirkan kata-kata Ibu Delima yang menginginkan Annisa menjadi istri Toriq. Untuk menjadi Mamah Rafa berarti Annisa harus menjadi istri Toriq.


“Apa memang harus begitu?” tanya Annisa pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba terdengar suara notifikasi pesan masuk di ponselnya.


Aa Arya.


Annisa, ada lowongan kerja di pabrik tempat Aa bekerja. Hari Senin Annisa datang ke pabrik tempat Aa bekerja dengan pakaian yang rapih serta membawa surat lamaran dan fotocopy ijazah.


Aa tunggu kedatangan Annisa.


Setelah membaca pesan itu Annisa tersenyum bahagia.


“Terima kasih, ya Allah Engkau telah mengabulkan doaku”, ucap Annisa sambil mengangkat kedua tangannya.


Tadi selepas sholat isya Annisa berdoa meminta jalan agar terlepas dari Ibu Delima dan Toriq. Annisa mau menjadi Mamahnya Rafa tapi Annisa tidak mau menikah dengan Toriq, pria yang tidak mencintainya.


Annisa cepat-cepat membereskan semua barang-barangnya.


“Tapi bagaimana minta ijin ke Ua Pardi dan Ua Elly? Mereka pasti tidak mengijinkan Annisa pulang ke Padalarang,” Annisa bicara pada dirinya sendiri.


“Lebih baik malam ini juga pulang ke Padalarang. Sekarang belum terlalu malam, mudah-mudahan masih ada kendaraan ke Padalarang,” kata Annisa berbicara pada dirinya sendiri.


Annisa menoleh ke Rafa. Batita itu sedang tidur dengan nyenyak. Annisa masih teringat perkataan Toriq, bahwa Annisa harus menjadi Mamahnya Rafa demi pertumbuhan dan perkembangan Rafa. Tapi saat itu Toriq tidak mengatakan Annisa harus menikah dengan Toriq. Tapi sekarang mengapa Ibu Delima mengatakan untuk menjadi Mamahnya Rafa, Annisa harus menikah dengan Toriq.


Annisa mengusap kaki Rafa.


“Maafkan Mamah, sayang. Bukan Mamah tidak sayang kepada Rafa, tapi Mamah harus melakukan ini agar Mamah bisa menjauh dari Nenek Delima dan Om Toriq. Semoga suatu hari nanti kamu bisa menemukan pengganti Mamah, yang menyayangimu melebihi kasih sayang Mamah,” Annisa berbicara pada Rafa yang sedang tidur.


Annisa mengusap air matanya. Annisa menulis surat untuk Ibu Elly, lalu disimpannya diatas meja rias. Annisa cepat-cepat menganti bajunya takut Rafa terbangun. Dengan perlahan Annisa keluar dari kamarnya dengan membawa semua barang-barangnya. Sebelum Annisa menutup pintu kamarnya dipandanginya Rafa untuk terakhir kali, Setelah puas barulah Annisa menutup pintu kamarnya dan siap untuk pergi.


Namun…


“Annisa mau pergi kemana kamu malam-malam begini?” tanya Roland yang berada di depan kamarnya sambil memegang gelas minum.

__ADS_1


Annisa kaget karena kepergok oleh Roland. Roland menghampiri Annisa.


“Mau kemana kamu?” tanya Roland sekali lagi dengan tegas.


“Annisa mau pulang ke Padalarang, A,” jawab Annisa lalu menundukan kepalanya.


“Malam-malam begini? Mamah tau kamu mau pulang ke Padalarang?” tanya Roland.


Annisa menggeleng.


“Terus apa maksudnya kamu mau pergi malam-malam?” tanya Roland lagi.


“Annisa mau kerja saja di Padalarang. Tidak mau kuliah di sini,” jawab Annisa.


“Kenapa tiba-tiba kamu memutuskan untuk pulang ke Padalarang?” tanya Roland dengan tegas.


“Annisa ingin menjauh dari Tante Delima dan Bang Toriq,” jawab Annisa.


Roland menghela nafas.


“Ngomong apa Tante Delima ke kamu?” tanya Roland.


“Kata Tante Delima untuk menjadi Mamah Rafa Annisa harus menikah dengan Abang Toriq. Tapi Annisa tidak mau menikah dengan laki-laki yang tidak mencintai Annisa,” jawab Annisa.


“Mamah tau apa yang Tante Delima katakan?” tanya Roland.


“Tau A, bahkan Ua Elly bilang kalau Annisa masih kecil dan masih harus sekolah. Tapi Tante Delima maksa dan bahkan memberi Annisa waktu untuk berpikir,” jawab Annisa.


Roland menghela nafas.


“Aa antar kamu ke Padalarang. Sekarang kamu tunggu dulu di sini, jangan kemana-mana! Kamu nggak bisa keluar dari rumah ini tanpa seijin Aa,” kata Roland lalu masuk ke kamarnya.


Tak berapa lama Roland keluar dari kamarnya dengan membawa tas ransel di pundaknya.


“Ayo, kita pergi sekarang,” kata Roland lalu mereka menuruni anak tangga.


Sebelum ke garasi Roland menghampiri kamar Bi Minah. Roland mengetuk pintunya.

__ADS_1


“Bi Minah,” panggil Roland.


Bi Minah keluar dari kamarnya.


“Iya, Den?” tanya Bi Minah.


“Titip Rafa, saya mau mengantarkan Annisa ke Padalarang,” kata Roland ke Bi Minah.


“Kok mendadak sekali, Den. Ibu tau nggak kalau Non Annisa mau pulang pulang ke Padalarang?” tanya Bi Minah.


“Belum tau Bi, Tapi Roland sudah kirim pesan ke Mamah,” jawab Roland.


“Ayo, Nis,” ajak Roland kepada Annisa dan berjalan menuju garasi.


Roland memasukkan ranselnya dan tas Annisa ke bagasi.


“Tolong buka pintunya, Pak,” perintah Roland kepada penjaga rumah.


“Aden mau kemana? Nanti dicari Ibu dan Bapak,” tanya penjaga rumah yang bingung melihat Roland terburu-buru pergi.


“Mau ke Padalarang, Pak. Mengantar Annisa pulang. Tadi sudah kirim pesan ke Mamah. Bi Minah juga sudah tau saya pergi,” jawab Roland.


“Hati-hati di jalan ini sudah larut malam,” pesan si penjaga rumah.


“Baik, Pak. Terima kasih,” ucap Roland lalu masuk ke dalam mobil dan menjalankan kendaraannya.


Kendaraan yang dikemudikan Roland meluncur di jalan raya menuju ke tol lingkar luar. Malam ini adalah malam sabtu jadi jalanan masih ramai oleh kendaraan. Roland menoleh ke samping, dilihatnya Annisa yang menyandarkan kepalanya ke kaca mobil sambil menghapus air matanya.


Roland menghela nafasnya. Sebenarnya Roland tidak setuju dengan tindakan ini. Bagaimanapun Annisa mempunyai hak untuk menentukan sikap agar Ibu Delima tidak bisa semena-mena terhadap Annisa.


.


.


Ntar malam di terusin lagi, mudah-mudahan tidak ketiduran.


Jangan lupa dukungannya untuk Ibu Untuk Keponakanku.

__ADS_1


__ADS_2