
“Gimana Annisa Toriq apakah kalian mau berta’aruf?” tanya Pak Ernawan.
“Saya mau Om berta’aruf dengan Annisa. Bahkan menikah bulan depanpun saya siap,” jawab Toriq.
Annisa langsung menoleh ke arah Toriq sambil melotot. Toriq membalasnya dengan tersenyum jahil.
“Bagaimana Annisa?” tanya Pak Ernawan.
Annisa menjawab dengan mengangguk.
“Alhamdullilah,” ucap Toriq.
“Tapi Nak Toriq ta’aruf tidak boleh terlalu lama takutnya nanti menjadi zinah,” kata Pak Ernawan.
“Baik, Om,” jawab Toriq.
“Untuk sementara biar Annisa di sini dulu, Om. Mungkin Annisa kangen dengan Om dan Tante serta adik-adiknya,” kata Toriq.
“Loh kalau Annisa di sini nanti siapa yang mengurus pembayaran kuliahnya? Bukankah Senin keluar pengumuman diterima atau tidaknya Annisa kuliah di sana,” tanya Pak Ernawan bingung.
“Biar Toriq yang mengurus pembayarannya, Om,” jawab Toriq.
“Jangan, Bang!!! Bukankah Abang sudah janji kalau Abang tidak akan membayarkan kuliah Annisa,” sahut Annisa.
Toriq menghela nafas.
“Annisa, kalau dua bulan lagi Annisa menjadi istri Abang masa harus Tante Elly yang menanggung semua biaya kuliah Annisa. Abang malu sama Tante Elly,” kata Toriq pada Annisa.
“Dua bulan? Memang kapan kita bikin kesepakatan akan menikah dua bulan lagi?” Annisa protes.
“Barusan kan Om bilang kalau ta’aruf tidak boleh lama-lama. Jadi Abang pikir dua bulan sudah cukup untuk mengenal satu dengan yang lain. Apalagi sudah dipotong liburan Annisa di sini selama dua minggu,” jawab Toriq.
“Bukankah begitu, Om?” Toriq meminta pembenaran dari Pak Ernawan.
“Boleh begitu juga,” jawab Pak Ernawan.
“Tapi apakah Nak Toriq sanggup membiayai kuliah Annisa?” tanya Pak Ernawan.
“Sanggup, Om,” jawanb Toriq dengan yakin.
__ADS_1
“Apakah tidak memberatkan Nak Toriq?” tanya Pak Ernawan.
“Tidak, Om. Sama sekali tidak memberatkan. Malah saya senang hasil jerih payah saya selama ini berguna untuk orang yang sangat berarti dalam hidup saya,” jawab Toriq.
“Alhamdullilah kalau Nak Toriq sanggup membiayai kuliah Annisa,” kata Pak Ernawan.
“Pesan Bapak selama kalian masih ta’aruf tetap jaga jarak kalian. Bukan berarti kalian berta’aruf terus kalian bebas melakukan apa saja, karena kalian belum menjadi suami istri. Tetap sesuai dengan norma-norma yang diajarkan oleh agama kita,” pesan Pak Ernawan kepada Annisa dan Toriq.
“Ya, Pak.”
“Ya, Om.”
“Sekarang sudah malam, sudah waktunya kalian beristirahat,” kata Pak Ernawan kepada Annisa dan Toriq.
“Nak Toriq dan Roland tidur di kamar Umar. Tempatnya sudah disiapkan Annisa. Biar Umar tidur bersama Bapak dan Mamah,” kata Pak Ernawan kepada Toriq dan Roland.
“Iya, Om,” jawab Roland dan Toriq.
“Bapak dan Mamah permisi dulu mau ke kamar,” pamit Pak Ernawan.
“Silahkan Om,” jawab Toriq.
Setelah Pak Ernawan dan Ibu Titien masuk ke kamar, mulailah Annisa bersuara.
“Iya, Abang tidak akan macam-macam. Abang cuma satu macam yaitu menikahi Annisa,” jawab Toriq dengan senyum menggoda Annisa.
“Terserah Abang, deh,” ujar Annisa.
Annisa menggendong Rafa yang tertidur di ruang tv dan membawa Rafa ke kamarnya.
Melihat Annisa sudah masuk ke dalam kamarnya Toriqpun masuk ke kamar Umar untuk beristrahat.
*****
Suara Adzan subuh mulai berkumandang di masjid dekat rumah Annisa. Pak Ernawan sudah bersiap-siap untuk pergi ke masjid. Seperti biasa Toriq, Roland dan Umar ikut dengan Pak Ernawan untuk sholat di masjid.
Sedangkan Rafa tidak ikut, karena batita lucu itu masih tidur dengan lelap di kamar Annisa. Annisa setelah sholat subuh mulai berkutat di dapur membuat sarapan untuk semua penghuni rumah. Sedangkan Aisyah bertugas membersihkan rumah, menyapu, mengepel dan mengelap perabotan rumah tangga .Setelah pulang dari masjid Toriq melihat Annisa sedang sibuk di dapur.
“Annisa kalau sudah beres semua kamu belanja ke pasar, ya!” kata Ibu Titien.
__ADS_1
“Ya, Mah,” jawab Annisa.
Toriq mendengar apa yang di katakan Ibu Titien, cepat-cepat Toriq bersiap-siap hendak mengantar Annisa ke pasar. Setelah selesai membuat sarapan Annisa kembali ke kamarnya untuk siap-siap pergi ke pasar. Ketika Annisa keluar dari kamarnya Toriq menhampiri Annisa.
“Abang antar ke pasar, ya,” kata Toriq pada Annisa.
“Jangan, Bang. Di pasar becek, kotor dan bau,” tolak Annisa.
“Nggak apa-apa, biar Abang terbiasa mengantar Annisa ke pasar,” jawab Toriq.
Annisa menghela nafas.
“Tapi jangan protes, ya. Kalau pasarnya becek, kotor dan bau,” ujar Annisa.
“Tenang saja selama bersama dengan Annisa, Abang tidak akan protes,” jawab Toriq.
“Gombal,” sahut Annisa.
Lalu Toriq memberikan dua lembar seratus ribu rupiah kepada Annisa.
“Untuk apa ini, Bang?” tanya Annisa bingung.
“Uang untuk belanja,” jawab Toriq.
“Tapi kan yang kemarin masih ada sisa banyak,” jawab Annisa.
“Udah tidak apa-apa, orangnya kan banyak. Jadi makanannya juga harus banyak. Untuk sarapan tambahin lagi, jangan hanya nasi goreng saja,” kata Toriq.
“Iya, Bang,” jawab Annisa.
Lalu Annisa pergi ke pasar diantar Toriq dengan menggunakan motor. Pagi itu jalanan masih sepi, mungkin karena hari Minggu semua orang masih di rumah. Annisa memilih berbelanja di pasar yang tidak jauh dari rumahnya, sebuah pasar kecil namun barang-barang yang dijual cukup lengkap. Setelah memarkirkan motor Toriq mengikuti Annisa masuk ke dalam pasar. Toriq memperhatikan cara Annisa berbelanja di pasar. Perempuan itu tidak merasa malu dan merasa jijik berbelanja di pasar. Bahkan Annisa terlihat cukup lihai dan cekatan ketika berbelanja, mungkin Annisa sudah terbiasa ke pasar. Padahal perempuan seusia Annisa belum tentu mau di suruh ibu mereka untuk berbelanja ke pasar. Mereka akan merasa jijik jika disuruh ke pasar.
.
.
Up yang kedua agak sorean, ya!!!
Tetaplah bersama Ibu Untuk Keponakanku!!!
__ADS_1
Dan berikan dukungannya untuk Ibu Untuk Keponakanku!!!!
Yang baca puluhan ribu orang tapi yang kelihatan cuma beberapa ratus orang 🤭