
Di dalam kamar Toriq mengambil jas putihnya, dompet dan ponsel. Setelah itu ia kembali lagi ke kamar Rafa. Ternyata Rafa sudah selesai ganti baju. Toriq mendekati Rafa dan menggendongnya.
“Mbok tolong siapkan baju Rafa yang akan di bawa ke rumah sakit,” kata Toriq kepada Mbok Sarmi sebelum pergi.
“Baik, Den,” jawab Mbok Sarmi.
Mendengar kata rumah sakit Rafa protes.
“Om, Rafa nggak mau ke lumah cacit. Rafa mau ke Mamah,” kata Rafa dengan merengek.
“Iya, Mamah nunggu Rafa di rumah sakit,” jawab Toriq.
Lalu membawa Rafa turun ke lantai bawah, di ruang makan nampak orang tua Toriq sedang menunggunya sarapan.
“Sarapan dulu, Riq,” kata Ibu Delima yang melihat anaknya sudah siap-siap untuk pergi ke rumah sakit.
“Tidak sempat, Mah. Rafa harus segera dibawa ke UGD,” kata Toriq lalu mencium tangan kedua orang tuanya.
Rafapun ikut mencium tangan Kakek dan Neneknya.
“Dadah Nenek. Rafa mau ke Mamah duyu, ya,” kata Rafa sambil melambaikan tangannya.
Ibu Delima dan Pak Syamsul mengantar Toriq dan Rafa sampai ke depan rumah. Memandangi Toriq dan Rafa masuk ke dalam mobil. Ibu Delima hanya bisa memandang Rafa dengan sedih. Cucunya begitu bahagia ketika hendak bertemu dengan Annisa.
“Apa kita nikahkan saja Toriq dengan Annisa?” tanya Ibu Delima kepada suaminya sambil memandang kepergian Toriq dan Rafa.
“Mamah ini ngomong apa sih? Belum tentu mereka mau dijodohkan.”
“Kalau Rafa sudah besar, pasti Rafa juga mengerti kalau Annisa itu bukan ibu kandungnya. Sekarang ini yang dibutuhkan adalah sifat egois Mamah harus dihilangkan. Biarkan saja Rafa tinggal dengan Enin dan Akinya. Nanti kalau dia sudah besar dia sudah bisa memilih mau tinggal dengan siapa,” kata Pak Syamsul.
“Kalau Rafa seterusnya memilih terus tinggal dengan Enin dan Akinya, bagaimana?” tanya Ibu Delima dengan sedih.
“Ya itu hak Rafa. Mungkin Rafa lebih merasa nyaman tinggal di sana,” jawab Pak Syamsul.
“Itu yang Mamah takutkan. Rafa merasa nyaman tinggal di sana dan tidak mau lagi datang ke rumah kita,” kata Ibu Delima.
“Tapi kan Eninnya Rafa tidak egois seperti Mamah. Mereka nerima alasan Mamah kenapa Rafa harus tinggal dengan kita,” sanggah Pak Syamsul.
“Tapi kan Mamah ingin yang terbaik untuk Rafa,” alasan Ibu Delima.
“Itu kata Mamah, tapi untuk Rafa belum tentu itu yang terbaik,” kata Pak Syamsul.
“Udah ah, pokoknya Mamah mau Rafa tetap di sini. Titik!” seru Ibu Delima.
“Iya, nggak apa-apa. Tapi jangan menyesal kalau Rafa menderita,” kata Pak Syamsul lalu kembali masuk ke dalam rumah.
Ibu Delima memikirkan apa yang suaminya katakan.
Apa benar Rafa akan menderita jika terus dipaksa tinggal di sini? katanya dalam hati.
__ADS_1
Ibu Delima langsung mengalihkan pikirannya, ia masuk ke dalam rumah karena harus bersiap-siap ke rumah sakit.
*******
Toriq memarkir mobilnya di tempat parkir rumah sakit tempatnya bekerja. Setelah mematikan mesin mobilnya Toriq menoleh ke Rafa, keponakannya itu sedang tertidur. Dipegang keningnya masih terasa panas. Toriq keluar dari mobil lalu berjalan menuju pintu penumpang di sebelah supir lalu membuka pintu mobil bagian penumpang. Toriq membuka seat belt yang melingkar di badan Rafa lalu mengendong Rafa.
“Ayo Rafa, kita akan ketemu Mamah,” Toriq menutup kembali pintu mobil.
Dengan melangkah lebar Toriq membawa Rafa ke UGD. Ketika sampai di depan UGD Toriq langsung menerobos masuk UGD.
Ketika berpas-pasan dengan seorang suster, suster itu tersenyum.
“Dokter Toriq kebetulan ini ada pasien……..” suster itu berhenti berbicara melongo karena Toriq tidak mendengarkan omongannya Toriq malah terus berjalan.
“Kenapa tuh Dokter Toriq?” suster itu bertanya pada rekan sesame suster yang sedang bertugas.
“Nggak tau tau sepertinya lagi nganterin pasien,” jawab temannya yang juga memandangi Toriq.
Toriq masuk ke ruang emergency anak. Lalu meletakkan Rafa diatas tempat tidur pasien.
“Suster sekarang dokter anak yang sedang bertugas siapa?” Toriq bertanya pada suster yang mengikutinya dari belakang ketika ia masuk dalam ruangan UGD anak.
“Dokter Candra, Dok,” jawab suster itu.
“Tolong panggilkan Dokter Candra sekarang juga. Bilang ada pasien anak dalam keadaan emergency sekarang juga!” perintah Toriq.
Suster itu malah diam saja.
“Baik….baik, Dok,” jawab suster itu dan langsung pergi untuk menghubungi dokter Candra.
“Ada apa ini pagi-pagi sudah bikin ribut di UGD?” tanya seorang wanita cantik yang juga memakai jas putih.
Toriq melirik perempuan itu. Senyumnya langsung mengembang.
“Ah….kebetulan, ke sini Sin,” panggil Toriq.
Wanita itu mendekati Toriq.
“Ini keponakan saya dari kemarin sore tidak mau makan dan juga tidak mau minum.”
Wanita cantik itu mendekati Rafa.
“Sama sekali tidak mau minum?” tanya Dokter Sinta sambil memegang kepala Rafa dan lengannya.
“Kata Neneknya tidak mau makan dan minum sama sekali,” jawab Toriq yang berdiri di samping tempat tidur Rafa dan memperhatikan Dokter Sinta yang sedang memeriksa Rafa.
“Kalau minum susu mau nggak?” tanya Dokter Sinta.
“Rafa kemarin minum susu nggak?” tanya Toriq ke Rafa.
__ADS_1
Rafa menjawab dengan gelengan kepala.
“Kenapa?” tanya Dokter Sinta ke Rafa.
“Mau minum cucunya cama Mamah,” jawab Rafa dengan lemah.
“Memang Mamahnya kemana?” tanya Dokter Sinta sambil berbisik ke Toriq.
“Udah meninggal setahun yang lalu,” jawab Toriq dengan berbisik.
“Terus yang dimaksud Mamah sama ini anak siapa?” tanya Dokter Sinta.
“Ada sebentar lagi datang. Tadi gue suruh dia ke sinii.”
Tiba-tiba datang seorang laki-laki muda berjas putih diikuti seorang suster di belakangnya.
“Ada apa ini? Saya lagi banyak pasien dipanggil ke sini,” seru lelaki itu.
“Keponakannya Dokter Toriq sakit,” jawab Dokter Sinta.
Lelaki itu melirik ke Dokter Sinta.
“Kan udah ada Dokter Sinta, Kenapa harus panggil saya?” protes Dokter Candra.
“Tau tuh suster jaga, waktu ditanya dokter anak yang bertugas dia jawab Dokter Candra,” jawab Toriq.
“Dia penggemar kamu kali, Dok. Setiap ditanya pasti jawabnya Dokter Candra,” goda Dokter Sinta.
“Udah kepalang saya ke sini, biar saya periksa dulu,” kata dokter Candra lalu mendekati Rafa.
Dengan teliti Dokter Candra memeriksa Rafa.
“Anak ini mengalami dehidrasi. Rawat inap saja,” kata Dokter Candra sambil melepas stestokopnya.
Kemudian menulis kertas kasus Rafa dan di berikan kepada suster yang bertugas.
“Segera pasang infus! ” perintah Dokter Candra kepada suster itu.
“Baik, Dok.”
“Saya balik ke polyklinik, ya,” pamit Dokter Candra lalu meninggalkan UGD anak.
“Thanks Can,” ucap Toriq.
Candra hanya membalas dengan lambaian tangan.
“Saya periksa pasien dulu, ya Tor,” pamit Dokter Sinta.
“Thanks, ya Sin,” ucap Toriq.
__ADS_1
“Sama-sama, Tor,” Dokter Sinta meninggalkan Toriq dan Rafa berdua.