Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
79. Bahagia Selamanya.


__ADS_3

Deche minta maaf kemarin malam tidak bisa up, karena matanya sangat lelah. Jadi tidak bisa dipaksakan untuk menulis.


🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲


Tujuh bulan kemudian.


Hari ini hari ulang tahun Rafa yang ketiga. Kebetulan ulang tahun Rafa yang ketiga bertepatan dengan tujuh bulan bayi di dalam kandungan Annisa. Pagi harinya pukul setengah sepuluh Annisa mengadakan pengajian dengan mengundang anak-anak yatim piatu dan ibu-ibu pengajian di komplek tempat Annisa tinggal.


Siang hari Annisa mengundang semua keluarganya, para tetangga, rekan-rekan kerja Toriq di rumah sakit dan teman-teman kuliah Annisa untuk makan siang di rumah. Ibu Titien, Pak Ernawan, Aisyah dan Umar juga hadir di ulang tahun Rafa dan syukuran tujuh bulan bayi. Mereka berangkat hari Jumat siang dari Padalarang dengan menggunakan travel.


Untuk makanan Annisa pesan ke catering karena Toriq berpesan Annisa tidak boleh cape. Annisa juga memesan kue di toko kue langganannya. Namun kalau rujak dan cendol .Annisa membuat sendiri dengan dibantu oleh Mbok Sarmi dan Isti.


“Mamah jangan terlalu cape,” kata Toriq sambil membagikan amplop untuk anak-anak yatim piatu setelah selesai pengajian.


Sedangkan Annisa membagikan nasi box dan snack box kepada anak-anak yatim piatu dan ibu-ibu pengajian dibantu oleh Aisyah.


“iya, Pah. Lagipula tadi selama pengajian Mamah hanya duduk terus,” jawab Annisa sambil terus membagikan nasi box dan snack box.


Sedangkan Rafa mendekati Annisa yang sedang sibuk membagikan nasi box dan snack box, Rafa mencium-cium perut Annisa sambil mengusap-usap perut Annisa.


“Dede,” kata Rafa.


“Rafa jangan ganggu Mamah,” sahut Toriq melihat Rafa yang sedang asyik mencium-cium perut Mamahnya.


“Rafa mau sama Dede,” kata Rafa yang masih menempel di perut Annisa.


Dug….ada gerakan dari perut Annisa yang nampak menonjol.


“Mamah….Aa ditendang sama Dede,” ujar Rafa sambil mengusap dahinya.


Annisa mengusap-usap dahi Rafa.


“Nggak apa-apa kok. Adiknya senang diusap-usap dan dicium Aa,” kata Annisa.


Akhirnya rombongan anak-anak yatim piatu dan ibu-ibu pengajian semuanya sudah pulang. Sekarang acara makan siang keluarga, rekan kerja Toriq dan teman-reman kuliah Annisa.


“Annisa, teman-teman suami kamu ganteng-ganteng,” puji Lala teman kuliah Annisa.


“Ada yang masih bujangan, nggak?” tanya Lala.


“Mungkin ada, tapi nggak tau yang mana,” jawab Annisa.


“Coba lo lihat yang nggak bawa gandengan berarti masih bujangan,” sahut Maya.


“Kalau anak istrinya di rumah dan nggak ikut. Entar gue jadi pelakor dong,” ujar Lala.


“Yey,  lo ge-eran. Siapa mau sama lo,” kata Maya.


Semakin siang tamu semakin banyak yang datang. Untung Annisa memesan makanan dalam jumlah yang banyak sehingga ia tidak takut kekurangan. Semua orang memuji cendol dan rujak buatan Annisa. Kata mereka cendol buatan Annisa rasanya mirip dengan cendol Elinyabet yang terkenal di kota Bandung. Rujaknyapun enak bumbunya pas tidak kemanisan dan juga tidak terlalu asin. Untuk pedasnya sengaja Annisa pisahkan agar para tamu bisa menentukan rasa pedas yang mereka inginkan.


Annisa tersenyum bahagia melihat para tamu menyantap hidangan yang disediakan.


“Mamah, jangan berdiri terus. Nanti cape,” kata Toriq yang tiba-tiba berada di sisinya.

__ADS_1


Toriq membimbing Annisa menuju tempat duduk. Annisa duduk sambil mengusap-usap perutnya.


“Terima kasih, ya Pah. Papah mau menerima Mamah apa adanya dan sayang pada Mamah dan Rafa. Mamah benar-benar bahagia,” ucap Annisa.


“Sama-sama sayang,” jawab Toriq sambil mengusap perut istrinya.


“Papah juga berterima kasih karena Mamah sudah mau menerima Papah yang banyak kekurangannya untuk menjadi imam Mamah,” kata Toriq sambil mencium kepala Annisa.


“Heh….jangan cium-ciuman di sini!!! Di sini banyak joblo tau,” celetuk Roland yang tiba-tiba sudah ada di belakang Annisa dan Toriq.


Annisa dan Toriq menoleh ke belakang.


“Siapa suruh jadi jomblo. Sana cari calon istri!!!!” seru Toriq.


“Abang aja menikah pas sudah berumur. Kalau Roland masih muda, Bang. Masih bisa bersenang-senang,” jawab Roland.


“Kalau Abang kan harus menunggu adikmu lulus SMA dulu, kalau tidak mana boleh Abang menikahi Annisa yang masih sekolah,” kata Toriq.


“Bilang aja Abang nggak laku-laku,” celetuk Roland.


Annisa hanya tersenyum mendengar gurauan Toriq dan Roland. Sebenarnya suaminya bukanlah termasuk type pria yang tidak laku. Secara fisik, wajah, penampilan dan pekerjaan benar-benar sempurna untuk menjadikan Toriq sebagai Casanova. Sering ketika Annisa berjalan dengan Toriq semua mata wanita tertuju pada Toriq, namun Toriq acuh saja tidak tertarik dilirik wanta cantik. Entah kenapa Toriq tidak tertarik untuk menjadi Casanova, ia lebih suka fokus dengan pekerjaannya. Mungkin memang Allah sudah mengatur semuanya menjadikan Toriq sebagai jodohnya.


****


Empat tahun kemudian.


Sepasang suami istri sedang berjalan menuju sebuah Ballroom. Si istri menggunakan kebaya muslim yang dirancang khusus untuk ibu hamil. Sedangkan si suami menggunakan kemeja batik lengan panjang yang motif dan warnanya sama dengan kain batik yang digunakan istrinya. Mereka adalah Toriq dan Annisa. Annisa sedang hamil delapan bulan. Toriq nampak protektif pada istrinya.


“Sayang jalannya hati-hati, jangan terlalu cepat. Kasihan adik bayi kalau Mamahnya jalan terlalu cepat,” kata Toriq.


“Belum kesiangan sayang ini baru jam setengah sembilan. Acarannya kan dimulai jam sembilan,” kata Toriq dengan sabar.


“Pah, coba telefon Mamah tanyain mereka sudah jalan belum?” kata Annisa dengan gelisah.


“Sudah sekarang Mamah tenang saja. Bapak dan Mamah serta anak-anak diantar Roland,” kata Toriq berusaha menenangkan istrinya.


“Sekarang Mamah duduk dulu,” kata Toriq sambil mencari bangku Annisa yang sudah disediakan oleh panitia untuk para mahasiswa yang akan di wisuda.


Akhirnya Toriq menemukan kursi yang sudah ditulis nomor peserta milik Annisa.


“Mamah duduk di sini, jangan kemana-mana!! Kalau mau ke kamar mandi atau ada apa-apa telepon Papah, okey?” kata Toriq


“Okey,” jawab Annisa.


“Papah tunggu di luar dengan anak-anak,” kata Toriq.


“Iya, Pah.”


Toriqpun meninggalkan Annisa yang duduk bersama dengan mahasiswa lainnya. Para mahasiswi terkagum-kagum melihat wajah Toriq. Diusia sudah tidak muda namun masih terlihat tampan.


Acara sudah akan dimulai namun sepertinya Mamah dan Bapak Annisa belum datang. Annisa berdiri dari bangku tempat duduknya lalu ia membalik badannya ke belakang. Annisa melihat Toriq sedang menggendong Safira putri kecil mereka dan tangan kanannya menuntun Rafa. Toriq sedang membantu Mamah dan Bapak mencari bangku yang sudah disediakan oleh panitia untuk orang tua Annisa. Akhirnya bangku yang dicaripun ketemu. Setelah Mamah dan Papah Annisa duduk, Toriqpun membawa anak-anak mereka keluar. Annisa melambaikan tangan kepada suami dan anak-anaknya.


Toriq mengatakan sesuatu kepada Safira dan Rafa lalu menunjuk ke arah Annisa. Safira dan Rafa melihat ke arah Mamah mereka lalu mereka melambaikan tangan ke Annisa. Karena acara hendak dimulai Toriq membawa kedua anak mereka keluar. Undangannya hanya untuk dua orang.

__ADS_1


Acara wisuda berlangsung dua sertengah jam lamanya. Setelah selesai Annisa keluar dari Ballroom bersama dengan kedua orang tuanya menghampiri Toriq dan Rafa beserta Safira.


“Selamat ya sayang,” Toriq mengecup kening Annisa lalu memberi buket bunga yang cantik.


“Terima kasih,” ucap Annisa dengan terharu.


“Papah, kapan beli buket bunganya?” tanya Annisa yang supraise mendapat buket bunga dari suaminya.


“Papah sudah pesan lama. Tadi titip ke Roland minta tolong diambilkan,” kata Toriq.


“Terima kasih, Papah,” ucap Annisa sekali lagi sambil mencium wangi bunga.


“Sama-sama, sayang.”


“Ayo sekarang kita pulang,” kata Toriq.


“Mana Om Roland?” tanya Toriq kepada anak-anaknya.


“Nggak tau tadi ke sana,” jawab Rafa menunjuk ke arah pintu Ballroom.


“Oh, mungkin Om Roland mau menemui seseorang yang special,” kata Toriq.


“Cepecial itu apa cih, Pah?” tanya Safira.


“Spesial itu istimewa, Safira,” Rafa yang menjawab.


“Safira juga mau cepecial, Mah,” kata Safira sambil memeluk kaki Annisa.


“Nanti kalau Safira sudah besar akan punya yang special,” jawab Annisa sambil mengusap kepala Safira.


“Kalian tunggu di sini sama Mamah, Enin dan Aki. Papah mau ambil mobil dulu,” kata Toriq kepada Rafa dan Safira.


“iya, Papah,” jawab Rafa dan Safira.


Ketika Toriq hendak berjalan ke tempat parkir tiba-tiba ada yang memanggilnya.


“Bang mau kemana?” tanya Roland menghampiri Toriq.


“Kamu darimana?” Toriq malah balik bertanya.


“Biasalah, Bang. Anak muda,” jawab Roland.


“Abang mau ambil mobil dulu. Kamu mau pulang atau mau nemenin yang spesial?” tanya Toriq.


“Pulanglah, Bang. Yang spesialnya mau ada acara dengan orang tuanya,” jawab Roland.


“Ayo cepat kita ambil mobil, kasihan Mamah dan Bapak sudah berdiri kelamaan,” kata Toriq.


“Oke, Bang,” Rolandpun mengikuti Toriq ke tempat parkir.


Sesampainya mereka di rumah, Annisa disambut oleh Ua dan mertuanya. Annisa mendapatkan peluk cium dari Ibu Elly dan Ibu Delima, serta mendapatkan ucapan selamat dari Pak Syamsul dan Pak Supardi. Mereka merayakan kelulusan Annisa dengan makan-makan bersama di rumah Annisa.


Annisa mengucapkan syukur atas semua karunia yang Allah berikan kepadanya. Suami yang mencintai dan mau menerimanya apa adanya, anak-anak yang soleh dan soleha, orang tua yang dalam keadaan sehat wal afiat, mertua yang mau meneriman dan menyayanginya serta keluarga besar yang selalu mensupportnya.

__ADS_1


THE END


__ADS_2