
Tepat pukul 15.30 Ibu Elly pamit pulang.
“Nek, saya pulang dulu, sudah sore. Lagi pula kasihan Annisa dia pasti sudah cape mau istirahat,” pamit Ibu Elly kepada besannya.
“Saya juga mau pulang, Toriq mau istirahat dulu karena nanti malam mau buka praktek,” jawab Ibu Delima.
“Roland ayo kita pulang sudah sore. Kasihan Annisa kecapean biar dia bisa istirahat sambil rebahan,” ajak Ibu Elly ke Roland.
“Iya, Mah,” jawab Roland lalu menyudahi main ponselnya dan menghampiri Annisa.
“Aa pulang dulu, ya. Nggak apa-apa kan ditinggal? Nanti kalau ada apa-apa kasih tau Aa,” kata Roland.
“Iya, A,” jawab Annisa.
Roland mengulurkan tangannya lalu Annisa mencium tangan Roland. Sementara tangan kirinya seperti biasa mengacak-acak rambut Annisa.
“Aa kebiasaan, deh,” Annisa protes sambil membetulkan rambutnya yang acak-acakan.
Ibu Elly mendekati Annisa.
“Ua pulang dulu. Besok Ua ke sini lagi,” pamit Ibu Elly.
Kemudian Ibu Elly membuka dompetnya dan memberikan dua lembar uang seratus ribu ke Annisa.
“Ini uang untuk membeli makan malam dan sarapan,” kata Ibu Elly.
“Tidak usah Ua, Annisa masih ada uang jajan dari Ua,” kata Annisa.
“Itu kan uang buat jajan. Kalau ini uang buat makan,” papar Ibu Elly.
Ibu Elly memegang tangan Annisa dan menaruh uang itu diatas telapak tangan Annisa.
‘Belilah makan yang Annisa mau. Beli online saja,” kata Ibu Elly.
“Ya, Ua,” jawab Annisa.
“Hati-hati ya, Nisa. Kalau tidur pintunya di kunci,” pesan Ua Elly.
“Iya, Ua,” jawab Annisa.
Giliran Ibu Delima yang pamit.
“Tante pamit pulang. Titip Rafa, ya. Kalau ada apa-apa telepon Abang Toriq,” kata ibu Delima.
“Baik, Tante,” jawab Annisa dengan santun.
Sekarang giliran Toriq yang pamit. Toriq mengambil dompet dari saku celananya, lalu mengeluarkan uang sebanyak satu juta rupiah. Uang itu ia berikan kepada Annisa.
“Ini buat pegangan kamu,” kata Toriq.
“Sebanyak ini? Untuk apa, Bang?” tanya Annisa bingung.
“Ya, buat pegangan kamu selama di sini,” jawab Toriq.
“Tapi kan Annisa sudah dikasih sama Ua Elly,” jawab Annisa.
“Itu kan dari Ua Elly, dari Abang belum,” sahut Toriq.
“Tidak usah, Bang. Terima kasih,” ucap Annisa.
Toriq menghela nafas.
“Gini aja deh, itung-itung ini sebagai ucapan terima kasih Abang kepada Annisa karena sudah mau merawat Rafa yang sedang sakit,” ujar Toriq.
“Annisa ikhlas merawat Rafa. Rafa adalah anak kakak sepupu Annisa. Jadi Annisa tidak mengharapkan imbalan apa-apa,” kata Annisa.
Ibu Delima melihat Annisa menolak uang pemberian Toriq, kemudian Ibu Delima menghampiri Annisa.
__ADS_1
“Annisa, terima saja uang yang Toriq berikan. Toriq tidak bermaksud apa-apa, hanya ingin memberi kepada Annisa,” kata Ibu Delima.
“Tapi Tante….,” Annisa berusaha untuk menolak karena merasa tidak enak.
Ibu Delima mengambil uang dari tangan Toriq, lalu Ibu Delima memegang tangan Annisa ditaruhnya uang sebesar satu juta rupiah itu ke telapak tangan Annisa kemudian Ibu Delima menggenggam telapak tangan Annisa. Annisa hanya bisa diam melihat perlakuan Ibu Delima.
“Ini uang jajan untuk Annisa dari Bang Toriq,” kata Ibu Delima.
“Tapi….,” Annisa mencoba untuk menolak.
Ibu Elly yang melihat hal tersebut lalu menghampiri Annisa.
“Sudah terima saja. Itu sudah rejekinya Annisa,” kata Ibu Elly sambil mengusap punggung Annisa.
Akhirnya Annisa mengalah diterimanya uang itu.
“Terima kasih, Bang,” ucap Annisa.
Toriq tersenyum akhirnya Annisa menerima uang pemberiannya.
“Sama-sama, Annisa,” ucap Toriq.
“Abang pulang dulu, jaga diri baik-baik. Kalau ke kamar mandi kunci pintunya. Kalum mau tidur kunci juga pintunya,” pesan Toriq.
“Iya, Bang,” jawab Annisa.
“Assalamualaikum,” ucap Toriq lalu berjalan menuju ke pintu kamar.
“Waalaikumsalam,” jawab Annisa.
Akhirnya semuanya pulang tinggal Annisa berdua dengan Rafa.
“Mah, Rafa ngantuk,” Rafa mengucek-ucek mata.
“Ayo bobo kalau ngantuk,” Annisa menurunkan tempat tidur Rafa agar Rafa bisa tidur dengan nyaman.
“Mamah mau sholat ashar dulu, ya,” kata Annisa.
Annisa ke kamar mandi untuk wudhu. Ketika keluar dari kamar mandi terlihat Rafa sudah tidur.
Annisa sholat di sebelah tempat tidur Rafa. Selesai sholat Annisa duduk dengan santai di sofa untuk menghilangkan rasa lelah sambil melihat ponselnya. Lama kelamaan matanya mulai mengantuk dan Annisapun tertidur.
******
Suara dering ponsel Annisa mengganggu Rafa yang sedang tidur. Rafa menoleh ke samping, ia melihat Annisa sedang tidur dengan pulas di sofa. Ternyata suara dering ponsel tidak mengganggu Annisa yang sedang tidur.
“Mamah….ada telepon,” Rafa memanggil Annisa.
Annisa masih saja tidak bangun.
“Mamah…,” panggil Rafa sambil merengek.
Mendengar suara Rafa yang merengek, Annisa terbangun.
“Ada apa, Rafa?” Annisa mencoba membuka matanya yang masih ngantuk.
‘Ada telepon,” Rafa menunjuk ke arah ponsel Annisa yang ergeletak di sebelah Annisa.
Annisa mengambil ponselnya ketika dilihat ia mengerut kening. Ada telepon dari nomor yang tidak ia kenal.
“Siapa ini?” gumam Annisa.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Lama sekali angkat teleponnya,” seru seseorang.
Annisa sepertinya mengenal suara ini.
__ADS_1
“Abang Toriq?”
“Iya, ini saya. Lagi apa? Lama sekali angkat telepon.”
“Annisa ketiduran, Bang.”
“Hmm. Dikunci nggak kamarnya?”
“Nggak, Bang. Namanya juga ketiduran.”
“Bagaimana kalau maling masuk? Atau yang lebih parah orang yang punya niat jahat masuk seperti pemerkosa atau penculik anak.”
“Astagfirullahalazim. Abang jangan nakut-nakutin Annisa.”
“Bukannya nakut-nakutin. Tapi Abang cuma mau mengingatkan saja. Kalau tidur dikunci pintunya. Biar suster ketok pintu kalau mau masuk.”
“Iya, Bang.”
“Abang ada apa nelepon Annisa?”
“Annisa mau dibawakan apa untuk makan malam?”
“Tidak usah repot-repot, Bang. Annisa nanti order online saja.”
“Tidak merepotkan kok, Nisa. Abang sekalian mau ke tempat praktek.”
“Annisa terserah Abang aja.”
“Kok terserah Abang? Kalau Annisa nggak suka bagaimana?”
“Semua makanan Annisa suka. Annisa tidak pernah pilih-pilih makanan.”
“Bener nih Annisa suka apa saja? Berarti apa yang Abang bawa harus dimakan, ya! Tidak boleh tidak dimakan!”
“Iya, Bang,”
“Ya sudah. Abang mau mandi dulu. Mau siap-siap berangkat. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” Annisa mematikan ponselnya.
“Mamah, Rafa mau pipis,” sahut Rafa melihat Annisa selesai berbicara di telepon.
“Mau pipis? Ayo sekalian seka, ya,” Annisa mendekati Rafa lalu mengedong Rafa sambil memegang infus ke kamar mandi.
Setelah selesai menyekakan Rafa, gantian Annisa yang mandi. Mendengar perkataan Toriq di telepon membuat Annisa menjadi takut. Sebelum masuk ke kamar mandi Annisa mengunci pintu kamar inap.
“Mamah kenapa pintunya di cunci?” tanya Rafa melihat Annisa mengunci pintu kamar.
“Takut ada orang jahat masuk,” jawab Annisa.
“Rafa, Mamah mandi dulu, ya. Kalau ada yang ketuk pintu biarkan saja,” pesan Annisa.
“Iya, Mah.”
Annisa langsung masuk ke dalam kamar mandi. Lima belas menit kemudian Annisa keluar dari kamar mandi. Ia kelihatan segar setelah mandi.
Annisa hanya menggunakan baju tidur lengan panjang. Ia berpikir tidak akan ada tamu yang datang. Paling hanya suster atau dokter yang akan memeriksa Rafa. Bang Toriq juga pasti hanya mengantar makanan.
.
.
.Hai readers,
Terima kasih atas vote, bunga, kopi, gif, like dan komentarnya, ya. Semoga semua kebaikan para readers dibalas oleh Allah SWT.
Deche mau promo novel lagi. Dalam 8 hari ke depan Deche bakalan terus promo novel teman-teman Deche.
__ADS_1
Kali ini promo novel Karena Aku Rasya milik author Esa Aurelia. Mampir ya, semoga suka. Jangan lupa like dan komentarnya.