Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
78. Ke Dokter Kandungan.


__ADS_3

Dua bulan sudah Toriq menikah dengan Annisa. Namun masih belum saja ada tanda-tanda Annisa hamil. Hal itu membuat Annisa menjadi resah. Padahal ia tidak pernah menolak untuk melayani suaminya yang hampir setiap malam menagih haknya. Sekarang Annisa jadi takut tidak bisa memberikan keturunan untuk suaminya.


“Mamah lagi mikirian apa?” tanya Toriq yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Toriq menghampiri istrinya yang sedang tiduran sambil melamun di atas tempat tidur. Toriq duduk di pinggir tempat tidur.


“Mamah lagi mikirin apa?” tanya Toriq sekali lagi sambil mengusap rambut Annisa.


“Pah, Mamah tadi siang haid. Mamah takut kalau Mamah tidak bisa hamil,” jawab Annisa dengan bersedih.


Toriq mengusap rambut Annisa dengan penuh kasih sayang.


“Jangan berpikiran seperti itu. Mungkin memang belum rejeki kita untuk mempunyai momongan. Lagi pula kitakan masih pengantin baru, mungkin kita diberi kesempatan untuk berpacaran dulu. Nanti kalau Mamah hamil, Papah bakalan sering libur menyetubuhi Mamah,” jawab Toriq.


“Iiihhh Papah mah, otaknya cuma mikirin yang begituan terus. Apa Papah nggak cape dan bosan?” ujar Annisa.


“Nggak dong. Namanya juga sama istri sendiri, halal dan nikmat bikin Papah mau lagi dan lagi,” kata Toriq dengan senyuman yang menggoda Annisa.


Lalu mereka berdua diam. Tangan Toriq pindah jadi mengusap-usap punggung istrinya.


“Pah....,” panggil Annisa.


“Hmm,” jawab Toriq sambil terus mengusap punggung istri yang sedang sedih.


“Apa Mamah harus diperiksa ke dokter kandungan?” tanya Annisa.


“Boleh, kalau Mamah mau. Nanti Papah bikin janji dengan dokter Najwa. Kita ke tempat praktek pribadinya saja,” jawab Toriq.


Annisa langsung senang mendengarnya. Ia langsung bangun dan dan mencium pipi suaminya.


“Terima kasih, Pah,” ucap Annisa lalu memeluk suaminya.


“Sama-sama sayang,” Toriq mengusap-usap punggung istrinya.


Ia senang karena istrinya tidak bersedih lagi.


Kesokan harinya Toriq membuat janji dengan dokter Najwa. Kebetulan nanti malam jadwal dokter Najwa praktek di apotik. Malam harinya setelah sholat magrib Annisa dan Toriq bersiap-siap untuk ke dokter.


“Rafa di rumah sama Mbok Sarmi dan Mbak Is, ya! Mamah mau pergi ke dokter dulu,” kata Annisa ketika pamit ke Rafa.


“Mamah acit ?” tanya Rafa.

__ADS_1


“Mamah tidak sakit, sayang. Mamah hanya mau diperksa saja,” jawab Annisa sambil membelai kepala Rafa


“Mbok titip Rafa, ya! Jangan lupa kunci semua pintu. Saya bawa kunci sendiri,” kata Annisa kepada Mbok Sarmi.


“Iya, Non,” jawab Mbok Sarmi.


Annisa langsung masuk ke dalam mobil, karena Toriq sudah menunggunya dari tadi di dalam mobil. Kemudian mobil yang di kemudikan Toriq melaju meninggalkan halaman rumah.


“Dadah Mamah…dadah Papah,” Rafa melambaikan tangan sambil menatap mobil orang tuanya keluar dari halaman rumah. Annisa membalas lambaian tangan Rafa. Setelah mobil keluar Isti langsung menutup pintu pagar dan langsung menggemboknya.


Malam itu jalanan cukup ramai, mungkin sebagian orang baru pulang kerja. Toriq mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, dalam hatinya ia berdoa mudah-mudahan mereka tidak datang terlambat. Karena jarak dari rumah ke tempat praktek dokter Najwa memakan waktu 30 menit.


Sesampainya mereka di tempat dokter Najwa ternyata mereka tidak datang terlambat, karena dokter Najwa baru saja sampai. Anissa mendapatkan nomor satu, karena dokter Najwa berpesan kepada suster agar Annisa diberi nomor urut satu.


“Ibu Annisa,” suster memanggil Annisa.


Annisa menghampiri suster lalu disuruh duduk untuk ditensi dan ditanya riwayat mensturasi serta keluhannya. Setelah itu Annisa di suruh duduk kembali.


Tak lama kemudian suster yang di dalam ruangan dokter Najwa memanggilnya.


“Ibu Annisa.”


Annisa dan Toriq masuk ke dalam ruang praktek dokter.


“Malam, dokter Toriq,” balas dokter Najwa.


Toriq dan Annisa duduk di depan meja dokter Najwa.


“Ini istri dokter Toriq? Cantik sekali, masih muda lagi. Pinter carinya,” puji dokter Najwa.


Annisa hanya tersenyum mendengar pujian dokter Najwa.


“Pantesan di rumah sakit cuek saja tidak tertarik sama cewek-cewek cantik, rupanya istrinya lebih cantik,” kata dokter Najwa.


“Ada keluhan apa, Bu?” tanya dokter Najwa langsung.


Annisa menceritakan semua kekhawatirannya. Dokter Najwa mendengarkan dengan baik.


“Oke kita periksa dulu keadaan rahimnya,” kata dokter Najwa.


Annisa di suruh berbaring untuk di USG. Suster mengingkap baju Annisa dan menurunkan celananya setelah itu suster memberi gel diatas perut Annisa. Setelah itu dokter Najwa mulai me USG perut Rahim Annisa.

__ADS_1


“Posisi rahim bagus, dan rahimnya juga bersih,” kata dokter Najwa sambil fokus ke layar monitor.


Dokter masih terus me USG Annisa dan akhirnya selesai. Dokter Najwa kembali ke tempat duduknya dan suster membersihkan gel dari perut Annisa.


“Rahimnya tidak ada masalah. Kalau baru nikah kosong dua bulan itu wajar, tidak ada yang perlu di khawatirkan,” kata dokter Najwa ketika Annisa duduk kembali di sebelah Toriq.


“Kegiatan Ibu sehari-hari apa saja?” tanya dokter Najwa.


“Saya baru masuk kuliah, dok. Dan di rumah saya mengurus anak angkat kami yang masih batita,” jawab Annisa.


“Berarti Ibu terlalu cape, ya. Saya kasih vitamin saja, apalagi ibu sedang haid. Saya tidak akan memberi vitamin penyubur kandungan, karena belum perlu,” dokter Najwa menulis resep.


“Dokter Toriq, istrinya jangan terlalu sering disetubuhi, ya. Kalau bisa seminggu dua kali atau tiga kali. Kasih jeda istrinya untuk beristirahat, jangan diforsir terus,” kata dokter Najwa lalu memberikan resep kepada Annisa.


Muka Annisa merah karena malu mendengar perkataan dokter Najwa.


“Memang berpengaruh?” tanya Toriq sambil mencibir.


“Berpengaruhlah, kan keadaan tubuh orang berbeda-beda. Apalagi Annisa masih sibuk kuliah dan mengurus anak. Ditambah setiap malam harus melayani suami, kasihan Ibu Annisanya kecapean,” kata dokter Najwa.


“Cuma pas masa subur baru boleh gas pol,” kata dokter Najwa.


“Lagipula kalau berhubungannya diberi jarak biasanya lebih enak,” kata dokter Najwa dengan wajah yang tidak berdosa.


Toriq memasang muka cemberut mendengar perkataan dokter Najwa.


Hasilnya sepanjang jalan Toriq cemberut karena perkataan dokter Najwa. Toriq harus puasa seminggu karena Annisa sedang haid, tapi ketika Annisa selesai haid ia tidak boleh terlalu sering menyetubuhi istrinya.


Annisa menoleh suaminya yang sedang menyetir dengan wajah cemberut karena kesal. Lalu diusapnya bahu suaminya.


“Tidak ada salahnya nasehat dokter Najwa kita coba, siapa tau dengan cara itu Mamah bisa hamil,’ kata Annisa.


Toriq menghela nafas.


“Iya, kita coba,” jawab Toriq.


“Tapi kalau lagi masa subur boleh setiap hari, ya!!!” kata Toriq.


“Iya, Papah sayang,” jawab Annisa sambil mengusap-usap punggung Toriq.


.

__ADS_1


.


nanti malam kita lihat apakah nasehat dokter Najwa manjur atau tidak.


__ADS_2