
“Untuk menyicipi masakannya. Masakan anaknya saja enak, apalagi masakan ibunya,” jawab Ibu Delima.
“Memang benar, Nek. Masakan Titien enak sekali,” Ibu Elly membenarkan.
“Siapa Titien?” tanya Ibu Delima dengan bingung.
“Titien adalah ibunya Annisa. Dia adik sepupu saya,” jawab Ibu Elly.
“Nanti kalau dia ke sini saya kenalin ke Nenek,” kata Ibu Elly.
“Harus itu, Nin,” ujar Ibu Delima.
“Ayo, Nek diteruskan lagi makannya. Nanti kalau sudah dingin nggak enak,” kata Ibu Elly.
“Ya, Nin,” Ibu Delima melanjutkan makannya.
“Wah lagi pada makan, nih,” sahut Roland ketika turun dari tangga.
Roland menghampiri Ibu Delima lalu menyalami Ibu Delima.
“Tante jadi numpang makan di sini,” kata Ibu Delima kepada Roland.
“Eh nggak apa-apa Tante, di sini ada chef professional. Tuh,” kata Roland sambil menunjuk ke Annisa.
“Masakannya juara,” Roland mengacungkan kedua jempolnya.
“Apa, sih? Aa mah berlebihan,” seru Annisa.
“Eh….dipuji nggak mau,” sahut Roland.
“Udah…udah…kalau diterusin nanti malah berantem lagi. Malu kan ada tamu,” seru Ibu Elly.
Ibu Delima hanya tersenyum omongan Roland dan Annisa.
“Ayo Nek diterusin lagi makannya. Roland sama Annisa memang suka begitu. Kadang-kadang akur kadang- kadang rame,” kata Ibu Elly.
“Enin enak ya, masih ada Roland dan Annisa. Kalau saya hanya ada Toriq, jadi rumah suka sepi kalau Toriq sedang bekerja, Apalagi sekarang Rafa tinggal di sini, di rumah tambah sepi,” kata Ibu Delima dengan sedih.
“Nanti kalau Annisa kuliah Rafa dititip di rumah Tante,” kata Annisa.
“Benarkah?” tanya Ibu Delima dengan senang.
“Iya,” jawab Annisa.
“Nanti kalau Rafa nangis dan nggak mau makan lagi bagaimana?” tanya Ibu Delima dengan sedih.
“Nanti Annisa bawakan makanan untuk Rafa, agar Rafa mau makan,” jawab Annisa.
__ADS_1
“Berarti Rafa sudah tidak mau makan masakan di rumah Tante,” ujar Ibu Delima.
“Nanti juga pasti mau makan masakan rumah Tante. Hanya perlu waktu, tidak bisa sekaligus harus mau makan masakan rumah Tante,” jawab Annisa.
“Begitu, ya? Ya, sudah Tante akan sabar menunggu,” kata Ibu Delima.
Selesai makan siang semua orang sholat dzuhur, hanya Rafa yang sedang asyik menonton tv hingga tertidur. Setelah sholat dzuhur Annisa menghampiri Rafa yang tertidur ketika sedang menonton tv. Annisa memindahkan Rafa ke kamar Annisa. Sesampainya di kamar Annisa ikut berbaring dengan Rafa dan tertidur bersama Rafa.
Rasanya baru saja Annisa tidur sekejap terdengar suara pintu kamarnya ada yang mengetuk. Dengan mata yang masih mengantuk Annisa membuka pintu kamarnya. Ternyata Roland yang mengetuk pintu kamar Annisa.
“Aa cariin kemana-mana ternyata ada di sini,” kata Roland.
“Ada apa cari Annisa?” tanya Annisa dengan mata terpejam.
“Bikinkan Aa jus, dong,” kata Roland.
“Mau jus apa?” tanya Annisa dengan mata yang masih terpejam.
“Jus strawberry biar seger,” jawab Roland.
“Iya, nanti Annisa buatkan,” kata Annisa kemudian menutup pintu kamarnya.
Roland menahan pintu kamar Annisa.
“Eh….jangan tidur lagi. Buatkan jusnya sekarang!” seru Roland.
“Aduh Aa, Annisa ngantuk. Mau tidur dulu lima menit aja,” Annisa protes.
Annisa agar keluar dari kamar. Tapi Annisa malah balik lagi ke kamarnya.
“Eh… kok balik lagi?” tanya Roland.
“Tutup pintu kamar dulu,” jawab Annisa kemudian menutup pintu kamarnya.
Dengan langkah gontai Annisa turun ke lantai dasar lalu menghampiri Ibu Delima dan Ibu Elly.
“Tante mau jus apa?” tanya Annisa.
“Eh…nggak usah, nanti ngerepotin Annisa,” jawab Ibu Delima.
“Nggak ngerepotin kok Tante. Annisa sekalian mau membuatkan jus untuk Aa Roland," kata Annisa.
Ibu Delima berpikir sebentar.
“Adanya jus apa?” tanya Ibu Delima.
“Semua jus ada kok Tante. Di sini buah-buahannya lengkap,” jawab Annisa.
__ADS_1
“Tante jus sirsak aja,” jawab Ibu Delima.
“Ua mau jus apa?” tanya Annisa kepada Ibu Elly.
“Ua juga jus sirsak,” jawab Ibu Elly.
Lalu Annisa pergi ke dapur untuk membuat jus.
Ketika Annisa sedang memisahkan biji sirsak tiba-tiba ada yang mengucapkan salam di sebelahnya.
“Assalamualaikum,” ucap seseorang.
“Waalaikumsalam,” jawab Annisa sambil menoleh ke asal suara.
“Abang Toriq, kok lewat garasi?” tanya Annisa kaget.
“Nggak apa-apa, biar gampang,” jawab Toriq.
“Lagi apa, Nis? Serius amat sampai Abang datang nggak melihat,” tanya Toriq lalu duduk di kursi di dekat Annisa.
“Lagi bikin jus. Abang mau jus?” tanya Annisa.
“Boleh, kalau Annisa mau biuatkan,” jawab Toriq.
“Abang mau jus apa? Di sini semua jus ada,” tanya Annisa lagi.
“Jus strawberry aja, deh,” jawab Toriq.
“Nanti Annisa buatkan. Abang tunggu saja di dalam. Ada Tante Delima di dalam sedang berbicara dengan Ua Elly,” kata Annisa.
“Abang tunggu di sini saja dengan Annisa,” jawab Toriq yang masih duduk di dekat Annisa.
Annisa tidak menghiraukan keberadaan Toriq karena ia sedang fokus membuat jus.
Tak lama kemudian Roland masuk ke dapur untuk mengambil jusnya. Dan melihat Toriq yang sedang duduk di dekat Annisa sambil membaca pesan di ponselnya.
“Annisa kenapa tamu disuruh duduk di sini?” tegur Roland kepada Annisa.
Annisa menoleh ke Toriq.
“Eh…Abang masih di sini? Tadikan Annisa suruh pindah ke dalam,” kata Annisa kepada Toriq.
“Nggak apa-apa di sini saja dulu. Nanti ke dalamnya bareng dengan Annisa,,” ucap Toriq.
.
.
__ADS_1
Niat mau up siang malah jadi up sore. Maklum habis masak cape jadi matanya rep bra - rep brai.
Jangan lupa vote, hadiah, like dan komentar untuk Ibu Untuk Keponakanku.