
Annisa mencuci semua tempat makan bekas Rafa dan Toriq. Setelah itu ia bersiap-siap untuk sholat magrib. Pukul setengah tujuh Toriq dan Rafa baru datang dari masjid. Toriq menyimpan plastik belanjaan di atas meja dan menurunkan Rafa di atas sofa.
“Sudah sholatnya, sayang?” tanya Annisa kepada Rafa.
“Udah,” jawab Rafa.
Annisa membuka jaket Rafa.
Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar di ketuk.
“Oh…. itu pasti petugas rumah sakit yang mengantar extra bed,” kata Toriq kemudian membuka pintu.
Dua orang laki-laki masuk sambil mendorong extra bed.
“Taruh dimana, Pak?” tanya petugas itu.
“Disebelah kanan tempat tidur pasien satu dan di sebelah kiri tempat tidur pasien satu,” jawab Toriq kepada petugas rumah sakit.
Petugas itu mengikuti apa yang diperintahkan oleh Toriq. Setelah selesai merekapun pamit pergi.
“Icu apa Mamah?” tanya Rafa menunjuk ke extra bed.
“Oh itu tempat tidur untuk Mamah dan Om,” jawab Annisa sambil menempatkan sate, tongseng serta nasi yang dibawa Toriq.
“Rafa juga mau bobo di citu,” kata Rafa sambil menunjuk ke extra bed.
“Sempit Rafa, nanti Rafa jatuh,” kata Annisa yang masih sibuk menempatkan makanan.
“Tapi Rafa mau,” kata Rafa dengan manja.
“Iya, boleh,” jawab Toriq.
“Tapi, Bang….,” Annisa belum menyelesaikan perkataannya Toriq sudah menyela sambil berbisik ke Annisa.
“Nanti kalau sudah tidur kita pindahin,” bisik Toriq kepada Annisa.
Annisa menjawab dengan anggukan kepala.
Rafa senang diperbolehkan tidur di extra bed, ia langsung naik ke extra bed dan tidur-tiduran di extra bed.
“Rafa mau makan sate, nggak?” tanya Annisa kepada Rafa yang sedang asyik tidur-tiduran di extra bed.
“Mau,” jawab Rafa dan langsung turun dari extra bed dan menghampiri Annisa.
“Disuapin aja, ya? Nanti bajunya kotor. Rafa kan mau tidur,” kata Annisa kepada Rafa.
“Iya, Mamah,” jawab Rafa lalu naik ke atas sofa dan duduk di sebelah Annisa.
“Baca doa dulu,” kata Annisa kepada Rafa.
Dengan terbata-bata Rafa membaca doa sebelum makan.
__ADS_1
Dengan telaten Annisa menyuapi Rafa dengan sate dan nasi. Setelah habis makanannya Rafa minta susu, sepertinya Rafa sudah mulai mengantuk. Annisa memberikan Rafa segelas susu.
“Nanti kalau sudah minum susu gosok gigi dulu, jangan langsung tidur!” seru Annisa.
“Iya, Mamah,” jawab Rafa dengan mata yang mulai mengantuk.
Rafa meminum susunya sampai habis, lalu Annisa menggendong Rafa ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Rupanya setelah menggosok gigi rasa ngantuknya hilang, balita itu keluar dari kamar mandi sambil berlari dan langsung naik ke extra bed.
“Sudah gosok gigi seger lagi,” kata Toriq melihat keponakannya yang berlari dari kamar mandi menuju eXtra bed.
Annisa duduk di sofa lalu melanjutkan makannya.
“Abang, tadi katanya ada yang ingin dibicarakan dengan Annisa,” kata Annisa kepada Toriq.
Toriq menoleh ke Annisa.
“Kamu habiskan saja dulu makananmu, baru kita bicara,” jawab Toriq ke Annisa.
“Baik, Bang,” kata Annisa lalu ia makan dengan tenang menikmati sate dan tongseng.
Setelah Annisa selesai makan ia melihat Rafa yang sudah mulai mengantuk tidur di extra bed.
Ketika Annisa hendak membereskan bekas makannya, Toriq mencegahnya.
“Duduk dulu di sini, Abang mau bicara,” kata Toriq kepada Annisa.
Annisa meletakkan kembali tempat makanan yang kotor.
“Tadi pagi Dokter Candra bilang kalau dia sudah mengetahui cerita tentang Rafa dari Dokter Sinta,” kata Toriq.
Annisa diam saja mendengar perkataan Toriq.
“Jadi mulai sekarang Abang minta kamu tetap menjadi Mamahnya Rafa, sampai Rafa besar dan bisa mengerti dan menerima keadaan yang sebenarnya,” lanjut Toriq.
“Kamu dan Rafa tetap tinggal bersama dengan Tante Elly. Semua kebutuhanmu dan Rafa biar Abang yang penuhi termasuk biaya kuliahmu, Abang yang biayai,” kata Toriq lagi.
“Tapi Bang, bagaimana dengan Tante Delima jika Rafa ikut dengan Annisa?” tanya Annisa dengan ragu.
“Nanti Abang yang berbicara dengan Mamah dan mudah-mudahan Mamah mau mengerti,” jawab Toriq.
“Abang tidak usah memenuhi kebutuhan Annisa dan membiayai kuliah Annisa. Annisa ikhlas menjalani ini semua. Lagi pula Rafa masih keponakan Annisa,” kata Annisa kepada Toriq.
Toriq menoleh ke arah Annisa.
“Jangan begitu Annisa, kamu sudah mengorbankan masa mudamu dengan menjadi Mamahnya Rafa dan mengurus Rafa. Setidaknya dengan memenuhi kebutuhanmu dan membiayai kuliahmu sebagai ucapan rasa terima kasih Abang kepada Annisa,” kata Toriq kepada Annisa.
“Tapi Bang….,” kata Annisa yang langsung dipotong oleh Toriq.
“Tidak ada tapi-tapian lagi. Abang sudah bulat dengan keputusan Abang,” tegas Toriq kepada Annisa.
Annisa hanya diam mendengar perkataan Toriq.
__ADS_1
“Bilang sama Roland dan Tante Elly tidak usah jemput ke rumah sakit. Abang yang antar Annisa dan Rafa ke rumah Tante Elly, sekalian ada yang akan Abang bicarakan dengan Tante Elly,” kata Toriq kepada Annisa.
“Bukannya besok Abang ada operasi?” tanya Annisa.
“Kasusnya tidak terlalu berat, jadi hanya membutuhkan waktu sekitar dua atau tiga jam untuk operasinya,” jawab Toriq kepada Annisa.
“Sambil menunggu Abang, kamu beres-bereskan semua barang. Nanti begitu Abang datang kita langsung pulang,” kata Toriq kepada Annisa.
“Mengenai biaya rumah sakit, Abang yang bayar,” lanjut Toriq.
“Bang,” ujar Annisa.
Toriq menoleh ke Annisa.
“Apa lagi?” tanya Toriq ke Annisa.
“Abang, bisa tidak Abang hanya memberi uang jajan saja kepada Annisa? Tidak usah sampai memenuhi kebutuhan Annisa dan membiayai kuliah Annisa. Annisa tidak enak kepada Tante Delima. Nanti disangka Annisa pengeruk harta Abang,” kata Annisa sambil menunduk.
Toriq tertawa mendengar kata-kata Annisa.
“Annisa…Annisa….Kalau tidak mau disebut pengeruk harta Abang, kamu nikah saja sama Abang jadi istri Abang,” ujar Toriq sambil memandang Annisa dengan senyum di kulum.
Mendengar perkataan Torir otomatis Annisa kaget mengangkat wajahnya sambil melotot.
“Abang becanda, Nis. Jangan dianggap serius,” kata Toriq kepada Annisa.
“Abang becandanya nggak lucu,” seru Annisa dengan wajah cemberut.
“Memang kamu nggak mau jadi istri Abang?” tanya Toriq kepada Annisa.
“Annisa masih ingin sekolah lalu kerja. Annisa masih ingin membahagiakan orang tua,” jawab Annisa.
“Lagi pula…..,” Annisa menggantung perkataannya.
“Lagi pula apa?” tanya Toriq penasaran.
“Annisa pasti bukan tipe perempuan yang Abang suka,” jawab Annisa lalu menunduk kembali.
“Memang Annisa tau tipe perempuan yang Abang suka?” tanya Toriq.
Annisa yang masih menunduk menjawab pertanyaan Toriq hanya dengan menggelengkan kepalanya.
“Kamu saja tidak tau tipe perempuan yang Abang suka seperti apa? Tapi sudah bilang kalau kamu bukan tipe perempuan yang Abang suka,” kata Toriq.
“Sudah jangan diambil hati. Abang mau sholat isya dulu,” kata Toriq lalu berjalan ke kamar mandi.
“Abang sholat Isya di masjid?” tanya Annisa.
Toriq menghentikan langkahnya lalu menoleh ke Annisa.
“Nggak. Abang sholat disini. Kenapa? Mau berjamaah?” tanya Toriq.
__ADS_1
“Nggak, Annisa hanya bertanya saja,” jawab Annisa.
“Kalau mau berjamaah ayo, boleh,” kata Toriq.lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu.