Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
7. Mamah Rafa.


__ADS_3

Keesokan harinya, Ibu Elly dan Annisa berangkat lebih awal dari acara. Mereka berangkat setelah sholat dzuhur, diantar oleh Pak Maman.


Sedangkan Roland dan Pak Supardi akan menyusul setelah pulang kuliah dan pulang kerja. Sekarang mereka sudah sampai di rumah besan Ibu Elly.


“Assalamualaikum,” ucap Ibu Elly ketika masuk ke rumah besannya.


“Waalaikumsalam,” jawab seseorang dari dalam rumah.


Tak lama kemudian pintu dibuka. Seorang wanita paruh baya membukakan pintu.


“Oh… Ibu Elly. Silahkan masuk, Bu,” wanita itu mempersilahkan masuk.


“Kok sepi, Mbok? Rafa kemana?” tanya Ibu Elly.


“Den Rafa lagi tidur siang, belum bangun. Ibu Delima ada di kamarnya. Sebentar saya panggilkan,” kata Mbok Sarmi.


“Oh iya, Ibu mau minum apa? Nanti saya buatkan,” tanya Mbok Sarmi.


“Nggak usah Mbok, nanti saja minumnya,” tolak Ibu Elly.


“Nanti kalau Ibu mau minum apa bilang sama saya saja,” kata Mbok Sarmi.


“Iya, Mbok.”


Kemudian Mbok Sarmi masuk ke dalam.


“Yang tadi itu Mbok Sarmi pengasuhnya Rafa,” kata Ibu Elly.


“Sewaktu Rilandi dan Meisya kecelakaan, Rafa di rumah sama Mbok Sarmi.”


Annisa mengangguk mengerti.


“Oh….ya, Nis. Suruh Pak Maman turun-turunkan kado-kado untuk Rafa,” seru Ibu Elly.


“Iya, Ua,” Annisa langsung ke luar menghampiri Pak Maman yang menunggu di mobil.


Tak lama kemudian Annisa di bantu Pak Maman membawa kado yang jumlahnya cukup banyak.


“Masih ada lagi, Pak?” tanya Ibu Elly.


“Sudah semuanya, Bu,” jawab Pak Maman.


“Pak Maman sekarang pulang saja. Saya nanti pulang bareng sama Bapak,” kata Ibu Elly.


“Baik, Bu. Saya permisi,” pamit Pak Maman lalu pergi meninggalkan rumah Besan Ibu Elly.


Tak lama kemudian seorang wanita lanjut keluar dari dalam rumah.


“Enin, waduh jam segini sudah datang. Saya belum apa-apa,” kata wanita itu bernama Ibu Delima.


Mereka lalu berpelukan dan cipika-cipiki.


“Nggak apa-apa, Enin. Sengaja saya berangkat lebih awal tadinya mau membantu disini,” jawab Ibu Elly.


“Masa Enin mau bantu-bantu. Semuanya sudah saya serahkan pada catering dan EO,” kata IBu Delima.


“Baguslah kalau diserahkan ke catering dan EO, jadi Nenek tidak usah cape-cape,” puji Ibu Elly.


“Disuruh Toriq pakai catering dan EO. Itu juga minta tolong temannya untuk mencarikan catering dan EO untuk ulang tahun anak-anak,” jawab Ibu Delima.


“Tapi kemana EO nya? Jam segini belum juga datang?” tanya Ibu Delima yang kebingungan.


“Mungkin jalannya macet, Nek,” jawab Ibu Elly.

__ADS_1


“Eh, ini siapa Enin?” tanya Ibu Delima menunjuk ke Annisa.


“ini Annisa kemenakan saya dari Padalarang, mau kuliah di Jakarta,” kata Ibu Elly.


Annisa mencium tangan Ibu Delima.


“Daftar kuliah dimana?” tanya Ibu Delima.


“Daftar di kampusnya Roland. Ambil jurusan ekonomi,” kata Ibu Elly.


“Wah bagus, biar bisa jadi ahli ekonomi,” puji Ibu Delima.


“Enin bawa apa? Bawaannya banyak sekali?” tanya Ibu Delima melihat Ibu Elly membawa kado banyak sekali.


“Kado untuk Rafa,” jawab Ibu Elly.


“Rafa pasti senang dapat kado banyak dari Enin,” kata Ibu Delima.


Terlihat sejumlah anak muda masuk ke dalam halaman rumah.


“Itu pasti dari EO. Sebentar Enin, saya tinggal dulu,” kata Ibu Delima lalu keluar rumah dan terlihat sedang berbicara dengan anak-anak muda tadi.


“Kasihan Ibu Delima jadi repot harus mengurus semuanya sendiri,” kata Ibu Elly yang memperhatikan Besannya sedang berbicara dengan EO.


Mbok Sarmi keluar dari dalam rumah sambil menggendong anak kecil.


“Tuh…Enin sudah datang,” kata Mbok Sarmi.


“Eh…. cucu Enin sudah bangun,” seru Ibu Elly dengan gembira lalu menghampiri anak yang digendong Mbok Sarmi.


“Salam dulu Nak sama Enin,” kata Ibu Elly sambil mengulurkan tangannya.


Anak itu mencium tangan Ibu Elly.


“Selamat ulang tahun, ya sayang. Semoga menjadi anak yang sholeh,” ucap Ibu Elly lalu mencium pipi anak itu.


Rafapun menurut dan pindah digendong oleh Eninnya.


“Nih… kenalin Tante Annisa,” kata Ibu Elly yang membawa Rafa duduk di sebelah Annisa.


“Hallo Rafa, selamat ulang tahun, ya,” ucap Annisa.


Rafa memandangi Annisa, lalu dikedip-kedipkan matanya sambil memandangi Annisa.


“Mamah….,” panggil  Rafa ke Annisa.


“Eh….itu bukan Mamah, tapi Tante Annisa,” kata Ibu Elly.


“Mamah….,” kata Rafa lalu mengulurkan kedua tangannya ke Annisa minta digendong Annisa.


“Rafa itu Tante Annisa, bukan Mamah,” Ibu Elly mencoba untuk memberitahu Rafa.


Tapi ternyata Rafa tetap pada pendiriannya.


“Mamah….,” Rafa minta digendong Annisa dengan wajah yang hampir mau menangis.


Annisa kasihan melihat Rafa yang hampir menangis. Lalu diambilnya Rafa dari gendongan Ibu Elly.


“Sini sama Tante.”


Tentu saja Rafa senang di gendong oleh Annisa. Rafa memeluk Annisa.


“Rafa mau cama Mamah,” kata Rafa dengan polosnya.

__ADS_1


“Iya sekarang Rafa sama Tante,” Annisa tetap saja menyebut dirinya Tante.


“Tante punya kado untuk Rafa,” Annisa mencari kado khusus darinya untuk Rafa diantara kado dari Ibu Elly.


“Kalau itu kado untuk capa?” tanya Rafa melihat kado yang banyak.


“Itu kado untuk Rafa dari Enin,” jawab Ibu Elly.


“Ma acih, Enin,” ucap Rafa.


Akhirnya Annisa menemukan kadonya.


“Ini untuk Rafa dari Tante,” Annisa memberikan kado untuk Rafa.


Rafa memperhatikan kado pemberian Annisa.


“Kadonya badus, ma acih Mah,” ucap Rafa sambil mencium pipi Annisa kanan dan kiri.


“Kok Tante saja yang dicium Enin nggak?” Ibu Elly protes.


“Mamah Nin, bukan Ate,” ucap Rafa.


“Iya, Mamah dicium kok Enin nggak dicium?” jawab Ibu Elly.


“Enin mau ditium?” tanya Rafa.


“Mau dong,” jawab Ibu Elly.


Rafa mendekatkan bibirnya ke pipi Ibu Elly lalu mencium pipi kanan dan kiri Ibu Elly.


“Udah,” kata Rafa.


“Terma kasih, sayang,” ucap Ibu Elly.


Tiba-tiba Mbok Sarmi datang dalam rumah.


“Den Rafa mandi dulu, yuk,” ajak Mbok Sarmi.


“Mandinya cama Mamah,” kata Rafa dengan manja.


Mbok Sarmi bingung mendengar perkataan Rafa.


Baru saja Mbok Sarmi hendak ngomong, Ibu Elly sudah memberi kode untuk jangan banyak nanya. Mbok Sarmi mengerti maksud Ibu Elly.


“Nanti kasihan baju Mamahnya basah,” ujar Mbok Sarmi.


“Rafa mau mandi cama Mamah,” seru Rafa dengan marah.


“Ayo Rafa mandi sama Tante,” ajak Annisa.


“Hole….Rafa mandi cama Mamah,” Rafa tepuk tangan kegirangan.


“Jangan, Non. Nanti bajunya basah,” kata Mbok Sarmi.


“Nggak apa-apa, Mbok,” kata Annisa.


“Ayo Rafa mandi dulu,” ajak Annisa.


Annisa menggendong Rafa.


“Dimana kamar mandinya, Mbok?” tanya Annisa.


“Diatas, Non. Mari Mbok antar,” kata Mbok Sarmi sambil berjalan menuju ke dalam rumah.

__ADS_1


Annisa mengikuti Mbok Sarmi dari belakang. Mbok Sarmi membuka pintu salah satu kamar lalu masuk ke dalamnya.


“Kamar mandinya ada di dalam, Non,” kata Mbok Sarmi.


__ADS_2