
Maaf kalau kemarin Deche PHP readers.
Udah niat mau ngetik buat story tapi begitu lihat layar laptop kok jadi ngantuk, ya?, 😁
Sekarang ngak mau janji. Sekarang gimana nanti ajalah.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Sayup-sayup Ibu Elly mendengar suara Rafa menangis. Ibu Elly sedang membaca al Qur’an di kamarnya langsung berhenti membaca al Qur’an. Ibu Elly langsung keluar dari kamarnya. Suara Rafa menangis terdengar dari dapur. Ibu Elly langsung menghampiri.
“Rafa kenapa, Bi? Annisanya mana?” tanya Ibu Elly.
“Annisa tadi malam pulang ke Padalarang, Bu,” jawab Bi Minah.
“Pulang ke Padalarang? Kapan? Kok nggak bilang-bilang ke saya,sih?” tanya Ibu Elly.
“Tadi malam, Bu. Diantar Den Roland,” jawab Bi Minah yang sambil menggendong Rafa sambil memasak.
“Annisa bilang tidak kenapa dia pulang?” tanya Ibu Elly lagi.
“Tdak Bu. Den Roland yang bilang Non Annisa mau pulang. Non Annisa hanya menangis,” jawab Bi Minah.
“Katanya Den Roland sudah mengirim pesan ke Ibu,” lanjut Bi Minah.
“Pesan?” Ibu Elly mulai berpikir.
“Ya sudah, sini Rafa sama saya saja. Bi Minah teruskan masaknya,” kata Ibu Elly.
“Iya, Bu,” Bi Minah melepaskan kain gendongan lalu Bu Elly mengangkat Rafa dari gendongan Bi Minah.
“Ayo Rafa, kita cari Mamah,” kata Ibu Elly pada Rafa.
Bu Elly membawa Rafa ke kamarnya.
“Pah,” panggil Ibu Elly sambil menghampiri suaminya yang sedang melihat ponselnya.
“Hemm,” jawab Pak Supardi sambil menoleh ke istrinya yang datang dengan menggendong Rafa yang sedang menangis.
“Annisa pergi ke Padalarang tadi malam, Pah,” kata Ibu Elly.
“Pergi ke Padalarang? Ah…masa?” tanya Pak Supardi dengan tenang.
“Eh…Papah nggak percaya, ini buktinya Rafa menangis mencari Mamahnya, Annisa diantar Roland ke Padalarang,” jawab Ibu Elly.
“Apa jangan-jangan Annisa pergi karena Nenek Delima, ya?” tanya Ibu Elly.
“Karena Nenek Delima? Memang Nenek Delima kenapa?” tanya Pak Supardi bingung.
“Eh…si Papah. Tadi malam kan sudah Mamah ceritakan. Papah dengar nggak yang Mamah ceritakan ke Papah?” seru Ibu Elly dengan kesal.
“Iya dengar, yang Nenek minta Annisa menikah dengan Toriq, kan?” jawab Pak Supardi.
“Nah tuh tau, tadi kenapa nanya lagi?” kata Ibu Elly dengan kesal.
“Mamah telepon Roland dulu, buat mastikan apa mereka sudah sampai ke Padalarang,” kata Ibu Elly lalu mengambil ponselnya.
“Rafa sama Aki dulu, Enin mau telepon Om Roland,” Ibu Elly menaruh Rafa di atas pangkuan Pak Supardi.
Kemudian Ibu Elly menelepon Roland.
“Assalamualaikum,” ucap Roland dengan suara yang serak karena masih mengantuk.
“Waalaikumsalam. Roland kamu dimana?”
__ADS_1
“Di Padalarang di rumah Bi Titien.”
“Kalian sampai jam berapa?”
“Jam berapa, ya? Jam sebelas, kayaknya. Udah ah, Roland masih ngantuk mau tidur.”
“Eh….jangan dimatikan teleponnya. Share lokasi dulu!”
“Buat apa? Mamah kan tau rumah Bi Titien.”
“Mamah lupa-lupa inget rumahnya.”
“Iya, nanti Roland share lokasinya.”
“Jangan nanti. Sekarang share lokasinya.”
“Iya-iya. Udah Roland ngantuk, mau tidur lagi.
Assalamualaikum.”
Roland mematikan teleponnya.
“Waalaikumsalam,”
Tak lama kemudian terdengar suara pesan masuk di ponsel Ibu Elly.
Ibu membacanya lalu tersenyum.
Kemudian Ibu Elly menelepon seseorang.
“Assalamualaikum,”
“Waalaikusalam Toriq, ini Tante Elly.”
“Tidak Rafa baik-baik saja. Hanya saja……”
“Hanya saja kenapa, Tante?”
“Tadi malam Annisa diam-diam pulang ke Padalarang.”
“Sendirian, Tante?”
Suara Toriq terdengar cemas.
“Tadinya mau pergi sendiri tapi kepergok sama Roland. Roland antar ke Padalarang.”
“Alhamdullilah,” ucap Toriq dengan lega.
“Sebenarnya ada masalah apa, Tante?”
“Tidak ada masalah apa-apa. Hanya saja kemarin Ibu Delima meminta Annisa menikah denganmu agar bisa menjadi Mamahnya Rafa,”
“Mamah bilang begitu?”
“Iya, sepertinya Annisa tidak bisa terima jadi dia
memutuskan untuk pergi.”
“Mamah senang sekali mengganggu kebahagiaan cucunya. Terus bagaimana dengan Rafa?”
“Rafa bangun-bangun menangis mencari Annisa, tapi sekarang sudah agak tenangan bermain dengan Akinya.”
Pak Supardi sedang membuat kekonyolan untuk menghibur cucunya.
__ADS_1
Toriq diam sebentar.
“Tante, Toriq minta alamat rumah Annisa. Dan tolong Tante siapkan barang-barang Rafa, Toriq akan membawa Rafa ke rumah Annisa.”
“Baik Toriq akan Tante siapkan.”
“Terima kasih Tante. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Ibu Elly mengakhiri pembicaraannya.
“Toriq akan membawa Rafa ke Padalarang,” kata Ibu Elly pada Pak Supardi.
“Ya baguslah,” jawab Pak Supardi.
“Mamah mau siapkan baju-baju Rafa,” kata Ibu Elly kemudian keluar dari kamarnya.
****
Toriq menuruni tangga sambil membawa tas dan tempat duduk bayi. Kemudian ia berhenti di depan kamar orang tuanya, lalu mengetuk pintunya.
“Ya,” jawab Ibu Delima dari dalam.
Ibu Delima membuka pintu.
“Toriq ada apa?”
Namun Ibu Delima bingung melihat Toriq membawa tas dan kursi bayi.
“Toriq kamu mau kemana?”
Ibu Delima memperhatikan Toriq membawa kursi Rafa.
“Toriq kenapa kamu bawa-bawa kursi Rafa? Memang kamu mau kemana?” tanya Ibu Delima bingung.
“Toriq mau bawa Rafa ke Padalang, Mah,” jawab Toriq.
“Ke Padalarang mau ngapain? Kenapa Rafa dibawa ke Padalarang?” tanya Ibu Delima yang masih bingung.
“Mau menyusul Annisa, Annisa tadi malam pulang ke Padalarang,” jawab Toriq.
“Pulang ke Padalarang? Memangnya ada apa di Padalang?’ tanya Ibu Delima yang masih belum juga mengerti.
“Mestinya Mamah yang bertanya pada diri Mamah sendiri, kemarin Mamah sudah ngomong apa ke Annisa,” jawab Toriq.
“Mamah tidak ngomong apa-apa,” kata Ibu Delima.
“Ah…sudahlah, Toriq sudah kesiangan sudah harus berangkat. Dan Mamah harus meminta maaf pada Annisa. Assalamualaikum,” Toriq mencium tangan Ibu Delima.
Pak Syamsul menghampiri anak dan istrinya.
“Toriq kamu mau kemana?” tanya Pak Syamsul melihat membawa tas dan kursi bayi.
“Mau ke Padalarang, Pah. Assalamualaikum,” Toriq mencium tangan Pak Syamsul.
“Waalaikumsalam,” jawab Pak Syamsul.
.
.
Jangan lupa beri dukungannya pada Ibu Untuk Keponakanku, biar ramai.
__ADS_1
Jangan sampai sepi krik-krik padahal pembacanya ribuan.