
“Mamah, tadi ada yang tetok-tetok,” kata Rafa begitu melihat Annisa keluar dari kamar mandi.
“Ada yang ketok-ketok pintu?”
“Iya,” jawab Rafa sambil ngangguk-angguk.
“Coba Mamah lihat dulu,” Annisa membuka kunci pintu kamar dan membuka pintu. Annisa mengedarkan pandangannya ke sekitar kamar Rafa. Annisa melihat petugas catering rumah sakit sedang membagikan makan malam. Annisa menghampiri petugas catering.
“Mbak, tadi ketuk kamar 503 nggak?” tanya Annisa.
“Oh…iya, Bu. Atas nama anak Rafasyah Rilandi, ya?’ tanya petugas catering itu.
“Iya, itu nama anak saya,” jawab Annisa.
Petugas catering memberikan nampan yang berisikan makanan yang lengkap.
“Ini Bu makan malam anak Rafasyah,” kata petugas catering,
Annisa megambil nampan itu.
“Terima kasih, Mbak,” ucap Annisa.
“Sama-sama, Bu.”
Annisa membawa makanan itu ke kamar. Ketika Annisa masuk ke dalam kamar disambut dengan protesan Rafa.
“Mamah dalimana? Rafa cali-cali Mamah,” sahut Rafa.
“Mama habis ngambil makan malam Rafa,” jawab Annisa lalu menaruh nampan di atas nakas dekat tempat tidur Rafa.
“Apa icu, Mamah?” tanya Rafa melihat isi nampan yang disimpan Annisa diatas nakas.
“Makan malam Rafa. Mau makan sekarang?” tawar Annisa.
“Mau Mamah mau,” jawab Rafa sambil mengangguk-angguk kegirangan.
“Duduk yang manis terus baca doa sebelum makan,” ujar Annisa.
Annisa menuntun Rafa membaca doa sebelum makan dan Rafa mengikuti dengan terbata-bata. Setelah selesai membaca doa Annisa mulai menyuapi Rafa.
“Makan sama apa, Mah?” tanya Rafa melihat makannya nampak beda dari tadi siang. Tidak dengan bubur lagi.
“Dengan nasi tim pakai telur dan ayam serta sup baso dan sosis. Rafa suka?” tanya Annisa melihat Rafa makan dengan lahap.
“Cuka Mamah. Lacanya enaaaaakkk deh,” jawab Rafa sambil mengacungkan jempol.
“Alhamdullilah kalau enak. Makannya di habiskan, ya.”
Rafa menjawab dengan anggukan lalu melanjutkan makannya.
Tiba- tiba pintu kamar ada yang membuka. Toriq masuk ke dalam kamar.
“Assalamualaikum,” ucap Toriq.
“Waalaikumsalam,” jawab Annisa.
Toriq menaruh barang bawaanya di atas meja lalu mendekati Annisa dan Rafa.
“Hei boy, lagi apa?” sapa Toriq.
“Lagi mamam,” jawab Rafa.
“Makan dengan apa?” Toriq melihat piring makan Rafa.
“Hm cama….cama…,” Rafa tidak meneruskan jawabannya.
“Cama apa tadi, Mamah?” tanya Rafa ke Annisa.
“Makan dengan nasi tim,” jawab Annisa.
“Iya, cama naci tim ayam dan telul. Telus pake cop cocis dan baco,” kata Rafa.
“Dimakan nggak?” tanya Toriq.
“Dimamam dong, ya Mamah ya,” jawab Rafa.
__ADS_1
“Iya.”
“Rafa makannya banyak, Nis?” tanya Toriq.
“Banyak, Bang. Ini sedikit lagi,” Annisa menunjuk ke piring.
“Good boy,” Toriq ngelus-elus kepala Rafa.
Rafa tersenyum senang.
“Kalau gitu Rafa nggak mau shrimp dumpling, dong,” kata Toriq.
“Apa itu clim damping?” tanya Rafa bingung.
“Pangsit udang,” jawab Toriq.
“Rafa mau, Om,” sahut Rafa.
“Boleh, itu sengaja Om beli buat Rafa,” jawab Toriq.
“Mamah nggak dikacih?” tanya Rafa.
“Dikasih dong. Buat Mamah nasi bento,” jawab Toriq.
“Apa tuh naci bento?” tanya Rafa yang penuh rasa ingin tahu.
“Nanti Rafa lihat sendiri apa itu nasi bento. Sekarang Om mau sholat magrib dulu di masjid,” jawab Toriq.
“Annisa, abang sholat dulu di masjid. Kalau Annisa lapar makan duluan saja. Ada nasi bento di dalam kotak. Terserah Annisa mau pilih yang mana. Kalau pangsit udangnya punya Rafa,” kata Toriq dengan keburu-buru takut keburu qomat.
“Iya, Bang. Annisa juga mau sholat magrib dulu,” Annisa melanjutkan menyuapi Rafa.
Toriq sudah keluar dari kamar Rafa menuju masjid dengan langkah setengah berlari.
Setelah selesai makan Annisa memberikan obat kepada Rafa. Sebelumnya Annisa membukakan dulu botol air mineral kemasan yang diberikan kepada Rafa. Setelah selesai memberi Rafa obat Annisa sholat magrib.
“Mamah sholat dulu, ya. Rafa tunggu di sini,” kata Annisa.
“Iya, Mah,” jawab Rafa.
Annisa ke kamar mandi untuk berwudhu. Setelah wudhu Annisa sholat di sebelah tempat tidur Rafa. Sedangkan Rafa sabar menunggu Annisa sholat. Rafa senang begitu melihat Annisa selesai sholat.
“Kalau sudah malam ada film anak-anak, nggak?” tanya Annisa.
“Rafa nggak tau, Mamah,” jawab Rafa.
“Coba kita lhat, ya,” Annisa memencet remote tv mencari cerita untuk anak-anak.
“Assalamualaikum,” ucap Toriq begitu masuk ke kamar Rafa.
“Waalaikumsalam,” jawab Annisa.
Toriq duduk di sofa.
“Annisa lagi apa?” Toriq melihat Annisa sibuk mencari channel tv.
“Cari film anak untuk Rafa,” jawab Annisa tanpa menoleh.
“Udah simpan remotenya. Makan dulu,” kata Toriq.
“Iya, Bang sebentar,” Annisa masih saja sibuk dengan remote tv.
“Nah ketemu. Rafa mau nonton film ini?” Annisa menunjuk ke arah tv.
“Mau Mamah,” Rafa manggut-manggut kesenengan.
“Mamah makan dulu, ya,” kata Annisa sambil mengusap rambut Rafa.
“Iya, Mamah,” Rafa terlihat anteng menonton film anak.
Annisa duduk di sofa di sebelah Toriq. Toriq mengeluarkan kotak nasi bento yang satu diberikan ke Annisa dan satu lagi untuk dirinya sendiri.
“Terima kasih, Bang,” ucap Annisa.
“Makan yang banyak. Kamu kecapean menunggu Rafa di rumah sakit. Jadi butuh asupan gizi yang banyak,” ujar Toriq.
__ADS_1
“Iya, Bang,” Annisa memakan nasi bento bersama dengan Toriq.
“Abang tidak praktek?” tanya Annisa.
“Nanti jam tujuh. Lagi pula tempat prakteknya dekat dari sini,” jawab Toriq sambil mengunyah nasi bento.
“Berarti pulangnya malam, ya Bang?” Annisa bertanya lagi.
“Tergantung pasiennya. Kalau sedang banyak pasien bisa sampai tengah malam,” jawab Toriq lalu menyuap nasi bentonya.
“Tengah malam, Bang? Abang pulangnya nggak takut sama begal?” tanya Annisa.
“Mau bagaimana lagi, Annisa? Namanya tuntutan profesi,” jawab Toriq.
“Mestinya Abang harus membatasi jumlah pasien,” kata Annisa.
“Begitu, ya? Nanti Abang bilang ke suster untuk membatasi jumlah pasien,” ujar Toriq.
“Bukannya Annisa ikut mengatur. Tapi demi kesehatan dan keselamatan Abang sendiri,” nasehat Annisa.
“Iya adikku yang bawel. Habiskan makanannya kalau kelamaan nanti jadi tidak enak,” sahut Toriq.
Annisa melanjutkan makannya. Toriq telah selesai makannya lalu meneguk minuman kemasan yang dibawanya.
“Alhamdullilahirobbilalamin,” ucap Toriq setelah selesai minum.
“Abang berangkat ke tempat praktek, ya,” pamit Toriq lalu berdiri.
“Iya, Bang. Hati-hati di jalan,” Annisa ikut berdiri.
Toriq menghampiri Rafa yang sedang asyik menonton tv.
“Rafa, Om pergi kerja dulu, ya,” kata Toriq sambil mengulurkan tangannya ke Rafa.
Rafa mencium tangan Toriq.
“Assalamualaikum,” ucap Toriq.
“Walaicumcalam,” jawab Rafa.
Toriq menghampiri Annisa.
“Abang pergi, ya. Langsung dikunci pintunya!” kata Toriq.
“Ya, Bang.”
“Assalamualaikum,” ucap Toriq lalu berjalan menuju pintu.
“Waalaikumsalam,” jawab Annisa mengikuti Toriq dari belakang.
Setelah Toriq pergi Annisa langsung mengunci pintu kamar sesuai dengan perintah Toriq. Barulah Annisa melanjutkan makan malam. Rafa menoleh ke Annisa.
“Mamah mamam apa?” tanya Rafa.
“Makan nasi bento.”
“Nanti kalau Rafa cudah cembuh, Rafa juga mau naci bento cepelti Mamah mamam,” ujar Rafa.
“Iya nanti kalau Rafa sudah sembuh Mamah belikan nasi bento,” jawab Annisa.
“Rafa mau mamam lagi cama pangcit udang.”
“Iya nanti ya. Kalau Mamah sudah selesai makan,” jawab Annisa.
“Iya,” Rafa sabar menunggu hingga Annisa selesai makan.
.
.
.
Hai readers, seperti biasa Deche mau promo novel.
Kali ini Deche promo novel author Gupita yang berjudul I’m a Night Butterfly.
__ADS_1
Mampir, ya. Jangan lupa like dan komentarnya, ya.