
Selama Rafa menginap di rumah Ibu Elly, Annisa benar-benar mengurus Rafa dengan baik. Sebenarnya Annisa merasa cape seharian harus mengurus dan mengasuh Rafa. Tapi karena ada rasa kasihan di hati Annisa melihat Rafa yang hanya sebentar merasakan kasih sayang orang tuanya, rasa cape pada dirinya
ia lawan demi melihat senyum bahagia di wajah batita itu.
Hari ini hari terakhir Rafa menginap di Ibu Elly. Seperti biasa setelah selesai sholat subuh Annisa langsung turun ke dapur. Hari ini Annisa bukan hanya membuatkan sarapan untuk Rafa tapi Annisa juga akan membuatkan makan siang untuk Rafa, agar batita tidak merasa kehilangan Annisa.
Hari ini Annisa membuatkan orak-arik telur dengan sayuran untuk sarapan Rafa dan sop ayam untuk menu makan siang Rafa. Sedangkan untuk sarapan pagi Roland, Annisa membuatkan sandwich yang berisi telor, keju dan sayuran. Annisa harus memasak dengan cepat karena ia harus ikut test ujian masuk jam 9.00. Jam 6.00 sarapan pagi untuk Rafa dan Roland sudah siap. Sedangkan untuk sarapan Ibu Elly dan Pak Supardi, Bi Minah yang membuatkan. Dengan tergesah-gesah Annisa berjalan menuju kamar tidurnya. Ia takut Rafa sudah bangun, tapi ternyata batita itu masih terlelap tidur. Tanpa membuang waktu Annisa mandi terlebih dahulu. Ketika keluar dari kamar mandi ia melihat Rafa sudah bangun tidur.
“Selamat pagi anak sholeh,” sapa Annisa sambil menghampiri Rafa yang masing tidur-tiduran di atas tempat tidur.
“Kita mandi dulu, ya,” ajak Annisa.
Dengan masih mengantuk Rafa bangun lalu turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Annisa mengikutinya dari belakang lalu membukakan baju Rafa.
“Mau pipis,” kata Rafa sambil memegang bagian bawah perutnya ketika baju dan pospaknya dibuka.
“Ayo cepat-cepat masuk kamar mandi, nanti keburu keluar pipisnya,” kata Annisa menyuruh Rafa untuk segera masuk ke dalam kamar mandi.
Rafa menurut dengan cepat-cepat ia masuk ke dalam kamar mandi. Setelah pipis dan mandi Annisa membawa Rafa keluar dari kamar mandi. Annisa mengeringkan badan Rafa, mengolesi badan Rafa dengan kayu putih dan
bedak. Setelah itu barulah Annisa memakaikan Rafa baju. Setelah Rafa rapih Annisa mengajak Rafa berbicara.
“Rafa dengarkan Mamah mau ngomong,” kata Annisa sambil memandangi wajah Rafa.
“Hari ini Mamah harus ke sekolah. Rafa boleh ngantar Mamah ke sekolah sama Enin, tapi nggak boleh ikut masuk. Rafa sama Enin tunggu Mamah di rumah Nenek.”
“Mamah mau cekolah?” tanya Rafa.
“Iya, Mamah mau sekolah,” jawab Annisa.
“Rafa juga mau cekolah kayak Mamah,” kata Rafa dengan merajuk.
“Nanti kalau Rafa sudah besar, Rafa sekolah seperti Mamah,” jawab Annisa.
“Hore….Rafa cekolah sepelti Mamah,” kata Rafa girang sambil loncat-loncatan dari tempat tidur.
“Ayo Rafa kita sarapan dulu,” ajak Annisa menyudahi Rafa yang sedang loncat-loncat.
“Gendong,” kata Rafa sambil mengangkat kedua lengannya.
Annisa langsung menggendong Rafa dan membawa keluar dari kamar.
Di ruang makan nampak Ibu Elly, Pak Supardi dan Roland sedang menikmati sarapan.
Annisa menduduki Rafa di sebelah Ibu Elly.
“Eh….cucu Enin sudah mandi,” sapa Ibu Elly.
“Mau ikut Mamah cekolah,” celoteh Rafa.
__ADS_1
“Oh… mau antar Mamah sekolah,” kata Ibu Elly.
“Test jam berapa, Nis?” tanya Roland.
“Jam 9.00, A,” jawab Annisa sambil menyuapi Rafa.
“Aa antar, ya,” kata Roland yang sedang menikmati sarapannya.
“Kamu mandi aja belum, mau antar Annisa test,” kata Ibu Elly.
“Gampang, Mah. Mandi 5 menit juga beres,” jawab Roland.
“Ya sudah, kalau begitu cepat sarapannya. Terus mandi. Nanti Annisa kesiangan,” seru Ibu Elly.
“Tenang, Mah. Annisa juga belum mandi,” kata Roland dengan santai sambil menikmati sarapannya.
“Annisa sudah mandi,” jawab Annisa sambil mengolesi rotinya dengan selai coklat.
“Tuh. Annisa sudah mandi, kamu yang belum mandi,” seru Ibu Elly.
“Tenang aja perempuan kalau dandan suka lama,” kata Roland.
“Nanti setelah antar Annisa, antar Mamah dan Rafa ke rumah Nenek Rafa,” kata Ibu Elly sambil menyantap sarapannya.
Roland melirik ke arah Rafa, batita itu nampak tenang mengunyah makanannya.
Roland merapatkan tubuhnya ke Annisa.
Annisa memandang Rafa yang duduk di sebelahnya. Lalu diusap-usap kepalanya.
“Mudah-mudahan nggak, A,” jawab Annisa.
“Ya sudah, pokoknya Aa sudah kasih tau,” kata Roland.
“Mau bagaimana lagi Aa, Neneknya pasti kangen sama Rafa,” jawab Annisa.
Setelah selesai sarapan Annisa cepat-cepat ganti baju. Untung Rafa sedang anteng nonton film kartun ditemani Pak Supardi, sehingga Annisa bisa ganti baju dan dandan yang rapih. Setelah ganti baju dan dandan, Annisa menyiapkan makan siang untuk Rafa yang akan dibawa ke rumah Neneknya.
“Rafa, Mamah bawakan bekal makan siang. Nanti Rafa makan bekalnya sampai habis, ya,” kata Annisa sambil memakaikan Rafa kaos kaki dan sepatu.
“Iya, Mamah,” jawab Rafa.
Ibu Elly memperhatikan betapa nurutnya Rafa kepada Annisa. Apa yang Annisa katakan pasti diikuti oleh Rafa.
“Sudah siap, Nis?” tanya Ibu Elly melihat Annisa yang sedang memakaikan Rafa sepatu.
“Sudah, Ua,” jawab Annisa.
“Nggak ada yang tertinggal? Coba dicek lagi,” tanya Ibu Elly.
__ADS_1
“Sudah semuanya, Ua,” jawab Annisa sambil mengambil tas yang berisikan makan siang Rafa.
“Itu apa, Nis?” tanya Ibu Elly menunjuk ke goody bag yang dibawa Annisa.
“Oh…. ini bekal makan siang Rafa,” jawab Annisa.
“Oh……”
“Roland mana?” tanya Ibu Elly sambil mencari Roland di sekitar ruang keluarga dan ruang makan.
“Roland sudah siap dari tadi, Mah. Dia sedang manasin mobil,” jawab Pak Supardi.
“Oh ya sudah, kita berangkat sekarang,” kata Ibu Elly.
“Pah, Mamah antar Annisa dulu, ya. Assalamualaikum,” pamit Ibu Elly sambil mencium tangan Pak Supardi.
“Waalaikumsalam.”
“Ua, Annisa pergi dulu. Assalamualaikum,” pamit Annisa lalu mencium tangan Pak Supardi.
“Waalaikumsalam.”
“Rafa, pamit dulu sama Aki,” kata Annisa.
Rafa mencium tangan Pak Supardi.
“Rafa bilang apa? Assa-lam-mualai-kum,” ucap Annisa.
“Acalamualaicum,” kata Rafa.
“Waalaikumsalam,” jawab Pak Supardi.
Annisa menuntun Rafa keluar dari rumah Ibu Elly menuju ke mobil Roland. Ketika Annisa membuka pintu depan terlihat Ibu Elly sudah duduk di bangku belakang.
“Rafa mau duduk sama siapa? Sama Mamah atau sama Enin?” tanya Annisa ke Rafa.
“Mau duduk cama Mamah,” jawab Rafa.
Lalu Annisa menggendong Rafa dan duduk di sebelah Roland.
“Udah siap semuanya?” tanya Roland yang sudah siap dengan memakai kaca mata hitamnya.
“Sudah,” jawab Annisa.
“Oke let’s go!” seru Roland lalu menjalankan mobilnya.
Mobil Roland melaju di jalan raya. Jalanan lumayan cukup padat, karena mereka berbarengan dengan orang-orang yang berangkat ke kantor.
Rafa yang berada di pangkuan Annisa mulai mengantuk, mungkin Rafa merasa seperti diayun-ayun.
__ADS_1
Sepanjang jalan Annisa mengusap-usap kepala Rafa. Roland yang sedang fokus menyetir sambil sesekali melirik ke samping. Dilihatnya Rafa sudah tidur.