Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
21. Annisa Datang.


__ADS_3

Tak lama kemudian seorang suster datang membawa obat dan cairan infus.


“Hallo Rafa, kita pasang infus dulu,” sapa suster itu dengan ramah.


Rafa melihat ke suster itu.


“Cacit nggak, custel?” tanya Rafa dengan lemah.


“Sakit sedikit seperti digigit semut,” jawab suster lalu mendekati Rafa dan menyimpan infus dan obat-obat untuk Rafa diatas nakas.


Suster memegang tangan kecil Rafa.


“Suster pinjam dulu, ya tangannya,” kata suster sambil mencari titik untuk memasang jarum infus.


“Rafa belum pelnah di gigit cemut, custel,” kata Rafa sambil memperhatikan suster yang sedang meraba-raba tangannya.


“Oh….Rafa belum pernah di gigit semut? Kalau digigit semut rasanya seperti dicubit,” suster membuka jarum infus.


“Rafa nggak mau kalau cacit. Rafa mau ke Mamah saja. Mamah….Rafa mau ke Mamah…..,” Rafa menangis lalu menarik tangannya. Rafa memegang erat tangannya.


“Rafa, tenang Rafa. Rafa harus diinfus biar cepat sembuh,” bujuk Toriq.


“Nggak mau! Rafa mau cama Mamah,” seru Rafa sambil menangis.


“Rafa…..”, seseorang memanggil Rafa.


Rafa mendengar seseorang memanggil namanya. Suaranya seperti ia kenal. Rafa berhenti menangis.


Rafa menoleh ke ujung tempat tidurnya. Seorang wanita muda sedang tersenyum padanya.


“Mamah…….,” seru Rafa.


“Mamah dali mana? Rafa cali-cali Mamah,” Rafa menangis.


Perempuan muda itu ternyata Annisa yang datang bersama dengan Ibu Elly dan Roland. Annisa  mendekati Rafa.


“Rafa kenapa menangis?” tanya Annisa sambil mengusap kepala Rafa.


“Rafa nggak mau dicuntik!” seru Rafa mengadu kepada Annisa.


“Bukan disuntik Rafa, tapi diinfus,” sahut Toriq yang berdiri di belakang Annisa.


“Kata custel cakit cepelti dicubit. Rafa nggak mau Mamah,” Rafa merengek.


Annisa mengusap-usap kepala Rafa.


“Rafa, dengarkan Mamah. Rafa lagi sakit, supaya cepat sembuh Rafa harus diinfus,” kata Annisa sambil mengusap-usap kepala Rafa.


“Cacit Mamah,” rengek Rafa.


“Nanti yang sakitnya Mamah usap-usap sambil ditiup biar nggak sakit lagi,” Annisa mencoba membujuk Rafa.


“Benel diucap-ucap?” tanya Rafa yang memandang wajah Annisa.


“Iya, yang sakitnya Mamah usap-usap sambil ditiup-tiup,” kata Annisa sekali lagi.


Rafa memberikan tangan yang tadi dipegangnya ke suster.


“Ini custel,” kata Rafa.


Suster tersenyum lalu memegang tangan Rafa. Dengan cepat suster memasang jarum infus.


Rafa menahan rasa sakit.


“Cacit, Mamah,” bisik Rafa sambil meringis kesakitan.


“Sabar, ya sayang,” Annisa terus mengusap kepala Rafa agar batita itu tenang.


Toriq memperhatikan Rafa dan Annisa. Rafa begitu manja dan menurut pada Annisa. Annisa juga memperlakukan Rafa dengan penuh kasih sayang.


Tak lama kemudian suster telah selesai memasangkan infus pada Rafa.

__ADS_1


“Udah selesai pasang infusnya. Nggak sakit, kan?” kata suster.


“Cacit custel,” jawab Rafa.


Suster tersenyum mendengar ucapan Rafa.


“Ibu, ini obat yang harus diminum Rafa,” suster memberikan obat Rafa kepada Annisa.


“Terima kasih, suster,” ucap Annisa setelah menerima obat pemberian suster.


“Sama-sama, Bu. Saya permisi dulu,” suster pamit.


Kemudian susterpun pergi.


Ibu Elly mendekati Rafa.


“Ah….cucu Enin pinter, nggak nangis, ya,” Ibu Elly memuji Rafa.


“Mamah, Rafa lapar,” rengek Rafa.


“Lapar? Ini Mamah bawakan Rafa bubur,” kata Annisa sambil membuka goody bag yang dipegangnya.


“Rafa nggak mau bubur, mau naci oleng,” kata Rafa.


Annisa menoleh ke arah Toriq.


“Bang, memang Rafa boleh makan nasi goreng?” tanya Annisa.


“Belum boleh, nanti kalau panasnya sudah turun baru boleh,” jawab Toriq.


“Kata Om Toriq belum boleh, nanti kalau sudah sembuh baru boleh makan nasi goreng,” kata Annisa.


“Iya deh,” kata Rafa dengan muka yang memelas.


“Tapi mamamnya cuapin cama Mamah,” kata Rafa lagi.


“iya sayang , nanti Mamah suapin,” jawab Annisa.


“Annisa, saya titip Rafa. Saya ditunggu pasien. Nanti sekalian saya pesankan kamar inap untuk Rafa. Saya minta nomor ponsel kamu biar gampang saya menghubungi kamu,” kata Toriq lalu menyodorkan ponselnya ke Annisa.


Dengan ragu-ragu Annisa mengambil ponsel Toriq, lalu diketik nomor ponsel miliknya. Setelah itu dikembalikan ke Toriq.


“Terima kasih,” ucap Toriq.


“Tante, Toriq permisi dulu, pasien sudah menunggu,” pamit Toriq ke Ibu Elly.


“Ya, Toriq,” jawab Ibu Elly.


“Roland, Abang duluan,” pamit Toriq.


“Iya, Bang,” jawab Roland.


Lalu Toriq meninggalkan bangsal tempat Rafa, baru beberapa langkah Toriq pergi Annisa memanggilnya.


“Abang Toriq.”


Toriq menghentikan langkahnya lalu berbalik.


“Abang sudah sarapan?” tanya Annisa.


“Belum,” Toriq menggelengkan kepala.


Annisa mengambil satu goody bag yang tadi dibawanya.


“Ini sarapan untuk Abang. Tapi jangan dicela kalau tidak enak,” kata Annisa sambil memberikan goody bag kepada Toriq.


Toriq memandang goody bag yang di sodorkan Annisa.


“Terima kasih Annisa,” ucap Toriq lalu mengambil goody bag di sodorkan oleh Annisa.


“Sama-sama,Bang.”

__ADS_1


Lalu Toriq melanjutkan langkahnya keluar dari UGD anak.


Di depad pintu Toriq berpas-pasan dengan Mamahnya, Ibu Delima.


“Mau kemana, Toriq?” tanya Ibu Delima.


“Mau kerja dulu, Mah. Ditunggu pasien. Assalamualaikum,” Toriq melanjutkan langkahnya.


“Waalaikumsalam,” Ibu Delima melihat putranya yang pergi keluar dari ruang UGD.


Setelah itu barulah ia masuk ke dalam ruang UGD anak.


“Assalamualaikum,” Ibu Delima mengucap salam ketika sampai di bangsal tempat Rafa.


“Waalaikumsalam,” jawab semua yang ada di bangsal Rafa.


“Sudah lama Enin?” tanya Ibu Delima sambil cipika-cipiki dengan Ibu Delima.


“Belum lama, Nek,” jawab Ibu Elly.


Roland mencium tangan Ibu Delima.


“Eh…Roland. Nggak kuliah?” sapa Ibu Delima.


“Sudah libur, Tante,” jawab Roland.


Ibu Delima menghampiri Annisa yang sedang menyuapi Rafa.


“Rafa mau makan?” tanya Ibu Delima.


“Sedikit-sedikit, Tante,” jawab Annisa sambil menyuapi Rafa dengan telaten.


Batita itu makan dengan pelan-pelan.


“Sudah pesan kamar rawat inap untuk Rafa?” tanya Ibu Delima kepada Annisa.


“Tadi Abang Toriq yang mau memesankan,” jawab Annisa.


Tak lama kemudian datang suster.


“Ibu, Rafa sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap,” kata suster.


“Sebentar, Sus. Rafa makan dulu,” jawab Annisa.


“Oh...baiklah, nanti kalau sudah selesai makan  beritahu saya,” kata suster.


“Iya, Sus,” jawab Annisa lalu melanjutkan menyuapi Rafa.


Ibu Delima memperhatikan Annisa dengan telaten menyuapi Rafa.


Hingga akhirnya bubur yang dimakan Rafa habis.


“Alhamdullilah habis makanya. Rafa pintar makannya,” puji Annisa.


Rafa tertawa sambil bertepuk tangan.


“Sekarang diminum dulu obatnya,” kata Annisa.


Annisa memberikan tumbler yang berisi air bening, lalu Rafa minum. Annisa membaca petunjuk obat Rafa satu persatu.


“Itu obat Rafa?” tanya Rafa melihat obat yang dipegang Annisa.


“Iya,” jawab Annisa sambil mengocok botol obat lalu dituangkan ke sendok obat yang sebelumnya telah Annisa siram dengan air panas.


“A..,” Annisa menyuapi Rafa obat. Batita itu membuka mulutnya dan memakan obat yang Annisa suap. Setelah itu Rafa meneguk air di tumblernya.


Annisa mengocok obat yang lain lalu menuangkan obat tersebut ke sendok.


“A lagi Rafa. Ini vitamin jadi rasanya manis,” kata Annisa.


Rafa menurut lalu membuka mulutnya dan memakan vitaminnya.

__ADS_1


“Manis…Mamah,” puji Rafa lalu meminum air dari tumbler.


__ADS_2