Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
50. Menginap di Rumah Annisa.


__ADS_3

Mohon maaf, karena kemarin ada pemadaman listrik yang cukup lama di rumah Deche sehingga Deche tidak bisa up Ibu Untuk Keponakanku.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Setelah sholat ashar Ibu Elly, Ibu Delima, Pak Syamsul dan Pak Supardi pamit pulang ke Jakarta. Sedangkan Roland ketika diajak pulang oleh Ibu Elly, ia menolak untuk pulang dengan alasan ia mau berlibur di Padalang.


“Nanti kamu ngerepotin Bi Titien,” kata Ibu Elly.


“Sekali-kali atuh Ceu, Roland berlibur di sini. Biar rumah jadi tambah rame,” ujar IbunTitien.


“Iya, tapi saya jadi kesepian, karena Roland, Annisa dan Rafa semuanya di sini,” kata Ibu Elly.


“Mamah sama Papah bulan madu lagi aja,” sahut Roland.


“Bulan madu- bulan madu. Sudah tua masih bulan madu aja,” seru Ibu Elly.


“Ya sudah kalau kamu mau liburan di sini. Tapi ingat jangan ngerepotin Bi Titien. Bantuin Bi Titien beresin rumah! Jangan tidur saja seharian!” pesan Ibu Elly kepada Roland.


“Siap, Bu Bos,” jawab Roland.


Lalu Ibu Elly membuka tasnya dan mengambil beberapa lembar uang seratus ribu rupiah dari dompetnya dan kemudian diberikan kepada Ibu Titien.


“Tien, ini buat nambah uang belanja. Sekarangkan lagi banyak yang menginap di sini ada Rafa, Roland dan Toriq. Terlebih anak saya Roland makannya banyak,” kata Ibu Elly sambil memberikan uang sebesar 1 juta rupiah.


“Padahal mah tidak usah, Ceu Elly. Kalau untuk makan saya ada,” tolak Ibu Titien.


“Lumayan buat nambah-nambah beli sembako,” jawab Ibu Elly sambil memaksa agar Ibu Titien menerima uang pemberiannya.


“Sudah, ya Titien Ceu Elly pulang dulu. Titip anak-anak, ya. Assalamualaikum,” ucap Ibu Elly.


“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Titien.


Ibu Elly, Pak Supardi beserta besan mereka pergi meninggalkan rumah Ibu Titien.


Setelah tamunya pulang Pak Ernawan pergi keluar rumah.


“Bapak mau kemana?” tanya Ibu Titien.


“Bapak mau ke rumah Pak Didin. Mau ijin numpang parkir mobil Nak Toriq di rumah Pak Didin,” jawab Pak Ernawan.


“Oh, Mamah kirain Bapak mau kemana,” ujar Ibu Titien.


Kemudian Pak Ernawanpun pergi menuju ke rumah tetangga yang berada di sebelah rumahnya. Tak lama kemudian Pak Ernawanpun kembali.


“Nak Toriq, pindahkan mobilnya ke rumah Pak Didin,” kata Pak Ernawan pada Toriq.


“Baik, Om,” jawab Toriq.

__ADS_1


Kemudian Toriq keluar menuju ke mobilnya. Pak Ernawan menunggu Toriq di depan rumah Pak Didin. Dengan sigap Toriq memajukan mobilnya menuju ke rumah Pak Didin. Ketika Toriq memasukkan mobilnya ke halaman rumah Pak Didin, Toriq melihat seorang pria paruh baya dan seorang pemuda sepertinya Toriq pernah melihatnya.


Arya, bisik Toriq dalam hati.


Jadi ini rumah Arya.


Setelah Toriq memarkirkan mobilnya di halaman rumah Pak Didin, Toriq turun dari mobil dan menghampiri Pak Ernawan yang sedang berbincang dengan dengan Pak Didin dan Arya.


“Nak Toriq ini Pak Didin pemilik rumah ini. Dan ini putranya Arya,” kata Pak Ernawan pada Toriq.


Toriq menyalami Pak Didin dan Arya.


“Toriq ini kerabat kami dari Jakarta. Dia dokter spesialis bedah saraf di rumah sakit swasta di Jakarta,” Pak Ernawan memperkenalkan Toriq kepada Pak Didin dan Arya.


“Wah hebat, Pak Ernawan memiliki kerabat dokter spesialis,” puji Pak Didin.


“Dinas di rumah sakit mana Nak Toriq?” tanya Pak Didin pada Toriq.


“Di rumah sakit MMM, Om,” jawab Toriq.


“Wah hebat, itu sih rumah sakit mahal,” kata Pak Didin.


“Pasti gajinya besar, ya?” tanya Pak Didin.


“Nggak kok Om, biasa saja,” jawab Toriq merendah.


“Iya, Om,” jawab Toriq.


“Dimana?” tanya Pak Didin.


“Di apotek S di dekat rumah sakit MMM,” jawab Toriq.


“Waduh Pak Ernawan, kalau saja anak saya Ranti sudah besar pasti saya akan meminta Ranti jodohkan dengan Nak Toriq,” kata Pak Didin.


Pak Ernawan hanya tersenyum.


“Sudah punya calon istri, belum?” tanya Pak Didin.


“Belum, Om. Baru pendekatan,” jawab Toriq.


Tiba-tiba terdengar suara Rafa dari teras rumah yang memanggil Toriq.


“Om Toyik,…..dipanggil Mamah,” teriak Rafa.


Toriq menoleh ke arah Rafa.


“Ya sebentar, Rafa,” jawab Toriq.

__ADS_1


“Om saya permisi dulu,” pamit Toriq kepada Pak Didin.


“Oh…silahkan Nak Toriq,” jawab Pak Didin.


Toriq meninggalkan halaman rumah Pak Didin dan kembali ke rumah Annisa.


Toriq menghampiri Annisa.


“Annisa manggil, Abang?” tanya Toriq.


“Mau mandi, nggak? Kalau mau mandi Annisa buatkan air panas,” jawab Annisa yang sedang sibuk memasak di dapur.


“Rafa sudah mandi belum?” Toriq malah balik bertanya.


“Belum, Rafa mandinya nanti setelah Annisa selesai masak,” jawab Annisa sambil menggoreng tempe.


“Ya sudah, Abang mandi duluan,” kata Toriq.


“Annisa buatkan air panasnya, mumpung kompor yang satu lagi nggak dipakai,” kata Annisa sambil sibuk memasak.


“Masak apa, Nis?” tanya Toriq sambil memperhatikan Annisa sibuk memasak.


“Goreng tempe sama sambal. Makan malamnya seadanya aja ya, Bang,” kata Annisa.


“Iya, nggak apa-apa,” jawab Toriq.


Annisa mengisi panci dengan air untuk membuatkan air panas untuk mandi Toriq.


“Nunggunya di dalam jangan di sini. Nanti kalau airnya sudah mendidih, Annisa panggil abang,” sahut Annisa.


“Iya,” jawab Toriq lalu berbalik menuju ke ruang tengah.


Toriq berpas-pasan dengan Roland yang baru keluar dari kamar mandi. Roland memeluk ke dua tangannya sambil menggigil.


“Dingin banget, ya airnya?” tanya Toriq pada Roland.


“Lumayan seger,” jawab Roland sambil menggigil kedinginan.


“Kamu mandinya nggak pakai air panas?” tanya Toriq curiga.


“Nggak, Bang. Enak seger,” jawab Rolang lalu berjalan menuju ke kamar Umar.


.


.


Tetap membaca Ibu Untuk Keponakanku dan beri dukungannya.

__ADS_1


__ADS_2