Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
32. Rafa Lapar.


__ADS_3

Pukul empat sore Toriq datang kembali ke kamar Rafa. Kali ini ia membawa tas ransel yang berada di punggungnya.


“Assalamualaikum,” ucap Toriq ketika membuka pintu kamar.


“Waalaikumsalam,” jawab Annisa yang sedang memakaikan Rafa baju.


“Hei, boy udah mandi?” tanya Toriq sambil menyimpan tas ranselnya di atas sofa.


“Udah, mau nonton pilem kaltun,” jawab Rafa kepada Toriq.


“Abang mau mandi?” tanya Annisa sambil menyisir rambut Rafa.


“Nanti lagi mandinya, Abang masih cape,” jawab Toriq kepada Annisa.


“Kalau begitu titip Rafa, ya? Annisa mau mandi,” kata Annisa kepada Toriq.


“Ya,” jawab Toriq sambil duduk di sofa.


Annisa mengambil baju ganti dan langsung ke kamar mandi. Sedangkan Rafa duduk di sebelah Toriq sambil menonton tv.


Setelah lima belas menit kemudian Annisa keluar dari kamar mandi. Setelah menyimpan baju kotor ke kantong plastik Annisa langsung menggelarkan sajadahnya dan memakai mukenah untuk sholat Ashar. Melihat Annisa sedang sholat Toriq mengecilkan suara tv.


“Napa dikecilin cuala tipinya? Rafa ndak kedengelan,” Rafa protes.


“Sssttt Mamah lagi sholat. Nanti keganggu sholat gara-gara suara tv,” ujar Toriq kepada Rafa sambil menaruh jari telunjuknya di bibir.


“Mamah lagi colat? Nggak boyeh bricik?” tanya Rafa dengan polos.


“Iya,” jawab Toriq.


Tak lama kemudian Annisa selesai sholatnya.


“Mamah sudah selesai sholat, Rafa nontonnya sama Mamah. Om mau mandi,” kata Toriq sambil membawa baju ganti ke kamar mandi.


Annisa menghampiri Rafa yang sedang menonton di sofa.


“Mamah, Rafa mau uweh,” kata Rafa begitu Annisa duduk di sebelahnya.


“Jangan makan kue dulu. Harus makan nasi dulu,” kata Annisa ke Rafa.


“Tapi Rafa udah lapel,” kata Rafa dengan manja.


“Sabar, ya sayang. Sebentar lagi makanannya datang,” kata Annisa dengan sabar.


Tak lama kemudian Toriq keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kaos dan celana pendek selutut.


“Kenapa Rafa?” tanya Toriq melihat Rafa yang sedang dipeluk Annisa.


“Lapar, Bang. Makanannya belum datang, jadi merengek minta kue,” jawab Annisa yang sedang mengusap-usap kepala Rafa.


“Sabar, sebentar lagi datang,” kata Toriq kepada Rafa.


“Abang pinjam sisir, Nis. Abang lupa bawa sisir,” kata Toriq.


“Ada di tas Annisa,” jawab Annisa.


Toriq mengambil tas Annisa, lalu diberikan kepada Annisa.


“Mamah cali apa?” tanya Rafa melihat Annisa membuka tasnya.


“Cari sisir. Om mau pinjam sisir,” jawab Annisa sambil merogoh isi tasnya.


Akhirnya Annisa menemukan sisirnya.


“Ini, Bang,” Annisa memberikan sisir.


Toriq mengambil sisir dan tas Annisa. Tas Annisa disimpan kembali ke tempatnya. Lalu Toriq menyisir rambutnya. Setelah selesai menyisir rambut Toriq duduk di sofa bersama Annisa.


Tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar, seorang pegawai catering rumah sakit datang dengan membawa makan sore untuk Rafa.


“Alhamdullilah makanannya sudah datang,” ucap Annisa.


“Mbak simpan di sini saja,” kata Annisa sambil menunjukkan meja di depannya.


Pegawai catering itu menyimpan makanan di meja.


“Terima kasih, Mbak,” ucap Annisa kepada pegawai catering.


“Sama-sama, Bu,” ucap pegawai catering.

__ADS_1


Rafa langsung bangun dari pelukan Annisa. Ia melihat makanan yang berada di atas meja.


“Mau mamam,” kata Rafa kepada Annisa.


“Iya, Rafa duduk dulu yang manis,” kata Annisa kepada Rafa.


Rafa turun dari pangkuan Annisa lalu duduk di sebelah Annisa.


Annisa membuka plastik-plastik yang menutupi makanan Rafa. Ia mengambil lauk pauk ke piring nasi.


“Ayo baca doa dulu,” kata Annisa kepada Rafa.


Dengan terbata-bata Rafa membaca doa sebelum makan. Toriq mendengar Rafa membaca doa sebelum makan.


“Pinter baca doanya. Siapa yang ngajarin?” tanya Toriq ke Rafa.


“Mamah,” jawab Rafa.


Kemudian Rafa makan sambil nonton film anak-anak. Dengan sabar dan telaten Annisa menyuapi Rafa hingga makanannya habis.


“Kalau sudah selesai makan ucapkan apa?” tanya Annisa kepada Rafa.


“Alhamdullilah,” ucap Rafa.


“Cekalang mamam uweh,” ujar Rafa.


Annisa menoleh ke Rafa.


“Nanti kekenyangan perutmya,” kata Annisa.


“Rafa macih lapal,” kata Rafa dengan wajah memelas dan memegang perutnya.


Annisa tersenyum melihat wajah Rafa yang memelas.


“Boleh, sayang. Tapi makannya satu potong dulu, ya?” kata Annisa.


Wajah Rafa langsung berubah menjadi senang.


“Iya,” jawab Rafa.


“Abang juga mau?” tanya Annisa kepada Toriq.


“Mau apa?” Toriq malah balik bertanya.


“Abang mau kue nggak?’ tanya Annisa sekali lagi.


“Mau dong,” jawab Toriq lalu kembali fokus ke ponselnya.


Annisa kemudian berdiri dan mengambil kue di nakas. Lalu mengambil tempat makan yang kosong beserta dengan sendok, Annisa memasukkan sepotong kue ke tempat makan dan diberikan ke Rafa.


“Ma acih, Mamah,” ucap Rafa.


“Sama-sama Rafa,” jawab Annisa.


Lalu memasukkan sepotong kue lagi ke dalam tempat makan dan diberikan kepada Toriq.


“Ini Bang kuenya,” kata Annisa kemudian diletakkannya kue itu di meja.


Toriq mengalihkan pandangannya dari ponselnya dan melirik kue yang di letakkan oleh Annisa di atas meja.


“Terima kasih, Nis,” ucap Toriq lalu meletakkan ponselnya ke atas meja, lalu mengambil kue yang diberikan oleh Annisa.


“Sama-sama, Bang,” jawab Annisa.


Toriq memakan kuenya sambil memperhatikan Rafa yang makan kuenya sendiri. Dengan telaten Annisa mengelap wajah Rafa yang belepotan kue.


“Ajih,” kata Rafa sambil menyodorkan tempat makan yang sudah kosong.


“Satu potong lagi aja, ya. Nanti sakit perut kalau kebanyakan,” kata Annisa kepada Rafa.


“Iya,” jawab Rafa sambil mengangguk-angguk kesenangan.


Annisa memberikan lagi sepotong kue ke Rafa. Batita itu langsung melahap kuenya.


Toriq menyimpan tempat makannya di meja. Kue yang diberi oleh Annisa sudah habis di makan.


“Mau tambah lagi, Bang?” tanya Annisa.


“Tidak, terima kasih,” jawab Toriq.

__ADS_1


“Annisa mau makan malam dengan apa?” tanya Toriq.


“Terserah abang saja,” jawab Annisa.


“Bagaimana kalau tongseng dan sate?” tanya Toriq kepada Annisa.


“Boleh,” jawab Annisa.


“Nanti Abang belikan setelah pulang dari masjid,” kata Toriq kepada Annisa.


“Rafa duda mau cate,” kata Rafa.


“Astaga Rafa, perut kamu kecil tapi kenapa makannya banyak?” tanya Annisa ke Rafa.


“Biasalah kalau orang baru sembuh dari sakit pasti makannya banyak,” kata Toriq ke Annisa.


“Mamah, Rafa mau cucu,” kata Rafa dengan manja.


“Nanti ya sayang, tunggu makanannya turun dulu. Mamah takut nanti kamu muntah karena kebanyakan makan,” jawab Annisa ke Rafa.


“Nanti kalau cudah tulun mamamannya, boleh mimi cucu cama mamam cate?” tanya Rafa.


“Iya, sayang. Boleh,” jawab Annisa.


“Aciiiikkk,” teriak Rafa kegirangan.


“Annisa. Abang siap-siap ya, mau sholat magrib di masjid,” kata Toriq.


“Iya, Bang,” jawab Annisa.


“Rafa ikut Om sholat di masjid, yuk,” Toriq mengajak Rafa.


“Abang, memang boleh Rafa dibawa keluar?” tanya Annisa dengan ragu.


“Boleh, kasihan sudah beberapa hari dia di kamar terus,” jawab Toriq.


“Tapi nanti mengganggu Abang sholat, nggak?” tanya Annisa.


“Namanya juga anak kecil, wajar kalau dia nggak bisa diam. Tapi paling tidak dia harus dikenalkan dengan lingkungan masjid. Agar kalau sudah besar nanti dia sudah terbiasa pergi ke masjid,” jawab Toriq.


“Abang mau siap-siap ke masjid. Sebentar lagi adzan magrib,” kata Toriq lalu masuk ke kamar mandi.


“Rafa mau ikut Om ke masjid,” kata Rafa ke Annisa.


“Boleh, tapi harus nurut sama Om Toriq, ya?” pesan Annisa ke Rafa.


“Iya,” jawab Rafa.


Annisa memakaikan Rafa jaket agar tidak terkena angina malam. Tak lama Toriq keluar terlihat rambutnya basah kena air wudhu dan sudah mengganti celana pendeknya dengan celana panjang.


“Bang, Rafa mau ikut,” kata Annisa kepada Toriq.


“Ayo boleh, sudah siap belum?” tanya Toriq menoleh ke Rafa yang berdiri di sebelah Annisa.


“Udah,” jawab Rafa.


“Ayo boy kita berangkat,” Toriq langsung menggendong Rafa.


“Pamit dulu dong sama Mamah. Bilangnya bagaimana?” kata Toriq.


“Acalamualaikom,” ucap Rafa.


“Waalaikumsalam,” jawab Annisa.


“Abang ke masjid dulu, ya Nis. Jangan lupa kunci pintunya!” Toriq pamit ke Annisa.


“Ya, Bang,” jawab Annisa.


“Assalamualaikum,” ucap Toriq.


“Waalaikumsalam,” jawab Annisa.


Toriq pergi ke masjid membawa Rafa. Annisa langsung mengunci pintu kamar inap Rafa.


.


.


Hai readers seperti biasa Deche mau promo novel milik author tita dewahasta yang berjudul Simponi Temaram Takdir. Mampir, ya. Mudah-mudahan suka.

__ADS_1



__ADS_2