Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
38. Poppy.


__ADS_3

“Wanita itu bernama Poppy. Abang dulu sering melihatnya sewaktu suaminya di rawat di rumah sakit tempat Abang bekerja. Dia adalah adik dari teman Abang yang bernama Reno. Di mata Abang Poppy adalah wanita yang sempurna. Dia wanita baik-baik selama suaminya di rawat di rumah sakit dia selalu mendampingi suaminya. Ketika itu Poppy sedang dalam keadaan hamil. Bisa Annisa bayangkan wanita hamil muda harus merawat suaminya yang sedang sakit parah. Tapi Poppy merawat suaminya dengan baik,” kata Toriq dengan senyum di wajah Toriq yang mengingat kejadian di waktu lampau.


Kemudian Toriq melanjutkan ceritanya.


“Pernah suatu hari ketika Abang melewati kamar suaminya, Poppy sedang mengusap tangan suaminya yang sedang tidur sambil menangis. Sejak saat itu Abang berjanji untuk menghapus semua air mata yang mengalir di pipinya dan akan selalu melindunginya. Sebulan kemudian suaminya meninggal dunia. Abang datang melayat ke rumahnya dan Abang ikut ke pemakaman suaminya. Namun karena tugas menanti Abang tidak bisa berlama-lama selama di pemakanan.”


“Setelah itu Abang belum juga mendekati Poppy karena dia masih dalam masa berkabung. Maksud Abang nanti saja jika masa berkabungnya sudah lewat Abang mendekatinya. Namun ternyata perkiraan Abang salah karena ada seseorang yang memang ditugaskan untuk selalu mendampingi Poppy. Yaitu Budi laki-laki muda yang kita temui di rumah sakit dan sekarang sudah resmi menjadi suaminya,” lanjut Toriq.


“Sebelumnya Reno teman abang sudah memberitahu kalau almarhum Rangga suami Poppy sudah mengatur semuanya agar Budi selalu berada di samping Poppy. Tadinya Abang tidak percaya selama mereka belum menikah masih ada kesempatan Abang untuk masuk dalam kehidupan Poppy. Tapi takdir berkata lain ternyata mereka memang berjodoh. Seberapa besar usaha Abang memisahkan mereka, mereka tetap bersama,” Toriq diam sebentar.


“Kamu tahu kenapa Abang mengajakmu dan Rafa ke rumah sakit?” tanya Toriq kepada Annisa.


Annisa hanya menggelengkan kepala tidak berkata apapun.


“Karena Abang tidak ada keberanian untuk meminta maaf dan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka dan juga atas kelahiran putra mereka,” jawab Toriq sambil menunduk.


“Dan Abang juga penyebab Poppy melahirkan karena Poppy pecah ketuban. Jadi bayinya harus lahir premature,” lanjut Toriq.


“Tadi siang Abang datang ke pernikahan Reno. Di sana Abang mengirim banyak request lagu untuk Poppy dengan harapan Budi cemburu dan marah. Namun ternyata Poppy yang marah hingga terjadi kontraksi dan pecah ketuban. Abang menyesal seharusnya Abang menjaganya bukan malah mengganggunya sehingga menyebabkan Poppy terpaksa harus melahirkan dalam keadaan darurat,” kata Toriq dengan penuh penyesalan.


“Abang, Annisa kecewa dengan sikap Abang yang menggangu Mbak Poppy. Semestinya Abang melindungi dan menjaganya dengan baik. Karena wanita adalah mahluk yang lemah Mengenai bayi yang lahir sebelum waktunya, memang sudah takdirnya bayi itu lahir sekarang. Karena lahir, jodoh dan mati manusia tidak ada yang tau. Semua itu rahasia Allah SWT. Kita sebagai manusia cuma bisa berusaha tapi Allah yang menentukan,” kata Annisa kepada Toriq.


“Maafkan Abang, Annisa. Sebenarnya tidak maksud hati untuk menyakiti Poppy. Abang hanya kecewa karena tidak bisa menjadi imamnya,” jawab Toriq dengan sedih.


“Minta maafnya bukan ke Annisa tapi ke Mbak Poppy,” kata Annisa.


“Ya, nanti Abang minta maaf ke Poppy. Tapi Abang minta Annisa untuk temani Abang, ya,” kata Toriq dengan tatapan memohon.


Annisa menarik nafas lalu mengangguk.


“Terima kasih, Annisa,” ucap Toriq.


Seorang pelayan menghampiri mereka.


“Maaf Pak pesanannya meja nomor 50,” kata pelayan  sambil membawa pesanan mereka dan menyebutkan satu-persatu menu yang Toriq pesan.


“Ya, betul,” jawab Toriq.


Kemudian pelayan itu menaruh pesanan makanan satu persatu ke meja setelah itu mereka meninggalkan meja.

__ADS_1


“Ayo, kita makan. Abang sudah sangat lapar,” kata Toriq.


“Bang ini punya siapa?” Annisa menunjuk cream sup, french fries dan pure juice.


“Oh, itu buat Rafa. Kasihan dia kalau hanya melihat kita makan,” jawab Toriq.


Annisa memberikan Rafa kentang goreng.


“Rafa…ini ada kentang goreng untuk Rafa,” kata Annisa.


Batita kecil itu menoleh ke Annisa lalu mengambil kentang goreng yang disodorkan oleh Annisa.


“Kalau mau lagi ambil sendiri di sini, ya,” kata Annisa sambil menunju ke piring di depan kursi Rafa.


Rafa menjawabnya hanya dengan angkukan kepala, sedangkan mulutnya sibuk mengunyah kentang goreng. Annisa tersenyum sambil mengusap kepala Rafa.


Toriq memperhatikan Annisa. Bagi Toriq Annisa tidak ada bedanya dengan Poppy. Annisa orangnya sabar, lembut, hangat dan penuh kasih sayang terhadap Rafa. Hanya saja Annisa masih sangat muda, mungkin usianya baru delapan belas tahun.


“Abang, Abang kok tidak makan? Tadi katanya lapar,” ujar Annisa yang membuyarkan lamunan Toriq.


“Eh….iya,” jawab Toriq yang langsung memegang pisau dan garpu untuk memotong daging steak.


Toriq langsung menyantap makanannya. Sedangkan Annisa makan dengan tenang sambil memperhatikan Rafa yang sedang memakan kentang goreng.


Ketika Annisa hendak membuka pintu mobil.


“Annisa,” panggil Toriq.


“Ya, Bang,” jawab Annisa.


“Terima kasih karena sudah mau menemani Abang,” ucap Toriq.


“Sama-sama, Bang,” jawab Annisa.


“Kapan-kapan boleh, ya Abang ajak Annisa jalan-jalan lagi,” kata Toriq.


“Insya Allah kalau Annisa ada waktu,” jawab Annisa.


“Terima kasih,” ucap Toriq.

__ADS_1


Annisa membalasnya hanya dengan tersenyum dan mengangguk.


“Tunggu sebentar Abang bukakan pintu,” Toriq langsung keluar dari mobil lalu membukakan Annisa pintu.


“Terima kasih,” ucap Annisa ketika Toriq membukakan pintunya.


Annisa agak kesulitan membawa tas dan kain gedongan Rafa karena Annisa harus menggendong Rafa tanpa menggunakan kain gendongan.


“Biar Abang bantu,” kata Toriq mengambil tas dan kain gedongan dari tangan Annisa. Sehingga Annisa bisa menggendong Rafa.


Annisa masuk ke dalam rumah melalui garasi. Toriq mengikuti Annisa dari belakang sampai di ruang makan.


“Annisa, barangnya Abang taruh meja,” kata Toriq.


Annisa menoleh ke belakang.


“Iya, Bang. Terima kasih,” ucap Annisa.


“Abang pulang, ya. Assalamualaikum,” ucap Toriq.


“Waalaikumsalam,” jawab Annisa lalu naik ke tangga setelah Toriq keluar melalui dapur.


Perlahan Annisa menaiki tangga sambil menggendong Rafa. Di ujung tangga Annisa bertemu dengan Roland yang sedang membawa gelas.


“Baru pulang, Nis?” tanya Roland.


“Iya, A,” jawab Annisa yang kecapean menaiki tangga sambil menggendong Rafa.


“Darimana saja? Kok pulangnya malam sekali?” tanya Roland sambil membukakan pintu kamar Annisa.


“Nengok Mbak Poppy melahirkan terus diajak makan sama Bang Toriq,” jawab Annisa lalu menidurkan Rafa di tempat tidur.


“Maksudmu Teh Poppy wanita idaman Bang Toriq?” tanya Roland.


“Kok Aa tau?” tanya Annisa.


“Taulah semua orang juga tau. Mamah dan Papah juga tau. Bang Toriq tidak mau menikah dengan perempuan lain selain dengan Teh Poppy,” jawab Roland.


.

__ADS_1


.


Hai reader Deche memohon like, komentar, vote dan hadiah dari semua pembaca Ibu Untuk Keponakanku.


__ADS_2