Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
73. Rafa Mengganggu.


__ADS_3

Setelah selesai makan Annisa dan Toriq beserta keluarganya kembali ke rumah orang tua Annisa. Sedangkan Ibu Elly dan keluarganya kembali ke hotel tempat mereka menginap. Ibu Delima dan Pak Syamsul juga kembali ke hotel tempat mereka menginap.


Sekarang Annisa sudah berada di kamarnya, ia sudah tidak sabar untuk membuka gaun pengantin yang sudah membuatnya tidak nyaman karena badannya sudah lengket dengan keringat dan rambutnya sudah terasa gatal.. Satu persatu Annisa mencopor jarum pentul yang menempel pada kerudungnya. Tiba-tiba pintu kamarnya ada yang mengetuk, Annisa langsung membuka kunci pintu. Ternyata Toriq sedang berdiri di depan pintu sambil membawa tas miliknya. Setelah pintu di buka Toriq masuk ke dalam kamar lalu mengunci kembali pintu kamar. Annsa melanjutkan kembali membuka kerudungnya.


Toriq membuka beskapnya dan tinggal menggunakan kaos oblong putih yang di gunakan sebagai dalaman dan celana panjang yang senada dengan warna gaun pengantin yang digunakan Annisa. Toriq duduk di pinggir tempat tidur sambil memperhatikan Annisa yang sedang mencopot jarum pentul.


“Sejak kapan kamu berkerudung?” tanya Toriq.


Annisa yang sedang sibuk mencopot jarum pentul lalu menoleh ke Toriq.


“Sudah seminggu,” jawab Annisa sambil melanjutkan lagi mencopoti jarum pentul dan akhirnya kerudungnya bisa terbuka.


Annisa bernafas lega.


“Kok nggak bilang-bilang ke Abang kalau kamu pakai kerudung?” tanya Toriq.


Annisa menoleh ke Toriq.


“Abang tidak suka, ya?” tanya Annisa.


Toriq berdiri dan menghampiri Annisa lalu berdiri di belakang Annisa.


“Abang suka. Kamu menutup aurat kamu dari laki-laki lain, Abang suka. Terima kasih sayang,” jawab Toriq.


Lalu Toriq mengecup pucuk rambutnya Annisa lalu mencium pipi Annisa lalu turun ke leher Annisa. Nafas Toriq mengenai lehernya, lalu hidung dan bibir Toriq menyentuh kulit lehernya.


“Abang geli…ih. Lagi pula jangan cium-cium, Annisa bau acem belum mandi,” kata Annisa sambil meronta-ronta karena kegelian.


“Geli, ya?” Toriq bukannya melepaskan Annisa tapi malah menjadi menyentuh leher Annisa dengan hidung dan bibirnya.


Dug…dug…dug….suara pintu digedor.


“Mamah……,” terdengar suara teriakan Rafa di luar kamar.


Toriq langsung berhenti mendengar teriakan Rafa.


“Bang, ada Rafa,” kata Annisa.


Dug…dug….dug….


“Mamah…..,” lagi-lagi Rafa berteriak memanggil Annisa.


Toriq membuka kunci pintu kamar. Rafa berdiri di depan pintu kamar dengan tidak menggunakan pakaian. Sepertinya anak itu baru selesai mandi. Rafa langsung masuk ke kamar Annisa. Tak lama kemudian datanglah Mbok Sarmi sambil membawa handuk Rafa.


“Den Rafa sini, Den,” panngil Mbok Sarmi.


“Den Toriq kalau mau mandi, nanti dulu. Soalnya air panasnya baru saja Mbok bikinkan,” kata Mbok Sarmi.


“Iya, Mbok. Terima kasih,” jawab Toriq.

__ADS_1


Mbok Sarmi masuk ke dalam kamar Annisa. Dilihatnya Rafa sedang tidur-tiduran.


“Aduh, Den. Itu badannya masih basah belum di keringkan sudah naik ke tempat tidur,” seru Mbok Sarmi.


“Rafa, dikeringkan dulu badannya,” kata Annisa.


Rafa menurut ia langsung turun dari tempat tidur dan mendekati Mbok Sarmi. Mbok Sarmi langsung mengeringkan badan Rafa dengan handuk.


Toriq geleng-geleng kepala melihat kericuhan yang diperbuat oleh Rafa. Toriq membuka tasnya lalu mengambil baju dari dalam tasnya.


“Abang mandi dulu, ya,” kata Toriq kepada Annisa.


“Tapi Den, airnya belum panas,” kata Mbok Sarmi yang sedang memakaikan Rafa baju.


“Nggak apa-apa, Mbok. Sekarang kan sudah jadi orang Padalarang, dingin sedikit kuatlah,” jawab Toriq.


Lalu Toriq keluar dari kamar Annisa menuju ke kamar mandi.


Seperampat jam kemudian Toriq kembali ke kamar Annisa nampak segar.


“Abang mandi pakai air dingin?” tanya Annisa.


“Nggak, dicampur air panas sedikit,” jawab Toriq sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah.


Annisa mengambil bajunya yang diletakkan di atas tempat tidur.


“Annisa mandi dulu, ya Bang,” kata Annisa.


Annisapun keluar dari kamarnya menuju ke kamar mandi.


Setelah Annisa selesai mandi, Toriq dan Annisa sholat ashar berjamaah. Selesai sholat merekapun pamit untuk menginap di hotel. Tapi sebelumnya mereka berangkat mereka pamit dulu kepada Rafa.


“Rafa malam ini Rafa bobo ditemani sama Mbok Sarmi, ya. Mamah sama Papah lagi ada urusan jadi tidak bobo di sini,” kata Annisa dengan hati-hati takut Rafa mau ikut dengan mereka.


“Ulucan itu apa Mamah?” tanya Rafa dengan polos.


“Sesuatu yang harus dikerjakan sama Papah dan Mamah,” jawab Toriq.


“Oh….,” kata Rafa sambil manggut-manggut.


“Boleh nggak Mamah dan Papah pergi?” tanya Annisa dengan hati-hati.


“Boyeh, tapi puyangnya bawa oyeh-oyeh yang banyak,” jawab Rafa sambil tangannya membuat gerakan melingkar.


“Iya, nanti Papah bawa kan oleh-oleh yang banyak,” jawab Toriq.


“Acik, benel ya, Pah?” kata Rafa dengan girang.


“Iya,” jawab Toriq.

__ADS_1


Setelah diperbolehkan pergi oleh Rafa mereka baru pamit kepada kedua orang tua Annisa.


“Jangan lupa berdoa dulu sebelum berhubungan,” pesan Ibu Titien.


“Iya, Mah,” jawab Toriq dan Annisa.


Setelah berpamitan dengan kedua orang tua Annisa, Toriq dan Annisa pergi menuju ke hotel yang sudah dibooking oleh Ibu Elly.


“Dadah Mamah, dadah Papah,” Rafa melambaikan tangannya.


Annisa terus memandangi Rafa yang sedang melambaikan tangan dari balik kaca mobil. Mata Annisa berkaca-kaca ketika memandangi Rafa.


“Sudahlah, Mah. Kita kan cuma meninggalkan dia bebeapa hari,” kata Toriq sambil fokus menyetir mobil.


“Tapi Mamah nggak tega melihat Rafa,” jawab Annisa yang hampir menangis.


“Kita pergi juga kan demi Rafa, kan dia ingin cepat-cepat punya adik. Inget nggak waktu pulang dari rumah sakit menengok Poppy melahirkan? Rafa kan pulangnya minta adik bayi,” kata Toriq.


Annisa menoleh ke arah Toriq yang sedang menyetir mobil.


“Kalau Mamah tidak bisa hamil, bagaimana?” tanya Annisa.


“Yah, Mamah. Dicoba aja belum, sudah takut nggak bisa hamil. Yang semangat dong, biar bisa cepat punya adik bayi,” ujar Toriq.


Annisa menoleh keluar kaca mobil. Sebenarnya Annisa sedang takut tidak bisa memberikan keturunan kepada suaminya. Ia takut Toriq akan meninggalkannya.


Astafirullahalazim, ucap Annisa dalam hati.


Mengapa dia berprasangka yang tidak-tidak? Padahal ia belum mencoba, tapi sudah berprasangka buruk, bisiknya di dalam hati.


Annisa menoleh ke samping suaminya sedang fokus dengan jalanan yang sedang macet.


Toriq merasa Annisa sedang memperhatikannya. Toriq langsung menoleh ke samping.


“Kenapa?” tanya Toriq sambil memajukan kendaraannya sedikit demi sedikit.


“Papah cape, ya?” tanya Annisa pada suaminya.


“Kenapa? Mamah mau pijitin Papah? Boleh, tapi pijitinya pake plus-plus, ya,” jawab Toriq dengan senyum menggoda.


“Apa itu plus-plus?” tanya Annisa bingung.


“Nanti juga Mamah tau,” jawab Toriq sambil menyalakan sein mobilnya untuk masuk ke supermarket.


“Kok ke sini, Pah?” tanya Annisa bingung.


“Kita beli minuman dan camilan dulu, biar nanti Mamah kuat pijit plus-plus,” jawab Toriq sambil memarkirkan mobilnya.


Setelah Toriq membuka seat belt, Toriq turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Annisa.

__ADS_1


“Ayo, kita belanja dulu,” ajak Toriq sambil memegang tangan Annisa .


__ADS_2