Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
13. Minimarket


__ADS_3

Lalu motor itu berjalan dengan perlahan menuju ke minimarket. Untung letak minimarket tidak terlalu jauh dari rumah Ibu Elly sehingga mereka cepat sampai. Annisa mencari susu Rafa sambil menuntun Rafa. Sementara itu Roland mengikuti mereka dari belakang. Orang-orang di minimarket


memperhatikan mereka karena mereka mirip pasangan muda yang sudah memiliki anak. Orang pasti mengira Annisa dan Roland sepasang anak muda yang menikah karena MBA. Mungkin karena Annisa usianya yang masih muda dan postur tubuh Annisa yang mirip anak SMA ( Ya, miriplah namanya juga baru lulus ).


Setelah mendapatkan susu Rafa, Annisa berjalan menuju kasir hendak membayarnya.


“Tidak sekalian dengan pospak untuk anaknya, Mbak? Lagi discount loh, Mbak,” kata petugas kasir.


“Benarkan kata Aa, Annisa udah cocok jadi Mamah,” bisik Roland yang berdiri disamping Annisa.


“Apaan sih? Aa ngeledek aja deh,” Annisa protes.


“Nggak Mbak, pospak di rumah  masih banyak,” jawab Annisa kepada kasir.


“Ada tambahan lagi, Mbak?” tanya petugas kasir.


“Rokok ….. satu,” kata Roland.


“Aa merokok?” tanya Annisa.


Selama Annisa di rumah Ibu Elly tidak pernah melihat Roland merokok.


“Hanya sekali-sekali,” jawab Roland..


“Nanti Ua marah nggak kalau Aa beli rokok?” tanya Annisa dengan ragu.


“Nggak, bilang saja ke Mamah kalau Aa beli rokok,” jawab Roland.


“Kalau Aa di marahi jangan bawa-bawa Annisa, ya!” kata Annisa.


“Ya, adikku yang cantik,” ujar Roland.


Setelah membayar susu dan rokok mereka pergi meninggalkan minimarket. Seperti biasa Roland menjalankan motornya dengan pelan. Karena malam sudah semakin larut dan udara semakin dingin menusuk ke tulang.


Akhirnya mereka sampai juga di rumah. Annisa turun dari motor dan menggendong Rafa masuk ke dalam rumah. Terlihat rumah nampak sepi, sepertinya Ibu Elly sudah tidur. Annisa menurunkan Rafa di kursi makan.

__ADS_1


“Rafa tunggu di sini. Mamah bikin susu untuk Rafa,” kata Annisa.


Rafa menganggukkan kepalanya. Annisa kembali ke dapur untuk membuatkan Rafa susu. Tapi ia lupa menanyakan ke Ibu Elly, Rafa minum susunya pakai dot atau gelas. Annisa balik lagi ke ruang makan.


“Rafa minum susunya pakai dot atau gelas?” tanya Annisa.


“Pakai gelas,” jawab Rafa.


Annisa kembali lagi ke dapur membuat susu di gelas plastik untuk anak-anak dengan takaran sesuai dengan petunjuk. Setelah selesai Annisa memberikan susu yang sudah dibuat ke Rafa.


“Dibuka dulu jaketnya, biar nggak ketumpahan susu,” Annisa membuka jaket Rafa.


Setelah jaket Rafa dibuka barulah Annisa memberikan susu kepada Rafa. Dengan cepat batita itu menghabiskan susunya.


Annisa kaget melihat Rafa meminum susunya dalam waktu sedetik.


“Wah, anak Mamah pinter minum susunya sampai habis,” puji Annisa.


“Sekarang sudah malam, waktunya kita bobo,” Annisa menggendong Rafa dan membawanya ke lantai atas menuju kamar Annisa.


Setelah pipis barulah Annisa mengajak Rafa tidur. Annisa mengempok-empok bagian belakang tubuh Rafa sambil menyanyikan lagu.


Rafa bobo oohh Rafa bobo


Kalau tidak bobo digigit nyamuk


Rafa bobo oohh Rafa bobo


Kalau tidak bobo digigit nyamuk.


Tidurlah sayang oohh tidur manis


Kalau tidak bobo digigit nyamuk.


Annisa menyanyikannya berulang-ulang hingga Rafa tertidur.

__ADS_1


Setelah Rafa tidur Annisa pun menyusul ke alam mimpi. Setelah melewati hari yang melelah sekarang waktunya Annisa beristirahat.


Pukul 4 pagi seperti biasa alarm ponsel Annisa berbunyi tandanya Annisa sudah harus bangun. Pelan-pelan Anissa turun dari tempat tidurnya agar Rafa tidak terganggu. Annisa menuju ke kamar mandi untuk wudhu bersiap-siap untuk sholat. Karena adzan subuh masih lama Annisa membaca al Qur'an sambil menunggu adzan subuh. Akhirnya terdengar suara adzan berkumandang, Annisa mengakhiri baca al Qur’an lalu sholat subuh. Selesai sholat subuh Annisa berdoa meminta keselamatan kesehatan dan rejeki untuk dirinya dan keluarganya. Annisa juga berdoa minta yang terbaik untuk masa depannya. Untuk Ibu Elly dan keluarga, Annisa berdoa agar diberikan balasan atas kebaikan yang diberikan kepada dirinya dan keluarganya. Dan untuk Rafa, Annisa berdoa agar Rafa bisa mendapatkan orang tua sambung yang menyayanginya.


Bagaimanapun juga Rafa masih membutuhkan seorang Ayah dan Ibu walaupun Rafa masih mempunyai Kakek dan Nenek yang lengkap. Setelah selesai berdoa Annisa membereskan mukenahnya lalu keluar dari kamar tidurnya menuju ke dapur. Di dapur Bi Minah sudah sibuk menyiapkan sarapan pagi.


“Bi, Rafa biasanya sarapan dengan apa?” tanya Annisa ke Bi Minah.


“Den Rafa biasanya suka minta cereal, Non,” jawab Bi Minah.


Mendengar jawaban Bi Minah Annisa mengerut keningnya.


“Hanya sarapan dengan cereal, Bi?” tanya Annisa.


“Iya. Den Rafa susah dibujuk, Non. Kalau mau itu, udah cuma itu yang dimakan nggak mau yang lain,” jawab Bi Minah.


“Ya sudah, biar Annisa buatkan sarapan untuk Rafa. Mudah-mudahan Rafa mau memakannya,” kata Annisa.


“Sarapan untuk Den Roland siapa yang masak, Non?” tanya Bi Minah.


“Saya yang masak, Bi. Lagi pula Aa Roland libur kuliahnya, jadi tidak terburu-buru membuat sarapannya,” jawab Annisa.


“Bibi bantu menyiapkan bumbunya, Non,”  ujar Bi Minah.


“Iya, Bi. Biar cepat masaknya,” kata Annisa.


Annisa dan Bi Minah mulai bergelut di dapur menyiapkan sarapan. Tak lama kemudian Ibu Elly menghampiri Annisa di dapur.


“Rafa sudah bangun, Nis?” tanya Ibu Elly.


Annisa menoleh ke Ibu Elly.


“Tadi masih tidur, Ua,” jawab Annisa.


“Ua lihat, ya. Takut Rafa sudah bangun,” kata Ibu Elly.

__ADS_1


“Ya, Ua.”


__ADS_2