Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
64. Hukum Karma.


__ADS_3

Mbok Sarmi menghampiri Toriq yang sedang sarapan bersama dengan keluarga Annisa.


“Den, ada tamu mencari Aden,” kata Mbok Sarmi.


“Siapa Mbok?” tanya Toriq.


“Katanya Ibu Ika istri Pak Didin,” jawab Mbok Sarmi.


“Ibu Ika? Ada perlu apa Ibu Ika mencari Nak Toriq?” tanya Pak Ernawan kepada Mbok Sarmi.


“Tidak tau, Pak. Ibu Ika cuma minta dipanggilkan Nen Toriq,” jawab Mbok Sarmi.


“Nak Toriq, coba dilihat barangkali ada sesuatu yang penting,” kata Pak Ernawan.


“Baik, Om,” jawab Toriq.


Kemudian Toriq beranjak dari tempat duduknya dan menemui Ibu Ika.


“Sesuatu yang penting apaan? Paling juga mau memperkenalkan Abang kepada Ranti anaknya,” gumam Aisyah.


“Aisyah!!!” tegur Annisa sambil berbisik.


Aisyah langsug membungkam sambil cemberut.


Toriq menghampiri Ibu Ika yang sedang berdiri di depan pintu.


Mata Ibu Ika langsung berbinar melihat Toriq. Bagaimana tidak Toriq itu seorang pemuda yang berbadan tinggi, atletis, tampan dan berkulit putih bersih. Persis seperti yang Ibu Ika lihat dari balik kaca jendela rumahnya sewaktu Toriq memarkirkan dan mengeluarkan mobil dari pekarangan rumahnya.


“Ya, Bu ada apa?” tanya Toriq langsung tanpa basa basi.


“Ini loh Pak Dokter saya mau memperkenalkan putri saya Ranti,” jawab Ibu Ika lalu menarik tangan Ranti untuk mendekati Toriq.


Sambil cemberut Ranti mengikuti perintah Ibunya.


Toriq tidak menyalami Ranti, ia hanya menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.

__ADS_1


“Dan ini ada sarapan pagi nasi uduk komplit buatan Ranti untuk Pak Dokter,” kata Ibu Ika memberikan piring berada di tangannya.


“Aduh Ibu terima kasih, tapi saya sudah sarapan,” ucap Toriq dan menolak untuk menerima piring dari tangan Ibu Ika.


“Ini nasi uduk special loh Pak Dokter. Rasanya beda dengan masakan Annisa,” imbuh Ibu Ika.


“Annisa sedang sakit, Bu. Jadi saya larang dia untuk masak,” ujar Toriq.


“Annisa sakit? Sakit apa? Annisa memang dari dulu sakit-sakitan,” sahut Ibu Ika.


“Annisa kecapean mengurus anak kami Rafa dan mengurus persiapan pernikahan kami,” jawab Toriq.


“Pak Dokter mau menikah dengan Annisa? Kok Pak Dokter mau sih menikah dengan Annisa? Diakan cuma tamatan SMA dan orang tuanya tidak mampu membiayai kuliahnya,” kata Ibu Ika dengan gusar.


“Kata siapa Annisa tidak kuliah? Annisa terdaftar sebagai mahasiswa falkutas ekonomi di  Universitas X di Jakarta. Kalau Ibu tidak percaya ibu bisa cari di situs Universtas X,” ujar Toriq sesopan mungkin.


“Mana mungkin siapa yang biayainya? Orang tuanya kan tidak mampu membiayai kuliah, apalagi di universitas swasta,” tanya Ibu Ika.


“Ibu tidak usah tau biayanya darimana, yang penting Annisa akan kuliah,” jawab Toriq dengan sesopan mungkin walaupun hatinya kesal mendengar Ibu Ika menganggap remeh Annisa.


“Haduh Bu, bukannya saya menolak mencicipi masakan putri Ibu Ika tapi saya benar-benar sudah kenyang. Sayang nanti jadi mubazir karena tidak dimakan,” sekali lagi Toriq menolak dengan halus.


“Atau nanti siang Pak Dokter mau makan apa? Biar Ranti masakkan,” kata Ibu Ika yang terus mencari celah untuk mendekatkan Ranti dengan Toriq.


“Nanti siang kemungkinan kami makan di luar. Kami mau mencari gedung dan event organizer untuk mengurus pernikahan kami,” jawab Toriq dan berharap Ibu Ika mau mengerti maksud Toriq.


“Atau nanti malam, Pak Dokter mau makan apa? Biar Ranti yang masakin,” Ibu Ika masih saja belum menyerah.


Toriq menghela nafas.


“Maaf Bu, selama saya di sini Tante Titien selalu memasak banyak makanan untuk saya. Jadi Ibu dan Ranti tidak perlu repot-repot memasakan untuk saya,” kata Toriq.


“Kalau begitu nanti saya suruh suami saya untuk mengundang Pak Dokter makan di rumah. Jadi Pak Dokter bisa mencicipi masakan Ranti,” ujar Ibu Ika.


“Boleh kalau Ibu mau begitu, tapi maaf kalau saya akan menolak untuk datang. Saya ke sini untuk menengok calon istri saya Annisa dan anak kami Rafa. Dan saya juga ada perlu dengan calon mertua saya untuk membicarakan acara minggu depan, orang tua saya akan datang melamar,” jawab Toriq dengan tenang.

__ADS_1


“Begini saja kalau sekiranya Pak Dokter berubah pikiran tidak jadi menikah dengan Annisa, Ranti mau kok menggantikan Annisa mengurus anak Pak Dokter,” kata Ibu Ika.


“Ya, kan Ranti?” tanya Ibu Ika kepada Ranti seolah meminta dukungan Ranti.


Ranti menjawabnya dengan menganguk sambil cemberut.


“Aduh maaf Bu, saya harus ke kamar mandi,” seru Toriq langsung masuk ke dalam meninggalkan Ibu Ika.


“Silahkan Pak Dokter,” ujar Ibu Ika lalu pergi meninggalkan rumah Annisa.


Toriq duduk di kursi makan sambil geleng-geleng kepala.


Sedangkan Aisyah tertawa terbahak-bahak melihat Toriq yang kerepotan menghadapi Ibu Ika.


“Maaf, Bang. Ibu Ika memang begitu,” kata Annisa.


“Nggak apa-apa, Annisa. Itu bukan salah Annisa,” ucap Toriq.


“Nanti Bapak yang ngomong ke Pak Didin agar Ibu Ika jangan mengganggu Nak Toriq lagi,” kata Pak Ernawan.


“Percuma, Pak. Pak Didin sama aja dengan istrinya. Lagi pula Bapak yang salah kenapa numpang parkirnya di rumah Pak Didin? Kenapa tidak di rumah tetangga kita yang lain yang punya pekarangan yang luas,” sahut Ibu Titien.


“Iya Bu, Bapak yang salah. Bapak nggak kepikiran akan jadi seperti ini,” jawab Pak Ernawan.


“Bukan salah Om dan Tante, tapi memang Ibu Ika sudah sifatnya memang begitu. Kita aja yang harus pintar menghindar,” kata Toriq.


Toriq jadi ingat beberapa bulan yang lalu ia juga bersikap sama seperti Ibu Ika yaitu berusaha memaksa Poppy untuk berpaling dari Budi dan mau didekatinya. Dan hal itu menyebabkan Poppy tidak menyukainya.


Apa mungkin ini adalah hukum karma untukku? Bisik Toriq dalam hati.


.


.


Jangan ngambek, ya bucan. Toriq juga pernah melakukan hal yang sama untuk mengganggu Poppy, pokoknya Toriq tidak tau malu.

__ADS_1


Malam di teruskan lagi, ya.


__ADS_2