Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
65. Persiapan Nikah.


__ADS_3

Siang harinya Toriq mengajak Annisa untuk mencari gedung dan event organizer. Mereka membawa Rafa ikut dengan mereka, sekalian mengajak Rafa jalan-jalan.


“Nak Toriq, apa sebaiknya mencari gedung dan event organizer nanti saja, kalau orang tua Nak Toriq sudah resmi melamar Annisa?” tanya Ibu Titien ketika Toriq dan Annisa pamit ke Ibu Titien.


“Tidak apa-apa Tante. Waktunya sudah mepet, lagi pula mumpung Toriq lagi ada di sini kalau tidak nanti kasihan Annisa harus mencari sendiri,” jawab Toriq.


“Lagi pula lamaran minggu depan itu hanya sebagai symbol saja untuk menunjukkan keseriusan saya untuk menikahi Annisa,” kata Toriq lagi.


“Ya sudah kalau memang begitu kemauan Nak Toriq. Cuma Mamah pesan jangan yang mewah-mewah, yang sederhana saja. Perjalanan kalian masih panjang, jangan dihabiskan hanya untuk resepsi pernikahan yang mewah,” pesan Ibu Titien.


“Baik Tante, akan Toriq perhatikan,” kata Toriq.


“Rafa ikut?” tanya Ibu Titien melihat Rafa sudah memakai baju yang rapih.


“Iya Tante, sekalian ngajak Rafa main,” jawab Toriq.


“Baiklah, hati-hati di jalan,” pesan Ibu Titien.


Toriq dan Annisa mencium tangan Ibu Titien dan si kecil Rafa juga mencium tangan Eninnya.


“Assalamualakum,” ucap Annisa dan Toriq.


“Acalamualaikom,” ucap Rafa.


“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Titien.


Toriq dan Annisa berjalan menuju mobil sambil menuntun Rafa. Toriq membukakan pintu untuk Annisa lalu Annisa masuk ke dalam sambil menggendong Rafa.


Setelah Annisa duduk dengan nyaman, barulah Toriq menutup pintu mobil. Lalu muter menuju ke bagian kemudi. Setelah semua siap barulan Toriq melajukan mobilnya.


“Punya rekomendasi gedung tempat pernikahan nggak?” tanya Toriq sambil menyetir mobilnya.


“Nggak punya, Bang. Kalaupun ada gedungnya kecil semua, pasti nggak akan muat untuk menerima rekan kerja Abang,” jawab Annisa.


“Tau aja kamu kalau rekan kerja Abang banyak,” ujar Toriq.


“Apa cari di Bandung saja, ya?” tanya Toriq.


“Jangan, Bang. Banyak keluarga Annisa dan tetangga yang tidak memiliki mobil. Kasihan mereka jika harus ke Bandung dengan menggunakan motor,” jawab Annisa.

__ADS_1


“Iya juga, ya,” pikir Toriq.


“Coba ke sebelah sana deh, Bang. Annisa pernah lihat ada gedung serba guna yang luas dengan tempat parkir yang luas,” kata Annisa.


“Kemana?” tanya Toriq bingung.


“Lurus aja dari sini,” jawab Annisa.


Akhirnya mereka ketemu dengan sebuah gedung yang cukup besar dan tempat parkir yang cukup luas.


“Yang ini?” tanya Toriq menunjuk ke gedung yang ada janur kuning.


“iya,” jawab Annisa.


Kemudian Toriq membelokkan mobilnya ke parkiran gedung itu. Lalu mencari tempat parkir yang nyaman.


“Jangan turun dulu,” kata Toriq setelah mematikan mesin mobilnya.


Toriq membuka seat beltnya lalu keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Annisa.


“Ayo turun, Nak,” kata Annisa kepada Rafa.


“Ayo, kita ke kantor pengelola gedung ini,” ajak Toriq.


Mereka berjalan menuju ke kantor pengelola gedung. Beruntung kantornya buka. Lalu Toriq mulai bertanya harga sewa dan semua fasilitas gedung ini. Dan kebetulan pas tanggal pernikahan mereka gedung ini masih belum ada yang booking.


“Bisa saya lihat ke dalam gedung?” tanya Toriq.


“Oh silahkan, Pak,” jawab petugas yang bertanggung jawab.


Lalu petugas itu mengajak Toriq dan Annisa masuk ke dalam gedung. Ternyata gedungnya cukup luas bisa memuat tiga ribu orang. Toriq melihat gedung di dekor dengan bagus. Dan tanpa malu-malu Toriq membuka tutup makanan prasmanan. Kelihatannya makanannya cukup lezat.


“Saya minta kartu nama event organizer, catering dan dekor yang bertugas sekarang,” kata Toriq kepada petugas gedung.


“Baik, Pak. Akan saya ambilkan,” jawab petugas itu lalu dengan cepat petugas itu mencarikan kartu nama yang diminta oleh Toriq.


Setelah dapat kemudian diberikan semuanya kepada Toriq.


“Bagaimana Pak dengan gedungnya?” tanya petugas itu.

__ADS_1


“Boleh, akan saya bayar lunas sekarang juga,” jawab Toriq.


“Abang!” tegur Annisa.


“Biar kita tidak usah cape mencari gedung,” kata Toriq.


Annisa menghela nafas.


“Terserah Abang, deh,” akhirnya Annisa mengalah.


Toriq tersenyum melihat Annisa yang akhirnya mengikuti rencananya.


“Tapi jangan cemberut begitu, dong. Senyumnya mana?” goda Toriq.


Akhirnya Annisa tersenyum manis di hadapan Toriq.


“Nah, kalau begitukan tambah cantik,” puji Toriq.


Lalu Annisa dan Toriq sambil menuntun Rafa berjalan menuju kantor pengelola. Namun sebelum ke kantor pengelola Toriq berjalan menuju mobilnya. Toriq membuka bagasi mobil dan mengambil tas ranselnya.


“Ayo,” kata Toriq setelah mengambil tas ranselnya.


Lalu merekapun berjalan menuju kantor pengelola gedung.


“Saya minta bukti tanda pembayarannya!” kata Toriq.kepada petugas pengelola gedung.


Lalu petugas itu membuatkan bukti tanda pembayaran. Toriq membuka tas ranselnya dan mengambil uang segepok uang seratus ribu rupiah. Mungkin karena gedung berada di daerah Padalarang sehingga harganya tidak terlalu mahal.


Annisa menghela nafas begitu melihat tas Toriq penuh dengan uang yang disimpan dalam amplop coklat. Calon suaminya begitu ceroboh, karena menyimpan tas ransel yang berisikan uang di dalam bagasi mobil.


Setelah mereka menyelesaikan pembayaran Annisa dan Toriq meninggalkan tempat itu.


“Sekarang mau kemana dulu? Mau ke event organizer dulu atau mau makan siang dulu?” tanya Toriq.


“Kita ke even organizer dulu saja. Ini hari sabtu, takutnya mereka buka setengah hari,” jawab Annisa.


“Baik Ibu Boss,” ujar Toriq.


Lalu mobilpun meluncur ke kantor event organizer.

__ADS_1


__ADS_2