Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
56. Pergi Berbelanja.


__ADS_3

Setelah Roland pulang ke Jakarta, rumah jadi terasa tambah sepi. Yang terdengar hanya celotehan Rafa, namun kalau Rafa tidur rumah bertambah jadi sepi. Untuk mengusir rasa sepinya Annisa pergi berbelanja ke supermarket. Annisa membawa Rafa dan kedua adiknya.


“Nanti kita makan siang di dekat supermarket,” kata Annisa kepada adik-adiknya.


“Asyik makan ayam kerawuk Mac Dondon?” tanya Umar.


“Bosen ah makan ayam kerawuk,” Aisyah protes.


“Tapi Umar nggak bosen, ya Rafa….ya,” kata Umar.


“Sudah nanti kita lihat saja di sana mungkin ada yang enak makanannya dan tempatnya juga nyaman,” sahut Annisa.


“Setuju, Teh. Kita cari tempat yang makanannya enak dan tempatnya juga nyaman,” kata Aisyah.


“Teteh order taksi online dulu,” kata Annisa lalu membuka ponselnya.


Setelah mendapatkan taksi, Annisa pamit kepada kedua orang tuanya.


“Mah Pak, Annisa mau ke supermarket dulu, Aisyah dan Umar ikut dengan Annisa,” kata Annisa ketika menghampiri kedua orang tuanya yang sedang menonton tv.


“Mamah mau titip apa?” tanya Annisa.


“Nggak titip apa-apa,” jawab Ibu Titien.


“Nanti Annisa makan siang di luar. Mamah dan Bapak mau dibelikan apa?” tanya Annisa lagi.


“Apa saja yang enak, asal jangan makanan yang aneh-aneh,” jawab Pak Ernawan.


“Kalau Mamah mau dibelikan apa?” tanya Annisa.


“Mamah apa saja deh,” jawab Ibu Titien.


“Ya sudah, nanti Annisa bawakan yang enak-enak untuk Bapak dan Mamah. Annisa pamit dulu,” kata Annisa lalu mencium tangan kedua orang tuanya.


“Loh memang taksinya sudah datang?” tanya Pak Ernawan.


“Belum, Annisa tunggu di depan,” jawab Annisa.


“Ya sudah, hati-hati di jalan,” pesan Pak Ernawan.


“Assalamualaikum,” ucap Annisa.

__ADS_1


“Waalaikumsalam,” jawab Pak Ernawan dan Ibu Titien.


Annisa berjalan menuju teras rumah bergabung dengan adik-adiknya menunggu taksi online.


Arya melihat Annisa dan adik-adiknya sedang bersiap-siap untuk pergi, Arya menghampiri mereka.


“Mau pergi kemana nih?” tanya Arya.


“Mau nganter Teteh belanja ke supermarket,” jawab Umar.


“Aa boleh ikut nggak?” tanya Arya.


“Nggak tau, tanya Teteh aja,” jawab Umar.


Tiba-tiba taksi yang ditunngu sudah berada di depan rumah.


“Ayo taksinya sudah datang,” kata Annisa kepada adik-adiknya.


Dengan sigap Aisyah dan Umar masuk ke dalam mobil. Umar duduk di sebelah pengemudi. Annisa menggendong Rafa dan sebelum Annisa masuk ke dalam mobil Annisa pamit kepada Arya.


“Annisa pergi dulu, ya A. Assalamualaikum,” ucap Annisa lalu masuk ke dalam mobil.


“Iya, hati-hati di jalan. Nanti Aa nyusul,” ujar Arya.


*****


Annisa sedang memilih pospak untuk Rafa. Timbangan berat badan Rafa sudah naik jadi Annisa harus mengganti pospaknya dengan ukuran yang lebih besar. Rafa sedang anteng mengacak pospak, Rafa menurunkan pospak-pospak dari tempatnya. Umar mundar mandir memasukkan snack ke dalam troli.


“Umar, jangan banyak-banyak beli snack,” tegur Aisyah.


“Sama Teteh boleh kok,” jawab Umar.


“Teteh, itu Umar beli banyak snack,” seru Aisyah.


Annisa menoleh dan melihat ke troli


“Umar jangan terlalu banyak beli makanan yang mengandung natrium!! Tidak bagus untuk kesehatan,” tegur Annisa.


“Kalau sudah diambil sudah nggak apa-apa. Jangan ditambah lagi!!” kata Annisa.


“Ya, Teh,” jawab Umar.

__ADS_1


“Asyikkk,” sahut Umar kegirangan, karena ia sudah memasukkan banyak snack ke dalam troli


Umar melihat Rafa sedang asyik mengacak pospak.


“Teteh, itu lihat Rafa,” panggil Umar sambil menunjuk ke Rafa.


“Astagfirullahalazim. Rafa, jangan diacak-acak!” seru Annisa pada Rafa.


“Ayo anak Mamah soleh, beresin lagi ke tempatnya,” kata Annisa kepada Rafa.


Rafapun menurut dan mengembalikan lagi pospak ke tempatnya.


“Sini, Om Umar bantu,” kata Umar lalu membantu Rafa menyimpan pospak kembali ke tempatnya.


Setelah selesai berbelanja Annisa mengajak adik-adiknya untuk makan siang.


“Mau makan dimana, Teh?” tanya Aisyah.


“Makan dimana,ya?” Annisa melirik ke kanan dan ke kiri mencari tempat makan. Annisah melihat sebuah restaurant di seberang supermarket.


“Kita makan di situ saja,” Annisa menunjuk ke sebuah restaurant.


“Teteh, itu restaurant mahal,” sahut Aisyah.


“Nggak apa-apa, sekali-kali kita makan di tempat seperti itu,” jawab Annisa.


Annisa sambil menggendong Rafa memegang tangan Umar, sedangkan Aisyah kedua tangannya memegang belanjaan, jadi ia cukup berdiri di sebelah Annisa mereka bersiap-siap untuk menyeberang jalan. Setelah jalanan kosong mereka menyeberang jalan dengan hati-hati.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka dari jauh yaitu Arya. Arya tadi berniat untuk menyusul Annisa dan mengajaknya makan di restaurant fast food, namun ketika Arya melihat Annisa menyeberang jalan menuju ke restaurant di seberang jalan Arya mengurungkan niatnya.


Kamu sekarang sudah berubah Annisa, bisik Arya di dalam hati.


Bagaimana tidak Annisa yang Arya kenal adalah seorang yang sederhana. Sebagai seorang anak pegawai ASN di kecamatan, kehidupan Annisa sangat pas-pasan. Jangankan makan di restaurant yang mahal, makan di restaurant fast food saja Annisa jarang bahkan mungkin setahun sekali. Namun baru kali ini Arya melihat Annisa membawa adik-adiknya ke restaurant yang cukup terkenal untuk tingkat ekonomi menengah ke atas.


Kehidupan Annisa benar-benar berubah semenjak Annisa pergi ke Jakarta. Apalagi orang yang mendekati Annisa bukan orang sembarangan dan saingan yang berat bagi Arya.


Arya menghela nafas lalu kembali ke parkiran motor dan pergi meninggalkan tempat itu.


.


.

__ADS_1


Nanti malam diterusin lagi. Harap bersabar, karena saya baru author bronze belum jadi author platinum😁. Orang sabar disayang Allah. 🥰


Tetaplah setia dengan Ibu Untuk Keponakanku.


__ADS_2