Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
48. Minuman Temulawak.


__ADS_3

Toriq membelokkan mobilnya memasuki areal parkir sebuah restaurant. Karena masih sepi pengunjung sehingga Toriq masih bisa mencari tempat parkir yang nyaman.


“Kita ngobrol di sini saja, ya? Lagipula sebentar lagi waktunya makan siang,” kata Toriq sambil mematikan mobil dan melepas seat belt.


“Tunggu di sini, biar Abang yang bukakan pintunya,” kata Toriq kemudian turun dari mobil.


Annisa menghela nafas sambil membuka seat beltnya. Annisa memperhatikan penampilannya, dia hanya memakai celana panjang yang santai serta kaos oblong dan memakai sandal karet. Apalagi Annisa tidak membawa dompet dan ponsel. Ketika Toriq membukakan pintu Annisa jadi enggan keluar.


“Bang, Annisa cuma pakai baju rumah dan sandal karet,” ujar Annisa sambil menunjukkan pakaian dan sandal karetnya.


“Abang bilangnya kan cuma mau bicara, bukan makan siang di luar,” kata Annisa sambil cemberut.


Toriq tersenyum melihat penampilan Annisa.


“Cantik, kok. Tidak ada yang salah dengan penampilan Annisa. Ayo turun, mumpung masih sepi,” kata Toriq dan memberikan tangannya.


Annisa melihat tangan Toriq yang berada dihadapannya.


“Annisa bisa berdiri sendiri, Bang,” Annisa menolak uluran tangan Toriq.


Namun ketika hendak berdiri Annisa meninjak batu yang agak besar dan licin, Annisa hampir tergelincir dengan sigap Toriq menahan tubuh Annisa.


“Kamu nggak apa-apa?” tanya Toriq dengan cemas.


“Annisa nggak apa-apa, Bang,” jawab Annisa dengan muka yang pucat.


“Hati-hati, batu-batunya licin,” ujar Toriq yang masih berjaga-jaga takut Annisa terpeleset.


Annisa berjalan dengan perlahan-lahan. Entah mengapa sandal karet Annisa menginjak bebatuan yang terhampar di tempat parkir terasa menjadi licin.


“Pegang tangan Abang,” Toriq memberikan lengannya.


Dengan terpaksa Annisa berjalan sambil memegang lengan tangan Toriq. Setelah sampai di dalam restaurant Toriq mencari tempat duduk yang nyaman.


“Kita duduk di sini,” Toriq menarik kursi untuk Annisa.


“Terima kasih,” ucap Annisa lalu duduk di kursi yang sudah Toriq siapkan.


Seorang pelayan menghampiri mereka dan memberikan daftar menu.


“Mau makan apa?” tanya Toriq sambil memperhatikan daftar menu.


“Annisa mau nasi bebek dan minumnya temulawak,” jawab Annisa.


Toriq langsung mengerutkan keningnya.


“Memang minuman temulawak enak?” tanya Toriq.


“Seger, Bang. Rasanya tidak kalah dengan soft drink,” jawab Annisa.


“Nasi bebeknya 2 dan minumnya temulawak 2,” kata Toriq kepada pelayan.

__ADS_1


Setelah mencatat pesanan, pelayan itu pergi.


“Eh….Mbak, sini dulu,” Annisa memanggil pelayan tadi.


“Ya, Bu?” pelayan itu kembali menghampiri Annisa.


“Batu-batuan yang di depan licin. Pernah ada yang jatuh nggak?” tanya Annisa pada pelayan.


“Sering, Bu. Sudah banyak pelanggan yang komplain, tapi belum diganti oleh pemiliknya,” jawab pelayan.


“Bilangin ke pemiliknya suruh ganti dengan  batu krikil yang kecil-kecil dan kesat. Tadi saya hampir terpeleset,” kata Annisa.


“Iya Bu, nanti saya sampaikan,” jawab pelayan.


Toriq tersenyum melihat Annisa.


“Kenapa Abang senyum-senyum?” tanya Annisa dengan kesal.


“Kamu tuh udah pantes jadi ibu-ibu, cerewet,” kata Toriq.


“Annisa kan cuma komplain kalau batu-batu yang di depan itu membahayakan orang lain,” sahut Annisa.


“Tadi katanya ada yang Abang mau bicarakan? Sekarang bicaralah,” kata Annisa langsung ke topik permasalahan.


Toriq menghela nafas.


“Abang minta maaf jika ada kata-kata Mamah Abang menyakiti hati Annisa,” kata Toriq.


“Bukan menyakiti hati Annisa, Bang. Tapi omongan Tante Delima kesannya memaksa sekali. Kalau untuk menjadi Mamah Rafa, Annisa harus menikah dengan Abang,” jawab Annisa.


“Bagaimana Abang mau membuka hati untuk Annisa kalau Annisa pergi menjauh dari Abang? Sekarang ini cuma ada satu perempuan yang menghiasi hari-hari Abang yaitu Annisa. Tapi sekarang Annisa menjauh dari Abang. Tanpa Abang tau dimana kesalahan Abang,” kata Toriq.


“Kalau cuma Annisa tidak mau menikah dengan Abang, tidak apa-apa. Kita hanya patner untuk mengurus Rafa. Tapi jangan tiba-tiba lari menjauh, apalagi sampai nekat pergi malam-malam. Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu pada Annisa? Annisa sendiri yang bilang ke Abang untuk membatasi pasien agar Abang pulangnya tidak terlalu larut malam karena berbahaya. Tapi kenyataannya malah Annisa yang nekat pergi malam-malam hanya karena tidak mau menikah dengan Abang,” lanjut Toriq.


Annisa hanya diam mendengarkan perkataan Toriq.


“Apa Annisa ingin menikah dengan laki-laki itu hingga nekad pergi malam-malam?” tanya Toriq.


“Aa Arya tidak ada hubungannnya dengan ini. Dia hanya membantu Annisa mencarikan pekerjaan setelah Annisa memutuskan untuk tidak jadi kuliah di Jakarta,” jawab Annisa.


“Annisa takut kalau Tante Delima terus memaksa Annisa untuk menikah dengan Abang,” kata Annisa sambil menunduk.


“Kalau Annisa tidak mau menikah dengan Abang tidak apa-apa. Tapi Abang mohon jangan menjauh dari Abang dan jangan lari jika Abang mendekat agar tumbuh benih cinta di hati Abang untuk Annisa,” ucap Toriq.


“Sekarang Abang minta kembalilah ke Jakarta dan kuliah di sana. Biar Tante Elly yang membiayai kuliah Annisa. Cuma Abang minta Annisa jangan menolak jika Abang memberikan sesuatu untuk Annisa. Itu salah satu perhatian Abang untuk Annisa,” ucap Toriq lagi.


Annisa diam sebentar kemudian menganggukkan kepalanya.


“Alhamdullilah. Terima kasih, Annisa,” ucap Toriq dengan lega


Seorang pelayan datang membawa makanan pesanan Toriq. Lalu diletakkan di atas meja.

__ADS_1


“Teima kasih,” ucap Annisa.


Toriq memperhatikan botol minuman yang berukuran sedang yang disajikan oleh pelayan.


“Ini minuman temulawak?” tanya Toriq pada Annisa.


“Iya. Coba deh enak dan segar,” jawab Annisa.


Toriq meminum minuman di dalam botol itu. Sekali teguk kemudian kembali meneguknya hingga setengah botol.


“Bener Nis, enak,” puji Toriq.


Kemudian Toriq memanggil pelayan lagi. Seorang pelayan menghampiri mereka.


“Pesan minuman ini 2 lagi,” kata Toriq kepada pelayan.


“Baik, Pak,” jawab pelayan.


“Abang banyak sekali nanti kembung perutnya,” kata Annisa.


“Abang haus banget, Nis. Habis kebanyakan ngomong,” jawab Toriq sambil cengir.


Annisa cuma geleng-geleng kepala mendengarnya.


Setelah selesai makan mereka mampir ke restaurant fast food untuk membeli oleh-oleh untuk Rafa, Aisyah, Umar dan Roland. Ketika sedang menunggu pesanan Toriq pamit mau ke ATM di sebelah restaurant, tak lama kemudian Toriq sudah kembali.


“Abang kehabisan uang, ya?” tanya Annisa ketika Toriq kembali.


“Nggak, hanya untuk berjaga-jaga saja,” jawab Toriq.


Setelah dari restaurant fast food merekapun langsung pulang ke rumah Annisa.


“Assalamualaikum,” ucap Toriq dan Annisa ketika masuk ke dalam rumah.


“Waalaikumsalam,” jawab semua orang.


Annisa dan Toriq mencium tangan semua orang tua yang berada di dalam rumah Annisa.


“Darimana, Nis?” tanya Pak Ernawan ketika Annisa mencium tangan Pak Ernawan.


“Anterin Abang Toriq ke ATM, Pak,” jawab Annisa.


Pak Ernawan memandangi Toriq yang berdiri di dekatnya.


“Ini siapa, Nis?” tanya Pak Ernawan sambil menunjuk ke Toriq.


“Ini Toriq, anak saya,” jawab Pak Syamsul.


Kemudian Toriq mencium tangan Bapaknya Annisa.


.

__ADS_1


.


Hari ini up nya satu bab aja, ya. Cape habis menjemput dan mengantar Abah.


__ADS_2