Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
22. Kamar Rawat Inap Rafa.


__ADS_3

Setelah Rafa selesai makan Roland memberitahu ke suster, agar Rafa bisa secepatnya dipindahkan ke ruang rawat inap. Suster datang dengan membawa kursi roda.


“Rafa, kita pindah ke ruang rawat inap,” kata suster.


“Naik curci loda?” tanya Rafa.


“Iya,” jawab suster.


“Mamah icut?” tanya Rafa ke Annisa.


“Iya, Mamah ikut. Rafa naik kursi rodanya sama suster,ya,” kata Annisa.


“Mamah icutin Rafa dari belakang?” tanya Rafa.


“Iya Rafa,” lalu Annisa memindahkan  Rafa dari tempat tidur ke kursi roda, tak lupa suster memindahkan infus Rafa ke tiang infus di kursi roda.


Lalu suster membawa Rafa keluar dari ruang UGD. Sepanjang jalan sebentar-sebentar Rafa menoleh ke belakang untuk melihat Annisa takut pergi meninggalkannya.


Akhirnya mereka sampai di kamar inap. Ternyata Toriq meminta kamar VVIP untuk Rafa.


Suster membuka pintu rawat inap dan mendorong kursi roda Rafa ke dalam kamar. Lalu mengangkat Rafa ke atas tempat tidur. Setelah itu mengecek kembali infus Rafa.


“Saya permisi dulu, Bu,” pamit suster setelah mengecek infus Rafa.


“Terima kasih, Suster,” ucap Annisa lalu menaruh barang bawaannya ke dalam lemari kecil yang berada di bawah nakas.


“Mah, Roland ke mobil dulu. Mau Ambil tas Annisa,” pamit Roland lalu menuju pintu kamar.


“Iya, Land,” kata Ibu Elly.


“Roland kalau lihat supir Tante tolong ambilkan tas Rafa,” kata Ibu Delima.


“Iya, Tante,” kata Roland lalu keluar dari kamar rawat inap Rafa.


Setelah Roland pergi suasana kamar Rafa jadi hening. Terlihat mata Rafa mulai ngantuk. Annisa terus mengusap-usap kepala Rafa hingga tertidur.


Ibu Elly mendekati tempat tidur pasien.


“Rafa tidur?” tanya Ibu Elly.


“Belum begitu pulas,” jawab Annisa sambil terus mengusap kepala Rafa.


Tak lama kemudian akhirnya Rafa tidur dengan pulas. Mungkin obatnya mulai bekerja.


Annisa pindah duduknya ke kursi sofa agar Rafa tidak terganggu tidurnya.


“Bagaimana hasil test kemarin? Hasilnya sudah keluar belum?” tanya Ibu Delima ke Annisa.


“Belum Tante, hasilnya seminggu lagi,” jawab Annisa.


“Oh….masih lama, ya?” kata Ibu Delima.


“Iya, Tante,” kata Annisa.


“Terus kalau diterima, kapan mulai kuliahnya?” tanya Ibu Delima.

__ADS_1


“Masih lama Tante, awal bulan September,” jawab Annisa.


“Selama itu? Terus sambil menunggu masuk kuliah kegiatan Annisa apa aja?” tanya Ibu Delima yang seolah ingin tau tentang Annisa.


“Maunya sebelum mulai kuliah Annisa pulang dulu ke Padalarang. Ketemu orang tua dan adik-adik,” jawab Annisa.


“Berapa lama pulangnya?” tanya Ibu Delima.


“Mungkin sekitar 2 minggu,” jawab Annisa.


“Dua minggu? Nanti Rafa bagaimana?” tanya Ibu Delima lagi.


Annisa menoleh ke arah tempat tidur Rafa. Batita itu sedang tidur dengan nyenyak.


“Nanti Annisa ajak Rafa bicara. Mudah-mudahan Rafa mau mengerti,” kata Annisa.


“Ditinggal Annisa sehari aja sakit sampai masuk rumah sakit, apalagi ditinggal dua minggu,” sahut Ibu Delima.


Annisa hanya diam tidak mengatakan apapun.


Tak lama kemudian Roland datang dengan membawa tas Annisa dan tas Rafa.


“Ketemu sama supir Tante?” tanya Ibu Delima melihat Roland membawa tas milik Rafa.


“Ketemu Tante, kebetulan parkinya tidak jauh dari mobil Roland,” jawab Roland lalu menaruh tas Annisa dan tas Rafa di sebelah nakas.


Roland mendekati Ibu Elly.


“Mah….Mamah masih lama di sini?” tanya Roland.


“Belum tau, memang kenapa?” tanya Ibu Elly.


“Jangan lama-lama. Nanti Mamah pulangnya sama siapa?” pesan Ibu Elly.


“Nggak lama kok, Mah. Paling sebelum jam dua Roland sudah balik lagi ke sini,” jawab Roland.


“Ya sudah, hati-hati di jalan,” pesan Ibu Elly.


Roland menghampiri Annisa.


“Aa pergi dulu. Assalamualaikum,” kata Roland lalu mengacak rambut Annisa kemudian pergi meninggalkan kamar Rafa.


“Aa mah kebiasaan ih,” kata Annisa sambil merapihkan rambutnya.


“Waalaikumsalam,” ucap Ibu Elly dan Ibu Delima.


Sewaktu Roland mengacak-acak rambut Annisa tidak luput dari perhatian Ibu Delima.


Sebenarnya ada apa dengan mereka? Apakah hanya hubungan sepupu biasa atau lebih dari itu? Kata Ibu Delima dalam hati.


Kamar rawat inap Rafa kembali hening, mereka sibuk dengan ponselnya masing-masing.


Tak terasa waktu cepat berlalu jam di dinding sudah menunjukkan waktu 11.00 WIB.


“Annisa kamu beli makanan. Terserah mau beli di kantin atau mau pesan online,” seru Ibu Elly.

__ADS_1


“Beli di kantin saja, kata Toriq makanan di kantin rumah sakit enak-enak,” usul Ibu Delima.


“Boleh tuh, Nis. Kita coba makanan kantin. Bilang sama orangnya minta ditempatin pakai dus biar mudah untuk dimakannya,” sahut Ibu Elly.


Ibu Elly memberikan uang 100 ribu sebanyak 3 lembar.


“Beli 3 porsi, ya. Nis. Lauknya terserah, kamu pilih sendiri,” kata Ibu Elly.


“Tante mau lauk apa?” tanya Annisa ke Ibu Delima.


“Apa saja yang enak menurut Annisa,” jawab Ibu Delima.


“Kalau begitu Annisa berangkat dulu, assalamualaikum,” pamit Annisa.


“Waaalaikumsalam,” jawab Ibu Delima dan Ibu Elly.


Annisa meninggalkan kamar inap Rafa menuju ke kantin. Kantin rumah sakit nampak belum ramai mungkin karena belum masuk jam makan siang. Annisa bisa tenang memilih makanan untuk menu makan siangnya. Akhirnya Annisa memilih menu nasi rames untuk makan siang. Selain terdiri dari lauk pauk dan sayuran, nasi rames mudah disantap dengan menggunakan kotak. Annisa juga membeli beberapa botol air mineral untuk minum, karena di kamar Rafa tidak ada persediaan air minum. Setelah membayar makanan dan minuman Annisa meninggalkan kantin kembali ke kamar inap  Rafa. Di jalan Annisa berpas-pasan dengan Toriq dan beberapa rekan sejawatnya.


“Annisa darimana?” tanya Toriq melihat Annisa membawa dua buah kantong plastik besar.


“Beli makanan buat makan siang, Bang,” jawab Annisa.


“Banyak sekali. Buat siapa saja?”


“Buat Ua Elly, Tante Delima dan Annisa.”


“Kuat nggak bawanya? Mau Abang bantuin?” tanya Toriq.


“Tidak usah, Bang. Annisa kuat kok,” tampik Annisa.


“Oh… ya sudah kalau nggak mau dibantu. Hati-hati jalannya,” kata Toriq.


‘Iya, Bang,” Annisa meninggalkan Toriq dan rekan-rekannya.


Toriq terus memandangi punggung Annisa sampai tidak terlihat lagi.


“Itu yang kasih elo sarapan?” tanya Dokter Adi.


“Iya,” jawab Toriq lalu memlanjutkan jalannya menyusul rekan-rekannya yang telah lebih dahulu ke kantin.


“Cantik,” puji Dokter Adi.


“Dia masih kecil, baru lulus SMA,” kata Toriq.


“Wah masih fresh tuh. Kayaknya juga masih polos belum kenal dengan yang namanya cinta,” sahut Dokter Adi.


“Daftar kuliah dimana?” tanya Dokter Adi.


“Di Universitas X ambil jurusan ekonomi,” jawab Toriq.


“Wah….orang tuanya kaya, ya? Itu kampus anak-anak orang kaya,” ujar Dokter Adi.


“Nggak tau orang tuanya kaya atau tidak. Yang jelas Uanya Annisa seorang pengusaha,” jawab Toriq.


“Kenalin gue dong ke saudara elo,” rayu Adi.

__ADS_1


“Tidak boleh! Dia harus kuliahnya dulu. Belum boleh pacaran. Lagi pula dia sudah punya anak,” sahut Toriq.


“WHAT???????” Adi kaget.


__ADS_2