Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
49. Pak Ernawan.


__ADS_3

Pak Ernawan memandangi Toriq.


"Oh, jadi dia yang membuatmu pergi malam-malam dari rumah Ua mu?" tanya Pak Ernawan kepada Annisa.


Semua orang di ruangan itu diam mendengar perkataan Pak Ernawan.


"Pak..., " Annisa hendak protes dengan perkataan Bapaknya.


Namun Toriq memberi tanda agar Annisa menahan perkataannya.


"Saya minta maaf, Om, " ucap Toriq.


Pak Ernawan menghela nafas.


"Kalian sudah sholat dzuhur belum?" tanya Pak Ernawan kepada Annisa dan Toriq.


"Belum, Om," jawab Toriq.


"Sana kalian sholat dulu," perintah Pak Ernawan.


"Baik, Om, " kata Toriq.


Toriq dan Annisa masuk ke dalam rumah dan disambut oleh Rafa.


"Mamah, " panggil Rafa yang langsung memeluk kaki Annisa.


"Eh..... Rafa sudah bangun. Tadi nangis nggak?" tanya Annisa sambil mengusap-usap kepala Rafa.


"Enggak," jawab Rafa sambil melihat ke kantong plastik yang dibawa Annisa.


"Nangis sebentar, Teh. Tapi begitu lihat Umar langsung diam," kata Aisyah.


"Udah pipis belum?" tanya Annisa pada Rafa.


"Udah pipis cama Ate Aicah," jawab Rafa.


"Mamah, icu apa?" tanya Rafa menunjuk ke kantong plastik yang dibawa oleh Annisa.


"Ini makanan untuk Rafa, Om Umar, Ate Aisyah dan Om Roland," jawab Annisa lalu memberikan nya kepada Rafa.


Rafa membawanya dengan menggunakan kedua tangannya.


"Aduh beyat, aduh beyat, " ujar Rafa sambil membawa plastik itu ke hadapan Umar yang sedang menonton TV.


Aisyah menghampiri Rafa.

__ADS_1


"Apa itu Rafa?" tanya Aisyah sambil membuka plastik yang dibawa Rafa.


"Ayam kerawuk Mac Dondon," kata Aisyah begitu membuka plastiknya.


"Asyik ayam kerawuk Mac Dondon, " sahut Umar kegirangan.


"Yah... tapinya masih kenyang, " ujar Umar dengan wajah kecewa.


"Buat nanti lagi, " kata Aisyah lalu menaruh plastik yang berisi ayam kerawuk Mac Dondon ke atas meja makan.


******


"Abang sholatnya dimana? " tanya Toriq kepada Annisa ketika mereka bertemu di depan pintu kamar mandi.


Rupanya Toriq sudah lebih dahulu mengambil wudhu.


"Di kamar Umar, " jawab Annisa.


Lalu Annisa mengantar Toriq menuju ke kamar Umar. Annisa membuka pintu kamar lalu masuk ke dalamnya. Annisa menggelar sajadah menghadap ke kiblat. Toriq berdiri di depan pintu menunggu sampai Annisa selesai menggelar sajadah.


"Eh.... lagi pada ngapain dua-duaan di sini?" tegur Roland yang melihat Toriq di depan kamar Umar.


"Mau sholat," jawab Toriq.


"Sholat, ya sholat lah sendiri. Masa mau sholat aja sampai sajadah nya harus digelarin sama Annisa, " ujar Roland lalu maauk ke dalam kamar Umar.


"Mau melanjutkan mimpi," jawab Roland lalu membalikkan badannya menghadap ke tembok sambil memeluk guling.


"Sudah selesai, Bang. Nanti menghadapnya sesuai dengan arah sajadahnya, " kata Annisa.


"Terima kasih, Annisa," ucap Toriq.


Annisa hanya mengangguk lalu keluar dari kamar Umar.


Setelah selesai sholat Annisa dan Toriq kembali ikut bergabung dengan Rafa, Aisyah dan Umar yang sedang menonton TV.


Tiba-tiba Pak Ernawan menghampiri Toriq.


"Nak Toriq, bisa ikut Bapak sebentar? Ada hendak Bapak bicarakan, " kata Pak Ernawan kepada Toriq.


Dengan sigap Toriq langsung berdiri dan mengikuti Pak Ernawan. Annisa hanya memperhatikan keduanya. Ada yang lain dengan sikap Bapaknya kepada Toriq. Biasanya Bapak selalu ramah pada semua orang termasuk pada teman-teman Annisa yang laki-laki. Tapi entah mengapa kepada Toriq Bapaknya bersikap sedikit tegas. Seolah-olah menunjukkan kalau anak gadisnya tidak bisa diperlakukan dengan semena-mena.


Pak Ernawan mengajak Toriq ke ruang tamu dan bergabung dengan yang lain.


"Besok Nak Toriq dinas di rumah sakit tidak?" tanya Pak Ernawan.

__ADS_1


"Tidak Om, besok saya libur," jawab Toriq.


"Kalau begitu malam ini Nak Toriq menginap di sini. Ada yang hendak Bapak bicarakan dengan kalian berdua, " kata Pak Ernawan.


"Baik, Om," jawab Toriq.


"Nak Toriq bawa pakaian untuk ganti?" tanya Pak Ernawan.


"Bawa, Om," jawab Toriq.


"Bagus kalau begitu. Sudah sana nonton TV lagi, " ujar Pak Ernawan mengusir Toriq.


Namun ketika Toriq hendak kembali ke ruang tengah, Ibu Elly memegang tangan Toriq.


"Toriq, Annisa jadinya bagaimana?" tanya Ibu Elly.


"Annisa mau kembali lagi ke Jakarta dan kuliah di sana, " jawab Toriq.


"Alhamdullilah," ucap Ibu Elly dan Ibu Delima.


"Dan Toriq harap Mamah jangan memaksa lagi keinginan Mamah ke Annisa. Biar Annisa yang memutuskan segalanya apa yang terbaik untuk Rafa dan dirinya, " kata Toriq kepada Ibu Delima.


"Termasuk lebih memilih menikah dengan pria lain daripada menikah denganmu?" tanya Ibu Delima.


Toriq nenghela nafas lalu menoleh sebentar ke arah Pak Ernawan lalu pandangannya kembali ke Ibu Delima.


"Sepertinya itu tidak akan terjadi, " jawab Toriq lalu meninggalkan ruang tamu dan kembali ke ruang tengah.


"Toriq maksud kamu apa?" tanya Ibu Delima.


Namun Toriq tidak menjawab pertanyaan Mamahnya dan malah bergabung kembali dengan Annisa dan Rafa beserta adik-adik Annisa.


"Ih...itu anak ditanya kok nggak jawab. Kebiasaan ngomong suka setengah-setengah nggak jelas omongannya," seru Ibu Delima yang kesal dengan perkataan Toriq yang seperti teka-teki.


"Sabar, Nek. Nanti kita akan tau jawabannya, " kata Ibu Elly.


Ibu Titien dari tadi hanya diam mendengar pembicaraan mereka. Ibu Titien menoleh ke suaminya. Kalau dilihat dari gerak-gerik suaminya, Pak Ernawan sepertinya akan mengambil keputusan yang besar untuk Annisa. Namun ia belum yakin keputusan apa yang diambil oleh suaminya.


.


.


Hai readers yang berhati mulia. Sekarang sudah hari Senin sudah waktunya vote dan hadiah!!! Jangan lupa like dan komentarnya juga!!!


Tetaplah selalu membaca Ibu Untuk Keponakanku. Karena novel tanpa pembaca bagaikan nasi tanpa lauk pauk.

__ADS_1


.


Ate : sebutan untuk Tante.


__ADS_2