Ibu Untuk Keponakanku

Ibu Untuk Keponakanku
30. Papah Rafa Yang Mana?


__ADS_3

Annisa mengajak Roland untuk kembali ke kamar Rafa, karena jam sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang. Ketika mereka hendak kembali ke kamar Rafa, mereka bertemu Toriq sedang berbincang-bincang dengan seorang dokter di depan ruang suster jaga.


Ketika mendekati Toriq, Toriq menyapa Rafa.


“Rafa darimana?” Toriq bertanya ke Rafa.


“Abis beli uweh,” jawab Rafa ke Toriq.


Toriq melihat Roland membawa plastik belajaan di tangan kanan dan tangan kirinya.


“Banyak sekali belanjaannya? Beli apa saja sih?” tanya Toriq sambil mengintip isi plastik yang dibawa Roland.


“Biasa ibu-ibu, bilangnya mau beli air mineral kemasan malah beli segala macam,” jawab Roland ke Toriq.


“Aa mah bohong. Annisa cuma beli air mineral, pospak Rafa, tissue, tissue basah dan kue Rafa aja,” protes Annisa ke Roland.


“Iya tapi itu udah nambah berapa item dari rencana,” kata Roland ke Annisa.


“Sudah, jangan berdebat di sini,” kata Toriq menghentikan pembicaraan Roland dan Annisa.


“Ayo Rafa, kita kembali ke kamar. Dokternya sudah menunggu Rafa dari tadi,” Toriq mengambil alih kursi roda Rafa lalu Toriq mendorongnya menuju kamar Rafa. Sedangkan dokter yang tadi sedang berbincang dengan Toriq berjalan di sebelah Toriq ikut menuju ke kamar Rafa.


Annisa mendekati Roland yang berjalan sambil membawa banyak belanjaan.


“Sini A, Annisa bantuin,” kata Annisa yang hendak mengambil salah satu kantong plastik yang dipegang Roland.


“Tidak usah, Aa masih kuat, kok. Lagi pula sudah dekat kamar Rafa,” kata Roland kepada Annisa.


“Terima kasih, A. Sudah mau membantu Annisa,” ucap Annisa kepada Roland.


“Sama-sama, Annisa,” ucap Roland kepada Annisa.


Merekapun sampai di depan kamar Rafa. Annisa membuka pintu dan menahannya memberi jalan kepada Roland untuk masuk. Roland menyimpan belanjaan diatas meja. Annisa menghampiri Rafa yang sedang di periksa oleh dokter. Ternyata dokter yang bersama dengan Toriq adalah dokter anak yang akan memeriksa Rafa.


Toriq melihat Annisa yang mendekat ke Rafa.


“Annisa ini dokter Candra, dokter anak Rafa,” Toriq memperkenalkan dokter Candra ke Annisa.


Dokter Candra yang sedang memeriksa Rafa menoleh ke Annisa.


“Ini Mamahnya Rafa yang Dokter Toriq ceritakan itu?” tanya Dokter Candra kepada Toriq.


“Iya, dia sepupunya adik ipar saya,” jawab Toriq kepada Dokter Candra.


“Gimana Bu, Rafa makannya sudah bagus belum?” tanya Dokter Candra kepada Annisa.


“Sudah Dok, sekarang Rafa sudah tidak susah makan lagi,” jawab Annisa kepada Dokter Candra.


“Rafa sekarangkan sudah ada Mamah jangan mogok makan dan minum lagi, ya!” seru Dokter Candra kepada Rafa.


Mendengar perkataan Dokter Candra, Rafa jadi malu.


“Rafa cuma ada Mamah saja? Papahnya mana?” tanya Dokter Candra kepada Rafa.


Rafa cuma menggelengkan kepalanya sambil malu.


“Papahnya yang itu?” Dokter Candra menunjuk ke Toriq.


“Atau itu?” Dokter Candra menunjuk ke Roland.


“Atau ini?” Dokter Candra menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


“Rafa ndak tau,” jawab Rafa sambil malu-malu.


“Yang ini aja Papahnya, ya?” Dokter Candra menunjuk ke dirinya sendiri.


“Kalau yang itu ketuaan,” kata Dokter Candra menunjuk ke Toriq.


Toriq membalasnya dengan tatapan melotot.


“Kalau yang itu kemudaan,” kata Dokter Candra menunjuk ke Roland.


Roland menanggapinya hanya dengan tertawa.


“Mau ya, Papahnya yang ini?” ujar Dokter Candra ke Rafa sambil menunjuk dirinya sendiri.


Rafa langsung memeluk Annisa karena malu mendengar perkataan dokter Candra sambil mengintip ke Dokter Candra.


Melihat Rafa Dokter Candra hanya tertawa lalu mengusap-usap kepala Rafa.


“Dokter cuma bercanda kok,” kata Dokter Candra ke Rafa.


“Besok Rafa sudah boleh pulang,” kata Dokter Candra kepada Rafa.


“Acik…..,” Rafa teriak kegirangan.


“Wah Rafa senang, ya pulang?” tanya Dokter Candra ke Rafa.


“Ceneng doktel. Bica mamam naci oleng bibiman Mamah,” jawab Rafa ke Dokter Candra.


“Dokter boleh minta nggak?” tanya Dokter Candra.


“Ndak boyeh! Itu naci oleng Rafa,” jawab Rafa kepada Dokter Candra.


Doter Candra tertawa sambil mengusap-usap kepala Rafa.


“Baik, Dok. Akan secepatnya saya bicarakan,” jawab Toriq


“Semoga cepat sembuh, ya Rafa. Dokter pamit dulu, ya,” Dokter Candra pamit kepada Rafa.


“Bilang apa Rafa ke Dokter?” tanya Annisa ke Rafa.


“Telima kacih Doktel,” ucap Rafa ke Dokter Candra.


“Sama-sama Rafa,” balas Dokter Candra.


“Bu, saya permisi dulu,” kata Dokter Candra kepada Annisa.


“Terima kasih, Dokter,” ucap Annisa.


“Sama-sama, Bu,” jawab Dokter Candra lalu keluar dari kamar Rafa bersama dengan Toriq.


Setelah Dokter Candra dan Toriq pergi, Rafa minta kue yang tadi yang dibelikan Annisa.


“Mamah…….Rafa mau uweh,” kata Rafa dengan manja.


“Boleh, sebentar ya. Mamah bereskan dulu belanjaannya,” jawab Annisa yang sedang menaruh belanjaan yang tadi di belinya. Air mineral kemasan disusun rapih di atas meja. Sedangkan pospak, tissue dan tissue basah disimpan di dalam lemari nakas.


Setelah itu barulah Annisa membuka kue Rafa.


“Aa mau?” tanya Annisa ke Roland.


“Mau. Tempat untuk makannya ada?” tanya Roland.

__ADS_1


“Ada A,” jawab Annisa lalu mengambil tempat makan yang sudah Annisa cuci dengan bersih.


Annisa memberikan sepotong kue kepada Roland.


“Terima kasih, Annisa,” ucap Roland.


“Sama-sama, A,” jawab Annisa.


Rafa melihat Annisa memberi kue kepada Roland, langsung protes.


“Rafa juga mau, Mamah,” seru Rafa ke Annisa


“Rafa mau makan sendiri atau mau disuapin?” tanya Annisa.


“Mau mamam cendili,” jawab Rafa.


“Kalau makan sendiri jangan di tempat tidur nanti tempat tidurnya kotor,” kata Annisa kepada Rafa.


“iya,” jawab Rafa.


Annisa menggendong Rafa, lalu menurunkan Rafa di sebelah Roland.


“Duduk sebelah Om Roland,” kata Annisa kepada Rafa.


Rafa menurut lalu duduk manis di sebelah Roland. Annisa memberikan sepotong kue yang ditempatkan di dalam wadah makanan kepada Rafa. Rafa merasa senang lalu ia memakan kuenya namun….


“Eittttt harus berdoa dulu sebelum makan,” kata Annisa.


Rafa mengikuti doa sebelum makan yang diucapkan Annisa.


“Sekarang baru boleh makan kuenya,” kata Annisa kepada Rafa.


Rafa langsung melahap kue. Roland tersenyum lalu mengusap rambut Rafa ketika melihat Rafa makan dengan begitu lahap.


Setelah selesai memakan kue, Roland pamit karena sudah ada janji dengan temannya.


“Aa pergi dulu ya, Nis. Jaga diri baik-baik,” kata Roland kepada Annisa.


“Iya, A,” jawab Annisa lalu mencium tangan Roland.


“Om pergi dulu ya, Rafa,” kata Roland kepada Rafa lalu mencium pucuk kepala Rafa.


“Assalamualaikum,” ucap Roland lalu meninggalkan kamar inap Rafa.


“Waalaikumsalam,” jawab Annisa.


“Walaicumcalam,” jawab Rafa.


Lalu Rafa melanjutkan makan kue tartnya, sedangkan Annisa membersihkan tempat makan yang sudah dipakai oleh Roland.


Pukul setengah satu Toriq datang ke kamar inap Rafa.


“Assalamualaikum,” ucap Toriq.


Ruangan itu nampak sepi tidak ada yang membalas salamnya. Annisa sedang sholat di sebelah tempat tidur Rafa. Sedangkan Rafa sedang tidur dengan pulas.


.


.


.

__ADS_1


Hai reader seperti biasa Deche mau promo novel teman Deche.yang berjudul Camelia Chen milik author Zain Wushi.. Mampir, ya! Semoga suka.



__ADS_2